Persaingan ketat industri televisi dalam memperebutkan kue iklan yang mengecil, tentunya akan menghasilkan inovasi-inovasi yang kreatif. Masing – masing stasiun tegerak untuk menciptakan program yang baru guna menjaring masyarakat untuk tetap setia di layar kaca miliknya. Beragam program muncul; reality show dengan beragam genre, konser musik dengan berbagai kemasan, sinetron dengan variasi tema, hingga tayangan berita eksklusif yang mirip reality show.
Semuanya demi rating.
Puncak industri kreatif televisi dalam memproduksi program-programnya secara inhouse dan massal, dipelopori oleh TransTV. Sejak berdiri beberapa tahun silam, televisi milik bos grup Para, Chairul Tanjung ini, memproduksi hampir semua programnya sendiri. Dari acara hiburan seperti extravaganza, program dokumenter Jelajah dan Wisata Kuliner, hingga infotainment pun dikelola sendiri. Strategi ini ternyata cukup efektif dalam memperkuat ekonomi perusahaan, karena biaya produksi bisa sangat efisien, apalagi jika memakai tenaga kerja muda yang rela dibayar standar. Terbukti hanya dalam waktu 3 tahun TransTV mampu bersaing masuk dalam 5 besar televisi nasional. Nasib ini berbeda dengan stasiun TV lain yang lahir hampir bersamaan yaitu TV7, Lativi, dan MetroTV. TV7 diakuisisi dan merger dengan TransTV lalu berganti nama menjadi Trans7. Lativi berganti kepemilikan dan berubah namanya menjadi TVOne. Sedangkan Metro tetap berada dalam posisi buncit dalam perolehan billing iklan.
Fenomena naiknya TransTV dengan format program non drama yang notabene “berbeda” dengan televisi yang sudah mapan saat itu, menjadi tren tersendiri bagi pemirsa. Tren program reality show; baik program lisensi asing maupun original karya anak bangsa sangat dinikmati oleh masyarakat yang saat itu sudah jenuh dengan tayangan sinetron dari pagi sampai malam. Program extravaganza menjadi top rating hingga kemudian ditayangkan daily, usai merger Trans7 menggebrak dengan Program dialog Empat Mata yang dibawakan secara komedi oleh artis kocak Tukul Arwana. RCTI memiliki program lisensi Who Wants to be Millionare? Dan sebagainya.
Namun ternyata eforia tersebut tidak berlangsung lama. Masyarakat kemudian dibuat muak oleh tayangan reality show yang cenderung bertema sama, contohnya format charity reality show ada berbagai judul; Bedah Rumah di RCTI, Toloooong di SCTV, Seandainya Aku di Trans TV dll. Masyarakat dibuat berpaling setelah menumukan banyaknya kebohongan dan eksploitasi terhadap orang miskin yang menjadi tokoh dalam program tersebut.
Dalam 2 tahun terakhir terjadi perubahan arah angin, masyarakat kembali menggemari program drama atau sinetron. Tema yang diangkat pun sejenis, yaitu mistis, religi dan hantu. Ketiga tema tersebut seringkali diramu dalam satu kemasan program. Kembalinya tren sinetron ini membuat stasiun televisi terpaksa mengikuti arah pasar. Rumah produksi drama yang sebelumnya sempat mati suri akibat maraknya program non drama, kembali mendapat suntikan darah segar.
Adanya larangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang melarang sinetron mistis dan hantu, membuat stasiun televisi menggeser tema nya. Maka sinetron bertema cinta, perselingkuhan, perceraian, konflik keluarga pun kembali marak. Tiadanya alternatif program non drama yang bagus, membuat program sinetron marak hingga sekarang. Hampir semua televisi memiliki sinetron bahkan beberapa stasiun televisi mengandalkan programnya dari sinetron.
Program televisi saat ini nyaris seragam. Sinetron, sinetron dan sinetron.
Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya bagi para pekerja kreatif televisi, karena mereka kehilangan “lapak” untuk menyalurkan kreatifitas dan karya-karyanya. Secara ekonomi, hampir 100% program sinetron yang ada adalah buah karya production house, bahkan kalo dipersempit lagi hanya sekitar 3 rumah produksi besar yang menguasai mayoritas sinetron di berbagai televisi nasional.
Fenomena dagang program ini, bukan tidak mungkin akan menghilangkan daya kreatif industri televisi. Karena stasiun televisi atas nama efisiensi akan memilih menjadi “toko kelontong” program yang ditawarkan production house. Stasiun televisi tidak harus menggaji besar para pekerja kreatif, mereka cukup membeli “barang” dari suplier yaitu rumah produksi dan menjual kembali dengan keuntungan yang cukup oleh departemen marketing.
Jika stasiun televisi kehilangan visi misi nya dan memilih menjadi kapitalis murni yang hanya menghitung untung rugi, maka menjadi “toko kelontong” adalah pilihan yang tepat. Perusahaan cukup memiliki departemen programming, marketing, on air, dan beberapa departemen pendukung dengan karyawan yang relatif sedikit. Sedangkan departemen kreatif seperti departemen produksi dan pemberitaan, yang dulu menjadi tulang punggung program televisi, bisa jadi akan diminimalkan. Karena diluar sana akan bermunculan perusahaan “content provider” yang bisa negosiasi harga dan jual beli putus tanpa ikatan dan tuntutan hukum dikemudian hari.
Ah, semoga ini hanya mimpi burukku…
Bangun! Bangun! Udah sahur nich hehehe…
Sency, 4 September 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Televisi: Industri Kreatif atau Toko Kelontong Kreatif?
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme)
Benarkah gambaran nasionalisme kita juga seperti itu? Sebuah naluri hewani yang muncul untuk mempertahankan diri? Nasionalisme yang notabene lemah dan bermutu rendah? Sebuah kekuatan yang akan sirna, jika lawan sudah pergi?
Ya, jujur saja saat membaca definisi dari wikipedia itu saya ingin tertawa.
Menertawakan diri sendiri yang terlalu bersemangat berteriak “ganyang Malaysia”, karena klaim tari pendet nya melalui iklan di Discovery Channel.
Menertawakan media massa yang setiap hari memprovokasi masyarakat untuk menyerang negara tetangga karena “tindak pencurian” nya yang sudah berulang kali.
Menertawakan tayangan heroik saat kapal TNI AL mengusir kapal perang Malaysia dalam kasus Ambalat.
Kenapa harus tertawa?
Karena semua usaha yang kita lakukan menjadi sia-sia;
kita teriak "ganyang malaysia", tapi disana ada 2 juta TKI yang bergantung hidup.
Kita tuntut "pencurian budaya", tapi kita sendiri tidak melestarikannya.
Kita jaga wilayah perbatasan, tapi penghuni pulau tersebut lebih memilih bergabung dengan negara lain.
Setiap hari kita disusupi pemikiran oleh para pengamat, digiring opini oleh media massa, dan dipaksa mengakui bahwa negara tetangga kita adalah jahat, maling, dan culas. Tapi kita tidak pernah bisa menghentikan besarnya animo masyarakat kelas bawah yang ingin bekerja disana menjadi TKI, kita tidak pernah bisa menghentikan hasrat konsumsi dengan berutang KPR di bank-bank milik negeri jiran itu, dan kita juga tidak pernah bisa menolak milyarder-milyarder mereka untuk menguasai saham-saham di BUMN.
Lalu nasionalisme seperti apa yang kita miliki?
Di bidang olahraga, Timnas sepakbola kita adalah contoh paling tepat untuk menggambarkannya; semangat para pemain untuk memenangkan Timnas PSSI dilakukan dengan cara memprotes keputusan wasit yang memberi hukuman pinalti atau bahkan menyerangnya, bukan dengan berlatih mengasah kemampuan sebaik mungkin, dan berusaha menyerang pertahanan lawan untuk memasukkan gol. Di bangku penonton, semangat nasionalisme digelorakan dengan menyerang suporter Timnas negara lain, jika kita kalah dalam pertandingan internasional. Tapi usai pertandingan, tidak satu pun pemain dan pengurus PSSI yang instropeksi diri, lalu berniat membangun Timnas sepakbola yang disegani minimal di kawasan Asia Tenggara.
Di bidang budaya, semua media massa mengangkat isu “pencurian” tari pendet, terkait tayangan iklan promosi Malaysia di discovery channel, ratusan pemuda dari berbagai daerah turun ke jalan berdemonstrasi lalu puluhan penggiat seni, pengamat budaya, hingga presiden turut angkat bicara. Semuanya memamerkan nasionalismenya dengan berteriak olah kata. Namun seiring waktu berlalu, pariwisata kita tetap stagnan, pagelaran tari tradisional tetap sepi penonton, minim sekali generasi muda yang mau belajar budaya lokal, tak ada sedikit pun niat untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Seni seolah menjadi milik turis, dan bangsa asing yang mengagumi keindahannya.
Di bidang politik, isu Ambalat adalah berita terhangat dan terpanas hingga sekarang. Tayangan heroik saat kapal TNI AL mengusir kapal perang Malaysia dari perairan NKRI masih sering diulang-ulang oleh televisi. Hilangnya Sipadan dan Ligitan dalam sengketa arbritasi internasional menjadi trauma tersendiri. Kita lupa bahwa kekalahan kita dalam sengketa wilayah tersebut adalah karena tiadanya perhatian terhadap pulau-pulau di perbatasan. Fakta menunjukkan bahwa Malaysia sudah membangun kawasan wisata di kedua pulau itu, dan semua penduduknya juga ber KTP negara itu. Ketika warga penghuni sudah menentukan pilihan hidupnya, hukum politik hanyalah soal garis batas, bukan bagaimana menyejahterakan rakyat.
Disaat nasionalisme orang lain ditunjukkan dengan menunjukkan hegemoninya atas negara lain, dengan penguasaan ekonomi dan militer. Para elit politik kita masih sibuk menghancurkan negara dengan korupsi; mengganjal berlakunya UU Tipikor, merusak kewenangan KPK dari berbagai sisi, hingga mencegah masuknya para idealis pemberantas korupsi kedalam sistem audit negara seperti BPK.
Ya, nasionalisme era reformasi seolah sedang mencapai titik puncak nya; dengan mengatakan bahwa harta negara adalah harta pribadi kita juga.
Nasionalisme kita baru sebatas kata-kata, hanya sekedar wacana untuk membangun, belum sampai tahap melangkah.
Mungkin kita harus sejenak menoleh ke belakang, menyimak Pidato Bung Karno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi”, yang dimuat di Suluh Indonesia tahun 1928
“Nasionalisme kita bukanlah nasionalisme jang timbul dari kesombongan belaka; ia adalah nasionalisme jang lebar,-ia adalah nasionalisme jang timbul dari pada pengetahuan atas susunan dunia dan riwajat; ia bukanlah jingo-nationalism atau chauvinism, dan bukanlah suatu copy atau tiruan pada nasionalisme Barat. Nasionalisme kita ialah suatu nasionalisme, jang menerima rasa hidupnja itu sebagai suatu wahju dan mendjalankan rasa hidupnja itu sebagai suatu bakti…Nasionalisme kita ialah nasionalisme ke-Timur-an, dan sekali-kali bukanlah nasionalisme ke Barat-an jang…adalah “ suatu nasionalisme jang menjerang-njerang, suatu nasionalisme jang mengedjar diri sendiri, suatu nasinalisme perdagangan jang untung atau rugi”… Nasionalisme kita adalah nasionalisme jang membuat kita menjadi perkakasnja Tuhan, Nasionalisme kita menjadi hidup dalam roch.
Sency, 2 September 2009
Dwi Firmansyah
“Hamid ditangkap polisi”, ungkap Azra pelan.
“Kapan dan kenapa?”, tanyaku sambil menatap wajahnya..
“Kemarin malam di musholla dekat rumahnya, dia dituduh terlibat aksi pengeboman sebuah hotel beberapa bulan silam”, Azra kembali menatapku dengan mata menyala.
“Ah, tidak mungkin. Apa yang bisa dia lakukan, hatinya yang halus dan perasa itu tidak mungkin mampu melakukannya”, protesku sambil sejenak menatap mata Azra yang menahan amarah.
Aku kembali membayangkan kebersamaan kita dulu, tatkala kami bertiga masih duduk di bangku Madarasah Tsanawiyah, di sebuah pesantren kecil di kota Solo, Jawa Tengah. Ya, hampir 20 yahun berlalu, tapi kenangan itu masih tertancap kuat dalam memoriku. Kami datang dari tiga daerah yang berbeda, aku dari Pemalang, Azra dari Semarang dan Hamid asal Sragen, sebuah kabupaten kecil tak jauh dari Solo. Kami disatukan oleh kamar di asrama yang dipenuhi sekitar 17 santri dari berbagai daerah. Kami bertiga memilih tidur berjejer dengan beralaskan kasur lipat yang tipis di pojok kamar, diantara lemari-lemari yang berjajar. Di kamar seluas 6 X 4 itu lah kami saling berbagi cerita tentang keluarga masing-masing, tentang alasan memilih sekolah di pesantren dan jauh dari orang tua, tentang hukuman disiplin yang berat dan seringkali membuat kita ingin keluar dan lain-lain. Kebersamaan itulah yang menguatkan kita untuk bisa menyelesaikan pendidikan ini.
“Bagaimana ceritanya, dia bisa dituduh terlibat dalam aksi teror itu?” Tanyaku penasaran.
“Entahlah, tapi menurut cerita ayahnya, ada seorang kawan Hamid yang tertangkap polisi mengaku bahwa Hamid juga mempunyai peranan penting dalam peristiwa itu.” Kata Azra.
“Siapa kawan Hamid itu, dan bagaimana dia bisa mengatakan bahwa Hamid terlibat dalam kasus itu, apakah polisi menemukan bukti-buktinya?” Tanyaku kembali.
“Informasinya masih simpang siur. Kata ayah Hamid, kawannya itu juga dipaksa mengaku untuk mencari jalinan pelaku yang kata polisi memiliki ideologi yang sama dengannya. Karena terus disiksa, terpaksa dia berbohong dan menyebut nama Hamid. Karena hanya dia satu-satunya sahabat dekatnya yang memungkinkan polisi percaya bahwa mereka mempunyai hubungan dekat yang kuat dan saling melindungi.” Azra menjelaskan dengan emosi.
Ingatan akan masa lalu kembali membayang di pelupuk mata, saat hari Jumat pagi tiba, yang berarti adalah hari libur sekolah. Jumat adalah hari yang paling kita nanti-nantikan. Setelah 6 hari terkurung dalam tembok tinggi yang tidak memungkinkan kita untuk melompatinya, kita menemukan kebebasan sejenak. Berbaur dengan masyarakat, melihat-lihat suasana kota solo, atau sekedar jalan-jalan mencari buku bekas di belakang Sriwedari dengan sekali naik bus umum.
Kami mempunyai ritual rutin setiap hari Jumat, usai sholat subuh di masjid, kami menyiapkan celana training, kaos oblong dan sepatu kets untuk berlari memutari bundaran Manahan yang terletak sekitar lima kilometer dari Pabelan, tempat pesantren kami berada. Lalu pulangnya kami tidak berlari di jalan raya, tapi berjalan menyusuri jalanan kampung yang masih asri, sambil menikmati indahnya perkebunan tebu yang dulu menjadi komoditas andalan para petani di sekitarnya. Terkadang kita iseng, masuk ke dalam kebun tebu sambil bermimpi suatu saat akan menjadi tuan tanah yang bisa menjadi penyuplai pabrik tebu terbesar di Karanganyar itu. Atau memetik pucuk-pucuk bunga tebu, sambil membayangkan kampung halaman yang sudah lebih dari 6 bulan kita tinggalkan. Atau kalau ada keberanian, kita meminta pada para petani agar diberikan sebatang pohon tebu, untuk digerogoti rasa manisnya. Ah, kebersamaan yang kuat.
“Lalu bagaimana kondisi Hamid?” tanyaku lagi.
“Kondisinya batinnya baik-baik saja, walau dia agak syok dan bingung. Tapi dia cukup kuat untuk menerima fitnah dari temannya tersebut, dan berusaha memahami alasan sahabatnya untuk turut melibatkannya dalam kasus teror yang sama sekali tidak dipahaminya. Tapi fisiknya lumayan drop, wajahnya sedikit membiru, sedangkan kakinya susah digerakan karena dibalik celana panjangnya yang menggantung tampak bekas-bekas pukulan benda tumpul melukai organ dalam tulang-tulangnya yang rapuh.” Azra kembali menahan emosinya.
Hamid dan Azra adalah dua sahabat dekat yang saling mengisi, Hamid bertubuh mungil dengan otak yang cerdas, namun sensitive dan pendiam. Sedang Azra adalah figure “preman” dalam pesantren, berkali-kali mendapat hukuman disiplin dari pengurus, dari yang dibentak-bentak senior, dihukum pukul pakai penggaris, hingga digunduli rambutnya, sebagai hukuman tertinggi untuk mempermalukan santri agar tidak mengulang kesalahan, sudah berkali-kali dijalaninya. Azra yang emosionil pada masa itu adalah pelarian dari konflik keluarga dirumahnya, yang membuatnya memilih untuk masuk pesantren daripada setiap hari harus menyaksikan “pertempuran kata” antara ibu bapaknya. Rasa kekeluargaan yang didapat di pesantren itulah yang membuat Azra merasa diterima dan berusaha melindungi ikatan kecil ini dari gangguan luar.
Hamid adalah pahlawan kecil bagi Azra. Dengan otak brilian dan kesabaran Hamid mengajar lah yang membuat Azra sukses menyelesaikan deadline “belajar ngaji” sebelum dikeluarkan oleh sekolah karena tidak bisa membaca Alquran hingga pertegahan semester pertama. Jiwa guru Hamid lah yang membuat nilai-nilai Azra lumayan bagus saat mengerjakan PR, walau hancur saat ujian akhir.
Kelulusan sekolah tidak menghalangi persahabatan kami terputus begitu saja. Aku meneruskan sekolah di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, lalu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Hamid memilih tetap tinggal di Solo, memperdalam ilmu agama dan bekerja menjadi dosen di sebuah universitas islam swasta, sambil mendirikan pesantren kecil. Sedangkan Azra adalah salah satu mantan aktivis mahasiswa yang cukup ternama, dan kini meneruskan karirnya sebagai pengurus sebuah partai politik.
“Hamid tidak bersalah. Dia bukan teroris!!” tegas Azra pelan.
“Aku tahu betul karakternya, dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Jangan-jangan benar kata orang-orang ku, dia sengaja dikorbankan untuk memancingku keluar. Iya, aku ingat beberapa bulan lalu, seorang lawan politikku menekanku untuk diam, dan dia bilang akan menghancurkan diriku dan orang-orang terdekatku, jika aku tetap bicara.” Azra terdiam sejenak. “Ya pasti ini ulah si jahanam itu. Dia sengaja menyuap polisi agar menangkap Hamid dalam kasus terorisme, supaya dalam pengusutan nanti, dia bisa memaksa Hamid untuk membuat pengakuan, terkait kedekatan kita dulu.”
“Kau lihat hasilnya, kawan. Sekarang pesantren yang dipimpin Hamid telah bubar, orang tua murid mana yang berani memasukkan anaknya untuk dididik seorang teroris. Jangan –jangan nantinya akan dijadikan “pengantin”. Keluarganya terpaksa mengungsi, menghindari sindiran dan amarah warga, yang dulu sangat menghormatinya dan sekarang memandang dengan ketakutan. Seolah rumah-rumah mereka akan diledakkan.”
Aku kembali membayangkan sahabat mungilku itu, yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan tartil setiap ba’da magrib. Aku teringat bagaimana dia dengan sabar mengajari kami ilmu fiqh, berdiskusi tentang halal haram, sampai mendengar keluhan kami yang terlambat dapat kiriman orang tua. Sosok sahabat yang sabar dan lurus, dan kini harus menanggung beban berat yang mungkin tidak akan pernah dibayangkannya seumur hidup.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku.
“Aku sudah menyiapkan pengacara terbaik untuk membela Hamid. Dan aku juga sedang menyiapkan orang-orang terbaikku untuk melakukan “aksi” di kota lain. Sekedar menunjukkan pada polisi, bahwa Hamid bukanlah otak pelaku teror tersebut, dia hanyalah kambing hitam. Karena ada kelompok lain yang lebih professional dan menjadi pelaku sebenarnya dari teror itu.” Papar Azra.
“Maksudmu…?” Seruku.
“Ya, hanya dengan cara itu lah, aku bisa membebaskan Hamid dari segala tuduhan…”
Celesta, 31 Agustus 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com