Yang Dinilai Cuma Niatnya Kok

10.32 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Hiruk pikuk debat cawapres di sebuah stasiun tv swasta masih berlangsung
Namun kami bertiga; saya dan dua kawanku malah asyik ngobrol tentang sebuah tema yang sangat sederhana dan jauh dari hingar bingar dunia politik
Ya, kalo diuraikan dengan kata-kata sangat singkat karena hanya terdiri dari 4 huruf
Yaitu NIAT…

Sebuah diskusi yang awalnya ringan dan tak berbobot, lambat laun iramanya semakin berat dan berisi. Butuh kesabaran untuk berusaha memahami kata demi kata, agar tidak salah menafsirkan maknanya.

Berawal dari gossip tentang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga-red) yang dialami oleh Manohara dan Cici Paramida, kita mencoba mencari akar permasalahannya yaitu menikah; Kenapa seseorang harus menikah? Apa tujuan menikah? Bagaimana sih awal mulanya kedua wanita itu menikah, kok bisa dalam waktu singkat bertengkar hebat tak terkendali? Kalo belum kenal secara mendalam kenapa harus menikah? Kalo berani menikah kenapa tidak ada kompromi dan saling egois? Dan apa sebenarnya NIAT kedua artis cantik itu beserta suaminya untuk menikah?

Dari beragam pertanyaan diatas, inti permasalahannya adalah niat. Karena niatlah awal mula sebuah “tindakan yang direncanakan” terjadi. Dan menurut kami, menikah masuk dalam kategori tersebut, karena tidak mungkin seseorang menikah karena tidak sengaja, atau tidak dipikirkan sebelumnya. Walau mungkin ada faktor eksternal yang dominan mempengaruhi dan memaksa seseorang untuk menikah, tapi tetaplah si penentu keputusan adalah yang menikah.

Diantara kami betiga komposisinya; 2 menikah dan 1 belum menikah. Secara bergilir kami berbagi cerita tentang niat menikah. Kami yang sudah menikah bersepakat bahwa niat sebuah pernikahan adalah untuk menjalankan perintah agama, membangun keluarga sakinah dengan pasangan yang kita cintai dan meneruskan keturunan biologis. Sangat sederhana dan gak kreatif hehehe…

Temanku yang belum menikah memberi pertanyaan penting;
Kalo seseorang tidak beragama berarti bebas untuk tidak menikah dong?
Ok, kita berdua sepakat untuk melepas pembahasan soal agama disini, karena menjadi tidak universal.

Apakah kebahagiaan hanya bisa diraih dengan menikah?
Jawabnya tentu tidak, karena banyak orang yang tidak atau belum menikah dan mereka sangat bahagia. Kebahagiaan adalah relatif, karena tergantung bagaimana seseorang itu memaknainya.

Apa pentingnya anak biologis?
Toh banyak juga orang yang tidak bisa punya anak, dan tetap mencintai anak adopsinya. Bukankah lebih baik merawat anak manusia lain yang sudah terlanjur lahir tapi ditelantarkan orang tuanya, daripada menambah jumlah penduduk bumi dengan anak kandung, sementara masih banyak anak-anak lain yang sengsara dan butuh bantuan kita.
Anak biologis adalah ego tertinggi manusia untuk meneruskan “keakuan” dimasa depan setelah manusia meninggal. Juga sebuah wujud atas ketidakpercayaan manusia terhadap orang lain yang bukan “bagian dari dirinya” untuk merawatnya diusia tua. Ya, hampir setiap orang tua (dalam hati kecilnya) tentu berharap agar kelak anaknya akan gantian merawat dirinya jika sakit pada usia lanjut. Tapi apakah anak kandung pasti lebih tidak “durhaka” dibanding anak adopsi, jawabnya tentu tidak pasti kan.

Yap, kami berdua langsung terdiam dan membenarkan pertanyaan dan argumen kawanku itu. Sekarang gantian kita yang sudah menikah melempar pertanyaan.
Kenapa anda yang secara fisik lumayan, secara intelektual diakui, secara tingkah laku sopan dan dicintai banyak lawan jenis, memilih tidak menikah, padahal secara usia sudah sangat lebih dari cukup?

Dan jawabnya sangat sederhana “karena hatiku belum berniat untuk menikah, aku mencoba mengikuti kata hatiku dalam menjalani hidup ini”, tapi argumentasinya sangat mendalam.

Niat ikhlas adalah segalanya, manusia tidak akan bahagia kalo tidak ikhlas, jika kita bersedekah lalu berharap agar ada balasan, maka kita akan kecewa. Balasan itu bisa dari orang yang kita beri dengan harapan akan ganti memberi dengan kebaikan lain, atau memamerkannya seperti capres/cawapres agar diliput media. Karena jika ternyata media malah mengkritik akting tersebut, maka hanya kekecewaan yang didapat.

Kejujuran pada hati harus diutamakan, karena akan mengantarkan pada insting kebenaran. Sebagai ilustrasi, Cici Paramida dalam sebuah wawancara mengaku, bahwa sebelum menikah sempat curiga atas kejujuran calon suaminya, terkait status duda nya, tapi karena sudah terlanjur merancang resepsi, maka pernikahan tersebut tetap dilaksanakan. Disini berarti ada “faktor eksternal”yang memaksa Cici tidak mengikuti kata hatinya.
Demikian pula Suhaebi suaminya, dengan tidak jujur pada hatinya dan berbohong tentang statusnya, maka niat sebuah pernikahan menjadi tidak baik lagi. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bahagia bisa terjadi jika dilandasi oleh kebohongan.

Sebuah kesenangan diri harus berdasarkan pada kesepakatan tanpa ada paksaan.
Ini sangat susah karena tentunya dalam kehidupan sosial kita akan berbenturan dengan berbagai kepentingan orang lain. Dalam sebuah pernikahan misalnya, sang suami pasti berharap akan mendapat pelayanan terbaik dari istrinya demi memenuhi beragam hasratnya, demikian pula sang istri pasti berharap akan dikasihi untuk memenuhi berbagai keinginannya. Selalu ada kompromi didalamnya, ada take and give. Tapi mungkinkah itu terjadi? Karena pasti dalam suatu waktu ada benturan kepentingan didalamnya, ada pemaksaan untuk memperoleh kesenangan dari salah satu pasangan, yang membuat yang lain kecewa.

Menurut kawanku, kebahagiaan tertinggi adalah pada kondisi “cinta tanpa ikatan”.
Kita merawat anak, karena kita mencintainya. Bukan karena itu anak kandung atau anak adopsi, juga bukan dengan mengharap balasan perawatan dimasa depan.
Kita mencintai pasangan, karena kita tulus menyayanginya. Bukan dengan mengharap balasan kenikmatan darinya.
Kita memberi dan bersedekah dengan tulus ikhlas, tanpa peduli uang itu akan dipergunakan untuk apa. Bukan dengan mengharap balasan rejeki yang lebih banyak dari dari sedekah itu.

Kawanku, dengan filosofi hati nya juga mengajarkanku pada pemahaman berbagai agama.
Islam mengajarkan bahwa sebuah tindakan dinilai dari niatnya. Maka berniatlah dengan ikhlas dan setulus-tulusnya, hindari riya’ dan sombong diri.
Budha mengajarkan dharma, bahwa rasa duka muncul karena adanya keinginan yang tak tercapai. Maka bersihkanlah hati dari keinginan-keinginan itu agar tidak mengecewakanmu.

Dan kendati belum mempelajarinya, saya percaya bahwa ajaran kristen, yahudi, hindu, dan beragam agama lain didunia juga mengajarkan hal yang sama. Juga manusia, baik yang sudah memastikan dirinya menjadi atheis atau masih melakukan pencarian diri untuk memeluk suatu agama, pasti merasakannya.

Karena kita semua punya hati yang ingin berbahagia.


Celesta, 25 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Bukan Metamorfosis

19.42 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Bukan kawan,
Aku tidak sedang berubah diri menjadi sesuatu yang baru
Aku hanya mencoba menggores kaca dengan kata-kata
Aku hanya berusaha mengungkap rasa lewat tulisan

Saat sedang berduka, aku akan bercerita tentang kesedihan
Saat sedang gembira, aku akan menggambar tentang keindahan
Saat sedang tertawa, aku akan mengarang tentang kesederhanaan
Saat sedang bahagia, aku akan menulis tentang ketuhanan

Bukan kawan,
Aku juga tidak sedang menyamar bagai bunglon
Yang bersembunyi dibalik untaian bunga-bunga kalimat

Benar kawan,
Aku adalah temanmu
Yang masih mengharap persahabatan tulus darimu
Yang masih mendamba teguran dan nasehat darimu
Yang masih mengenang segala kebaikanmu

Maka kawan,
Dekaplah erat aku dalam bayang-bayang kasihmu

Sency, 24 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Balada Rumput Yang Ingin Menjadi Pohon

11.26 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Dalam teori biologi tumbuh2an, salahsatu jenis tanaman yang bisa hidup diberbagai belahan bumi adalah rumput; ada rumput jepang, rumput gajah mini, rumput golf, rumput liar, hingga rumput laut (kalo yang ini beda jenis yaa)… Manfaat rumput pun multifungsi; untuk menghias taman, melapisi lapangan bola, menghijaukan padang golf, hingga mengisi tanah kosong dengan menjadi rumput liar, pokoknya serba bisa dech.

Saking hebatnya rumput, sampai-sampai manusia menjadikannya menjadi sebuah filosofi hidup yaitu filosofi rumput. Pandangan ini menggambarkan tentang karakter manusia yang bisa hidup dimana saja, melakukan apa saja, diberbagai situasi apapun.

Dalam perusahaan, filosofi ini biasa dipakai manajemen untuk mencari karyawan-karyawan teladan yang loyal dan bisa menjalankan beragam peran bagi perusahaan. Sosok yang multiperan; bisa sebagai operator, teknisi, manajer yang tentunya hanya digaji dengan satu peran hehehe…

Seorang karyawan berkarakter rumput adalah idaman atasannya; serba bisa, serba terampil, dan serba-serba lainnya. Tapi rumput tidak pernah bisa tinggi, karena tidak punya akar yang kuat. Dia sering menjadi bumper perusahaan untuk memenuhi kepentingannya, tanpa punya bargaining yang kuat, karena bersifat massal dan tidak terspesialisasi talentanya.

Ya, rumput tetaplah rumput. Yang hanya dihargai per meter persegi sebagai harga jualnya. Betapapun indahnya rumput, tetap dihargai kolektif, bukan sebagai individu seperti halnya kita menghargai tanaman hias.

Tanaman hias adalah tanaman yang “terlihat” berkarakter. Dia dibeli karena disukai. Semakin indah penampilannya, maka akan semakin mahal harganya. Bahkan terkadang seorang pencinta tanaman akan rela membayar lebih diatas harga normal, demi memiliki tanaman hias yang diinginkannya. Tanaman hias sering ditempatkan di pot yang indah, sehingga semakin mempercantik karakter nya. Dia pun bisa dibelai-belai, dirawat dengan penuh kasih sayang dan ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat.

Tanaman hias adalah karakter karyawan yang pandai dalam membungkus dirinya agar selalu tampak indah dimata atasan dan perusahaan. Dia pandai melobi dan bertindak manis, dengan attitude yang terkadang dibuat-buat. Dia pandai menutupi kelemahan kemampuan dengan bersikap kooperatif dan berakting lembut. Karakter ini pandai menempatkan dirinya dalam berbagai situasi, sehingga mampu memikat atasan. Dia tidak pernah menguasai sesuatu kemampuan secara mendalam, karena lebih menyukai penampilan kulit aja, yang penting cukup memenuhi kebutuhan standar perusahaan, tidak berlebih, hanya cukup saja.

Namun sekali lagi, tanaman hias tetaplah tanaman, yang dihargai mahal ketika disukai dan akan tergusur atau dibuang ketika si pemilik tanaman merasa bosan atau menemukan tanaman baru yang lebih indah. Dia yang dipuja-puja saat masa jaya, bisa tiba-tiba menjadi barang tak berharga, seperti cerita tentang tanaman anthurium, yang sempat dihargai puluhan juta per potnya, sekarang hanya dihargai puluhan sampai ratusan ribu, sangat tragis.

Dan karena sifatnya yang tidak abadi, manusia tidak pernah menerapkannya sebagai sebuah filosofi.

Ada lagi tanaman lain yang berkarakter, yaitu pohon. Jenis ini akan dihargai seiring bertambahnya usia dan manfaat. Pohon yang masih bibit dihargai sangat murah, tapi kalo sudah besar akan semakin mahal. Variasinya pun beragam; ada pohon mangga yang dimanfaatkan buahnya, pohon beringin untuk keteduhan, atau pohon palem untuk keindahan. Kekuatan pohon adalah pada akarnya yang kuat dan daunnya yang rindang, pohon pun semakin lama akan semakin tinggi.

Karakter ini adalah tipe karyawan yang mampu menggali potensi dirinya secara mendalam sesuai spesialisasinya. Dia tidak peduli dibayar murah ketika masih baru, tapi dia mencoba terus belajar menggali potensinya dengan akarnya yang semakin lama semakin kokoh. Dengan kerja keras sang akar, maka lambat laun batang, buah dan daunnya pun semakin berkembang, tatkala sang majikan mulai menikmati manfaat pohon, maka harga nya pun akan semakin mahal. Perusahaan akan semakin sayang untuk menebang atau membuangnya. Walau terkadang, pemilik pohon pun terpaksa harus “memotong dan menyiangi” kerindangan daunnya agar tidak menutupi rumput dan tanaman hias.

Namun pohon punya kelemahan yaitu butuh waktu lama untuk dinikmati. Dia tak terbiasa bermanis muka untuk menunjukkan kemampuannya didepan atasan. Dia memilih berdiam diri, sambil terus memompa kemampuan dengan memperkokoh akarnya dulu, sehingga tidak mudah goyah.

Dengan kekokohannya yang menjulang tinggi, pohon mampu menaklukan manusia untuk menjadikannya sebagai sebuah filosofi.

Ketiga karakter tanaman diatas selalu ada disekeliling kita, ada yang ikhlas manjadi rumput terus karena kehilangan visi dan rasa percaya diri, sehingga atasannya pun menganggapnya sebagai pekerja kolektif, yang tidak perlu dihargai berlebih karena akan membuat iri sesama rumput. Kalo ada satu rumput terlalu tinggi maka akan tampak berantakan, sehingga harus dipotong atau dicabut. Dan karena jumlahnya yang massal, maka sebuah rumput tak pernah bisa melawan sendiri. Pokoknya tidak boleh ada yang menonjol, harus sama rata dan sama rasa. Kayak faham sosialis aja yaa hehehe…

Ada juga yang berkarakter tanaman hias, selalu bergerak untuk mempercantik diri, baginya isi nomor dua belas, yang penting penampilan didepan bos harus meyakinkan. Karakter ini terkadang dibenci teman2nya karena agak-agak carmuk gitu hehehe… Apalagi kalo ada rumput yang bergaya tanaman hias, pasti rumput lain akan mengisolasikannya tuch hahaha… Dan karena sifatnya yang sesuai selera, maka ketika terjadi pergantian posisi bos, dia bisa terbuang jauh. Lha wong bos barunya penggemar Adenium kok, bukan penggemar Anthurium hehehe…

Kalo karakter pohon biasanya jumlahnya tidak banyak, karena kalo udah menjadi pohon yang rindang dan kokoh, tapi masih dihargai seperti rumput, dia akan memilih hengkang dari perusahaan, dia sangat yakin pasti akan ada yang membajaknya dengan harga tinggi.

Sebagai karyawan, terkadang kita merasa gerah dan putus asa karena menganggap perusahaan hanya menganggapnya sebagai rumput terus, tanpa memberikan kesempatan untuk menjadi pohon, padahal kita sudah berusaha mengoptimalkan kinerja. Segala tuntutan perusahaan untuk menggali potensi diri dan meng upgrade skill ternyata tidak dihargai sama sekali. Kita merasa sudah serba bisa dan multitalenta, tapi ternyata itu belum cukup untuk mendapat penghargaan lebih. Bagi perusahaan, rumput tetaplah rumput yang akan mudah mencari penggantinya jika resign.

Namun sebenarnya ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi karyawan rumput, untuk membuktikan diri bahwa dia sudah berubah menjadi pohon. Pohon yang sebenar-benarnya, yang rindang dan cerdas. Kalo merasa yakin sudah menjadi pohon, maka bergegaslah mencari peluang di taman lain yang butuh manfaat pohon. Karena mungkin taman yang lama, sudah terisi penuh dengan pohon dan tanaman hias, sehingga tiada ruang lagi untuk tumbuh berkembang.

Fenomena ini sering terjadi dalam komunikasi sosial di perusahaan. Si karyawan merasa sudah cukup sukses menjadi rumput dan kini tergerak untuk meningkatkan statusnya menjadi pohon dengan cara meningkatkan skill. Namun ternyata perusahaan, atas nama efisiensi berpura-pura tidak melihatnya sebagai pohon yang beranjak tinggi, mereka masih berpikir bahwa si karyawan masihlah seorang rumput, sehingga tidak perlu diberi kesempatan unjuk gigi dan dihargai.

Komunikasi yang terputus antara hasrat karyawan untuk merubah diri dari rumput menjadi pohon, dengan atasan yang tidak mengakomodirnya, bisa menjadi kerugian yang besar bagi keduanya. Karena akan merubah rumput yang indah dan tertata rapi itu menjadi rumput liar yang merusak dan memberontak.

Sikap arogansi perusahaan yang meremehkan karyawan bisa berakibat fatal, karena rumput-rumput yang hijau dan pohon-pohon rindang lebih memilih mencari taman lain yang lebih manusiawi. Sehingga yang tersisa tinggal rumput liar dan tanaman hias yang mulai layu.

Mending jadi rumput yang santai, atau tanaman hias yang penuh akting, atau pohon yang idealis yaaa???

Celesta, 18 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Terkadang Tuhan Membuka Pintu Hidayah Dengan Cara Sederhana

04.23 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Seminggu terakhir ini mungkin hari yang menggelisahkan buat treeva, malaikat kecilku. Hanya gara-gara dia membaca majalah National Geographic ku yang ada foto mummy menyeramkan, dia langsung shock dan merasa ketakutan sepanjang hari, siang dan malam. Bahkan sampai badannya hangat hingga 3 hari lamanya, dan dimanapun dia berada dirumah harus ada orang didekatnya. Pokoknya harus tampak orang dimatanya. Ini sama sekali bukan kebiasaannya yang cuek dan ngeyelan.

Beragam cara dicoba untuk “menghilangkan” phobia nya, dari pura-pura membuang majalah NG, melarangnya nonton sinetron horror, sampai memarahinya karena cengeng dan penakut (bapak yang galak yaa hehehe).. Tapi tetap aja susah merubahnya, dia tetap cengeng dan takut.

Suatu hari mamanya bercerita kalo hantu itu takut sama suara orang ngaji, tanpa diduga tiba-tiba treeva minta agar diajarin lagi belajar iqro’, sesuatu yang dalam 1 tahun terakhir malas dipelajarinya. Padahal sesuatu yang paling susah dilakukan adalah “merayunya” untuk belajar iqro’. Kalo disuruh, pasti ngeles dan mlinthir. trus kalo dimarahin, malah ngeyel dan marah. Pokoknya ribet dech hehehe…

Rasa takut lumayan berkurang, walau masih tampak gelisah diwajahnya. Trus dalam obrolan ringan dikamar, treeva tetap curhat, kalau dia masih merasa takut hantu. Lalu mama nya iseng-iseng bilang, itu gara-gara treeva gak mau sholat lima waktu, padahal usianya udah lebih 6 tahun. Kan dalam agama, anak yang berumur 7 tahun udah wajib sholat. Dan entah kenapa, dalam 2 hari terakhir dia mulai ikut rajin sholat, tanpa disuruh dan tanpa dipaksa. Walau masih sebatas jadi makmum, sholatnya pun tanpa berdoa karena belum hapal dan tanpa wudhu karena malas basah... Tapi lumayanlah, yang penting membiasakan diri dulu lah hehehe…

Saya langsung berpikir, ternyata untuk membuka sebuah jalan kebaikan, Gusti Allah menunjukkannya dengan cara yang sangat sederhana dan tak teduga.

Saya langsung teringat, bagaimana jalannya tiba-tiba saya bisa terjerumus bekerja didunia broadcasting. Sesuatu yang sejak SMA tidak ada gambaran sama sekali tentang bidang ini.

Berawal dari kegagalan UMPTN setelah lulus SMA, saat itu pilihan saya adalah 1. Psikologi UNPAD 2.Psikologi UGM 3. Sosiologi UNSOED, saya emang suka ilmu-ilmu social, mengingat adanya keterbatasan otak dalam bidang eksaks. Dan tak ada satupun yang lulus hiks hiks…

Lalu iseng2 bersama teman2 SMA kita ngluyur ke yogya, sekedar mencari informasi sekolah yang sesuai (kantong dan otak hehehe). Dan tujuan bus termudah yang dilalui di yogya dari terminal adalah kampus UGM. Karena hanya kampus itu yang kita tahu letaknya. So, berkeliling kita disana, dari boulevard, jalan ke fak. Sastra trus lanjut ke Fisipol. Di fakultas terakhir ini ada iklan pengumumam tentang pembukaan jurusan baru yaitu D3 Komunikasi; Public Relations, Broadcasting, Advertising. Yang kita sendiri gak faham mata kuliahnya akan gimana hehehe…

Iseng-iseng berhadiah kita langsung ndaftar, jurusan pun dipilih tanpa dipikir dulu. Pokoknya setahuku, kalo PR yang kuliah kebanyakan cewek, wah bisa2 dikira bencong kalo kuliah disitu. Trus kalau ADV harus bisa nggambar, padahal saya paling anti pelajaran gambar. Dan jurusan yang menurutku paling keren adalah BC karena bisa kerja di TV sambil liat artis hehehe. So, langsung dengan pede ndaftar jurusan ini, tanpa tahu apa dan bagaimana broadcasting itu hehehe…

Tuhan pun menuntun umatnya membuka jalan karir dari sesuatu yang sangat sederhana, yaitu iseng-iseng berhadiah.

Dalam dunia nyata, sering kita lihat orang-orang yang sukses dalam hidupnya, justru setelah dia “disisihkan” dari perusahaannya. Dalam keterpurukan, tiba-tiba seseorang tersadar bahwa talenta sebenarnya adalah berwiraswasta. Ada yang sukses jadi pengusaha ayam bakar seperti Ayam Bakar Mas Mono di Tebet. Ada yang berhasil jadi pengusaha mie ayam seperti Mie Raos yang sukses membuka waralaba.

Ada temanku, yang terpacu menjadi sukses, justru setelah dihina calon mertuanya karena hanya bekerja serabutan. “Pelecehan”ini membangkitkan kreatifitasnya membuka usaha aksesoris rumah tangga, seperti boneka unik, bantal lucu dll hingga sukses diekspor. Kini dia sukses menjadi kaya dan membuktikan bahwa penilaian mertuanya salah hehehe…

Terkadang Tuhan membuka pintu hidayah dengan cara yang lucu, tragis, gembira, bencana, tak terduga, dan sederhana, yang kita sendiri tidak pernah terpikir bahwa itulah cara Tuhan menyayangi umatnya.

Saya jadi ingat bahwa seumur hidup ini, baru sekali saya melihat ayah ibu saya menangis haru dan bahagia. Karena saya termasuk dalam kategori “anak durhaka” dan tidak pernah membuat bangga orang tua saya.

Berawal dari keberuntungan saya saat tiba2 disuruh liputan ke Arab. Sore saya masih liputan di Bogor, tiba2 ditelp suruh pulang ngurus paspor, karena tengah malam harus berangkat ke Riyadh. Semuanya serba mendadak dan tak terduga.

Saya bersyukur bisa dapat umroh gratis saat liputan KTT Liga Arab di Riyadh. Karena schedule umroh tidak ada dalam jadwal sebelumnya. Entah kenapa tiba2 pak Jusuf Kalla yang waktu itu hadir mewakili Indonesia, mengungkapkan niatnya untuk berumroh di malam hari.

Dan lewat tengah malam, dengan dipandu petugas kita berumroh ramai2. Lagi-lagi keberuntungan memihakku, karena ternyata rombongan pejabat pemerintahan mendapat kesempatan thawaf sambil dikawal asykar, sehingga tanpa kesulitan bisa mencium hajar aswad sampai tiga kali.

Bagiku sendiri, ini berkah sekaligus peringatan dari Tuhan agar memperbaiki ibadahku. Karena saat semua kawan-kawanku bisa mencium hajar aswad sambil berurai airmata, ternyata hatiku tak “tersentuh” oleh keagungan Ilahi. Aku hanya terdiam terpaku, tanpa bisa menangis bersyukur. Kucoba untuk memaksakan diri menangis dan gagal. Tapi aku sempat difoto saat mencium hajar aswad. Narsis memang, tapi inilah aku hehehe…

Dan foto itulah yang bisa membuatku merasa bahagia, karena melihat bapak ibuku menangis haru.

Saat mudik lebaran, kucetak foto dan kuberikan ke bapak ibuku buat kenang-kenangan dan gaya-gayaan hehehe. Tapi ternyata responnya tak terduga, saat kutunjukkan foto itu, bapakku yang biasanya cool dan pandai memendam perasaan, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti mau menangis, dan dengan lirih beliau berkata “bapak selama ini menginginkan satu hal dalam hidup yang belum tercapai, yaitu mencium hajar aswad. Dan itu gagal dilakukannya saat berhaji.” Tapi anaknya yang selama ini “durhaka” ternyata malah bisa melakukannya. Ada nada haru, bahagia, bangga dalam nada ucapannya yang sederhana. Tapi itu cukup membuka hatiku, bahwa ternyata untuk membahagiakan orang tua bisa dilakukan secara sederhana dan tak terduga.

Beliau tidak pernah menuntut anaknya untuk jadi kaya raya atau terkenal, beliau justru menangis bahagia saat melihat anaknya bisa “mewakilinya” mencium hajar aswad, sesuatu yang selama ini diimpikan. Semoga kelak beliau mampu mencapai harapannya.

Subhanallah, ternyata cara Tuhan untuk membahagiakan umatnya memang sangat sederhana dan tak terduga.


Celesta, 16 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Hutang Kok Buat Sedekah??

21.31 / Diposting oleh Phyrman / komentar (2)

Kata guru ngaji-ku, sebagai manusia yang beriman dan beragama sudah selayaknya kita berbagi dengan saudara-saudara lain yang belum diberi kenikmatan duniawi berlebih. Terlebih buat keluarga yang untuk sekedar makan tiga kali sehari aja susah, ada hak mereka atas harta kita. Dan saya pikir memang tiap agama juga mengajarkan umatnya untuk berbagi dech…

Dalam islam, kewajiban untuk berbagi dari sebagian harta disebut zakat, yang lainnya sunah kecuali ada perjanjian. Zakat yang wajib diberikan jika harta kita sudah mencapai nisab (ketentuan minimal jumlah harta-red) disebut zakat maal atau zakat harta. Dan nilainya pun tidak besar dan tidak bikin miskin pemiliknya, hanya 2,5% dari total harta. Jadi semakin kaya seseorang maka otomatis akan semakin banyak nilai harta yang dizakatkan. Menurutku ini fair kok, kalo Gusti Allah memberi rejeki banyak, maka yang harus dibagi juga banyak dong.

Namun islam juga membatasi jumlah sedekah kepada orang lain. Dalam aturan fiqih, jumlah maksimum yang boleh diberikan kepada orang lain sebagai sedekah nilainya tidak boleh lebih dari 1/3 total harta kekayaannya, kecuali atas kesepakatan dengan ahli warisnya. Artinya si pemilik harta dilarang bersedekah seluruh harta miliknya, sehingga dirinya menjadi miskin. Karena ada hak ahli waris dan hak keluarga yang wajib dihidupi atas hartanya tersebut. Juga ada hak diri si pemilik untuk berkembang; misal untuk belajar, berwiraswasta dll.

Intinya bersedekah memang wajib dan baik, tapi tidak boleh sampai menyengsarakan dirinya dan keluarganya yang wajib dihidupi. Tetap ada prioritas tanggung jawab sosial kedepan terhadap orang terdekatnya.

Karena ada aturan seperti itu, maka orang yang tidak mampu bersedekah, karena hartanya belum mencapai nisab, juga tidak dosa seandainya tidak berbagi kepada orang miskin. Malah menjadi dosa, jika gara-gara bersedekah, malah keluarganya menjadi sengsara. Apalagi kalau memaksakan diri “berhutang”, hanya sekedar untuk bersedekah.

Saya tidak tahu hukumnya secara fiqih, tetapi pandangan saya pribadi, ini bisa menjadi masalah karena dengan berhutang, maka ahli waris atau keluarganya yang akan terbebani hutang tersebut. Dalam fiqih, hutang juga merupakan warisan yang harus dibayarkan oleh anggota keluarga, jika si penghutang meninggal dunia.

Makanya saya agak bingung dengan logika pemikiran pemerintah yang “bersedekah” dengan memberi bantuan BLT kepada fakir miskin, tapi uangnya berasal dari hutang luar negeri.

Logika saya, jika si pejabat yang memberikan BLT sudah meninggal dunia atau tidak menjabat lagi, maka hutang tersebut harus ditanggung oleh ahli warisnya yaitu rakyat Indonesia dan anak cucu nya. Karena hutang tersebut kan tidak bersifat pribadi, tapi atas nama negara. Udah gitu jumlahnya sampai trilyunan lagi hehehe…

Begitu mendengar berita bahwa bantuan BLT dari hutang LN, ditambah lagi dengan munculnya informasi bahwa pemerintah periode 2004-2009 adalah penghutang terbesar sepanjang sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya langsung ilfeel dech hehehe…


Beberapa hari lalu, saya membaca status FB kawanku yang menulis tentang underlying asset sukuk pemerintah. Awalnya saya bingung, maklum sebagai rakyat awam, istilah ekonomi yang njlimet kayak gitu tidak masuk dalam memory hehehe… Karena penasaran, saya nanya ke temanku lain yang kebetulan kantornya pernah jadi agency iklan sebuah perusahaan securitas yang mengedarkan SUN (Surat Utang Negara) dan sukuk pemerintah.

Katanya, perbedaan gampangnya adalah kalo SUN itu cukup dengan jaminan pemerintah, tapi kalo sukuk karena berbasis hukum perbankan syariah maka harus ada jaminan barang real atau nyata.

Dan menurut berita, beberapa bulan sebelumnya pemerintah pernah berencana untuk menjaminkan Gelora Bung Karno!!! Kawasan yang juga menjadi symbol kedaulatan bangsa, selain istana negara.

Jika hal ini benar2 terlaksana, maka seandainya kedepan pemerintah Indonesia gagal membayar hutang sukuk nya, maka Gelora Bung Karno akan disita atau menjadi milik si penghutang.

Menurutku ini agak ngawur juga, kenapa nggak sekalian istana negara aja dijaminkan, jadi presiden berikutnya bisa memerintah dari kantor sewaan di senayan city hehehe…


Celesta, 14 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com


Cuplikan Berita Terkait:

Gelora Bung Karno Jadi Jaminan Sukuk
INILAH.COM, Jakarta .18/02/2009 - Pemerintah merencanakan untuk menjaminkan aset Gelora Bung Karno dalam penerbitan SBSN. Namun masih dalam pengkajian sebelum meminta persetujuan dari DPR.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pembiayaan Syariah, Direktorat Pengelolaan Utang
Depkeu Dahlan Siamat usai sosialisasi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di Jakarta, Rabu (18/2).

"Setelah menjaminkan aset Depkeu senilai Rp 13,6 triliun, kita akan menjaminkan aset Gelola Bung Karno untuk penerbitan SBSN berikutnya," katanya.

Aset Gelora Bung Karno saat ini bernilai Rp 50 triliun. Pemerintah hanya menjaminkan senilai Rp 21 triliun, jadi tidak semuanya dijaminkan. Langkah ini dimungkinkan karena
dalam UU SBSN, pemerintah diperbolehkan menjaminkan aset negara dalam penerbitan SBSN.

Namun masih menghadapi kendala karena untuk menjamin surat berharga syariah, semua aset harus dikelola secara syariah. Sebab, dalam Gelora Bung Karno terdapat aset hotel, kafe maupun klab malam yang diragukan dari sisi syariahnya.
"Selain itu ada beberapa aset yang belum jelas dari sisi kepemilikan," tandasnya. [tra]

Sumber: http://www.inilah.com



Utang Masa Pemerintahan SBY-JK Terbesar
Jumat, 12 Juni 2009 | 03:19 WIB

Jakarta, Kompas - Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.

Koalisi terdiri dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Perkumpulan Prakarsa, Perhimpunan Pengembangan Pesantren & Masyarakat (P3M), Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal, Pusat Telaah dan Informasi Regional, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, dan Publish What You Pay.

”Prestasi paling menonjol dari pemerintahan SBY-JK adalah utang kita meningkat. Ini catatan tersendiri,” kata Abdul Waidl dari P3M, Kamis (11/6).

Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31 persen dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun. Adapun posisi utang Januari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun.

Apabila pada tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari 2009 utang per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala.

Memerhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang ini adalah rezim antisubsidi.

Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumlah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi untuk kepentingang rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB. (sut)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Label:

Because In Our Mind; We Are Follower Not Leader Again.

09.24 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Kemarin kawanku, seorang produser TV swasta, mengajakku melihat monitor komputernya:
“Bro, you have to see it” katanya.
Lalu kutatap layar yang terpampang disitu, urutan peringkat dari AC Nielsen tentang rating program televisi.
“I don’t believe it” katanya lagi.
Sebuah program yang bertahun-tahun kemarin selalu merajai dunianya, tiba-tiba terpuruk pada peringkat 21, jauh dibawah rival-rivalnya.

Sebagai orang yang merintis karir dari nol di perusahaannya, kawanku tentunya sudah hapal dengan persaingan sebuah program atau produk di bisnis kapitalis seperti ini. Semuanya bergerak naik turun, kadang menjadi nomor satu lalu turun menjadi no 2, 3 dan seterusnya, lalu kembali naik. Tapi terpuruk pada level bawah klasemen sementara, ini sungguh diluar dugaan.

Sering kita melihat orang yang merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang dilakukannya, tiba-tiba terperangah bahwa dirinya harus kembali bekerja keras mengumpulkan segala ide, kreatifitas, teamwork untuk perlahan-lahan merangkak naik menuju ke nomor satu lagi. Suatu jalan yang berat, karena lawan-lawan kita sudah bergerak lebih cepat dengan fasilitas pendukung, kebijakan perusahaan yang lebih terbuka dan kebebasan berkreasi.

Mempertahankan posisi juara, ternyata lebih susah daripada meraihnya.

Seorang kawan lain yang berkerja dibagian “frontline” atau pasukan garis depan, pernah curhat, bahwa dirinya merasa kecewa karena setiap idenya tidak pernah didengar atasannya. Katanya , beberapa informasi yang dia berikan, yang menurutnya bisa menjadi “headline” seringkali tidak ditanggapi positif, bahkan diabaikan begitu saja. Setelah media lain mengangkatnya sebagai headline, baru dia kebakaran jenggot disuruh mengejar narasumber tersebut. But, it’s too late. Kita hanya menjadi “follower” saja, karena esok hari informasi yang ada sudah berganti lagi.

Kawan yang lain lagi, yang dalam level manajemen berada ditingkat tengah, juga merasa tidak bisa optimal. Karena ide-idenya mentok oleh aturan rapat pimpinan yang terkadang tidak mengakomodir konsep kreatifnya itu. Akhirnya dia hanya bersifat pasrah aja, pokoknya ikut apa kata pimpinan dech. Daripada memaksakan diri, malah dianggap melawan dan salah, mending nurut aja dech. Dan diapun telah berubah menjadi “follower”.

Dan mungkin sang pimpinan pun, merasakan hal yang sama. Bahwa ide-ide briliannya seringkali kurang direspon manajemen, karena dinilai membutuhkan biaya besar, sedangkan pendapatannya belum tentu sebanding dengan biaya tersebut. Dia pun hanya menjadi “follower” sang big bos.
Semua orang berpikir bahwa dirinya hanyalah follower dari sang atasan, bukan leader bagi dirinya sendiri dan anak buahnya.

Dibutuhkan keberanian besar dan kemampuan meghitung resiko untuk menjadi leader.

Dalam sebuah moment, beberapa teman tampak terkesima melihat tayangan program dari TV lain yang begitu menawan. Sebuah live event perhelatan besar, dengan berbagai kamera disetiap sudutnya. Dengan penampilan sang MC yang adalah presenter dari TV tersebut. Ada nada kagum menyaksikannya, ada pula nada sinis yang bersifat pribadi saat mengomentari sang MC yang berpakaian terlalu seksi. Semuanya tampak tergambar jelas disitu, sebuah rasa trenyuh dan kekecewaan yang besar. Kenapa bukan mereka yang menjadi penayang utama event tersebut, tapi malah rivalnya. Kemana saja sebelumnya, sampai-sampai tidak bisa melihat peluang yang begitu besar didepan mata.

Ada komunikasi yang terputus dalam hal ini. Ada kekecewaan yang mengurung kemampuan sejati. Ada langkah yang belum seragam dalam memandang sebuah masalah. Dan yang paling parah adalah ada perubahan pemikiran, dari seorang leader menjadi follower.

Dalam ilmu manajemen disebutkan sebuah kesuksesan besar hanya bisa diraih dengan tindakan yang beresiko besar pula. Seorang penjudi kelas kakap akan lebih cepat kaya mendadak dibanding penjudi kelas teri. Walau mungkin resikonya pun bisa miskin mendadak. Diperlukan sebuah manajemen resiko yang kuat.

Secara personal, banyak contoh orang yang tidak berkembang pada sebuah perusahaan, tiba-tiba kemudian menjadi “orang” yang paling dibutuhkan oleh perusahaan lain. Artinya ada kemampuan tersembunyi yang tiba-tiba “meledak” justru ketika dia diberi kebebasan berkreasi. Jadi persoalannya bukanlah pada sumber daya manusia nya, tapi bagaimana meng optimalkan SDM itu sendiri.

Lalu bagaimana mengembalikan kepercayaan diri lagi, bahwa kita bisa kembali menjadi leader bukan hanya seorang follower. Training motivasi pernah diberikan pada beberapa teman, tapi kayaknya kurang berhasil “mengerek” semangat itu. Tetap muncul rasa takut bahwa kalau si karyawan bergerak terlalu bebas, akan ada sanksi besar terhadapnya. Ada rasa was-was bahwa kalau melawan, jabatannya akan digantikan oleh orang lain.

Rasa takut adalah musuh terbesar untuk menjadi seorang leader.

Terbelenggunya sebuah kreatifitas dalam zona takut adalah kerugian yang sangat besar. Menjadi takut adalah hal yang wajar. Tapi kalo sudah berubah menjadi phobia, maka banyak akal sehat yang terlupakan. Karena akan menjadi gagap dan tidak siap diri.

Dibutuhkan sebuah “kata sepakat” bahwa kesalahan adalah milik bersama, bukan personal si pembuat kesalahan. Bahwa ide kreatif, informasi yang tak biasa, dan kebebasan berekspresi akan diakomodir dengan pertanggungjawaban yang sesuai, bukan penghakiman.

Tatkala kebebasan dari rasa takut sudah ada, tatkala kenyamanan berkreasi diberikan, tatkala semua informasi, ide, gagasan diakomodir seperti yang seharusnya. Maka jalan menuju tangga juara tinggal selangkah lagi.

Celesta, 11 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Takut: Nyata Atau Fantasi

08.06 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

1
Semua manusia pasti punya rasa takut terhadap sesuatu. Entah itu yang bersifat nyata atau kebendaan maupun yang bersifat fantasi. Beragam ketakutan menghinggapi alam pikiran kita, ada yang hanya sementara namun ada pula yang menjadi phobia. Ada yang takut pada makhluk hidup lain karena kebuasannya seperti ular, singa, tentara, polisi, diktator, satpol PP dll. Ada juga karena faktor jijik atau geli seperti kecoa, lalat, tikus dll.
Sebagian yang lain takut pada makhluk “dunia lain” seperti hantu, pocong dll. Lalu ada juga yang takut pada tempat tertentu seperti tempat gelap, ketinggian, keramaian dll.

Lalu apa sebenarnya takut itu sendiri? Bagaimana ia tiba-tiba datang dan menyergap pikiran kita? Benarkah benar-benar nyata? Atau hanya fantasi otak kita saja? Trus bagaimana menghapuskan takut itu? Beragam pertanyaan datang bertubi-tubi untuk membahas “rasa” yang dimiliki setiap manusia ini. Dan beragam dampak juga akan muncul terkait keberadaan rasa takut itu sendiri.

(Alm) Cak Munir pernah mengatakan (atau mencuplik) bahwa sesungguhnya rasa takut terbesar manusia adalah pada ketakutan untuk melawan rasa takut itu sendiri. Mungkin maksudnya adalah bahwa ketakutan adalah ciptaan atau fantasi manusia itu sendiri, dia datang dari dalam diri bukan luar tubuh kita. Dia bukan diciptakan oleh satpol PP yang bertindak ganas, atau tentara yang menculik atau polisi yang gegabah, bukan pula oleh diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Namun “takut” datang karena kita menciptakannya, kita takut untuk melawan penderitaan karena khawatir akan datang penderitaan yang lebih besar. Tanpa keberanian melawan “takut”, maka dia akan selalu bersemayam dalam pikiran kita.

Secara teori psikologi, Rasa takut merupakan reaksi manusiawi yang secara biologis merupakan mekanisme perlindungan bagi seseorang pada saat menghadapi bahaya. Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti, melihat atau mendengarkan.

Mari pelan-pelan kita telusuri satu persatu rasa takut itu. Saya paling takut pada ular berbisa, kenapa saya takut? Karena saya berpikir bahwa “jika” saya tiba-tiba digigit ular itu, saya tidak akan bisa menghindar dan dalam hitungan menit saya bisa tewas tanpa perlawanan. Saya tidak takut pada singa atau tentara, alasan saya sederhana yaitu saya masih bisa melawan untuk sekedar mempertahankan hidup. Padahal seandainya terjadi, saya bisa lari jika bertemu ular atau mengikat area gigitan untuk sementara waktu sampai datang pengobatan.

Dalam psikologi, takut juga bisa berasal dari trauma masa lalu yang masih tersimpan dalam memori otak, sehingga secara tak sadar akan muncul pada situasi tertentu. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun sukses kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut, telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap bicara dan lain sebagainya.

Untuk melawan rasa takut, manusia melakukan berbagai macam cara, ada yang melawan ketakutan justru dengan cara melakukan hal yang paling ditakutinya. Yang takut ketinggian, mencoba terbang naik paralayang. Yang takut hantu, mecoba mendatangi kuburan. Yang takut jatuh, mencoba berkegiatan rock climbing. Maka muncullah ide kreatif program TV seperti Dunia Lain, Ekspedisi Alam Gaib, No fear dll. Intinya adalah menantang ketakutan yang selama ini meresap di pikiran banyak orang.

Namun ternyata perlawanan manusia terhadap ketakutan itu sering menjadi kalap dan tidak terkontrol. Ketakutan terbesar manusia adalah pada kematian. Dan gilanya, banyak orang yang mencoba melawan ketakutan ini dengan cara bunuh diri. Di internet banyak bermunculan komunitas bunuh diri, yang menyajikan cara-cara kematian diri, dari yang sangat sederhana sampai paling menyakitkan. Ternyata “rasa takut” yang terkadang tidak logis ini malah dilawan dengan tindakan yang lebih tidak logis lagi, yaitu berani bunuh diri tanpa alasan.

2
Ada sebuah riset yang menarik, bahwa saat ini sebagian besar ketakutan manusia bukan berasal dari hal-hal yang bersifat imajinatif seperti hantu atau phobia pada benda tertentu. Namun justru terkait dengan masa depannya sendiri. Dalam riset tersebut urutannya adalah takut kena PHK, takut tidak punya uang, takut tidak bisa melindungi anak, takut kekerasan yang terjadi dimana-mana, takut terkena penyakit akibat gaya hidup kurang sehat, takut berpisah dari pasangan (sumber: simple plan).

Tapi kalo disimpulkan, semua takut itu bermuara pada takut sengsara dan menderita.

Dampak takut pun beragam. Yang paling menyebalkan adalah ada orang yang takut hidupnya “sengsara” sehingga melakukan “korupsi”. Guna menghindari kesengsaraan dikemudian hari, orang beramai-ramai menipu negara, menumpuk harta haram di rekening pribadinya. Kenapa orang-orang ini tidak takut masuk penjara yaa, padahal kalau tertangkap dan hidup dibui, dijamin “lebih sengsara” dibanding hidup biasa di alam kebebasan.

Rasa takut terlahir dari ilusi tentang penderitaan dan kemalangan yang akan kita hadapi. Dalam sebuah pesta mungkin kita makan sekenyang-kenyangnya, karena dibayangi oleh ilusi kelaparan esok hari atau kehilangan makanan yang nikmat itu. Demikian juga ketika banyak orang korupsi dan bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, itu pun karena dibayangi ilusi akan penderitaan di dunia. Sehingga membuat kita menjadi kalap dan kehilangan batas-batas kewajaran. Rasa takut membuat ilusi menjadi kenyataan dan kenyatan menjadi ilusi.

Mungkin kini para koruptor yang “terbui” menyesal bahwa ketakutannya dimasa lalu tentang penderitaan, berubah menjadi kenyataan, bahwa kehidupan penjara memang sengsara dan menakutkan hehehe.

Contoh positif bagaimana orang besar mampu melawan ketakutannya tampak pada tokoh pahlawan kita. Kalo dulu Bung Karno dan Bung Hatta takut sengsara, pasti mereka akan memilih hidup nikmat di negeri Belanda, bukan memerdekakan bangsa dengan resiko hidup sengsara atau tewas dalam perjuangan.

Kalo dulu Cak Munir takut sama tentara, pasti dia akan memilih hidup menjadi rakyat biasa daripada mendirikan Kontras untuk membela hak-hak korban penculikan dan berakhir dengan kematiannya sendiri.

Trus kalo dipikir-pikir, sebenarnya kehidupan kita saat ini jauh dari ketakutan dibanding zaman penjajahan dulu. Jadi buat apa takut?? Atau jangan2 kita perlu hidup “menderita” dulu agar bisa merasakan bahwa hidup menderita ternyata tidak terlalu menakutkan hehehe…

Mungkin benar kata para ustadz, berpuasalah!! Karena berpuasa akan menjauhkan diri dari ketakutan akan kelaparan dan penderitaan )


Sency, 10 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Reputasi Salah Tempat

10.54 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Cuplikan Berita:

JAKARTA -- Jaksa dan pegawai di lingkungan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang, Banten, mendapatkan pelayanan gratis kesehatan dari Rumah Sakit (RS) Omni Internasional yang dituangkan melalui selembaran pengumuman.

"Pengumuman medical check up dari RS Omni Internasional itu, sempat dipasang di lingkungan kejari namun tidak lama kemudian dicabut kembali," kata kuasa hukum Prita Mulyasari, Slamet Yuwono, di Jakarta, Senin.

Slamet menambahkan pengumuman pelayanan gratis dari RS Omni International itu sempat terlihat pada saat penangkapan terhadap Prita Mulyasari pada 13 Mei 2009 oleh pihak kejaksaan. "Di dalam pengumuman itu tertera cap dan pejabat di lingkungan kejari," katanya.

"Pengumuman itu saja ditujukan kepada pegawai dan jaksanya, bagaimana dengan pimpinannya," katanya. Dikatakannya, pihaknya sudah memiliki bukti kuat adanya praktik penyuapan dalam perkara tersebut antara pihak kejaksaan dengan RS Omni International.

Sumber: http://www.republika.co.id
Senin, 08 Juni 2009 pukul 15:32:00

Hehehe, membaca cuplikan berita ini kita pastinya akan tersenyum. Bagaimana tidak, sebuah suap terselubung terpasang dengan resmi dipapan pengumuman Kejaksaan Negeri Banten, dan pengumuman yang sangat menyenangkan bagi pegawainya ternyata menjadi blunder bagi para jaksa. Karena menjadi bukti hukum dalam kasus dugaan suap oleh RS Omni Internasional.

Secara internal organisasi, pegawai dan para jaksa pasti akan gembira membaca pengumuman yang menyenangkan ini dan mungkin akan menambah semangat kerja. Tapi bagi masyarakat luar (eksternal) akan timbul pertanyaan kritis, kan sebuah institusi negara tidak boleh bekerjasama dengan swasta, karena semua asuransi sudah ditanggung pemerintah melalui asuransi kesehatan (askes).

Pengumuman yang bagus itu ternyata berdampak ganda, para pegawainya akan memberi pandangan positif terhadap reputasi institusi/perusahaan. Namun bagi publik, reputasi institusi ini akan rusak, karena dianggap menyelewengkan wewenang. Apalagi dalam hal ini pemberi sumbangan adalah perusahaan yang sedang terlibat kasus hukum dengan pihak lain.

Fakta ini membuktikan bahwa peranan PR sangat penting dalam menjaga citra dan reputasi perusahaan. Menjadi PR ternyata tidak gampang, karena hal-hal sepele seperti “pengumuman” itu ternyata bisa disalahtafsirkan dan dipahami berbeda oleh publik.

Menurut International Public Relations Association (IPRA), yang merupakan wadah PR Internasional, menyatakan bahwa PR merupakan fungsi manajemen yang direncanakan
dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi, lembaga umum maupun pribadi untuk memperoleh dan membina saling pengertian, simpati dan dukungan publik dengan cara menilai opini publik, yang bertujuan untuk menghubungkan kebijaksanaan dan prosedur, guna mencapai kerja sama yang lebih produktif dan untuk memenuhi kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan kegiatan komunikasi yang terencana dan tersebar luas.

Banyak orang berpikiran salah dalam memahami PR, ada yang memandang PR hanya sebagai tukang kliping surat kabar, tukang dokumentasi acara pimpinan, atau bahkan hanya sekedar sebagai penerima tamu. Sehingga kualifikasinya pun jauh dari standarisasi PR profesional.

Prida A.A.A,S.Sos.,M.Si. membuat tulisan menarik dengan membuat rumusan fungsi dan peran PR;
1. PR bekerja dengan realitas (fakta), dan bukan fiksi.
2. PR bekerja dengan publik (khalayak aktif) dan tidak didasarkan pada hubungan secara pribadi. Seorang praktisi PR memang harus pandai membangun personal relations
te tapi orientasi layanan yang dibe rikan didasarkan pada kepentingan publik dan bukan perseorangan.
3. Kepentingan publik harus menjadi acuan utama penyelenggaraan sebuah program atau kebijakan, oleh karena itu seorang PR harus bisa mengatakan ”tidak” pada program dan kebijakan yang hanya menguntungkan orangorang tertentu saja.
4. Karena PR berkewajiban untuk dapat mencapai beragam publik maka digunakan media massa, oleh sebab itu integritas media massa te rsebut harus dapat dipertanggung
jawabkan.
5. Karena PR menjembatani hubungan antara organisasi dengan publiknya, maka praktisi PR harusnya seorang komunikator yang handal hingga pengertian antara organisasi dan publiknya dapat tercapai.
6. PR harus bisa menggunakan riset opini publik yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, dalam upaya mencapai komunikasi dua arah dan menjalankan tanggung
jawabnya sebagai seorang komunikator.
7. Seorang PR juga harus mampu menggunakan pendekatan keilmuan te rutama ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, psikologi sosial, opini publik, komunikasi, dan semantik, untuk dapat memahami publik organisasi.
8. Bidang kerja PR membutuhkan aplikasi multidisiplin ilmu, oleh karena itu praktisi PR wajib menguasai beragam disiplin ilmu.
9. Seorang praktisi PR juga harus waspada te rhadap masalah yang te rjadi sehingga masalah te rsebut tidak akan berubah menjadi krisis.
10. Praktisi PR harus bisa dinilai berdasarkan ethical performancenya.

Ternyata menjadi seorang PR tidak gampang yaa??

(Dari berbagai sumber di internet)


Sency, 10 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Tentang (susahnya) Menjadi Ikhlas

05.29 / Diposting oleh Phyrman / komentar (1)

Kawan,
Seringkah kita merasa berhasrat untuk bersedekah tapi kemudian batal memberikan
Karena pikiran kita berburuk sangka kepadanya
Tak jarang recehan yang sudah tergenggam dan hanya selangkah meletakkan ditangannya
Tiba-tiba masih saja tergenggam, saat tangan meminta itu beredar didepan kita

Kawan,
Aku hanya ingin bercerita tentang susahnya menjadi ikhlas
Kemarin ada seorang pria berpeci yang membagikan kertas, berisi tulisan memohon bantuan modal untuk berdagang peci
Hatiku tersentuh dan mengagumi semangatnya untuk berwirausaha
Tapi entah kenapa tanganku berat sekali menarik lembaran kertas dari dompet
Hanya karena otakku berpikir bahwa tak mungkin orang muda yang sederhana itu kekurangan harta untuk usaha

Dan usai si pemuda meninggalkanku tanpa sedekahku, aku menjadi gelisah
Karena tak jauh dari tempatku duduk, seorang mahasiswi berjilbab dengan ikhlas merogoh kantong celananya dan memberikannya dengan senyum keharuan
Dia memberi tanpa berpikir buruk terhadap si pemuda
Tanpa peduli apakah si peminta berbohong atau jujur
Karena yang bisa menilai kebenarannya hanyalah Yang Maha Tahu

Kawan,
Dilain hari aku juga melakukan hal yang sama
Diperempatan lampu merah jalanan yang macet dan penuh asap knalpot
Ada seorang ibu berpakaian kumal menggendong anaknya yang masih balita
Dari pakaiannya hampir pasti profesinya adalah pengemis
Melihat tatap mata sang anak yang menghiba
Hatiku menjadi tersentuh karenanya

Tapi lagi-lagi tanganku enggan bergerak menarik lembaran rupiah dari dompet
Bahkan membuka kaca pun tidak
Hanya karena otakku menghitung
Jika semua pengemis harus diberi sedekah, berapa banyak uang yang harus kuberikan
Karena disekelilingnya puluhan pengemis juga berkeliling mengetuk kaca kendaraan

Dan usai lampu merah berganti hijau
Kembali aku menyesal
Kenapa aku tidak pernah bisa ikhlas memberi
Dan hanya berpikir menuruti logika pikiran yang penuh prasangka

Tuhan,
Kini aku mengharap hidayahMU, karena aku merasa resah
Ternyata segala retorikaku tentang berbagi
Hanyalah sebatas ucapan tanpa perbuatan
Kenapa aku harus egois berhitung untuk masa depanku
Sedangkan rejekiMU tiada terhitung nilainya
Kenapa logika akalku selalu menghalangi sentuhan hati
Padahal Engkau ciptakan akal untuk berpikir tentang kebenaran

Rasa kikirku telah menutupi kebenaran hati
Sedangkan otak dangkalku malah melakukan pembenaran terhadapnya

Tuhan,
Ajarkanlah aku untuk menjadi ikhlas
Minimal sekedar bisa memisahkan mana kebenaran tentang orang yang benar-benar berusaha
Dan mana kebenaran palsu dibalik kumalnya baju

Atau ajarkan aku cara menjadi ikhlas
Minimal sekedar menghapus prasangka buruk terhadap orang lain

Kawan,
Aku juga butuh nasehatmu….


Sency, 8 Juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

Prita Vs RS Omni; Salah Langkah Strategi Public Relations

12.50 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Niat Prita Mulyasari untuk curhat pada teman-temannya tentang pelayanan RS Omni Internasional berbuntut pada gugatan hukum yaitu pencemaran nama baik. Kasus hukum yang menurut saya sangat “sederhana” itu kemudian menjadi ranah publik, saat terjadi pemaksaan aturan hukum berupa penahanan Prita Mulyasari. Hampir semua media massa mengangkat berita ini sebagai headline, ditambah kasus ini kemudian bergeser ke ranah politik dengan kedatangan para capres yang berempati pada nyonya Prita. Eforia masyarakat mengutuk terjadinya “penyimpangan” hukum semakin menguat, terkait kontroversi pemberlakuan Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Berbagai isu pun ikut berkembang misalnya dugaan suap RS Omni kepada Jaksa, hingga neoliberalisme perseteruan Perusahaan Besar VS Rakyat Kecil.

Saya yakin pihak RS Omni Internasional sebagai pihak penggugat pasti tidak menyangka, bahwa kasus ini akan menjadi berita nasional yang kemudian berbalik memojokkannya. Menurut saya ini adalah kegagalan dari public relations RS Omni Internasional dalam mengatur strateginya. Rencana gugatan untuk membuktikan bahwa pihak rumah sakit tidak bersalah, malah berbalik hilangnya empati masyarakat hingga tuntutan penutupan rumah sakit. Sebagai sebuah strategi PR, ini adalah sebuah langkah yang salah dalam mengelola manajemen krisis.

Secara teori, krisis seringkali merupakan titik balik dalam kehidupan suatu perusahaan/organisasi yang dapat memberikan kesempatan untuk menetapkan reputasi bagi kompetensinya, untuk membentuk perusahaan/organisasi tersebut, membentuknya serta menghadapi issue-issue penting. Namun bertindak pada saat krisis memiliki resiko yang tinggi. Sebuah strategi dibutuhkan untuk memutuskan kapan menentukan suatu situasi sebagai sebuah krisis, kapan harus mengambil tindakan dan bekerja dengan pihak-pihak lain dalam menyelesaikan krisis tersebut. Namun ketika ketegangan meninggi, menetapkan suatu strategi menjadi tidak mudah. Karena itulah perencanaan di awal akan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada masalah aktual ketika ia memuncak serta memberikan kerangka kerja bagi tindakan yang diperlukan (Regester & Larkin, 2003:170).

Mari kita telusuri satu per satu kronologis kejadian dan strategi PR yang dilakukan;
1. Email dari Prita Mulyasari di milis tentang buruknya pelayanan di RS Omni.
Ada dua pilihan dalam menyelesaikan krisis ini, yaitu menyelesaikannya secara kekeluargaan atau menempuh jalur hukum. Dan manajemen Omni memilih jalur hukum. Keuntungan jalur ini adalah ada pembuktian pengadilan pada masyarakat bahwa rumah sakit tidak bersalah dan menjadi shock therapy bagi pasien lain agar tidak menggugat pelayanan RS jika tidak ada bukti. Namun kelemahannya adalah si pasien dalam hal ini nyonya Prita akan trauma dan tidak akan mau berobat di RS Omni lagi. Artinya RS Omni akan kehilangan satu pelanggan ditambah beberapa teman-teman nya, karena efek jera itu. Pasien pasti akan berpikir “ngapain saya bayar, kalau kemudian merasa tidak nyaman dan diancam masuk penjara”.

Seandainya sejak awal, strategi PR dalam penyelesaian krisis ini secara kekeluargaan, mungkin pihak RS Omni malah bisa menarik simpati pasien dan juga rekan-rekannya. Dan masalah pun bisa terselesaikan dalam lingkup yang kecil.

2. Perkembangan kasus hukum yang diluar dugaan.
Dalam berbagai kasus hukum yang melibatkan pelanggan dan perusahaan, biasanya pihak perusahaan cukup mendapat “pemulihan nama baik” dari hasil keputusan pengadilan Artinya perusahaan tidak perlu menuntut agar pelanggan membayar ganti rugi yang besar dan menyengsarakan tergugat. Ada win win solution disini, ada efek jera bagi tergugat namun pelanggan pun tidak akan ketakutan untuk kembali menggunakan jasa perusahaan. Faktanya nilai gugatan perdata yang diajukan RS Omni sangat besar yang tidak mungkin mampu dibayar tergugat. Dalam hal ini PR tidak mampu mengontrol nilai tuntutan yang masuk akal karena tidak mempertimbangkan dampak negatif dari gugatan itu. Nilai gugatan yang besar menunjukkan “keserakahan” perusahaan dalam menguras harta pelanggan, implikasinya adalah pasien atau pelanggan lain akan kehilangan kepercayaan pada nilai jual produk jasa perusahaan.

Kemudian, kasus pencemaran nama baik adalah delik aduan. Artinya ini bukan kasus kriminal murni dimana tergugat bisa dipenjarakan jika gugatan dicabut. Saya tidak tahu apakah penahanan Prita Mulyasari oleh pihak kejaksaan adalah murni kebijakan jaksa, atau ada permintaan dari pihak RS Omni untuk menahannya. Karena alasannya pun sangat lemah, yaitu menghindari penghilangan barang bukti dan tergugat melarikan diri. Barang bukti apa yang dibuang, sedangkan bukti email sudah beredar di milis. Lalu melihat kondisi sosial tergugat, kecil kemungkinan bisa melarikan diri sampai jaksa tidak mempu menemukannya.

Munculnya isu suap adalah sebuah krisis susulan bagi perusahaan, masyarakat indonesia yang sudah muak dengan berbagai kejahatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan semakin kehilangan empatinya, jika ternyata dugaan ini terbukti.

Unsur lain yang dilupakan oleh PR adalah penentuan juru bicara perusahaan, yang dalam berbagai konferensi pers diwakili oleh kuasa hukum. Ada beberapa kutipan wawancara kuasa hukum yang menunjukkan arogansi perusahaan untuk tidak menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dan cenderung hiperbola dalam menyalahkan tergugat. Bahasa hukum yang terkadang kaku dan keras, selayaknya tidak dipakai. Karena kalau menilik awal mula perseteruan, sebenarnya pihak RS Omni tidak perlu terlalu keras terhadap pasiennya, karena “hidup” sebuah perusahaan sebenarnya berasal dari uang si pelanggan itu sendiri.

Dan tugas PR pun semakin berat, ketika para netter menggalang aksi solidaritas pada nyonya Prita Mulyasari dan menggugat penyimpangan kasus hukum ini. Ditambah lagi banyaknya para politisi Capres dan tim sukses yang turun untuk sekedar berempati, dan semuanya terekam dalam headline media massa berskala nasional. Artinya bukan lagi puluhan atau ratusan orang yang tahu kasus “buruknya pelayanan RS Omni Internasional” tapi ratusan ribu bahkan jutaan masyarakat.

Menurut saya langkah PR paling tepat untuk menyelesaikan krisis perusahaan ini;

Pertama adalah strategi rendah diri perusahaan dengan cara merangkul si pasien tergugat yaitu nyonya Prita Mulyasari, mencabut gugatan hukum dan mengkondisikan agar akhir dari perseteruan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan damai. Karena sikap rendah diri akan menghasilkan empati yang besar dari masyarakat.

Langkah kedua adalah perbaikan layanan dan promosi bahwa layanan rumah sakit sudah semakin profesional.

Langkah ketiga adalah menciptakan image sebagai rumah sakit terbuka bagi masyarakat, untuk menghapus kesan arogan yang selama ini muncul.

Karena hanya dengan strategi penanganan manajemen krisis yang tepatlah, maka nama baik dan kelangsungan hidup perusahaan akan tetap terjaga.

Sency, 5 Juni 2009


Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label:

V.O.N.I.S

00.24 / Diposting oleh Phyrman / komentar (0)

Jika kita mendengar kata vonis, maka pikiran kita akan bergerak menyusuri sebuah terowongan imajinasi yang menakutkan. Sebuah kata yang bisa berarti adalah akhir dari segalanya, akhir dari sebuah perjuangan, akhir dari sebuah kesenangan, dan mungkin akhir dari hidup itu sendiri.

Sesungguhnya vonis hanyalah pendapat manusia tentang suatu hal berkaitan dengan profesi dan keilmuan yang dimilikinya. Seorang hakim bisa memberi vonis mati berdasarkan ilmu hukum yang dipelajarinya. Seorang dokter bisa memberi vonis akhir kehidupan pasien, juga karena ilmu kedokteran yang dimilikinya.

Seseorang karena tanggung jawab profesinya kemudian punya hak dan kewajiban untuk memberikan vonis bagi manusia lain. Walaupun mungkin itu bertentangan dengan hatinya. Saya percaya tidak ada dokter yang tega memberikan sebuah vonis sisa umur pada pasien kankernya, tanpa melihat realitas kasus pasien-pasien sebelumnya. Pun seorang hakim dalam memvonis orang lain, tentunya berdasarkan undang-undang atau aturan yang diyakininya.

Tapi kalo ada orang yang membuat vonis karena alasan lain, sehingga membuat sebuah vonis menjadi lebih ringan atau lebih berat dari seharusnya, maka hukum Tuhan lah yang kemudian berlaku terhadapnya. Misalkan hakim yang memperberat atau memperingan vonis karena disuap, atau dokter yang membuat vonis penyakit tampak lebih kronis agar pasien takut dan rela mengeluarkan uang banyak, maka itu adalah penyimpangan terhadap makna vonis itu sendiri.

Tapi bagaimana dengan orang yang “divonis”? apakah itu berarti akhir dari perjalanannya. Sikap apakah yang akan diambil, jika sebuah “vonis” telah dijatuhkan. Marah dan memprotes vonis itu, lalu memberontak dan melawan dengan segenap kekuatan diri, atau menerima dengan pasrah vonis tersebut dan membiarkan kematian mendatanginya, atau tabah, tawakkal dan tetap "mempertanyakan" isi vonis itu.

Beragam sikap orang dalam menyikapi sebuah vonis; di televisi, seorang wanita bandar narkoba kelas kakap menangis dan pingsan saat mendengar hakim memvonis mati untuk kejahatannya. Tapi Amrozy cs malah bersyukur karena menurut mereka hal itu mempercepat “pertemuan” dengan surga.

Disebuah rumah sakit, seorang penderita kanker langsung syok dan semakin memburuk kondisi fisiknya setelah sang dokter memvonis bahwa umurnya tinggal menghitung hari, kematiannya malah lebih cepat dari vonis dokter karena tekanan mental. Namun ditempat lain, seorang pasien malah memutuskan keluar dari rumah sakit untuk mencari pengobatan alternatif lain yang bisa lebih memberinya sebuah harapan, dan berakhir dengan kesembuhan.

Sesungguhnya vonis hanyalah keputusan manusia biasa, yang bisa jadi salah atau kurang tepat. Vonis bisa jadi lebih ringan atau bahkan lebih berat dari yang seharusnya. Seorang hakim bisa saja salah menafsirkan sebuah kasus, sehingga salah menghukum orang. Pun juga seorang dokter mungkin saja salah diagnosa, sehingga memberi vonis yang berlebihan dari seharusnya. Karena hakim dan dokter adalah manusia biasa, yang tak lepas dari kesalahan dan dosa.

Hasil vonis juga bukanlah sebuah kemutlakan, segalanya bisa berubah sesuai putaran roda dunia. Hukuman bagi seseorang bisa saja dibatalkan atau dirubah, karena ditemukan bukti-bukti baru dalam kasus hukumnya atau perubahan sistem perundang-undangan di negara tersebut. Contohnya adalah keajaiban bagi tersangka “salah tangkap” dalam pembunuhan Asrori di Jawa Timur, tiga tersangka yang sudah divonis, akhirnya dibebaskan setelah ada pengakuan dari Ryan “sang penjagal”. Kekuatan harapan dan doa adalah kunci keajaiban itu.

Demikian pula sebuah penyakit, bisa saja menjadi sembuh karena pengobatan yang dijalaninya plus mental optimis dari si pasien.Seorang pengidap kanker stadium 3, yang sudah divonis dokter tinggal menghitung hari, Drs.Patoppoi Pasau, malah sukses menemukan sistem pengobatan kanker alternatif “keladi tikus”, beliau menjadi orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Berkat perjuangannya, kini para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman dengan nama latin Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.

Ya, karena vonis adalah pendapat manusia, maka sebuah vonis juga bisa dirubah. Lance Armstrong, sprinter sepeda asal amerika berhasil membuktikannya. Lance divonis menderita kanker testis. Dan, parahnya, penyakit itu didiagnosis sudah menjalar hingga ke paru-paru dan otaknya. Harapan memperoleh kesembuhan menurut dokternya sangat tipis. Tapi, sebagai seorang pria bermental juara, Lance tak menyerah. Ia tak patah semangat dan segera menjalani berbagai operasi dan kemoterapi untuk menyelamatkan hidup dan kariernya.

Harapannya untuk sembuh sangat besar. Lance bertekad ingin menjadi juara sejati, dalam dunia balap sepeda dan untuk mengatasi penyakitnya. Tentu, keinginan tersebut sempat diragukan banyak orang. Sebab, untuk menjadi juara, seorang atlet butuh stamina prima, sedangkan Lance justru sedang dalam kondisi kritis. Namun, ia tidak peduli apa penilaian orang lain.

Terbukti kerja kerasnya berbuah manis. Setelah perjuangannya melawan kanker berhasil diatasinya-hanya berselang 18 minggu kemudian-Lance berhasil menjuarai Tour de France untuk kali pertama, yakni pada tahun 1999.

Menurut Lance, penyakit kanker tersebut telah banyak memberikan pelajaran berharga bagi hidupnya. Dukungan dari keluarga, teman, dan orang-orang disekitarnya menjadikan dirinya tegar untuk melawan penyakit, sekaligus untuk meraih impiannya menjadi juara Tour de France.

Selalu ada harapan dan keajaiban bagi orang yang mempercayainya. Keyakinan akan sebuah kebenaran dan campur tangan sang pencipta adalah cara untuk merubah vonis manusia. Seberat apapun vonis tersebut.

Seorang kawan memberi nasehat yang baik, “jadikanlah vonis itu menjadi titik balik sebuah kesuksesan dimasa depan, jangan jadikan vonis sebagai hambatan meraih harapan.”

Vonis menjadi sebuah kemutlakan, jika itu berasal dari sang pencipta manusia.
Namun manusia tidak akan pernah tahu isi vonis tersebut, karenanya harapan dan perjuangan adalah sebuah keharusan untuk merubah isi V.O.N.I.S itu sendiri.


S.E.N.C.Y, 3 juni 2009

Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com

Label: