Ada dua hal yang menginspirasi saya untuk ikutan nimbrung berbagi cerita tentang pentingnya memberi sebuah kesempatan. Yang pertama adalah curcol (curhat colongan-red) dari seorang sahabat yang saya akui kehebatan dan profesionalitas nya dalam bekerja dan yang kedua adalah artikel dari penulis gaya hidup idola saya, Samuel Mulia, di harian Kompas 9 Mei 2010.
Seorang sahabat saya dalam suatu kesempatan bercerita tentang sistem di kantornya, yang menurutnya agak aneh. Mendengar kata aneh, yang berkonotasi dengan nyleneh, saya langsung serius tertarik mendengarnya. Di kantornya, kawan saya merasa sudah mencurahkan segenap karya dan rasa dengan titik keringat terakhir untuk memberi yang terbaik bagi perusahaan, tetapi selalu tidak pernah diberi kesempatan untuk promosi jabatan. Dan ketika dia berusaha menanyakan ke atasan, didapat jawaban yang cukup mengiris hati; “soalnya kamu tidak pernah mengeluh ke saya untuk naik jabatan, sedangkan yang lain sudah berulangkali curhat. Jadi saya pikir kamu sangat menikmati jabatanmu selama ini.
Lho, kok bisa?? Bagaimana mungkin sebuah kesempatan promosi jabatan hanya didasarkan pada curahan hati, bukan pada kemampuan? Seseorang yang tidak pernah mengeluh terhadap pekerjaannya, demi atas nama profesionalitas, kemudian dituduh “menikmati” pekerjaannya sekarang, sehingga tidak diberi kesempatan bersaing mencapai promosi. Sementara orang lain yang selalu mengeluh dengan pekerjaannya, malah lebih diapresiasi hanya dengan alasan biar tidak mengeluh lagi.
“Persaingan kesempatan” tertutup bagi para professional yang mau belajar, tetapi hanya milik para pengadu dan pencurhat. Sebuah nepotisme terselubung yang mendasarkan pada kedekatan pribadi. Sistem nepotisme hanya akan melahirkan persaingan tidak sehat antar karyawan dan berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Nah lho, kalo sistemnya begini bukannya malah enak, jadilah si pengeluh agar bisa dapat kesempatan promosi hehehe…
Samuel Mulia menulis tentang ke”iri”an hatinya terhadap Roberto Cavalli, perancang mode Italia, yang berani mengelar festival mode dengan model baru dan membuat iklan produk nya dengan lebih memilih memakai jasa fotografer baru. Samuel dengan jeli mengkritisi kebiasaan mayoritas orang, yang dia representasikan dengan dirinya, yang ketika menjadi pemimpin lebih suka memilih orang-orang terbaik yang sudah “jadi” daripada memberi kesempatan kepada orang ”belum ternama” untuk berkembang. Roberto Cavalli disebutnya sebagai orang yang mau bekerja keras membabat hutan untuk menemukan batu berlian mentah, bukan tipe orang yang hanya berani memamerkan berlian polesan.
Soal menyoal menjadi pemimpin yang baik, saya langsung teringat allenatore idola saya, Jose Mourinho, pelatih tim sepak bola Inter Milan yang saat ini sedang berusaha meraih gelar treble. Kendati merupakan sosok pelatih kontroversial dan dibenci media, tetapi saya menyukainya karena kecerdasannya dalam meracik tim. Mr Mou mampu merubah anak buahnya dari bukan siapa-siapa menjadi tim yang disegani lawan. Dia sosok pelatih yang tidak peduli bagaimana kualitas awal pemain-pemainnya, karena baginya, salah satu tugas pelatih adalah merubah dari yang “tidak berkualitas” menjadi “berkualitas”. Dalam perjalanan karirnya, Mr Mou mampu menyulap FC Porto, sebuah tim kecil asal negerinya Portugal, menjadi juara Liga Champion, yang biasanya merupakan langganan milik tim sepakbola kaya Eropa, seperti MU, AC Milan, atau Real Madrid.
Satu hal yang menginspirasi dari sosok Mourinho adalah keberaniannya melawan mainstream, dan kenekatannya melawan keinginan pihak lain yang sering mempengaruhi sebuah kebijakan. Dia tidak peduli citra, yang dia pedulikan adalah karya. Contoh kasus adalah ketika salah satu pemainnya, Mario Balotelli, mendapat kecaman dari para internisi (fans Inter Milan-red) saat bermain buruk dan membuang kostum usai pertandingan, sehingga diserang oleh salah satu pemain Inter dan nyaris dikeroyok oleh internisi di luar stadion. Saat itu pendukung Inter mendesak Mourinho agar mendepak Bolatelli dari skuad, karena dianggap menghina dan melukai perasaan internisi.
Namun Mourinho tetaplah Mourinho, sosok yang berani melawan tekanan luar, seberapapun besar desakan itu. Mou cuek dan membela Bolatelli dengan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri dan agar bisa menjadi bagian dari skuad inti. Sang Manajer tetap memberinya kesempatan untuk bermain guna mengembalikan potensi Balotelli ke permainan terbaiknya. Walhasil, dalam pertandingan melawan Chievo, Balotelli membayar kepercayaan Sang Boss, dengan turut menyumbangkan gol penting dalam memuluskan usaha meraih gelar scudetto Serie A Italia.
Pun ketika salah satu striker terbaiknya, Zlatan Ibrahimovic, yang telah turut menghantarkan Inter meraih scudetto 3 kali berturut-turut, lebih memilih hengkang ke klub terbaik dunia saat ini, FC Barcelona, dan dijual dengan harga fantastis. Mou tidak tergoda menghambur-hamburkan uang hasil penjualan tersebut untuk membeli pemain-pemain terbaik dari klub lain, guna memperkuat skuad, tapi lebih memilih memberi kesempatan kepada pemain-pemain yang sudah dimilikinya untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi tim. Dan hasilnya adalah Inter Milan mampu menumbangkan FC Barcelona dalam semifinal Liga Champion.
Keberanian memberikan kesempatan yang sama, akan melahirkan persaingan yang sehat bagi anak buahnya, semua orang akan terpacu untuk menunjukkan kinerja terbaiknya, jika diberi kesempatan untuk tampil. Dengan memberi kesempatan, sang pemimpin cukup berdiri memantau dan sesekali bertepuk tangan melemparkan pujian bagi anggota tim yang sukses berkontribusi.
Seperti sosok Mourinho yang ekspresif bertepuk tangan dari pinggir lapangan, kala para pemainnya berpesta gol ke gawang lawan.
Forza Inter Milan!!!
Fiva Mourinho!!!
Celesta, 11 Mei 2010
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Ada satu kalimat inspiratif dari novelis Andrea Hirata yang banyak menyentuh hati penggemarnya; “Dan bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu…”. Sebuah kalimat yang menjadi tag line bagi karyanya paling populer Laskar Pelangi. Kumpulan kata yang sangat kuat dan mampu membakar semangat hati yang mulai membeku.
”Bermimpi” menjadi kata paling indah untuk diucapkan, paling nikmat untuk dijalani dan paling mudah untuk dipenuhi. Karena kita cukup berdiam sejenak, memejamkan mata, melepaskan segala beban hidup, membayangkan apa yang kita inginkan, dan tertidur.
Seharusnya ”mimpi” yang kita angankan adalah menjadi sebuah motivasi, seperti gambaran Ikal yang merepresentasikan sang penulisnya dalam novel Laskar Pelangi. Namun dalam realitanya, seringkali ”mimpi” tersebut hanya menjadi imaji semu yang justru menerbangkan kita ke dunia awang-awang yang jauh dari kenyataan. ”Mimpi” terlalu indah itu malah merusak bayangan kita tentang kerasnya kehidupan, melemahkan urat syaraf kita untuk berlomba memeras keringat demi mencapai sebuah target. Dan buaiannya menghambat tapak-tapak kaki untuk melangkah di bumi.
Ibuku pernah bercerita tentang seorang priyayi sepuh di kampungku yang tidak mau membiayai sekolah cucunya hingga perguruan tinggi. Alasannya pun sangat sederhana, karena dia merasa kapok melihat tabiat anak kandungnya, seorang sarjana dari sebuah universitas swasta ternama, yang dulu diimpikannya akan menjadi pegawai atau wiraswastawan yang mapan, namun hingga usia mendekati 40 an tidak mau bekerja keras. Dan hanya menggantungkan hidupnya dari bapaknya, sang priyayi sepuh itu.
Mimpi indah priyayi sepuh direalisasikan dengan menyekolahkan sang anak hingga lulus perguruan tinggi. Namum mimpi itu buyar tatkala sang anak pun hanya mau bermimpi menjadi pegawai bergaji besar atau pengusaha sukses, tanpa bersedia merintis dari anak tangga terbawah. Sang anak yang hidup di desa, merasa gengsi untuk menjadi orang suruhan, hanya karena merasa dirinya adalah satu dari segelintir orang yang mampu meraih gelar sarjana disitu. Harga dirinya akan jatuh jika dia tidak langsung menjadi pimpinan. Dia pun tak tahan, jika harus merintis usaha sendiri dengan cara menawarkan barang-barang ke konsumen dari rumah ke rumah. Karena dia merasa bahwa dirinya lah yang seharusnya membeli barang-barang itu, bukan menjadi sales yang menurunkan derajat untuk merayu pelanggannya.
Dan ”mimpi” itu telah mengangkat tubuhnya untuk tidak menapak di bumi nan fana.
Di ibukota nan hiruk pikuk ini, belasan stasiun televisi telah menghipnotis masyarakat miskin kota dengan buaian mimpi lewat program sinetron yang tidak realistis. Kisah gadis miskin yang dicintai pemuda kaya raya dan lalu dalam sekejap menjadi direktur perusahaan calon mertuanya tersebut. Atau seorang pencopet berhati lembut yang beruntung berwajah tampan sehingga membuat putri konglomerat tergila-gila. Adegan film yang hiper realitas telah mengkonstruksi alam bawah sadar masyarakat untuk bersikap instan dan pragmatis dalam usaha mencapai target. Maka muncullah copet-copet trendy yang bergaya metroseksual atau penipu-penipu modis yang merayu untuk melucuti harta pasangannya. Maka jangan kaget kalo melihat di program berita kriminal televisi, banyak penjahat-penjahat yang berdandan keren layaknya eksekutif muda.
Mimpi-mimpi yang tertanam telah membentuk cara-cara praktis, ekonomis dan efisien, untuk mendapatkan uang, tentu saja dengan jalan yang merugikan orang lain.
Kalau kita bertanya kepada masyarakat kecil, realitas seperti apakah yang tergambar dalam benak mereka, tentang gambaran ustadz yang ideal. Maka jawabannya adalah seperti ustadz Uje yang tampan atau Ustadz Yusuf Mansur yang cool, yang selalu mengajarkan tata cara bersedekah kepada umat. Masyarakat ”memaksakan” mimpinya bahwa gambaran seorang ustadz yang disegani, disamping mempunyai ilmu agama yang tinggi, juga harus rajin bersedekah, sehingga tanpa sadar, ada tuntutan bahwa seorang ustadz juga harus kaya raya. Semakin sering beramal, semakin tinggi nilai prestise nya, dan akan semakin disegani oleh masyarakatnya.
Tuntutan ”harus kaya” agar lebih disegani, membuat seorang ”ustadz” akan berusaha memperkaya dirinya. Kalo dia mampu dengan cara yang halal, maka itu akan menjadi barokah bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya. Namun yang seringkali terjadi adalah untuk meraih mimpi menjadi ”ustadz” yang terhormat, seseorang melakukan korupsi, yang sebagian harta hasil korupsinya tersebut, kemudian disedekahkan, diinfaqkan, dan dizakatkan kepada orang lain. Maka tak heran, jika hasil riset peringkat korupsi oleh sebuah LSM menempatkan departemen para ustadz menjadi departemen terkorup di negeri ini.
Dalam realitas kehidupan yang sederhana, sering kita terjebak dalam mimpi yang cair. Sebuah mimpi yang oleh orang lain bisa tercapai melalui kerja keras, tetapi kita hanya bisa memeluk bayangan mimpi itu sendiri. Seperti mimpi sukses berbisnis MLM dengan iming-iming meraup jutaan rupiah dalam waktu singkat, jika mampu menarik dua atau tiga downline dan berikut seterusnya ke bawah. Namun nyatanya tidak sesederhana itu, karena pada prakteknya usaha yang harus dijalankan, justru bisa sepuluh kali lebih berat dari yang kita bayangkan. Butuh energi dan semangat ekstra keras untuk mencapai target.
Tak salah kalo sutradara Hanung Bramantyo memilih tema MLM untuk film terbarunya ”Menebus Mimpi” dalam rangka memperingati Hari Kartini (gak nyambung yaaa hehehe...)
Terkadang mimpi tidak hanya menjadi sumber inspirasi , tetapi juga menjadi awan penghalang bagi kita untuk menapak ke bumi.
Note: Maksudnya kebanyakan mimpi justru gak kerja-kerja hehehe...
Sency, 20 April 2010
Siang tadi saya merasa sangat bahagia ketika membaca tulisan seorang konco gojek kere saat kuliah di Yogya dulu, Noor Huda Ismail atau kita biasa memanggilnya Si Om, yang kini sudah sukses sebagai pengamat teroris yang sering masuk tv hehehe… Si om dengan cerdas mengkritisi fenomena penembakmatian teroris oleh polisi. Opini yang ditulis di harian kompas, 12 Maret 2010, judul “Perlukah Tembak Mati Teroris?” menggugat tindakan polisi yang seringkali mengakhiri proses perburuan pelaku teroris yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun justru hanya dengan sebutir peluru di bagian tubuh yang mematikan.
Dalam tulisannya, Si Om mengkritisi fenomena tersebut dengan 4 alasan: pertama, hukum di Indonesia menggunakan asas hukum praduga tidak bersalah, sehingga seorang tersangka tidak seharusnya dieksekusi mati (judicial Killing) tanpa melalui proses peradilan. Kedua, terputusnya arus informasi tentang kelompok teroris, karena hanya pimpinan kelompoklah yang “tahu banyak” tentang seluk beluk organisasi. Ketiga,menghapus kesan bahwa ancaman terorisme adalah hal yang nyata, bukan sekedar “rekaan” polisi. Keempat, menghapus harapan untuk bisa mengembalikan anggota teroris lain yang notabene hanyalah anak buah bertobat ke jalan yang benar.
Ada sebuah pemaparan yang menurut saya sangat menggelitik, “Dalam kasus Dulmatin, saya sulit membayangkan adanya sebuah perlawanan berarti yang dilakukan Dulmatin, yang waktu itu tengah berada di bilik warnet yang sempit, walaupun polisi beralasan bahwa Dulmatin bersenjata dan hendak menembakkan pistol ke arah polisi”. Sebuah kalimat yang menegaskan tentang adanya kemungkinan pelanggaran prosedur yang berakibat fatal, yaitu penghilangan nyawa manusia.
Saya langsung terbayang peristiwa penggrebekan Ibrohim (tersangka pelaku bom JW Marriot-Ritz Carlton-red) di Temanggung, yang sebelumnya sempat salah info sebagai Noordin M Top, dimana hampir semua stasiun televisi nasional menayangkan secara langsung peristiwa akbar tersebut. Seorang Ibrohim, yang sendirian berada di dalam rumah dan saat itu statusnya masih tersangka, harus berhadapan dengan ratusan polisi bersenjata lengkap dan canggih. Ibarat menyaksikan film laga yang tidak berimbang dan berakhir tragis. Semua media massa mengamini kehebatan polisi dalam menangkap teroris, dan nyaris tak ada yang mengkritisi kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia.
Beberapa bulan terakhir, untuk tugas kuliah, saya melakukan riset kecil-kecilan tentang konstruksi berita teroris di televisi, dengan menggunakan analisis framing Pan dan Konsicki. Dengan sampel berita yang terbatas, saya menemukan kesimpulan bahwa ada kecenderungan dalam pemberitaan perburuan teroris, media massa (televisi-red) lebih dominan menyandarkan kebenaran beritanya pada satu sumber, yaitu pihak kepolisian. Pun misalkan ada narasumber lain, yaitu pengamat teroris atau saksi, pendapat yang dikutip juga cenderung membenarkan keterangan tersebut.
Lalu bagaimana jika ternyata terjadi pelanggaran HAM, siapa yang akan mengkritisinya?
Hak untuk hidup adalah hak asasi tertinggi manusia. Semua orang apa pun bangsa, ras, ideologi, dan agama memiliki hak yang sama, yaitu hidup di muka bumi. Penghilangan nyawa manusia harus didasarkan pada sebuah aturan hukum yang disepakati bersama. Secara pribadi saya sendiri tidak setuju dengan adanya hukuman mati, karena hal itu berarti menghapus hak pertobatan bagi manusia tersebut.
Kehidupan sosial orang yang “disangka” teroris sangatlah dekat dengan kehidupan kita. Bisa jadi dia kawan, saudara atau tetangga kita, yang setiap hari kongkow-kongkow, ngopi bareng atau sekedar bersenda gurau mengisi waktu luang. Sengaja saya beri tanda kutip pada kata disangka, karena bisa jadi sangkaan itu salah. Tapi jika sudah tertembak mati, dan ternyata salah orang, siapa yang bisa menghidupkannya kembali untuk direhabilitasi nama baiknya. Siapa yang akan menghidupi keluarga yang ditinggalkan, hanya karena sebuah sangkaan yang belum teruji kebenarannya. Bagaimana jika yang menjadi “tersangka” adalah kita atau keluarga terdekat kita? Siapa yang bisa menentukan bahwa seseorang memiliki ideologi tertentu dan karenanya layak ditembak mati. Atau seseorang terlibat jaringan tertentu sehingga layak dibunuh.
Ideologi adalah hal yang sangat abstrak berada di pikiran manusia dan bukanlah sebuah kejahatan. Sebuah ideologi tidak berarti apa-apa, kecuali jika pemikiran tersebut ditindaklanjuti menjadi sebuah aksi kejahatan. Maka yang menjadi terhukum adalah tindak pidananya bukan ideologinya. Demikian pula sebuah pertemanan, siapa yang bisa menghalangi seseorang untuk berkawan dengan orang lain. Lalu apakah ketika kita “kebetulan” kenal dengan seorang teroris yang menyamar, lalu kita dianggap terlibat dalam jaringan tersebut atau berperan serta menyembunyikan pelaku teroris.
Perburuan teroris bisa menjadi hal yang kebablasan, jika tidak ada yang mengkritisinya. Karena semua informasi hanya bersumber dari satu pintu yaitu pihak kepolisian, yang bisa jadi kebenaran realitasnya sudah direkayasa terlebih dahulu. Tidak ada opini lain yang terbentuk, jika polisi sudah menyatakan bahwa si A adalah seorang teroris yang melawan ketika hendak ditangkap sehingga harus ditembak mati. Tidak ada saksi yang bisa membantah, tidak ada kuasa hukum yang bisa membela, dan juga tidak ada anggota keluarganya yang berani bicara. Pers pun akan menelan mentah-mentah informasi tersebut menjadi sebuah kebenaran tunggal, karena tidak ada pilihan lain. Dan jika kondisi ini yang terjadi, maka yang akan menerima beban sosial terberat adalah keluarga terdekatnya; kehilangan anggota keluarga dan mendapat stigma negative dari masyarakat sebagai keluarga teroris.
Runtutan dampak sosial yang mungkin akan diterima anggota keluarga adalah kehilangan mata pencaharian, diusir dari tempat tinggal, diskriminasi sosial dari warga sekitar dan bisa jadi sebuah struktur hidup sebuah rumah tangga yang sudah dibangun selama bertahun-tahun akan hancur seketika.
Apakah ini harga yang harus dibayar untuk sebuah “sangkaan”?
Celesta, 12 Maret 2010
http://ruangstudio.blogspot.com
Mendengar kata “people power” kita akan tergiring pada gambaran kerumunan puluhan atau ratusan ribu manusia yang terkonsentrasi pada satu titik untuk menyatukan tekad dan idealismenya dalam melawan ketidakadilan, misalnya rezim otoriter atau presiden korup, intinya gerakan people power biasanya bertujuan untuk menekan dan menjatuhkan “seseorang” yang kalau terpaksa dilakukan dengan cara anarkis, tapi lebih sering secara damai.
Kini people power pun mulai merambah dunia maya, bedanya kalau di dunia nyata kerumunan dilakukan pada satu wilayah dengan cuaca panas terik dan manusianya pun harus berjibaku dengan peluh keringat, sedangkan di dunia maya titik kerumunan ada di situs jaringan sosial seperti facebook, twitter, atau beragam mailing list, dan manusianya pun cukup duduk manis dibawah ruang ber AC dingin.
Namun ternyata gerakan people power ala dunia maya, tak kalah keras dibanding dunia nyata. Contoh people power yag paling fantastis adalah dukungan masyarakat terhadap Prita dalam perseteruannya dengan RS Omni Internasional atau dukungan terhadap dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. “Kerumunan manusia” yang terkumpul mencapai lebih dari satu juta orang.
Namun, satu hal yang menurut saya paling indah adalah gerakan people power dunia maya kini bergeser pada kegiatan social dengan cara memfasilitasi bantuan kepada rakyat kecil yang mengalami ketidakadilan sosial dari pemerintah negeri ini. Mereka mencoba mengetuk hati para anggota nya untuk membantu secara nyata dengan memberi sumbangan dana, atau menekan penguasa agar menjadi peduli atas berbagai masalah di negeri ini.
Koin Cinta untuk Bilqis, sumbangan untuk Bilqis Anindya Passa, balita usia 17 bulan yang menderita atresia billier atau gangguan pada saluran empedu sehingga harus menjalani transpalasi hati kini mencapai 1,3 M, dan keluarga nya pun merencanakan bahwa sisa hasil sumbangan akan didirikan untuk membangun yayasan yang membantu masyarakat lain yang mengidap penyakit sejenis. Sebuah kebaikan hati yang cepat menyebar dan menyentuh relung hati para donaturnya.
Fakta-fakta di media massa menyebutkan bahwa ternyata banyak sekali rakyat Indonesia dari berbagai status sosial; kaya, menengah, miskin yang rela menyumbangkan uang tabungannya atau hasil karyanya demi memberi bantuan kepada orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Para donator hanya tahu dari pemberitaan media massa yang mem blow up kisah tersebut dari sisi human interest nya. Sebuah keikhlasan yang tulus.
Ini adalah fenomena yang menarik, disaat banyak pengamat sosial menggugat bahwa rakyat Indonesia kehilangan jati diri, dari budaya gotong royong rasa sosialis menjadi individualis materialistis, ternyata arah gerakan people power justru menunjukkan gejala yang sebaliknya. Yaitu menjadi gerakan sosial yang peduli kepada kasus-kasus kemanusiaan yang banyak mendiskriminasi rakyat kecil.
Mungkin ini adalah sebuah bentuk “pelarian” atas ketidak percayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga sosial di negeri ini. Kasus korupsi dana raskin (beras untuk rakyat miskin-red) atau bantuan pupuk bagi petani yang ternyata fiktif dan pemberian sapi induk untuk para peternak yang tidak pernah terealisasi walau anggaran sudah cair, menjadi gambaran rusaknya sistem bantuan sosial untuk rakyat kecil. Bukan tidak mungkin, jika dana sumbangan Koin Cinta untuk Bilqis dikelola oleh pemerintah, maka jumlah yang tersalur hanya 25% nya, karena yang 75% dipotong uang lelah buat pejabat nya hehehe…
Jika menghitung secara kasar nominal zakat 2,5% dari penghasilan masyarakat mampu untuk disumbangkan pada rakyat miskin, sebenarnya tanpa harus mendapat subsidi APBN pun pendidikan gratis bagi rakyat miskin bisa terealisasi. Namun hingga kini tak ada satu pun yayasan atau lembaga sosial di negeri ini yang bisa dipercaya untuk mengelola dana masyarakat. Yayasan pemerintah atau pejabat pemerintah lebih berfungsi sebagai sarana mengumpulkan dana sumbangan untuk dana kampanye bukan pendidikan gratis atau kesehatan gratis.
Ketika kegiatan untuk beramal pun tidak mendapat kemudahan di negeri ini, maka people power genre sosial adalah pilihan yang tepat, karena bisa langsung mencapai tujuan tanpa harus dipotong “pajak pribadi” pejabat.
Nah, jika untuk beramal aja dipersulit, bagaimana mungkin negeri ini akan mendapat “berkah”...
Sency, 9 Februari 2010
http://ruangstudio.blogspot.com
"Pejabat publik harus anggun, nanti kalo nangis dibilang curhat"…
Kalimat singkat yang dilontarkan Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan-red) saat menjawab pertanyaan Rosiana Silalahi dalam “Rossy” di Global TV Minggu 21.00 WIB cukup menggelitik. Jawaban yang cukup jujur untuk menggambarkan karakter sang narasumber yaitu lugas, sedikit jaim khas wanita dan penuh percaya diri.
Secara tersamar (atau jelas yaa?) tema yang diangkat dalam show perdana Mbak Rossy pun menarik, yaitu mempertanyakan soal integritas Sri Mulyani; sebagai seorang pejabat publik yang sedang tersangkut tuduhan mega korupsi bailout bank Century dan seorang wanita berkeluarga yang mau tidak mau harus meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa dirinya tidak bersalah.
Dalam talkshow tersebut, ada sebuah kisah yang mengharukan tentang bagaimana Bu Ani bicara mengenai pilihan yang berat antara rapat dengan emiten terkait krisis ekonomi tahun 2008 versus menjenguk sang Ibu yang berada dalam kondisi kritis di rumah sakit sampai akhirnya meninggal. Krisis versus kritis…
"Saya tetap manusia, seorang anak yang kehilangan ibunya"
Sebuah pilihan berat yang memaksa seseorang harus memilih antara integritas kepada bangsa untuk menyelesaikan krisis atau integritas seorang anak yang berkewajiban memberi support kepada sang Ibu yang kritis disaat terakhirnya.
Dan Bu Ani memilih integritas yang pertama, membantu mengatasi krisis ekonomi bangsa demi menghindari dampak yang lebih besar, sebuah pilihan yang pada bulan-bulan berikutnya justru menyeretnya pada kasus Century Gate dan menjadikannya sebagai bulan-bulanan para demonstran dan media massa.
Ironis?
= = =
Bicara soal integritas Sri Mulyani, saya yakin pasti ada yang setuju dan ada juga yang menolak. Yang pro akan mengatakan bahwa Bu Ani adalah orang yang cukup ber-integritas terlepas pada akhirnya salah satu kebijakannya yaitu bailout bank Century disinyalir merugikan negara hingga 6,7 T. Sedangkan yang kontra akan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah konstruksi berita yang sengaja menggiring pembentukan opini masyarakat untuk meyakini bahwa dalam proses bailout BC jauh dari kepentingan tertentu dari bu Menkeu.
Saya memilih untuk tidak pro terhadap salah satu pihak, tapi memilih untuk berpikir positif bahwa Indonesia memang sangat membutuhkan orang-orang yang punya integritas tinggi bagi bangsanya. Dalam jangka panjang, tidak ada negara bebas korupsi tanpa masyarakat yang berpegang teguh pada kejujuran dan integritas.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) in•teg•ri•tas adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran. Integritas juga berarti menunaikan amanah dan tanggung jawab kita hingga tuntas selesai. Dengan menunaikannya berarti kita telah bersikap jujur pada hati kita sendiri, dimana amanah yang telah kita terima kemudian kita tunaikan dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita. Keutuhan semua ini, yakni pengakuan mulut, perasaan, pikiran, dan tenaga kita, pada hakikatnya itulah yang disebut integritas. Integritas adalah komitmen, janji yang ditepati, untuk menunaikan tanggung jawab hingga selesai sampai tuntas, tidak pura-pura lupa pada tugas atau ingkar pada tanggung jawab.
Bapak bangsa, alm. Gus Dur adalah sosok yang memiliki integritas tinggi bagi bangsanya, beliau tidak peduli terhadap pencitraan pribadi dan memilih melakukan suatu kebijakan yang walaupun kurang populis tapi dibalik semua nya bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.
Yahya Cholil Staquf (juru bicara Gus Dur saat menjadi presiden-red) dalam sebuah artikel menulis pandangannya tentang Gus Dur "Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika. Venezuela mengipor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen rempah-rempah kita kesana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita."
Dan Gus Dur, orang yang integritas nya diakui oleh masyarakat dari bebagai golongan dan beragam agama pun harus menerima kenyataan bahwa dirinya terjungkal dari kursi kepresidenan lewat sebuah pemakzulan. Sesuatu yang kemudian disesali oleh masyarakat karena hingga akhir hayatnya tuduhan korupsi yang dulu dijadikan salah satu alasan pemakzulan, ternyata secara hukum tidak pernah terbukti.
Sebuah integritas yang mendapat pengakuan, justru setelah pemiliknya wafat...
Dan Indonesia pun menangis bukan?
Sebaliknya, pengurus PSSI adalah contoh orang yang mengaku memiliki integritas tinggi kepada dunia sepakbola Indonesia tapi tidak pernah menjalankan tugasnya dengan baik, dan setelah gagal memajukan tim nasional di berbagai even internasional,dengan menjerumuskan pada posisi juru kunci, mereka tetap menolak untuk mundur karena alasan tingginya "kecintaan" dan "integritas" mereka pada dunia sepakbola hehehe...
Nah, ada sekelumit kisah tentang integritas dari seorang kawan yang bekerja sebagai staf ekonomi. Kawan saya bercerita bahwa saat dirinya ikut rapat APBN 2010 bersama para menteri, hampir semua pemimpin departemen itu hanya bicara soal anggaran dan anggaran bagi departemennya. Hanya angka-angka yang diminta bukan memikirkan program yang diajukan, sehingga pada saat itu terjadi kondisi dimana dana cukup tapi tidak ada pembangunan infrastruktur. Melihat keadaan seperti itu dengan sedikit menyindir sang Menteri Keuangan berkata “Jika hanya ingin mendapat kesan bagus, bahwa dana APBN kita cukup dan anggaran keuangan departemen terpenuhi, saya sangat mudah melakukannya. Tapi apa yang masyarakat kita akan dapatkan?
Ah, orang yang ber- integritas memang susah dicari di negeri ini…
Sency, 8 Februari 2010
http://ruangstudio.blogspot.com
Dering alarm HP, membangunkan tidur nyenyakku dalam balutan sleeping bag yang lumayan hangat… Yup, usai semalaman bertugas di studio hingga dini hari, pukul 5 subuh aku harus segera meluncur ke bandara dua proklamator negeri ini.. Dua jam perjalanan Jakarta – Batam tak dapat kunikmati, karena rasa kantuk lebih kuat dibanding hasrat memandangi birunya lautan dari atas awan. Tugas nan mengasyikkan menanti, membuat feature wisata di kota Batam.
-Patung Dewi Kwan Im-
Patung Dewi Kwan Im setinggi 22,374 meter adalah feature pertama yang rencananya harus aku garap. Berlokasi di sebuah resort indah bernama KTM di kawasan Tanjung Pinggir Sekupang Batam yang dianggap sebagai tempat pertemuan angin laut dan angin darat. Sebelumnya kawasan ini adalah wilayah yang tidak laku, karena menurut kepercayaan, titik pantai yang menjadi pertemuan dua arah angin yang berseberangan itu akan mendatangkan kebangkrutan bagi pebisnis. Dan untuk meredakan dampaknya, didirikanlah patung Dewi Kwan Im yang diharapkan dapat menetralisir pertemuan angin, sehingga bisa mendatangkan hoki bagi para pebisnis.
Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.
Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hang yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan penderitaan di mana-mana. Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia bila dalam bentuk wanita karena di jaman itu wanita yang lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan.
Patung Dewi Kwan Im di Batam ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia, yang mencapai 22,374 meter. Pembuatan patung dengan berat 112 ton menghabiskan waktu delapan bulan, dengan bahan terbuat dari rangka beton yang dicor. Tanda di kening Dewi Kwan Im merupakan giok hijau yang didatangkan langsung dari China. Keramik dan ukiran China mengenai Kisah Dewi Kwan Im juga didatangkan dari China.
Tujuan wisata yang ”dijual” bagi para turis adalah bersembahyang di bawah patung Dewi Kwan Im bagi para pemeluknya. Para pengunjung yang sebagian besar etnis keturunan baik lokal maupun negara terdekat seperti Singapura dan Malaysia biasanya ramai berkunjung pada hari suci kalender Cina dan setiap tanggal 1 dan 15 kalender Internasional.
Dari sebuah restoran apung dibibir pantai, kami; saya dan bang Aloy koresponden Batam, disuguhi secangkir teh susu yang merupakan minuman khas Melayu. Banyak varian dari minuman ini; kalau di Kuala Lumpur terkenal dengan nama teh tarik dengan rasa manis yang cukup dominan, sedangkan di Singapura perpaduan teh dan susu kurang kental, sehingga bagi lidah Jawa saya yang terbiasa dengan rasa kental manis, teh susu ala Singapura terasa kurang mantap.
Tapi yang sangat mengasyikkan adalah titik pandang kota Singapura yang serasa dekat karena hanya berjarak tempuh 40 menit dengan menggunakan kapal ferry. Sayang saat kunjungan kemarin, kabut tipis masih menyelimuti lautan, sehingga gedung-gedung yang menjulang tinggi negeri Jiran hanya tampak tersamar. Menurut salah satu karyawan resort, pemandangan akan tampak jelas tanpa kabut, pada periode waktu usai hujan reda.
-Gonggong Ala Golden Prawn-
Maknyussss, kata penikmat kuliner Bondan Winarno, saat saya menikmati sajian beragam menu seafood ala Golden Prawn; Kepiting asam manis, Udang goreng tepung, Kakap steam, dan Gonggong rebus. Dan semuanya bisa disajikan dengan beragam rasa tergantung selera pemesan. Salah satu keunggulan restoran ini adalah pengunjung bisa memilih ikan laut yang akan dipesan, karena semuanya masih hidup di berbagai kolam terpisah yang cukup luas. Menurut pemilik rumah makan, untuk mendapatkan hewan laut yang berkualitas, harus ada jeda waktu berpuasa bagi binatang itu dari setelah ditangkap oleh nelayan hingga manjadi menu santapan, yaitu sekitar 3-4 hari. Puasa itu bertujuan untuk membersihkan isi perutnya dari sisa-sisa makanan laut yang tidak terkontrol, dan membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di sela-sela tubuh Dan proses tersebut dilakukan dalam kolam yang mempunyai sistem pergantian air yang bagus.
Menu yang terakhir yaitu Gonggong adalah makanan khas Batam, yaitu hewan laut sejenis siput yang hanya bisa hidup di wilayah tertentu saja, dan beberapa pulau di kepulauan Riau adalah salah satunya; Batam, Bintan dan Karimun. Bagi yang pertama kali mencoba, pasti akan terasa geli, karena bentuknya mirip bekicot dalam bentuk yang lebih mini dan cangkangnya berwarna krem. Cara makannya pun cukup unik, karena harus menggunakan tusuk gigi untuk mencongkel daging siput yang masih tersimpan didalam cangkang. Namun, usai mencicipinya dengan mencelupkan terlebih dahulu pada sambal, dijamin anda akan ketagihan. Anda akan sangat menyesal jika berkunjung ke Batam tanpa mencicipi menu ini, karena pada wilayah lain rasa gonggong akan sangat berbeda. 
-Jembatan Barelang-
Seperti Jembatan Ampera yang membelah sungai Musi di Palembang, atau Jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura. Batam juga memiliki penanda khas yang multifungsi yaitu Jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau disekitarnya yaitu pulau Rembang dan pulau Galang. Jembatan yang terdiri dari enam ruas ini melewati pulau-pulau kecil sebelum terhubung dengan titik terakhir. Setiap jembatan memiliki keindahan panorama masing-masing, karena hamparan laut yang tak bertepi seolah mengurung pulau-pulau mungil itu dengan bentuk pantai atau hutan bakau yang beragam.
Menyusuri sepanjang ruas jembatan Barelang akan terasa romantis, jika dilakukan pada sore hari, sambil menunggu dewa matahari tenggelam pada cakrawala, dan semburat kuning memantul pada percikan air laut. Jika situasi sedang ramai, maka dikedua sisi jembatan, nampak pasangan muda mudi asyik bercanda dan sekelompok anak muda duduk brsenda gurau sambil duduk bertengger diatas motor yang terparkir atau duduk lesehan di sisi pagar jembatan.
Bagi penikmat kuliner seperti saya, sebuah perjalanan akan terasa hambar tanpa mencicipi makanan khas. Di jembatan keempat, sekitar 100 meter dari arah jembatan disisi kanan dari arah Batam, ada sebuah restoran kecil yang cukup unik, karena memiliki produk berbahan Naga. Kalau mendengar namanya, fantasi kita akan membayangkan ular Naga pada legenda Cina yang buas dan sangar. Tapi kalau melihat warnanya yang ungu, imajinasi kita akan membayangkan rasa strawberry yang kecut manis, sedangkan kalau meminumnya maka rasa manis perpaduan semangka dan blewah akan menyesaki relung-relung lidah.
Restoran yang terletak dibibir jembatan ini, memiliki kebun buah Naga yang bisa langsung dikonsumsi jika sedang musim panen. Tidak hanya itu, retoran ini juga menjual bibit pohon naga yang bagi konsumennya. Bentuk pohonnya mirip kaktus, harus ditanam pada lahan kering yang bebas terkena sinar matahari, dan tanahnya tidak boleh terlalu basah.
Beruntung, kendati tidak sedang musim panen, restoran masih memiliki stok buah buat Jus Naga sehingga saya bisa menyeruput air es yang berwarna ungu romantis ini. Tak lupa, saya merayu pelayan untuk memotong sedikit buah Naga yang tersisa agar bisa menghapus rasa penasaran saya.Dan terakhir saya membeli 3 bibit Naga, semoga aja bisa tumbuh di halaman rumah saya nan mungil.
Celesta, 11 Januari 2010
http://ruangstudio.blogspot.com
Pejabat negeri kita emang paling jago kalo suruh nge-les, bukan nge-les dalam arti positif mengajarkan ilmunya pada orang lain; les inggris, les sempoa atau les piano. Tapi nge-les dalam arti negative yaitu mencari jawaban-jawaban yang gak nyambung, terkesan dipaksakan, dan membodohi rakyatnya…
Coba kita baca respon para pejabat usai mendapat mobil dinas baru Toyota Crown Royal Saloon 3.000 cc, seharga 1,3 M.
Mensesneg Sudi Silalahi:
"Usia pakai kendaraan selama lima tahun sudah menunjukkan ketidakefektifan lagi. Digunakan Camry, kita sering kali masuk bengkel.”
Ketua DPR RI Marzuki Ali :
”Rasanya masih bagus mobil Mercy saya kok”.
"Ya mobil negara dikasih, harus pakai, ya gimana lagi. Barang sudah dibeli gimana menolak, tadinya memang tidak mau pakai.”
Menkoperek Hatta Radjasa:
"Mobilnya lebih kecil dari yang dulu, dalamnya kita lihat tuh lebih sempit".
Hehehe, tapi jangan pada ngiri yaa…
Kita lihat bagaimana kehebatan mobil ini
Toyota Crown Royal Saloon ini sekelas dengan BMW Seri 5 (530), Mercedes E-Class, dan Audi A6 (dari Jerman). Di Jepang, kompetitornya adalah Honda Legend dan Nissan Fuga. Royal Crown 2009 adalah sedan mewah canggih dan terlengkap di kelasnya. Di Jepang, mobil ini ditawarkan dengan dua versi mesin, yaitu V6, 2,5 liter dan V6, 3,0 liter. Crown buat para menteri adalah versi yang terakhir.
Di negara asalnya, mobil ini dilengkapi dengan sistem navigasi satelit 3D yang dikendalikan oleh G-BOOK. Fitur khas ini hanya dimiliki Crown.Dengan fitur tersebut, peredaman suspensi bekerja secara otomatis sesuai dengan kondisi permukaan jalan. Misalnya, jika ada lubang atau jalan bergelombang, maka peredam suspensi akan berubah. Begitu juga ketika membelok. Pengemudi tak perlu repot menekan tombol. Inilah kehebatan teknologi yang disebut Toyota dengan VDIM atau Vehicle Dynamics Integrated Management.
Bahkan, perpindahan gigi bisa diatur sendiri. Komputer mobil akan mengaktifkan efek pengereman mesin ketika mendekati gerbang tol. Radar yang digunakannya sangat presisi dan bisa mengukur sampai ke tingkat milimeter. Konsumsi bahan bakarnya, diklaim Toyota, mencapai 11,8 km/liter.
Di Jepang, mobil ini juga dilengkapi night vision system yang mendeteksi pejalan kaki melalui kamera inframerah jarak dekat. Tambahan lain adalah intelligent parking assist system untuk membantu pengemudi agar mudah parkir dengan berbagai posisi.
Wow, fantastis bukan?
Saya yakin jika saya atau anda ditawarin mobil sehebat ini, pasti akan lebih memilih mengumpulkan 1001 kalimat nge-les daripada menolaknya. Tak usahlah terlalu idealis dengan mendengarkan teriakan iri hati dari para rakyat kecil, yang mengatakan ini pemborosan, tidak sensitif terhadap warga miskin, bentuk kesombongan pejabat atau apapun kata cercaan iri hati lainnya. pokoknya the show must go on.
Makanya mulai sekarang cobalah setiap hari mencatat di diari atau note anda, jawaban-jawaban nge-les yang layak dan logis untuk dilontarkan.
Siapa tahu periode 5 atau 10 tahun berikutnya, bapak presiden yang baru akan khilaf, sehingga memilih saya atau anda menjadi menteri di kabinetnya…
Siapa tahu saya atau anda beruntung? Hehehe…
Sency, 29 Desember 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
Sengketa kecil antara Luna Maya (artis, pesinetron, penyanyi dan MC) dengan pekerja infotainmen memasuki babak yang penuh opini. Sebagian masyarakat yang pro infotainmen “merasa” adalah sungguh tidak tahu diri jika seorang artis yang (notebene) dibesarkan oleh industri infotainmen lewat kucuran keringat para pekerja nya, tiba2 menghujat orang yang telah mengangkat namanya, dari bukan siapa2 menjadi artis tenar termahal di negeri ini. Kendati sebenarnya “klaim” tersebut juga berjalan sepihak, karena sang artis pun merasa kesuksesannya karena telenta dan kerja keras, bukan hasil ”pemberian” dari pekerja infotainment.
Yang pro mbak Luna tentunya sepakat, bahwa sebagai manusia memiliki hak individu yang namanya ”privacy” dan ini dilindungi oleh UU tertinggi manusia yaitu Hak Azasi Manusia (HAM), dimana tidak seorang pun atas nama profesi apapun berhak untuk mengganggu kenyamanan hidup orang lain. Jadi kalo seseorang merasa terganggu dengan kehadiran orang lain yang ”memaksa” dia untuk membuka kisah pribadinya, hal itu bisa masuk pada pasal pidana. Namun seringkali pekerja media membenturkan dengan (sedikit menyeleweng tafsiran) UU pers, bahwa seseorang tidak boleh menghalangi wartawan untuk mendapatkan informasi. Nah lho?
Menghadapi ”update status” Mbak Luna di twitter nya yang dianggap menghina dan mencemarkan nama baik para pekerja infotainmen, saya langsung bertanya-tanya, benarkah itu sebuah penghinaan? Trus kenapa seseorang harus merasa terhina padahal dalam tulisan itu tidak menyebut sebuah institusi atau pribadi seseorang. Atas dasar apa seseorang berhak merasa menjadi ”korban” pencemaran nama baik. Apakah jika saya mengatakan ”para pejabat memang koruptor dan penjahat” lalu semua orang pejabat pemerintahan dari tingkat pusat hingga kelurahan berhak melaporkan saya ke pengadilan terkait pasal pencemaran nama baik. Jika itu terjadi maka semua demonstran yang biasa kritis, bisa2 langsung masuk bui hehehe...
Saya teringat cerita seorang kawan wartawan televisi yang ditugaskan mewawancarai seorang tokoh reformasi yang terkenal kritis dan tajam. Saat bertemu di kantornya, sang narasumber berkata ”kamu dari TV mana?” lalu kawan saya menunjukkan logo mic, dan spontan si narasumber berkata ”Kamu tahu gak, saya dulu sangat mengagumi berita2 di TV mu yang ikut menentukan sejarah suksesnya gerakan reformasi 1998, tapi sekarang saya muak melihat isi beritanya, seperti sampah!” Kawan saya langsung terdiam dan tersenyum kecut. Tapi dengan cool dia tetap merayu agar bisa mendapatkan wawancara si narasumber, karena merasa bahwa keberhasilannya menjalankan profesi adalah dengan sukses mendapat wawancara eksklusif kendati harus mendengar caci maki terlebih dahulu.
Kenapa kawan saya tidak tersinggung atau melaporkan si narasumber ke polisi karena menyebut ”sampah” pada institusinya. Karena dia paham, bahwa kata-kata itu adalah kritikan membangun terhadap kekurangannya dalam membangun sebuah berita yang ”mencerdaskan” masyarakat.
Kembali ke twiter Mbak Luna, dia mengatakan ”derajat infotainmen lebih rendah dari pelacur dan pembunuh”. Secara teks dia tidak menyebut sebuah profesi tertentu, kata infotainmen sendiri bermakna program bukan profesi. Dan bisa jadi itu infotainmen di amerika atau arab saudi bukan di Indonesia, artinya banyak tafsir yang mungkin muncul dari istilah tersebut. Dari segi konteks, itu hanya luapan emosi yang mungkin terganggu akibat pemberitaan infotainmen yang merugikannya atau etika pekerja infotainmen dalam mencari berita yang sangat mengganggunya. Maknanya adalah kalo dari dua hal ini menimbulkan multitafsir, kenapa orang lain yang mungkin bukanlah orang yang dimaksud oleh Luna harus merasa tersinggung dan geer (gedhe rumangsa-red). Lebay banget sich hehehe... Btw, lebay adalah salah satu akar dari arogansi pribadi.
Secara psikologis, lebay atau berlebihan dalam memandang diri sendiri bisa disebabkan oleh dua hal, pertama karena dia ingin dipuja dan dianggap sebagai orang yang hebat. Kedua adalah menutupi karakter pribadinya yang sebenarnya minder dan tertekan. Merasa tidak hebat tapi ingin dianggap hebat. Kalo dua hal ini berpadu dalam satu pembenaran pendapat maka jadilah sosok orang yang tidak pernah merasa bersalah dan arogan. Profesi dijadikan pembenaran untuk merugikan orang lain, demi menghindari ”tekanan” dari kantor yang seringkali bertentangan dengan hati nuraninya.
Ini sebenarnya mewakili perasaan saya pribadi yang pernah menjalani profesi sebagai pekerja infotainmen dan pekerja media. Ini hanya sekedar pendapat pribadi, karena bisa jadi orang lain memiliki pengalaman yang berbeda. Saat beberapa tahun silam iseng-iseng side job sebagai kamerawan infotainmen, hal pertama yang saya rasakan adalah hasrat yang besar untuk mendapatkan gosip menarik plus rasa tidak tega untuk mencampuri atau mengetahui urusan pribadi orang lain. Dan ini membuat saya tertekan, pertama saya menyadari bahwa adalah hak si artis untuk menjaga rahasia pribadinya, tetapi berita tentang prestasi si artis bukanlah gosip yang menarik dan berating tinggi.
Kedua, secara kasat mata, penampilan materi si artis jauh lebih glamour dibanding saya dan seorang kawan yang untuk datang ke lokasi artis, hanya menggunakan motor butut. Ada rasa minder sebenarnya, tapi kita tetap harus menjaga image agar terlihat setara hehehe...
Ketiga, usaha kita untuk meliput seringkali tidak diakomodir oleh perusahaan, sehingga butuh kerja keras untuk sekedar bisa datang ke TKP, sementara tuntutannya adalah berita bagus. Pun jikalau kita gagal mendapat berita panas, resiko pemecatan dari Rumah Produksi tempat kita bekerja sangat besar, karena seringkali tidak ada kontrak kerja yang sesuai UU bagi pekerja infotainmen, apalagi asuransi.
Keempat, tidak adanya training jurnalistik (btw, pekerja infotainmen termasuk jurnalis bukan yaa?) membuat wawasan kita tentang etika profesi dan aturan peliputan menjadi nihil. Kita seperti anak-anak yang langsung diterjunkan ke lapangan tanpa pengetahuan sama sekali.
Kelima, infotainmen tetaplah disebut berita gosip, yang kendati berating lebih tinggi dibanding berita politik, sosial budaya etc. Tapi tetap dianggap ”berita sampah” oleh para pengamat media, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan. Yang dianggap hanya merusak moral masyarakat dan tidak mencerdaskan.
Terjepit diantara kebanggan diri dan penilaian miring orang lain, seringkali membuat kita kehilangan akal sehat saat melakukan peliputan, dan mungkin hal ini masih berlaku hingga sekarang. Ketidaktahuan tentang etika profesi jurnalistik ditambah tuntutan rumah produksi untuk selalu mendapat gosip terpanas, membuat kita terkadang harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita. Dan inilah yang menurut saya melatarbelakangi seringnya terjadi benturan tidak etis dalam peliputan.
Kembali ke soal merasa arogan berprofesi wartawan. Menurut saya ini karakter wartawan pemula yang masih eforia dengan dirinya dan tidak paham konsekuensi atas profesinya. Ada perasaan bangga yang berlebihan bahwa profesi ini adalah pilar keempat yang menentukan kesuksesan suatu bangsa. Bahwa UU pers melindungi wartawan dari tuntutan hukum dalam melaksanakan pekerjaan. Bahwa wartawan bisa menaikkan atau menjatuhkan narasumber nya. Bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan informasi dan menyebarluaskan ke masyarakat. Kebanggan-kebanggan ini kalo tidak dikontrol akan menghasilkan sosok pribadi yang kehilangan rasio, dengan memandang semua masalah dari sudut pandang diri sendiri, bukan orang lain.
Dan ternyata hal itu terbukti nyata, pelaporan oleh pekerja infotainmen terhadap mbak Luna ke polisi dengan mengadukan pasal-pasal UU ITE malah didukung oleh korps Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), padahal UU itu sedang diprotes oleh insan media karena dianggap menghalangi kebebasan pers. Entah apa motivasi pekerja infotanmen dan PWI memakai pasal karet yang jelas-jelas berpotensi memberangus profesinya.
Secara pribadi saya mendukung AJI yang berusaha mendamaikan ”sengketa kecil”ini dalam ranah musyawarah, antara insan pers dengan narasumbernya.
Lebih baik kembali menjadi pilar bangsa yang mencerdaskan masyarakat daripada tampil arogan mempertontonkan keunggulan profesinya untuk sesuatu yang ”SANGAT TIDAK PENTING” ini.
Celesta, 22 Desember 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
1
Sosok Ardiansyah menjadi titik balik bahwa Indonesia masih memiliki pahlawan-pahlawan yang mempunyai semangat besar mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Adalah seorang pegulat asal Kalimantan Timur yang baru pertama kali ikut dalam Sea Games, berangkat tanpa target apapun karena kondisi organ tubuh yang memiliki kekurangan yaitu hanya memiliki satu paru-paru. Ternyata mampu membuktikan bahwa ”semangat & kerja keras” mampu mengalahkan segala hambatan fisik. Pegulat kelahiran 19 September 1983 mampu menjawab kepercayaan sang pelatih dengan meraih medali emas di gaya Greco-Roman kelas 50 kilogram pada Sea Games Laos 2009.
”Begitu dinyatakan sebagai pemenang, Ardiansyah langsung jatuh tertelungkup ke matras gulat Booyong Gymnasium, Vientiane. Para pelatihnya segera berlari mendatanginya untuk memberikan pertolongan. Beberapa saat kemudian, ia pun sudah bisa duduk dan lalu berdiri. Sambil memegangi dadanya yang sakit, ia berusaha mengacungkan tinjunya sebagai selebrasi kemenangannya.” (Kompas, 16/12/09).
Semangat, belajar & kerja keras adalah kuncinya...
Ardiansyah mampu melupakan rasa sakit yang mungkin dialaminya saat sedang bertanding, dan melepaskannya usai menjadi juara. Kekurangan udara pernafasan yang dirasakannya diganti dengan ”oksigen semangat” yang tidak memerlukan paru-paru tambahan untuk memompa.
Kedua telinga nya yang juga mengalami gangguan pendengaran, ternyata tidak menghalangi untuk mendengarkan nasehat dan wejangan dari sang pelatih, sehingga semua pelajaran tentang teknik gulat mampu dipelajarinya dengan baik.
Ah, kita yang punya dua telinga normal malah seringkali berlagak tuli untuk mendengarkan kebaikan dari orang lain.
Kemenangan Ardiansyah didapat dari sebuah kerja keras selama bertahun-tahun, dan karya nya ditunjukkan dalam sebuah pertandingan yang mungkin hanya berjalan beberapa menit saja.
Fase inilah yang tidak dimiliki atlet indonesia lain, yaitu berlatih keras untuk meraih kemenangan. Selama ini mereka hanya memiliki hasrat besar untuk mencapai kemenangan secara instan tanpa mau berusaha. Contoh terbaru adalah Tim sepakbola U-23 yang dua tahun ”bersekolah” di Uruguay dan hasilnya adalah sebagai juru kunci babak penyisihan Sea Games tanpa pernah menang sekalipun. ”Sungguh memalukan” kata bang Rhoma Irama.
2
Ria Nurlaela Badaria, 25 tahun, adalah peraih Khatulistiwa Literacy Award 2009 untuk kategori Penulis Muda Berbakat, novel pertamanya bergenre metropop berjudul Fortunata, dianugerahi penghargaan bergengsi itu, mengungguli tujuh karya finalis lainnya.
Coba simak bagaimana cara dia berkarya:
Dia mulai menulis novelnya dengan tangan di kamarnya sejak 2006. Ketika tulisan tangannya sudah cukup panjang, dia pergi naik angkutan kota sejam perjalanan ke penyewaan komputer di kota Bogor untuk mengetik karyanya. "Kalau sudah di rental, bisa sampai seharian saya menulis," kata Ria.
Pengalaman kehilangan naskah pun dialaminya. Sepuluh bab pertama Fortunata, yang tersimpan di disket, hilang karena disket terjatuh dan rusak. "Terpaksa saya mengetik ulang," kata Ria, yang kadang meminjam laptop temannya untuk menulis novel. (Koran Tempo, 6/12/09).
Bagi para fesbuker yang tiap hari nongkrong di depan komputer pantas iri hati, karena keterbatasan fasilitas pendukung (komputer-red) ternyata tidak menghalangi Ria Nurlela untuk tetap berkarya. Sebuah novel yang ditulis tangan, karena tidak memiliki komputer.
Semangat Ria mungkin bisa disamakan dengan Pramoedya A. Toer atau Soekarno yang menulis buku dengan tangan dari dalam penjara pada jaman pra kemerdekaan atau awal-awal orde baru yang penuh intimidasi.
==
Ardiansyah dan Ria adalah gambaran semangat pantang menyerah yang sangat layak kita tiru. Keterbatasan fisik dan fasilitas tidak menghalangi untuk tetap berkarya. Karena hanya dengan ”karya” lah eksistensi kita sebagai manusia akan diakui oleh orang lain.
Penilaian terhadap hasil sebuah karya adalah obyektif. Namun sebenarnya ada yang lebih penting dari karya itu sendiri, yaitu bagaimana proses sebuah karya dihasilkan. Kisah proses ini seringkali mampu menginspirasi orang lain dan menjadikannya sebuah pelajaran berharga.
Dan dunia pun akan selalu mengapresiasi orang yang mau berkarya.
Celesta, 17 Desember 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
Insya allah akan kuberi nama Gibran Muhammad Difiansyah
Gibran adalah Kahlil Gibran, sang penyair pantang menyerah
Sang Nabi yang mencipta Sayap-sayap Patah
Yang karyanya merangkum tiga agama langit
Yang tutur katanya menggugah hati untuk bangkit
Gibran artinya cerdas (arab-red)
Muhammad adalah manusia terbaik yang dipilih Tuhan
Rasul terakhir yang berhasil merubah dunia
Yang memiliki kecerdasan, kepercayaan, keyakinan, dan kejujuran
Yang baginya telah disempurnakan agamaku
Muhammad artinya orang yang terpuji (arab-red)
Difiansyah hanyalah sebuah nama tanpa makna
Sekedar merefleksikan pertautan dua hati orang tuanya
Sekedar penanda ada dua jiwa yang menyatu didalamnya
Sekedar pengingat bahwa dia hanyalah manusia biasa
Anak adalah titipan Tuhan
Dia adalah anak panah yang siap dilepas untuk menembus sang waktu
Yang kepadanya lah harapan segala kebaikan hidup
Semoga kelak aku bisa mendidiknya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama
Ya Allah,
Berikanlah kepadanya kesehatan fisik dan hati
Bukalah pintu nurani dan pikiran akan kebenaran
Ajarkanlah dia membaca ciptaanMU
Ya Allah,
Permudahkanlah kami dalam merawatnya
Lancarkanlah rejeki kami agar bisa memberinya kehidupan terbaik
Bimbinglah kami dalam meletakkan dasar-dasar pelajaran baginya
Celesta, 10 Desember 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Sengaja saya menuliskan kata “pengemis” dengan penanda kutipan, karena makna pengemis yang saya maksud memang bukan pengemis yang sesungguhnya. Sebagai catatan, menurut PP NO 31 TAHUN 1980, Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Atau dalam Wikipedia disebutkan mengemis adalah hal yang dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Umumnya di kota besar sering terlihat pengemis meminta uang, makanan atau benda lainnya. Pengemis sering meminta dengan menggunakan gelas, kotak kecil, topi atau benda lainnya yang dapat dimasukan uang dan terkadang menggunakan pesan seperti, "Tolong, aku tidak punya rumah" atau "Tolonglah korban bencana alam ini".
“Pengemis” dengan tanda kutip yang saya maksud adalah pengemis yang kita tidak pernah tahu status sosial mereka yang sebenarnya, apakah benar-benar orang yang membutuhkan bantuan karena tidak mampu lagi untuk mandiri, atau orang-orang yang sengaja berpenampilan lusuh dan kumal untuk mempercepat mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras.
Ngomong2 soal “pengemis”, saya jadi ingat beberapa tahun silam, saat dalam perjalanan naik bis Sinar Jaya dari Banjarnegara ke Jakarta, berdiskusi dengan seseorang “ustadz” yang duduk di sebelah bangku saya. Secara pribadi saya tidak kenal dia, bahkan namanya pun tak sempat tanya, karena baru kenalan. Beliau cukup ramah, lumayan menguasai ilmu agama, dan mengaku sedang belajar untuk mencoba mengaplikasikan pemahaman yang dimilikinya dalam kehidupan nyata.
Dalam perjalanan yang cukup panjang itu, saya melemparkan pertanyaan serius, “haruskah kita memberi sedekah kepada pengemis?”. Dan dengan mengutip surat Al Mauun, beliau menjelaskan bahwa kalau memang ada rejeki, adalah sangat berpahala jika kita mensedekahkan sedikit harta kita kepada orang lain. Dan kita tidak boleh berburuk sangka dengan berpikir bahwa orang yang kita beri (pengemis-red) hanyalah orang yang berbohong (dengan pakaiannya), karena itu akan mengurangi keikhlasan kita.
Lalu pertanyaan kedua saya lontarkan, “bagaimana dengan efek negatif berupa rusaknya mental para pengemis itu?. Karena menurut saya, kalo mereka menjadi ketergantungan hidup sebagai pengemis, maka cepat atau lambat itu akan menjadi virus budaya yang merusak moral umat islam itu sendiri? Budaya pengemis adalah budaya instan, dimana seseorang bisa meraih harta, tanpa harus banyak berkeringat. Bahkan seringkali pendapatan mereka jauh lebih besar dibanding orang yang bekerja keras sebagai pedagang kaki lima.”
Beliau sejenak terdiam, lalu berkata “Itu adalah PR buat kita semua. Saya sendiri tidak bisa menjawab mana hal terbaik yang sebaiknya kita lakukan. Karena dalam kondisi ini, para pengemis itu seringkali sudah tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Artinya mereka mendzolimi diri mereka sendiri dengan menurunkan harga dirinya menjadi “pengemis”, padahal sebenarnya mereka mampu kalau mau berusaha. Maaf mas, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini.”
===
Pengemis dan “pengemis” adalah dua sosok yang memiliki penampilan sama; lusuh, kumal, dan dekil. Tapi mereka dibedakan oleh mental dan kejujuran. Si pengemis adalah orang yang terkadang malu untuk mengemis, tapi keadaanlah yang memaksa mereka melakukan tindakan itu. Sedangkan “pengemis” adalah orang yang bangga, tidak jujur dan suka memanfaatkan status orang lain (pengemis-red) untuk kepentingan pribadinya, yaitu mencari uang secara instan.
Ada sebuah kisah yang sangat menarik di harian Jawa Pos yang menginvestigasi karir seorang “pengemis”, berikut cuplikan berita nya :
“Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.
Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.”
(sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=5373 )
====
Mungkin kita masih ingat, beberapa waktu lalu Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Perda baru yang cukup kontroversial, yaitu denda bagi masyarakat yang ketahuan memberi sedekah kepada pengemis. Denda 150 ribu hingga 300 ribu kepada pelaku sedekah, sempat berjalan cukup efektif dan mengurangi pemberian kepada para pengemis. Tapi memang banyak “perlawanan” dari berbagai LSM yang menganggap hal itu keterlaluan dan malah melanggar hak manusia untuk memberi. Bagaimana tidak, lha wong ada orang beramal kok malah dihukum, ini adalah aturan yang salah kaprah, kata para penentang.
Namun alasan Dinas Sosial memberlakukan Perda itu pun cukup masuk akal, menurut Budihardjo, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, mengemis sudah dijadikan sebagian warga sebagai profesi, bukan lagi lantaran kemiskinan. “Membantu orang miskin merupakan kewajiban kita, tetapi bila mengemis sudah dijadikan profesi tentu tidak bisa dibiarkan”.
(sumber: Pos Kota)
Kalau membaca berita pro dan kontra tentang dunia pengemis, kita menjadi semakin paham, bahwa tidak semua tindakan atau perbuatan pribadi kita menjadi urusan individu. Karena seringkali hal-hal yang sepele dan bersifat mikro, ternyata memiliki implikasi besar yang bersifat makro.
Bersedekah adalah urusan pribadi, tetapi kalau ribuan sedekah malah menghasilkan keruwetan sosial berupa munculnya profesi pengemis, maka ini tentu tidak lagi menjadi masalah personal.
====
Secara sadar atau tidak, kita sering menghakimi bahwa seorang “pengemis” yang ada dihadapan kita hanyalah aktor yang sedang memainkan peran profesinya. Dan lantas kita ragu-ragu untuk memberinya. Ada yang kemudian tetap meyakinkan diri untuk tidak memberi, dengan membenarkan “pikiran”nya. Tapi ada juga yang akhirnya terpaksa memberi, karena merasa bersalah dan tidak tega, toh memberi “recehan” tidak akan membuat miskin hehehe...
Saya tidak akan menjawab pertanyaan yang saya lontarkan, karena semua hal diatas bersifat pilihan, dimana masing-masing individu, dengan pengalaman dan pengetahuannya masing-masinglah yang lebih tahu, mana pilihan terbaik untuk beramal...
Sency, 28 November 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
Tragis…
Mungkin ini kata yang paling pas untuk melukiskan nasib orang miskin di negeri penuh berbagai jenis buah ini.
Keanekaragaman hayati yang dengan mudah tumbuh di tanah nan subur, ternyata tak pernah mensejahterakan manusianya.
Indonesia adalah salah satu penghasil jenis buah-buahan terbanyak di seluruh dunia, dari buah yang bisa langsung dimakan seperti; pisang, pepaya, durian, apel, jeruk, nanas, SEMANGKA, dll. Hingga buah yang lebih nikmat diolah dulu sebelum dimakan; alpokat, KAKAO, dst…
Jaman saya dan teman-teman masih kecil di desa dulu, mencuri mangga atau jambu di kebun tetangga adalah kenakalan sehari-hari. Kalo ketahuan oleh pemilik yang baik hati, kita hanya dinasehati, lalu diberi buah yang kita ambil, bahkan seringkali diberi bonus untuk memetik lagi, asalkan esok hari kita tidak mencuri lagi.
Tapi kalo ketemu juragan buah yang pelit, maka lemparan batu atau bentakan menjadi hal yang biasa, karena saya dan teman-teman pasti langsung lari terbirit-birit, kendati esok mungkin datang lagi hehehe…
Semuanya ada, mudah dan murah didapat…
Tapi setelah hampir dua dekade berlalu, ternyata banyak hal yang berubah.
Harga buah menjadi sangat mahal.
Saking mahalnya, hingga seorang pencuri 1 butir buah saja bisa berurusan dengan penjara.
Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, saat mencuri buah-buahan dulu.
Di Purwokerto, sebuah kota kecil tempat saya bersekolah SMA dulu
Sebuah vonis pengadilan menjatuhkan hukuman 45 hari bagi seorang nenek bernama Minah, 65 tahun, karena ketahuan mengambil 3 buah kakao, yang kata pemiliknya harganya 30 ribu tapi kata warga cuman 10 ribu.
Nenek minah memang tidak sampai di bui, tapi sebagai seorang yang sudah tua renta seperti itu, kok kayaknya tidak adil kalo diperlakukan tanpa belas kasihan oleh orang yang mungkin seumuran dengan anak atau cucunya, walau itu atas nama hukum.
Tidak adakah rasa belas kasihan dari Juragan buah yang kaya raya itu
Tidak adakah ada rasa toleransi dari pak polisi yang biasanya mudah menghentikan sebuah kasus pidana, jika ada permintaan (+ uang suap) dari pelaku.
Tidak bisakah pak jaksa mengeluarkan SKPP atau depoonering untuk kasus se”murah” itu. Atas nama rasa keadilan.
Padahal alasan nenek Minah mencuri KAKAO pun hanya sekedar dipakai untuk bibit, agar bisa ditanam di halaman rumahnya yang sempit. Jelas-jelas bukan untuk memperkaya diri, seperti para pejabat korup di negeri ini.
Di Kediri, sebuah kota tempat pabrik rokok terbesar no 2 di Indonesia bersemayam
Basar (40 tahun) dan Kholil (51 tahun), juga diperiksa polisi dan diajukan ke meja hijau, gara-gara ketahuan mencuri 1 buah SEMANGKA.
Kedua rakyat miskin ini lebih malang lagi, karena sempat mengalami penganiayaan oleh pemilik buah, ditodong pakai pistol dan dihajar hingga 3 gigi Khalil yang sudah tua itu tanggal.
Bahkan keluarga pelaku, mengaku sempat diperas 1 juta rupiah sebagai uang damai, oleh seorang oknum polisi. Namun kasusnya tetap dibawa ke pengadilan.
Nilai 1 juta adalah nilai yang berlipat-lipat dari harga sebuah SEMANGKA.
Kasus pencurian memang merupakan tindak pidana, tapi jauh lebih kecil daripada tindak penganiayaan oleh juragan buah yang mereka alami. Harusnya pihak kepolisian mengusut tuntas tindak kekerasan sewenang-wenang ini, bukan malah menutup-nutupinya. Lalu, tindak pemerasan 1 juta oleh oknum polisi kepada keluarga pelaku, jauh lebih besar nilainya dari harga sebuah SEMANGKA. Maka sudah selayaknya polisi juga mengusut tuntas kebobrokan oleh oknum institusinyai.
Hilangnya KAKAO dan SEMANGKA
Adalah gambaran hilangnya nurani rakyat negeri ini.
Pertanda hilangnya rasa saling berbagi sesama manusia
Perlambang jahatnya kekuasaan aparat penegak hukum
Bukti bahwa kita masih tega untuk menindas dan menjajah saudara sendiri
Kalau Nenek Minah hanya mencuri 3 KAKAO
Basar dan Khalil hanya mencuri 1 SEMANGKA
Saya dan teman-teman kecil dulu pernah mencuri jambu, mangga, nanas, durian, pepaya
Yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang mereka curi
Ah, seandainya saya mencuri buah di era reformasi
Mungkin sekarang saya sudah di bui…
*ditulis sambil ngantuk-ngantuk hehehe...
Sency, 27 November 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
Manny “Pac-man” Pacquiao, peraih tujuh gelar tinju dunia di kelas yang berbeda memberi petuah yang menarik kepada para wartawan yang meliputnya, "Mari kita tanggalkan mental kepiting dalam diri kita. Saya memohon kepada Anda semua untuk menanggalkannya. Mari kita bersatu agar bisa bergembira."
Pac-man menyindir dengan kata-kata itu terkait perilaku wartawan lokal Filipina yang lebih memilih membesar-besarkan gosip keretakan rumah tangganya dibanding prestasi tingkat dunia yang telah berhasil diraih. Istilah mental kepiting biasanya digunakan untuk menggambarkan kemiskinan yang meluas di Filipina. Istilah itu merujuk ke perilaku sekumpulan kepiting yang terjebak di tong. Ketika seekor kepiting coba meloloskan diri dengan memanjat dinding tong, temannya di belakang menariknya, sehingga dia terjebak lagi di dasar tong.
Membaca cuplikan berita di Warta Kota itu membuat saya teringat perilaku pejabat-pejabat kita yang juga bermental kepiting. Jika ada salah satu pejabat yang mau bertobat dari korupsi, atau berusaha keluar dari lingkaran setan yang menyengsarakan rakyat itu, maka rekan yang lain langsung mencapitnya untuk ditarik kembali masuk dalam tong sampah korupsi.
Mental kepiting juga berarti saling mencapit untuk menjaga harmonisasi kejahatan. Semua kepiting saling mengancam capit ke rekannya yang diprediksi akan berkhianat atau membeberkan kejahatan mereka. Pada awalnya, para kepiting saling kompak dalam menilep uang negara; kepiting A bertugas membuat UU yang bisa melegalkan korupsi, kepiting B bertugas membuat proyek dan memelintir laporan keuangan, kepiting C bertugas melindungi dari kasus hukum jika terungkap. Masing-masing kepiting akan berusaha saling menutupi karena hasil kejahatan sudah dibagi secara merata. Jenis kepiting seperti ini akan rela menyamakan persepsi dan fakta untuk bersepakat dalam kebohongan. Tapi jika ada yang berkhianat, maka capit-capit rekannya yang akan mengoyak tubuh.
Saya membayangkan, bagaimana beban moril yang dialami oleh sebagian pejabat negara yang lurus dan idealis.
Dalam sebuah sistem yang terlanjur korup, maka hampir pasti semua orang didalamnya pernah mendapatkan uang haram, walau mungkin oleh sebagian orang tidak pernah diniatkannya. Lalu jika ada seorang pejabat yang berhati baik menolak hasil sebuah tindak kejahatan, maka dia berdiri berhadapan dengan kepiting korup dan secara otomatis berada didalam ancaman capit mereka. Ancaman bisa berasal dari atasan yang korup, rekan staf yang korup atau bawahan yang korup. Semua kepiting korup pasti mengancam akan membeberkan kekhilafan pejabat baik menerima uang haram di masa lalu, atau mencari celah untuk menjatuhkannya. Tidak ada kepiting korup yang rela membiarkan rekannya keluar dari tong korupsi, karena khawatir akan membuka tabir kejahatan.
Kasus perseteruan KPK vs Polri juga mirip perilaku kepiting yang hobi memamerkan capit. Seorang pejabat Polri yang mengetahui dirinya sedang disidik oleh institusi lain terkait kasus suap bank Century, maka sebelum dirinya ditangkap, lebih dulu dia mencapit lawannya di institusi KPK dengan tuduhan yang tidak jelas alias rekayasa. Tidak penting apakah tuduhannya terbukti atau tidak, yang penting adalah dirinya berhasil mencapit lawan, kendati kemudian terpaksa dilepaskan karena besarnya tuntutan masyarakat.
Hobi mengancam dan mengoyak tubuh lawan dengan capit ala kepiting, juga terjadi dalam kasus lain, apalagi yang melibatkan masyarakat miskin yang lemah. Dalam sebuah penggusuran lahan misalnya, pemerintah daerah menggunakan capit satpol PP sebagai strategi membumihanguskan rumah-rumah warga, padahal seringkali kasus sengketa hukumnya masih berjalan di pengadilan. Atau kasus tewasnya Subagyo, seorang sopir angkot di Depok Jawa Barat, saat penggrebekan judi oleh polisi. Tanpa alasan yang jelas capit arogan itu mengeluarkan tiga timah panas yang menembus tubuh korban.
Tapi sebaliknya capit besi penegak hukum bisa tiba-tiba melempem, bila berhadapan dengan pengusaha kaya yang sudah menggelontorkan milyaran rupiah ke saku-saku mereka. Anggodo yang sudah jelas-jelas melanggar hukum, minimal pasal pencemaran nama baik presiden atau polri, malah tak tersentuh hukum. Capit-capit polisi dan jaksa tak mampu mencubit kulit orang yang telah memperkaya mereka. Bahkan sang pemimpin tertinggi pun terdiam, sebagian gosip mengatakan bahwa si pengusaha ini adalah donatur kampanye yang cukup besar.
Hehehe, kok malah jadi ngelantur bercerita tentang atraksi capit-capit kepiting sih…
Kembali ke nasehat Mr. Pacman yang telah berhasil memecahkan rekor dunia dengan meraih tujuh gelar juara tinju di kelas yang berbeda.
Sebagai manusia, tak ada salahnya kita sejenak merenung, apakah kita bangsa indonesia juga termasuk orang-orang yang bermental kepiting. Karena bisa jadi kemiskinan yang saat ini dialami oleh mayoritas rakyat, juga adalah gambaran dari diri kita sendiri. Yang punya mindset bahwa “kita rela menderita asalkan ada kawan yang lebih menderita.”
Contoh sederhana adalah cara atlet sepakbola bermain. Mental kepiting para pemain ini membuat mereka memilih membuat kerusuhan atau huru-hara, entah dengan mengganjal pemain lawan, menonjok wasit hingga memprovokasi penonton untuk anarkis. Jika tim nya kalah dalam pertandingan. Karena berpikir negatif, maka orientasi mereka adalah mencederai lawan, bukan membangun diri untuk meraih kemenangan dengan mencetak gol hingga detik-detik terakhir.
Ah, jadi ingat filosofi semut nich.
Biar kecil tapi tetap kompak dan berpikir positif, sehingga seberat apapun beban yang harus dicapai, akan bisa terpenuhi, karena ada kebersamaan dalam kebaikan.
Sency, 20 November 2009
http://ruangstudio.blogspot.com
Menonton hiruk pikuk informasi hari ini, ada satu berita yang menurut saya agak2 nyleneh dan lucu. Sebuah aksi demonstrasi di depan Mahkamah Konstitusi yang menuntut Mahfud MD, ketua MK mundur dari jabatannya karena dianggap mempermalukan dan mencemarkan institusi Polri dan Jaksa terkait pemutaran rekaman pembicaraan Anggodo kepada publik.
Entah kenapa, sekarang saya jadi suka me-logika-kan alasan narasumber berita yang seringkali gak nyambung dengan pemikiran saya. Pertanyaan sederhana atas berita demonstrasi diatas adalah “Kenapa pak Mahfud dituduh mempermalukan orang?”. Memangnya Pak Mahfud ngomong apa, kok dianggap mempermalukan?
Beliau kan hanya menunjukkan sebuah fakta, kenapa orang lain jadi malu.
Kalo tidak merasa bersalah kenapa harus malu dan merasa tercemar?
Kalo emang ada institusi lain merasa tercemar nama baiknya, kan bisa melaporkan secara hukum.
Trus kenapa orang-orang yang jelas-jelas bukan polisi atau jaksa yang berdemonstrasi? Wong, karyawan atau pejabat kedua institusi tersebut juga santai-santai saja kok..
Kenapa harus demo membela orang lain yang tidak minta dibela?
Ini kan aneh…
Opini, oh opini…
Sedemikian besar usaha orang untuk membentuk opini yang “berbeda” pada masyarakat.
Ketika khalayak mayoritas secara jujur berkumpul dan menyatukan hati untuk melawan ketidakadilan dengan membentuk komunitas secara natural. Misalnya; di dunia maya ada komunitas sejuta facebooker dukung Bibit dan Chandra, atau di dunia nyata ada komunitas artis, tokoh masyarakat, pelajar yang menolak kriminalisasi KPK.
Tiba-tiba muncul sekelompok minoritas orang yang “tampil beda” dan mendukung pihak lain yang bermasalah, ini tentu sangat mencurigakan.
Mereka, para demonstran ini biasanya tampil dengan nama organisasi baru yang tidak pernah terdengar aktifitas sebelumnya. Hadir dengan pimpinan atau juru kampanye baru yang juga tidak pernah tampak sebelumnya. Dan berorasi dengan nada keras dan profokatif tanpa ada data fakta yang jelas.
Sayang dalam berita itu, tidak ada reporter yang bertanya pada demonstran, apakah mereka sudah mendengarkan hasil rekaman tersebut. Soalnya bisa jadi mereka hanyalah orang2 suruhan yang sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan. Mereka bergerak karena uang, lalu membubarkan diri tanpa jejak. Strategi kick n run, biasanya dipakai intelejen hanya untuk mengacaukan konsentrasi musuh, guna membangun sebuah strategi pembentukan opini lain yang lebih kokoh.
Syukur, dalam hal ini media massa tidak terlalu terpancing untuk membesar2kan beritanya. Informasi hanya disajikan secara sekilas saja, bahkan kalo perlu, gak usah ditayangkan juga tidak akan menurunkan rating kok hehehe…
Tapi apakah demonstrasi seperti ini efektif untuk merubah opini masyarakat? Saya pikir tidak. Tindakan seperti ini justru membuat masyarakat semakin muak dan percaya, bahwa memang telah terjadi sebuah “tindak kejahatan” terselubung. Walau, mungkin ada juga sebagian khalayak yang “goyah” keyakinannya dan membenarkan aksi ini. Tapi saya yakin jumlahnya sangat kecil.
Yang seringkali saya bingung adalah kenapa ada orang2 yang mau berpanas2 ria untuk membela sesuatu yang salah yaa? Sesuatu yang mungkin para demonstran itu sendiri itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka datang dengan wajah-wajah polos dan lugu, membawa spanduk dan bergandengan tangan, tanpa pernah memikirkan bahwa langkah mereka adalah sebuah “dukungan” terhadap para koruptor. Yang selama ini telah menyengsarakan diri mereka dan rakyat lainnya.
Ah, mungkin saya yang keterlaluan.
Karena bisa jadi kawan2 demonstran itu dapat uang yang cukup untuk makan beberapa hari ke depan. Sementara saudara2 lain yang berteriak anti korupsi, hanya berteriak-teriak meminta dukungan rakyat, tanpa pernah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada mereka hehehe…
Celesta, 9 November 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Paul Watson, pakar konstruktivis media, mengatakan bahwa “konsep kebenaran yang dianut media bukanlah kebenaran sejati, tapi sesuatu yang oleh masyarakat dianggap sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran ditentukan oleh media massa.”
Teori tersebut ingin menjelaskan bahwa sebuah realitas yang diberitakan oleh media massa, bukanlah realitas yang sebenarnya, tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya, dari dalam adalah faktor psikologis wartawan; wawasan, ideologi, pengalaman, dan sebagainya. Sedangkan dari luar adalah faktor sosiologis; kondisi sosial masyarakat, aturan hukum, opini khalayak, dan lain-lain.
Imajinasi saya membayangkan, sebuah realitas yang “benar dan shoheh” saja bisa diinterpretasikan secara berbeda oleh wartawan. Artinya sebuah informasi atau cerita peristiwa yang diperoleh dari seorang narasumber bisa ditampilkan secara tidak utuh dari peristiwa yang sebenarnya. Lalu bagaimana jika “realitas” itu sendiri sudah tidak benar.
Kisah ini yang sedang terjadi di negeri kita tercinta.
Saya yakin para wartawan pasti sedang bingung untuk merangkai kisah-kisah yang muncul, menjadi sebuah jalinan cerita dalam paket berita. Bagaimana tidak? Dalam kasus perseteruan antara Cicak VS Buaya alias KPK VS Polri, ada dua keterangan yang saling bertentangan. Dan dua-duanya berani bersumpah atas nama Tuhan.
Ada dua cerita yang saling bertentangan
Versi 1:
Kapolri : Ada penyerahan dana dari Anggodo lewat Ary Muladi ke pimpinan KPK.
Chandra M Hamzah : Yang saya terima itu hanya uang dari Negara. Penghasilan saya dari Negara.
Bibit S Riyanto: Saya tidak pernah menerima uang, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari Ary Mulady atau Yulianto…
Versi 2:
Kapolri : Ary Muladi enam kali dating ke KPK
Ary Muladi : Saya hanya ke sana sekali dan sama sekali tidak bertemu pimpinan KPK.
Versi 3:
Kapolri : Ada bukti hubungan telepon
Chandra M Hamzah: Saya tidak kenal yang namanya Ary Muladi, tidak pernah bertemu dengan Ary Muladi ….., apalagi hubungan telepon, apalagi hubungan yang lain.
Bibit S Riyanto : Saya tidak pernah ketemu langsung dan tidak langsung dari mereka semua. Kenal juga tidak.
(Sumber: Kompas, 7 November 2009)
Lalu bagaimana akting narasumber dalam menjalankan perannya?
Ekspresi ala Susno Duadji (Kabareskrim Polri)
#Gembira dan penuh percaya diri#
Sambil bersiul Susno berangkat menuju pertemuan dengan Tim Delapan. Setiba di Gedung Wantimpres, Ia langsung melangkah ke ruang pertemuan, tempat para anggota TPF sudah menanti
#Merasa sedih dan teraniaya#
Sehari sebelumnya, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, ia tampil percaya diri bersama Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. Tapi saat tanya jawab berlangsung, perlahan emosinya berubah bahkan sampai menangis.
#Religius#
Kepala Badan Reserse Kriminal yang mundur sementara Komisaris Jenderal Polisi Susno Duaji membantah menerima duit Rp 10 miliar terkait dengan kasus Bank Century. "Sebagai seorang muslim, lillahi taala, saya tak pernah mendapat Rp 10 miliar dari siapa pun terkait dengan kasus Bank Century," sumpah Susno sambil mengangkat tangan kanannya ke atas saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/11) malam.
(Sumber: Liputan6.com, 7 November 2009)
Dan adegan yang kocak dan membingungkan adalah saat anggota DPR RI komisi III bertepuk tangan saat mendengarkan pemaparan Kapolri dalam rapat kerja (5/11/09), terkait isu kriminalisasi KPK. Bukannya bersikap kritis dan mencari kebenaran yang sejati, tapi malah menelan mentah-mentah informasi tersebut, seolah para anggota dewan itu mendukung polisi yang sedang bermasalah. Sungguh aneh…
Melihat berita-berita yang muncul di media, saya langsung tambah pusing. Kebenaran realitas yang harusnya didapat dari narasumber, ternyata sudah “dikonstruksi” sendiri oleh si narasumber, sebelum sampai pada wartawan. Yang artinya, kebenaran informasi dari narasumber tersebut diragukan “kredibilitas”nya. Nah, kalo narasumber nya saja sudah berbohong dan beradu akting didepan wartawan. Bagaimana bisa si wartawan menerjemahkan informasi tersebut secara benar (sesuai kenyataan-red)?
Sayang, Paul Watson tidak hidup dan tinggal di Indonesia. Kalo melihat kondisi dimana “nilai kejujuran” sudah hilang dari budaya masyarakat, mungkin dia akan mencabut teori nya diatas, dan menggantinya dengan teori baru bahwa “Kebenaran (berita) bukanlah ditentukan oleh media massa, tapi oleh Tuhan. Karena hanya DIA yang tahu kebenaran ucapan sang narasumber” hehehe…
Celesta, 7 November 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Tadi malam ada sebuah dialog yang sangat memberikan pencerahan di program Save Our Nation Metro TV (04/11/09). Saya agak terlambat mengikutinya, karena asyik menonton dialog pada tv lain yang cenderung lebih heboh dan keras hehehe… Program dialog yang dipandu Pak Saur Hutabarat ini menghadirkan sosok yang oleh harian Kompas disebut sebagai orang yang berani melakukan sebuah tindakan bersejarah dalam penegakan hukum di Indonesia, ketua Mahkamah Konstitusi, pak Mahfud MD. Jujur, secara pribadi saya sangat mengidolakan beliau, karena diantara beragam pejabat dari berbagai institusi yang dalam beberapa hari terakhir muncul di tv, hanya beliau yang saya anggap lurus dan benar-benar punya visi bagus dalam pemberantasan korupsi. Beliau rendah hati, tidak mencari popularitas dan benar-benar berpikir untuk memberi shock therapy pada para koruptor agar bertobat.
Dialog berlangsung datar tapi dalam dan penuh perenungan, di akhir acara ada sebuah pertanyaan penting, yang menurut saya adalah hal yang paling substansi dalam penyelesaian kasus hukum cicak vs buaya. Bagaimana pertimbangan MK dalam keputusan sela terkait judicial review terkait penonaktifan Chandra dan Bibit?.
Pak Mahfud menjawab secara jelas, bahwa ada dua pertimbangan yang berbenturan, dan harus dipilih yang paling meminimalkan penyalahgunakan kekuasaan oleh penegak hukum. Pertama, adalah mengembalikan aturan hukum tentang tatacara non aktif pejabat KPK jika terjerat kasus hukum, seperti UU yang lain. Karena dianggap melanggar hak asasi pejabat KPK. Artinya pejabat KPK hanya bisa dinonaktifkan, jika sudah ada putusan hakim tertinggi. Ini membuat pejabat KPK menjadi penguasa sebuah lembaga superbodi yang independent dan memiliki wewenang penghancuran korupsi, tanpa dapat diintervensi oleh institusi lain.
Pertimbangan positif nya adalah kasus yang menimpa Chandra dan Bibit, yaitu dinonaktifkan oleh presiden terkait kasus hukum yang ternyata adalah sebuah rekayasa hukum oleh jaksa dan polisi. Ini tentu sangat membahayakan eksistensi dan kewibawaan KPK, karena institusi penegak hukum lain bisa mengacak-acak, hanya melalui selembar surat sangkaan.
Pertimbangan negatifnya adalah seandainya masih dalam proses hukum pengadilan, maka seorang pejabat KPK yang korup pun masih berwenang untuk menghukum koruptor lain. Ini tentu sangat membahayakan, karena posisi keistimewaan KPK yang superbodi untuk menyidik, menuntut dan menghukum koruptor. Sangat ironi jika institusi istimewa seperti KPK diisi oleh orang-orang yang salah dan representasi dari mafia korupsi. Beliau sangat paham, bahwa penyelesaian suatu kasus hukum di Indonesia bisa sangat lama, sehingga jika pertimbangan ini yang dipilih, bukan tidak mungkin seorang pejabat KPK yang korup dan dalam proses pengadilan akan berlenggang ria hingga akhir jabatannya.
Kedua, mempertahankan aturan tentang non aktif pejabat KPK sama seperti yang sudah berjalan sekarang. Artinya pejabat KPK bisa non aktif, jika ada sangkaan kasus hukum pidana.
Pertimbangan positif nya adalah KPK akan diisi oleh orang-orang yang bersih, karena jika ada pejabat KPK yang korup, maka cukup dengan adanya pelaporan kasus hukum kepada polisi, presiden bisa langsung mengeluarkan perpu non aktif seperti sekarang.
Pertimbangan negative nya adalah intervensi dari institusi lain akan sangat membahayakan kewenangan KPK, potensi untuk kriminalisasi terhadap pejabat KPK sangat besar. KPK bisa hanya jadi macan ompong dalam penegakan hukum di Indonesia. Jika ini terjadi, maka spirit pendirian KPK yang berpengharapan besar terhadap pemberantasan korupsi akan sirna.
Ya, Pak Mahfud pantas bingung, ibarat makan buah simalakama, kalo keputusannya pro KPK, nantinya ditakutkan pejabatnya malah jadi berani korup. Tapi kalo kontra KPK, institusi lain yang jadi tambah korup, karena tidak ada yang mengawasi.
Pak Mahfud, saya yakin kebijakan yang akan anda pilih adalah yang terbaik untuk negeri ini. Semoga Allah memberi petunjuk yang tepat.
Sebagai masyarakat awam, saya langsung berandai-andai, akan seperti apa negeri ini, jika ternyata kasus yang sedang ramai dibicarakan oleh lebih jutaan penduduk Indonesia ini, tidak lebih dari sekedar pertarungan antar mafia korupsi. Masing2 orang yang terlibat hanyalah pejabat korup yang berlindung dibalik kewenangan institusinya dan berpura-pura mencari perlindungan hukum. Semuanya tidak lebih dari orang2 yang berkepribadian ganda, di satu sisi dia menghukum orang lain demi popularitas, dan di sisi lain mencari celah untuk memperkaya diri.
Tiba-tiba saya merasa bermimpi buruk, bagaimana jika realitas nya adalah ada pejabat KPK yang benar2 memeras Anggoro, sebagaimana pernyataan Anggodo di TV One, bahwa dia harus menyerahkan milyaran uang untuk menghentikan kasus yang menjerat kakaknya. Dan polisi yang mengendus kasus itu lalu berusaha mengungkapnya.
Bagaimana jika kenyataannya adalah ada pejabat tinggi polri yang benar-benar mendapat suap terkait kasus bank Century. Lalu KPK mengendus dan berusaha mengungkapnya.
Dan sebelum lawannya mengungkap, maka mending ditangkap duluan hehehe…
Bagaimana jika kejadian sebenarnya adalah pertarungan dua pejabat berlainan institusi yang saling menyelamatkan diri dari kasus korupsi yang dilakukannya. Dan masing-masing berusaha mencari dukungan publik untuk melepaskan diri dari jeratan hukum.
Jadi sebagus apapun undang-undang yang dihasilkan oleh MK nantinya, tetap aja ada celah untuk melanggarnya. Mungkin ini hanya soal moral, bukan lagi soal aturan hukum.
Ah, daripada pusing mikirin korupsi, mending ngrampungin skripsi hehehe…
Celesta, 5 November 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Agama adalah sebuah keyakinan pribadi manusia
Sebuah pilihan jalan yang mengarahkan manusia kemana akan meniti tujuan spritualnya.
Sesuatu yang secara materi, jika manusia tak memilih pun tidak ada dampak sosialnya
Laa ikrohaa fiddiin, tidak ada paksaan dalam (memilih) agama
Agama kemudian berkembang menjadi jalan hidup, aturan sosial, hukum bermasyarakat, hingga landasan sebuah Negara.
Tak ada yang bisa menghentikan perkembangan agama, karena itu adalah pilihan manusia sendiri untuk membesarkannya.
Tuhan sebagai tujuan akhir seseorang beragama, selalu menjadi pemersatunya.
DIA yang menjadi pencipta manusia dan alam semesta, diagungkan dalam setiap upacara ritual.
Pengagungan akan kebesaran Tuhan yang sebelumnya bersifat pribadi dari hati manusia, kemudian di”lembaga”kan.
Lalu muncullah apa yang disebut identitas agama, yang oleh manusia diperlihatkan dengan pakaian agamis, status kependudukan, lembaga agama, partai politik berbasis agama, dan seterusnya.
Identitas diri ini kemudian menjelma menjadi egoisme kelompok, golongan, komunitas, yang berhitung dalam pikiran materi.
Kemenangan agama dihitung dari data statistik, ada penganut mayoritas dan minoritas.
Yang mayoritas berpikir bahwa hegemoni statistiknya harus dipertahankan jumlahnya.
Maka dia hanya mengusahakan mempertahankan jumlah komunitasnya, kalau perlu menambahnya.
Yang minoritas berpikir untuk mengembangkan jumlahnya.
Maka disusunlah strategi masuk ke area yang belum terjamah, demi membesarkan komunitasnya.
Tak jarang gesekan sering terjadi dan berujung pada kekerasan fisik dan mental.
Kekerasan fisik terjadi dengan pemaksaan, pemukulan atau benturan kekuatan antar penganut.
Kekerasan mental dilakukan dengan cara yang terselubung; larangan beribadah, penghilangan tempat ibadah, intimidasi sosial, dan sebagainya.
Yang kelebihan kekuatan fisik mengintimidasi yang lebih lemah.
Dan yang kelebihan ekonomi mengintimidasi yang lebih miskin.
Dan semua nya hanya diniatkan demi “membesarkan” lembaga agama nya.
Di sebuah komplek perumahan, pembangunan tempat ibadah yang sudah direncanakan terpaksa ditunda karena ada penolakan dari seorang warga yang berbeda agama.
Dia menolak karena takut anaknya kelak akan terpengaruh ajaran agama lain.
Di sebuah kampung, beberapa warga menolak tetangga nya menggelar ibadah.
Alasannya pun sama, dia takut lingkungannya akan terpengaruh untuk diajak masuk agama lain.
Sesederhana itukah pikiran manusia?
Yang mayoritas takut kelak akan menjadi minoritas.
Yang minoritas takut kelak akan menjadi lebih minoritas.
Ketakutan menjadi minoritas membuat manusia lebih berpikir untuk menghambat laju perkembangan agama lain, daripada menjalankan agamanya sendiri.
Energinya habis untuk mengutuk, mencerca, dan menghalangi orang lain berkembang.
Bukan mengoptimalkan usahanya dalam mengembangkan diri sendiri.
Agama kemudian menjadi kontra produktif.
Disebuah wilayah yang terjadi friksi antar penganut agama, hampir dipastikan perkembangan pembangunannya menjadi tertinggal.
Disebuah perusahaan yang muncul intimidasi antar penganut agama, hampir dipastikan peningkatan usahanya akan stagnan dan melemah.
Mayoritas di wilayah A, bisa jadi menjadi minoritas di wilayah B.
Akhirnya kalau sentiment agama nya tinggi, maka mereka akan saling berbaku intimidasi.
Sambil tersenyum seorang kawan atheis berkata lembut, “jika agama hanya melahirkan konflik, untuk apa beragama? Bukankah manusia akan lebih ikhlas beramal, jika tidak memikirkan agama apakah yang dimiliki orang yang akan ditolong.”
Sebuah pertanyaan kritis untuk direnungkan oleh sesama manusia yang masih percaya Tuhan.
Nabi mengajarkan agar kita mengormati tamu, bahwa orang berbeda keyakinan yang ada disekitar kita dan tidak mengganggu (agama) kita adalah tamu. Maka lindungilah mereka seperti kita melindungi saudara-saudara seagama. Perlakukanlah mereka seperti kita memperlakukan saudara-saudara sendiri.
Jika kita merasa butuh beribadah, maka biarkanlah mereka beribadah, sama seperti saat kita rindu untuk berkomunikasi dengan Tuhan.
Itu adalah wujud toleransi yang paling sederhana.
Ada sebuah kisah dalam kitab suci, tentang seorang pelacur yang diangkat derajatnya masuk surga, karena dia ikhlas memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Dan karena tindakannya itu, sang pelacur menghembuskan nafas terakhirnya. Demi melihat keikhlasannya maka Tuhan pun mengampuni segala dosanya.
Pelacur adalah gambaran manusia pendosa, yang dianggap berada diluar lingkaran lembaga agama, dia selalu dihujat dan dianggap perusak moral.
Seteguk air adalah harta tertinggi yang dimiliki sang pelacur, karena itulah yang akan menentukan hidup matinya.
Sedangkan anjing adalah gambaran binatang yang dianggap najis dan kotor.
Keikhlasan paling tulus adalah memberi yang terbaik yang kita miliki, kepada makhluk yang kita pandang paling rendah, dan itu adalah sebuah wujud toleransi yang paling tinggi.
Ya, jalan termudah untuk masuk surga dan damai disisiNYA adalah ikhlas.
Ikhlas bersifat personal bukan lembaga, karena berasal dari hati bukan organisasi.
Ikhlas adalah representasi langkah manusia, karena ia adalah niat.
Dan penghuni surga bukanlah berdasarka data statistik pemeluk agama, tapi nilai tertinggi keikhlasan
Jadi bisakah kita sesama manusia yang masih percaya Tuhan ikhlas bertoleransi hidup berdampingan?
Celesta, 9 Oktober 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com
Treeva, bidadari kecilku protes “Pa, kenapa sih sekarang gak pernah mau menyambutku didepan pintu sepulang sekolah? Dulu pas aku masih TK, papa selalu melakukannya, tapi setelah SD kok gak pernah lagi”. Sejenak aku tertegun mendengar protesnya, sepenting itukah nilai sebuah sambutan didepan pintu. Bukankah yang terpenting adalah aku ada dan menemaninya dirumah, tanpa harus ada “upacara” kecil seperti itu.
Dan saat dikemudian hari, kucoba untuk menjalankan upacara penyambutan kecil didepan pintu, memang muncul ekspresi wajah yang jauh lebih ceria, ada aura kebahagiaan, seolah dengan aku menjemputnya didepan pintu adalah wujud penghargaanku kepadanya. Padahal ada sambutan atau tidak, aku pasti akan selalu menyayanginya… (ya iyalah hehehe).
Sambutan ternyata bersifat kodrati. Bahkan semakin dewasa manusia, kebutuhan akan penghargaan semakin tinggi. Lebih variatif, unik dan terkadang irasionil. Diberbagai bidang kehidupan kita temui beragam sambutan. Di bandara, saat seorang menteri turun dari pesawat dalam rangka kunjungan ke daerah, maka kalungan bunga dan tari-tarian tradisional akan digelar, walau hanya berdurasi beberapa menit saja. Meski itu bukanlah tujuan dari kunjungan tersebut, tapi dari ekspresi wajah sang menteri tampak muncul rasa kebanggaan bahwa dia dikenal dan dihargai oleh penduduk lokal, kendati tidak dikenalnya.
Demi “merebut” hati pejabat pemerintah pusat, seringkali pegawai pemda menyambut dengan acara yang wah dan mahal, sedangkan inti acara kunjungan sendiri terkadang hanya berupa dialog pak menteri dengan petani atau nelayan, yang digelar ditengah sawah dengan cara sederhana, disertai janji memberi bantuan. Ini menjadi antiklimaks, karena terkadang “harga” sambutan lebih mahal dibanding dengan nominal yang diterima petani dan nelayan setelah “dipotong” aparat pemda.
Saya pernah menemukan sebuah kasus sambutan yang agak unik dan terkesan dipaksakan. Beberapa tahun silam, saya ikut kunjungan presiden ke Sumatera Utara, tujuannya adalah ke Danau Toba, yang menempuh waktu beberapa jam dari kota Medan. Sambutan masyarakat sangat luar biasa, disepanjang jalan kota Medan, masyarakat berjejer dipinggir jalan untuk menyaksikan iring-iringan mobil pejabat yang “mengular” hingga sepanjang hampir 1 KM. Kalo itu masyarakat umum, saya masih percaya bahwa itu berasal dari “hasrat” masyarakat sendiri untuk melihat presidennya. Tapi jelang bergerak ke luar kota, hampir di sepanjang jalan, ratusan bahkan mungkin ribuan murid SD berjejer rapi dengan berseragam merah putih dan pramuka berbaris mengibarkan bendera plastik kecil. Dan dari pengamatan saya, sepertinya mereka sudah berdiri berjam-jam disitu dan dilakukan pada jam sekolah, yang artinya sekolah meliburkan proses belajar mengajar pada hari itu, dan menggiring murid-muridnya yang masih kecil untuk berdiri di pinggir jalan selama berjam-jam.
Sepenting itukah sebuah upacara sambutan, sehingga harus mengorbankan proses belajar mengajar di sekolah. Jika para murid tidak menyambut, apakah acara kunjungan akan gagal. Saya pikir tidak ada hubungannya sama sekali.
Kasus lain adalah sambutan terhadap anggota DPR RI periode terbaru. Demi menghargai calon wakil rakyat tersebut, pemerintah harus mengeluarkan duit rakyat sekitar 46 milyar untuk sebuah upacara pelantikan. Esensi dari upacara itu hanyalah pemberian surat keputusan tentang pengangkatan sebagai anggota DPR RI, agar mereka bisa segera bertugas. Kalo hanya serah terima surat SK, sebenarnya hal itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana tanpa menghamburkan banyak uang, wong rakyat yang diwakilinya aja masih banyak yang miskin kok. Tapi mungkin itulah watak bangsa kita yang narsis, semua hal kecil harus diselenggarakan dengan cara yang mewah dan megah, dan mengorbankan orang lain. Coba kalo biaya pelantikan ditanggung renteng oleh anggota DPR yang dilantik, saya yakin mereka akan teriak dan menuntut pelantikan yang sederhana, atau kalo perlu tidak ada pelantikan dan SK cukup dikirim via pos hehehe…
Sebagai tuan rumah kita memang wajib menyambut tamu dengan layak, tapi juga harus tetap memperhitungkan kondisi ekonomi, sama seperti aparat Pemda, mennyambut pejabat yang datang berkunjung memang wajar, asalkan tidak terus menghabiskan dana APBD yang seharusnya dialokasikan ke bidang lain.
Pun sebagai tamu, sangat manusiawi jika mengharap mendapat sambutan dari tuan rumah, asalkan tidak menuntut untuk disambut dengan mewah, standar-standar saja, jangan sampai si tuan rumah menggerutu dan mendoakan kita untuk tidak datang lagi karena merepotkan.
Dan yang paling parah adalah tuan rumah yang berlagak jadi tamu, sehingga menuntut untuk mendapat sambutan di setiap kegiatan. Pejabat Negara sejatinya adalah tuan rumah di negeri sendiri, jadi seharusnya dia memposisikan dirinya bukan sebagai tamu. Alangkah besar uang negara yang akan dihemat, jika setiap pejabat yang berkunjung cukup disambut oleh aparat lokal dengan salaman erat dan pelukan mesra, tanpa upacara yang megah dan mewah.
Celesta, 13 Oktober 2009
Dwi Firmansyah
http://ruangstudio.blogspot.com