Hutang Kok Buat Sedekah??

21.31 / Diposting oleh Phyrman /

Kata guru ngaji-ku, sebagai manusia yang beriman dan beragama sudah selayaknya kita berbagi dengan saudara-saudara lain yang belum diberi kenikmatan duniawi berlebih. Terlebih buat keluarga yang untuk sekedar makan tiga kali sehari aja susah, ada hak mereka atas harta kita. Dan saya pikir memang tiap agama juga mengajarkan umatnya untuk berbagi dech…

Dalam islam, kewajiban untuk berbagi dari sebagian harta disebut zakat, yang lainnya sunah kecuali ada perjanjian. Zakat yang wajib diberikan jika harta kita sudah mencapai nisab (ketentuan minimal jumlah harta-red) disebut zakat maal atau zakat harta. Dan nilainya pun tidak besar dan tidak bikin miskin pemiliknya, hanya 2,5% dari total harta. Jadi semakin kaya seseorang maka otomatis akan semakin banyak nilai harta yang dizakatkan. Menurutku ini fair kok, kalo Gusti Allah memberi rejeki banyak, maka yang harus dibagi juga banyak dong.

Namun islam juga membatasi jumlah sedekah kepada orang lain. Dalam aturan fiqih, jumlah maksimum yang boleh diberikan kepada orang lain sebagai sedekah nilainya tidak boleh lebih dari 1/3 total harta kekayaannya, kecuali atas kesepakatan dengan ahli warisnya. Artinya si pemilik harta dilarang bersedekah seluruh harta miliknya, sehingga dirinya menjadi miskin. Karena ada hak ahli waris dan hak keluarga yang wajib dihidupi atas hartanya tersebut. Juga ada hak diri si pemilik untuk berkembang; misal untuk belajar, berwiraswasta dll.

Intinya bersedekah memang wajib dan baik, tapi tidak boleh sampai menyengsarakan dirinya dan keluarganya yang wajib dihidupi. Tetap ada prioritas tanggung jawab sosial kedepan terhadap orang terdekatnya.

Karena ada aturan seperti itu, maka orang yang tidak mampu bersedekah, karena hartanya belum mencapai nisab, juga tidak dosa seandainya tidak berbagi kepada orang miskin. Malah menjadi dosa, jika gara-gara bersedekah, malah keluarganya menjadi sengsara. Apalagi kalau memaksakan diri “berhutang”, hanya sekedar untuk bersedekah.

Saya tidak tahu hukumnya secara fiqih, tetapi pandangan saya pribadi, ini bisa menjadi masalah karena dengan berhutang, maka ahli waris atau keluarganya yang akan terbebani hutang tersebut. Dalam fiqih, hutang juga merupakan warisan yang harus dibayarkan oleh anggota keluarga, jika si penghutang meninggal dunia.

Makanya saya agak bingung dengan logika pemikiran pemerintah yang “bersedekah” dengan memberi bantuan BLT kepada fakir miskin, tapi uangnya berasal dari hutang luar negeri.

Logika saya, jika si pejabat yang memberikan BLT sudah meninggal dunia atau tidak menjabat lagi, maka hutang tersebut harus ditanggung oleh ahli warisnya yaitu rakyat Indonesia dan anak cucu nya. Karena hutang tersebut kan tidak bersifat pribadi, tapi atas nama negara. Udah gitu jumlahnya sampai trilyunan lagi hehehe…

Begitu mendengar berita bahwa bantuan BLT dari hutang LN, ditambah lagi dengan munculnya informasi bahwa pemerintah periode 2004-2009 adalah penghutang terbesar sepanjang sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya langsung ilfeel dech hehehe…


Beberapa hari lalu, saya membaca status FB kawanku yang menulis tentang underlying asset sukuk pemerintah. Awalnya saya bingung, maklum sebagai rakyat awam, istilah ekonomi yang njlimet kayak gitu tidak masuk dalam memory hehehe… Karena penasaran, saya nanya ke temanku lain yang kebetulan kantornya pernah jadi agency iklan sebuah perusahaan securitas yang mengedarkan SUN (Surat Utang Negara) dan sukuk pemerintah.

Katanya, perbedaan gampangnya adalah kalo SUN itu cukup dengan jaminan pemerintah, tapi kalo sukuk karena berbasis hukum perbankan syariah maka harus ada jaminan barang real atau nyata.

Dan menurut berita, beberapa bulan sebelumnya pemerintah pernah berencana untuk menjaminkan Gelora Bung Karno!!! Kawasan yang juga menjadi symbol kedaulatan bangsa, selain istana negara.

Jika hal ini benar2 terlaksana, maka seandainya kedepan pemerintah Indonesia gagal membayar hutang sukuk nya, maka Gelora Bung Karno akan disita atau menjadi milik si penghutang.

Menurutku ini agak ngawur juga, kenapa nggak sekalian istana negara aja dijaminkan, jadi presiden berikutnya bisa memerintah dari kantor sewaan di senayan city hehehe…


Celesta, 14 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com


Cuplikan Berita Terkait:

Gelora Bung Karno Jadi Jaminan Sukuk
INILAH.COM, Jakarta .18/02/2009 - Pemerintah merencanakan untuk menjaminkan aset Gelora Bung Karno dalam penerbitan SBSN. Namun masih dalam pengkajian sebelum meminta persetujuan dari DPR.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pembiayaan Syariah, Direktorat Pengelolaan Utang
Depkeu Dahlan Siamat usai sosialisasi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di Jakarta, Rabu (18/2).

"Setelah menjaminkan aset Depkeu senilai Rp 13,6 triliun, kita akan menjaminkan aset Gelola Bung Karno untuk penerbitan SBSN berikutnya," katanya.

Aset Gelora Bung Karno saat ini bernilai Rp 50 triliun. Pemerintah hanya menjaminkan senilai Rp 21 triliun, jadi tidak semuanya dijaminkan. Langkah ini dimungkinkan karena
dalam UU SBSN, pemerintah diperbolehkan menjaminkan aset negara dalam penerbitan SBSN.

Namun masih menghadapi kendala karena untuk menjamin surat berharga syariah, semua aset harus dikelola secara syariah. Sebab, dalam Gelora Bung Karno terdapat aset hotel, kafe maupun klab malam yang diragukan dari sisi syariahnya.
"Selain itu ada beberapa aset yang belum jelas dari sisi kepemilikan," tandasnya. [tra]

Sumber: http://www.inilah.com



Utang Masa Pemerintahan SBY-JK Terbesar
Jumat, 12 Juni 2009 | 03:19 WIB

Jakarta, Kompas - Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.

Koalisi terdiri dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Perkumpulan Prakarsa, Perhimpunan Pengembangan Pesantren & Masyarakat (P3M), Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal, Pusat Telaah dan Informasi Regional, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, dan Publish What You Pay.

”Prestasi paling menonjol dari pemerintahan SBY-JK adalah utang kita meningkat. Ini catatan tersendiri,” kata Abdul Waidl dari P3M, Kamis (11/6).

Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31 persen dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun. Adapun posisi utang Januari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun.

Apabila pada tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari 2009 utang per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala.

Memerhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang ini adalah rezim antisubsidi.

Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumlah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi untuk kepentingang rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB. (sut)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Label:

2 komentar:

Anonim on 1 Desember 2010 20.12

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

saya pikir anda tidak lebih hebat dari pada Ustazd Yusuf Mansyur,makanya sebelum tulis artikel untuk umum, belajar dulu aja ilmu agama kalau dah pinter baru dah biar artikel yg anda tulis bisa untuk pencerahan masyarakat umum

Comment by bayu zacx on 8 Desember 2015 02.04

anda harus banyak belajar tentang sedekah.

Posting Komentar