<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509</id><updated>2012-02-16T06:39:36.816-08:00</updated><category term='Ruang Hikmah'/><category term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Ruang Studio</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-505828384603170037</id><published>2010-05-11T06:37:00.001-07:00</published><updated>2010-05-11T06:37:02.154-07:00</updated><title type='text'>Mourinho, Sang Peracik Kesempatan</title><content type='html'>Ada dua hal yang menginspirasi saya untuk ikutan nimbrung berbagi cerita tentang pentingnya memberi sebuah kesempatan. Yang pertama adalah curcol (curhat colongan-red) dari seorang sahabat yang saya akui kehebatan dan profesionalitas nya dalam bekerja dan yang kedua adalah artikel dari penulis gaya hidup idola saya, Samuel Mulia, di harian Kompas 9 Mei 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat saya dalam suatu kesempatan bercerita tentang sistem di kantornya, yang menurutnya agak aneh. Mendengar kata aneh, yang berkonotasi dengan nyleneh, saya langsung serius tertarik mendengarnya. Di kantornya, kawan saya merasa sudah mencurahkan segenap karya dan rasa dengan titik keringat terakhir untuk memberi yang terbaik bagi perusahaan, tetapi selalu tidak pernah diberi kesempatan untuk promosi jabatan. Dan ketika dia berusaha menanyakan ke atasan, didapat jawaban yang cukup mengiris hati; “soalnya kamu tidak pernah mengeluh ke saya untuk naik jabatan, sedangkan yang lain sudah berulangkali curhat. Jadi saya pikir kamu sangat menikmati  jabatanmu selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok bisa?? Bagaimana mungkin sebuah kesempatan promosi jabatan hanya didasarkan pada curahan hati, bukan pada kemampuan? Seseorang yang tidak pernah mengeluh terhadap pekerjaannya, demi atas nama profesionalitas, kemudian dituduh “menikmati” pekerjaannya sekarang, sehingga tidak diberi kesempatan bersaing mencapai promosi. Sementara orang lain yang selalu mengeluh dengan pekerjaannya, malah lebih diapresiasi hanya dengan alasan biar tidak mengeluh lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persaingan kesempatan” tertutup bagi para professional yang mau belajar, tetapi hanya milik para pengadu dan pencurhat. Sebuah nepotisme terselubung yang mendasarkan pada kedekatan pribadi. Sistem nepotisme hanya akan melahirkan persaingan tidak sehat antar karyawan dan berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Nah lho, kalo sistemnya begini bukannya malah enak, jadilah si pengeluh agar bisa dapat kesempatan promosi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samuel Mulia menulis tentang ke”iri”an hatinya terhadap Roberto Cavalli, perancang mode Italia, yang berani mengelar festival mode dengan model baru dan membuat iklan produk nya dengan lebih memilih memakai jasa fotografer baru. Samuel dengan jeli mengkritisi kebiasaan mayoritas orang, yang dia representasikan dengan dirinya, yang ketika menjadi pemimpin lebih suka memilih orang-orang terbaik yang sudah “jadi” daripada memberi kesempatan kepada orang ”belum ternama” untuk berkembang. Roberto Cavalli disebutnya sebagai orang yang mau bekerja keras membabat hutan untuk menemukan batu berlian mentah, bukan tipe orang yang hanya berani memamerkan berlian polesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal menyoal menjadi pemimpin yang baik, saya langsung teringat allenatore idola saya, Jose Mourinho, pelatih tim sepak bola Inter Milan yang saat ini sedang berusaha meraih gelar treble. Kendati merupakan sosok pelatih kontroversial dan dibenci media, tetapi saya menyukainya karena kecerdasannya dalam meracik tim. Mr Mou mampu merubah anak buahnya dari bukan siapa-siapa menjadi tim yang disegani lawan. Dia sosok pelatih yang tidak peduli bagaimana kualitas awal pemain-pemainnya, karena baginya, salah satu tugas pelatih adalah merubah dari yang “tidak berkualitas” menjadi “berkualitas”. Dalam perjalanan karirnya, Mr Mou mampu menyulap FC Porto, sebuah tim kecil asal negerinya Portugal, menjadi juara Liga Champion, yang biasanya merupakan langganan milik tim sepakbola kaya Eropa, seperti MU, AC Milan, atau Real Madrid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menginspirasi dari sosok Mourinho adalah keberaniannya melawan mainstream, dan kenekatannya melawan keinginan pihak lain yang sering mempengaruhi sebuah kebijakan. Dia tidak peduli citra, yang dia pedulikan adalah karya. Contoh kasus adalah ketika salah satu pemainnya, Mario Balotelli, mendapat kecaman dari para internisi (fans Inter Milan-red) saat bermain buruk dan membuang kostum usai pertandingan, sehingga diserang oleh salah satu pemain Inter dan nyaris dikeroyok oleh internisi di luar stadion. Saat itu pendukung Inter mendesak Mourinho agar mendepak Bolatelli dari skuad, karena dianggap menghina dan melukai perasaan internisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mourinho tetaplah Mourinho, sosok yang berani melawan tekanan luar, seberapapun besar desakan itu. Mou cuek dan membela Bolatelli dengan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri dan agar bisa menjadi bagian dari skuad inti. Sang Manajer tetap memberinya kesempatan untuk bermain guna mengembalikan potensi Balotelli ke permainan terbaiknya. Walhasil, dalam pertandingan melawan Chievo, Balotelli membayar kepercayaan Sang Boss, dengan turut menyumbangkan gol penting dalam memuluskan usaha meraih gelar scudetto Serie A Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun ketika salah satu striker terbaiknya, Zlatan Ibrahimovic, yang telah turut menghantarkan Inter meraih scudetto 3 kali berturut-turut, lebih memilih hengkang ke klub terbaik dunia saat ini, FC Barcelona, dan dijual dengan harga fantastis. Mou tidak tergoda menghambur-hamburkan uang hasil penjualan tersebut untuk membeli pemain-pemain terbaik dari klub lain, guna memperkuat skuad, tapi lebih memilih memberi kesempatan kepada pemain-pemain yang sudah dimilikinya untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi tim. Dan hasilnya adalah Inter Milan mampu menumbangkan FC Barcelona dalam semifinal Liga Champion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian memberikan kesempatan yang sama, akan melahirkan persaingan yang sehat bagi anak buahnya, semua orang akan terpacu untuk menunjukkan kinerja terbaiknya, jika diberi kesempatan untuk tampil. Dengan memberi kesempatan, sang pemimpin cukup berdiri memantau dan sesekali bertepuk tangan melemparkan pujian bagi anggota tim yang sukses berkontribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sosok Mourinho yang ekspresif bertepuk tangan dari pinggir lapangan, kala para pemainnya berpesta gol ke gawang lawan. &lt;br /&gt;Forza Inter Milan!!!&lt;br /&gt;Fiva Mourinho!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 11 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-505828384603170037?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/505828384603170037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/05/mourinho-sang-peracik-kesempatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/505828384603170037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/505828384603170037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/05/mourinho-sang-peracik-kesempatan.html' title='Mourinho, Sang Peracik Kesempatan'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3308132249607752389</id><published>2010-04-19T12:57:00.001-07:00</published><updated>2010-04-19T12:57:48.945-07:00</updated><title type='text'>Bermimpi yang (tidak) Membumi…</title><content type='html'>Ada satu kalimat inspiratif dari novelis Andrea Hirata yang banyak menyentuh hati penggemarnya; “Dan bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu…”. Sebuah kalimat yang menjadi tag line bagi karyanya paling populer Laskar Pelangi. Kumpulan kata yang sangat kuat dan mampu membakar semangat hati yang mulai membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bermimpi” menjadi kata paling indah untuk diucapkan, paling nikmat untuk dijalani dan paling mudah untuk dipenuhi. Karena kita cukup berdiam sejenak, memejamkan mata, melepaskan segala beban hidup, membayangkan apa yang kita inginkan, dan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya ”mimpi” yang kita angankan adalah menjadi sebuah motivasi, seperti gambaran Ikal yang merepresentasikan sang penulisnya dalam novel Laskar Pelangi. Namun dalam realitanya, seringkali ”mimpi” tersebut hanya menjadi imaji semu yang justru menerbangkan kita ke dunia awang-awang yang jauh dari kenyataan. ”Mimpi” terlalu indah itu malah merusak bayangan kita tentang kerasnya kehidupan, melemahkan urat syaraf kita untuk berlomba memeras keringat demi mencapai sebuah target. Dan buaiannya menghambat tapak-tapak kaki untuk melangkah di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku pernah bercerita tentang seorang priyayi sepuh di kampungku yang tidak mau membiayai sekolah cucunya hingga perguruan tinggi. Alasannya pun sangat sederhana, karena dia merasa kapok melihat tabiat anak kandungnya, seorang sarjana dari sebuah universitas swasta ternama, yang dulu diimpikannya akan menjadi pegawai atau wiraswastawan yang mapan, namun hingga usia mendekati 40 an tidak mau bekerja keras. Dan hanya menggantungkan hidupnya dari bapaknya, sang priyayi sepuh itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi indah priyayi sepuh direalisasikan dengan menyekolahkan sang anak hingga lulus perguruan tinggi. Namum mimpi itu buyar tatkala sang anak pun hanya mau bermimpi menjadi pegawai bergaji besar atau pengusaha sukses, tanpa bersedia merintis dari anak tangga terbawah. Sang anak yang hidup di desa, merasa gengsi untuk menjadi orang suruhan, hanya karena merasa dirinya adalah satu dari segelintir orang yang mampu meraih gelar sarjana disitu. Harga dirinya akan jatuh jika dia tidak langsung menjadi pimpinan. Dia pun tak tahan, jika harus merintis usaha sendiri dengan cara menawarkan barang-barang ke konsumen dari rumah ke rumah. Karena dia merasa bahwa dirinya lah yang seharusnya membeli barang-barang itu, bukan menjadi sales yang menurunkan derajat untuk merayu pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ”mimpi” itu telah mengangkat tubuhnya untuk tidak menapak di bumi nan fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ibukota nan hiruk pikuk ini, belasan stasiun televisi telah menghipnotis masyarakat miskin kota dengan buaian mimpi lewat program sinetron yang tidak realistis. Kisah gadis miskin yang dicintai pemuda kaya raya dan lalu dalam sekejap menjadi direktur perusahaan calon mertuanya tersebut. Atau seorang pencopet berhati lembut yang beruntung berwajah tampan sehingga membuat putri konglomerat tergila-gila. Adegan film yang hiper realitas telah mengkonstruksi alam bawah sadar masyarakat untuk bersikap instan dan pragmatis dalam usaha mencapai target. Maka muncullah copet-copet trendy yang bergaya metroseksual atau penipu-penipu modis yang merayu untuk melucuti harta pasangannya. Maka jangan kaget kalo melihat di program berita kriminal televisi, banyak penjahat-penjahat yang berdandan keren layaknya eksekutif muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi-mimpi yang tertanam telah membentuk  cara-cara praktis, ekonomis dan efisien, untuk mendapatkan uang, tentu saja dengan jalan yang merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bertanya kepada masyarakat kecil, realitas seperti apakah yang tergambar dalam benak mereka, tentang gambaran ustadz yang ideal. Maka jawabannya adalah seperti ustadz Uje yang tampan atau Ustadz Yusuf Mansur yang cool, yang selalu mengajarkan tata cara bersedekah kepada umat. Masyarakat ”memaksakan” mimpinya bahwa gambaran seorang ustadz yang disegani, disamping mempunyai ilmu agama yang tinggi, juga harus rajin bersedekah, sehingga tanpa sadar, ada tuntutan bahwa seorang ustadz juga harus kaya raya. Semakin sering beramal, semakin tinggi nilai prestise nya, dan akan semakin disegani oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan ”harus kaya” agar lebih disegani, membuat seorang ”ustadz” akan berusaha memperkaya dirinya. Kalo dia mampu dengan cara yang halal, maka itu akan menjadi barokah bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya. Namun yang seringkali terjadi adalah untuk meraih mimpi menjadi ”ustadz” yang terhormat, seseorang melakukan korupsi, yang sebagian harta hasil korupsinya tersebut, kemudian disedekahkan, diinfaqkan, dan dizakatkan kepada orang lain. Maka tak heran, jika hasil riset peringkat korupsi oleh sebuah LSM menempatkan departemen para ustadz menjadi departemen terkorup di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas kehidupan yang sederhana, sering kita terjebak dalam mimpi yang cair. Sebuah mimpi yang oleh orang lain bisa tercapai melalui kerja keras, tetapi kita hanya bisa memeluk bayangan mimpi itu sendiri. Seperti mimpi sukses berbisnis MLM dengan iming-iming meraup jutaan rupiah dalam waktu singkat, jika mampu menarik dua atau tiga downline dan berikut seterusnya ke bawah. Namun nyatanya tidak sesederhana itu, karena pada prakteknya usaha yang harus dijalankan, justru bisa sepuluh kali lebih berat dari yang kita bayangkan. Butuh energi dan semangat ekstra keras untuk mencapai target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah kalo sutradara Hanung Bramantyo memilih tema MLM untuk film terbarunya ”Menebus Mimpi” dalam rangka memperingati Hari Kartini (gak nyambung yaaa hehehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang mimpi tidak hanya menjadi sumber inspirasi , tetapi juga menjadi awan penghalang bagi kita untuk menapak ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Maksudnya kebanyakan mimpi justru gak kerja-kerja hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 20 April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3308132249607752389?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3308132249607752389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/04/bermimpi-yang-tidak-membumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3308132249607752389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3308132249607752389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/04/bermimpi-yang-tidak-membumi.html' title='Bermimpi yang (tidak) Membumi…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1406440756758881275</id><published>2010-03-12T08:55:00.001-08:00</published><updated>2010-03-12T08:55:29.704-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Sebutir Peluru Untuk Sebuah "Sangkaan"</title><content type='html'>Siang tadi saya merasa sangat bahagia ketika membaca tulisan seorang konco gojek kere saat kuliah di Yogya dulu, Noor Huda Ismail atau kita biasa memanggilnya Si Om, yang kini sudah sukses sebagai pengamat teroris yang sering masuk tv hehehe… Si om dengan cerdas mengkritisi fenomena penembakmatian teroris oleh polisi. Opini yang ditulis di harian kompas, 12 Maret 2010, judul “Perlukah Tembak Mati Teroris?” menggugat tindakan polisi yang seringkali mengakhiri proses perburuan pelaku teroris yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun justru hanya dengan sebutir peluru di bagian tubuh yang mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya, Si Om mengkritisi fenomena tersebut dengan 4 alasan: pertama, hukum di Indonesia menggunakan asas hukum praduga tidak bersalah, sehingga seorang tersangka tidak seharusnya dieksekusi mati (judicial Killing) tanpa melalui proses peradilan. Kedua, terputusnya arus informasi tentang kelompok teroris, karena hanya pimpinan kelompoklah yang “tahu banyak” tentang seluk beluk organisasi. Ketiga,menghapus kesan bahwa ancaman terorisme adalah hal yang nyata, bukan sekedar “rekaan” polisi. Keempat, menghapus harapan untuk bisa mengembalikan anggota teroris lain yang notabene hanyalah anak buah bertobat ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah pemaparan yang menurut saya sangat menggelitik, “Dalam kasus Dulmatin, saya sulit membayangkan adanya sebuah perlawanan berarti yang dilakukan Dulmatin, yang waktu itu tengah berada di bilik warnet yang sempit, walaupun polisi beralasan bahwa Dulmatin bersenjata dan hendak menembakkan pistol ke arah polisi”. Sebuah kalimat yang menegaskan tentang adanya kemungkinan pelanggaran prosedur yang berakibat fatal, yaitu penghilangan nyawa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung terbayang peristiwa penggrebekan Ibrohim (tersangka pelaku bom JW Marriot-Ritz Carlton-red) di Temanggung, yang sebelumnya sempat salah info sebagai Noordin M Top, dimana hampir semua stasiun televisi nasional menayangkan secara langsung peristiwa akbar tersebut. Seorang Ibrohim, yang sendirian berada di dalam rumah dan saat itu statusnya masih tersangka, harus berhadapan dengan ratusan polisi bersenjata lengkap dan canggih. Ibarat menyaksikan film laga yang tidak berimbang dan berakhir tragis. Semua media massa mengamini kehebatan polisi dalam menangkap teroris, dan nyaris tak ada yang mengkritisi kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan terakhir, untuk tugas kuliah, saya melakukan riset kecil-kecilan tentang konstruksi berita teroris di televisi, dengan menggunakan analisis framing Pan dan Konsicki. Dengan sampel berita yang terbatas, saya menemukan kesimpulan bahwa ada kecenderungan dalam pemberitaan perburuan teroris, media massa (televisi-red) lebih dominan menyandarkan kebenaran beritanya pada satu sumber, yaitu pihak kepolisian. Pun misalkan ada narasumber lain, yaitu pengamat teroris atau saksi, pendapat yang dikutip juga cenderung membenarkan keterangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika ternyata terjadi pelanggaran HAM, siapa yang akan mengkritisinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak untuk hidup adalah hak asasi tertinggi manusia. Semua orang apa pun bangsa, ras, ideologi, dan agama memiliki hak yang sama, yaitu hidup di muka bumi. Penghilangan nyawa manusia harus didasarkan pada sebuah aturan hukum yang disepakati bersama. Secara pribadi saya sendiri tidak setuju dengan adanya hukuman mati, karena hal itu berarti menghapus hak pertobatan bagi manusia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan sosial orang yang “disangka” teroris sangatlah dekat dengan kehidupan kita. Bisa jadi dia kawan, saudara atau tetangga kita, yang setiap hari kongkow-kongkow, ngopi bareng atau sekedar bersenda gurau mengisi waktu luang. Sengaja saya beri tanda kutip pada kata disangka, karena bisa jadi sangkaan itu salah. Tapi jika sudah tertembak mati, dan ternyata salah orang, siapa yang bisa menghidupkannya kembali untuk direhabilitasi nama baiknya. Siapa yang akan menghidupi keluarga yang ditinggalkan, hanya karena sebuah sangkaan yang belum teruji kebenarannya. Bagaimana jika yang menjadi “tersangka” adalah kita atau keluarga terdekat kita? Siapa yang bisa menentukan bahwa seseorang memiliki ideologi tertentu dan karenanya layak ditembak mati. Atau seseorang terlibat jaringan tertentu sehingga layak dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi adalah hal yang sangat abstrak berada di pikiran manusia dan bukanlah sebuah kejahatan. Sebuah ideologi tidak berarti apa-apa, kecuali jika pemikiran tersebut ditindaklanjuti menjadi sebuah aksi kejahatan. Maka yang menjadi terhukum adalah tindak pidananya bukan ideologinya. Demikian pula sebuah pertemanan, siapa yang bisa menghalangi seseorang untuk berkawan dengan orang lain. Lalu apakah ketika kita “kebetulan” kenal dengan seorang teroris yang menyamar, lalu kita dianggap terlibat dalam jaringan tersebut atau berperan serta menyembunyikan pelaku teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan teroris bisa menjadi hal yang kebablasan, jika tidak ada yang mengkritisinya. Karena semua informasi hanya bersumber dari satu pintu yaitu pihak kepolisian, yang bisa jadi kebenaran realitasnya sudah direkayasa terlebih dahulu. Tidak ada opini lain yang terbentuk, jika polisi sudah menyatakan bahwa si A adalah seorang teroris yang melawan ketika hendak ditangkap sehingga harus ditembak mati. Tidak ada saksi yang bisa membantah, tidak ada kuasa hukum yang bisa membela, dan juga tidak ada anggota keluarganya yang berani bicara. Pers pun akan menelan mentah-mentah informasi tersebut menjadi sebuah kebenaran tunggal, karena tidak ada pilihan lain. Dan jika kondisi ini yang terjadi, maka yang akan menerima beban sosial terberat adalah keluarga terdekatnya; kehilangan anggota keluarga dan mendapat stigma negative dari masyarakat sebagai keluarga teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runtutan dampak sosial yang mungkin akan diterima anggota keluarga adalah kehilangan mata pencaharian, diusir dari tempat tinggal, diskriminasi sosial dari warga sekitar dan bisa jadi sebuah struktur hidup sebuah rumah tangga yang sudah dibangun selama bertahun-tahun akan hancur seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini harga yang harus dibayar untuk sebuah “sangkaan”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 12 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1406440756758881275?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1406440756758881275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/03/sebutir-peluru-untuk-sebuah-sangkaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1406440756758881275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1406440756758881275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/03/sebutir-peluru-untuk-sebuah-sangkaan.html' title='Sebutir Peluru Untuk Sebuah &quot;Sangkaan&quot;'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-7120737125918185277</id><published>2010-02-09T00:30:00.001-08:00</published><updated>2010-02-09T00:31:16.084-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>"People Power" Genre Sosial</title><content type='html'>Mendengar kata “people power” kita akan tergiring pada gambaran kerumunan puluhan atau ratusan ribu manusia yang terkonsentrasi pada satu titik untuk menyatukan tekad dan idealismenya dalam melawan ketidakadilan, misalnya rezim otoriter atau presiden korup, intinya gerakan people power biasanya bertujuan untuk menekan dan menjatuhkan “seseorang” yang kalau terpaksa dilakukan dengan cara anarkis, tapi lebih sering secara damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini people power pun mulai merambah dunia maya, bedanya kalau di dunia nyata kerumunan dilakukan pada satu wilayah dengan cuaca panas terik dan manusianya pun harus berjibaku dengan peluh keringat, sedangkan di dunia maya titik kerumunan ada di situs jaringan sosial seperti facebook, twitter, atau beragam mailing list, dan manusianya pun cukup duduk manis dibawah ruang ber AC dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata gerakan people power ala dunia maya, tak kalah keras dibanding dunia nyata. Contoh people power yag paling fantastis adalah dukungan masyarakat terhadap Prita dalam perseteruannya dengan RS Omni Internasional atau dukungan terhadap dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. “Kerumunan manusia” yang terkumpul mencapai lebih dari satu juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, satu hal yang menurut saya paling indah adalah gerakan people power dunia maya kini bergeser pada kegiatan social dengan cara memfasilitasi bantuan kepada rakyat kecil yang mengalami ketidakadilan sosial dari pemerintah negeri ini. Mereka mencoba mengetuk hati para anggota nya untuk membantu secara nyata dengan memberi sumbangan dana, atau menekan penguasa agar menjadi peduli atas berbagai masalah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koin Cinta untuk Bilqis, sumbangan untuk Bilqis Anindya Passa, balita usia 17 bulan yang menderita atresia billier atau gangguan pada saluran empedu sehingga harus menjalani transpalasi hati kini mencapai 1,3 M, dan keluarga nya pun merencanakan bahwa sisa hasil sumbangan akan didirikan untuk membangun yayasan yang membantu masyarakat lain yang mengidap penyakit sejenis. Sebuah kebaikan hati yang cepat menyebar dan menyentuh relung hati para donaturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta di media massa menyebutkan bahwa ternyata banyak sekali rakyat Indonesia dari berbagai status sosial; kaya, menengah, miskin yang rela menyumbangkan uang tabungannya atau hasil karyanya demi memberi bantuan kepada orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Para donator hanya tahu dari pemberitaan media massa yang mem blow up kisah tersebut dari sisi human interest nya. Sebuah keikhlasan yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah fenomena yang menarik, disaat banyak pengamat sosial menggugat bahwa rakyat Indonesia kehilangan jati diri, dari budaya gotong royong rasa sosialis menjadi individualis materialistis, ternyata arah gerakan people power justru menunjukkan gejala yang sebaliknya. Yaitu menjadi gerakan sosial yang peduli kepada kasus-kasus kemanusiaan yang banyak mendiskriminasi rakyat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah sebuah bentuk “pelarian” atas ketidak percayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga sosial di negeri ini. Kasus korupsi dana raskin (beras untuk rakyat miskin-red) atau bantuan pupuk bagi petani yang ternyata fiktif dan pemberian sapi induk untuk para peternak yang tidak pernah terealisasi walau anggaran sudah cair, menjadi gambaran rusaknya sistem bantuan sosial untuk rakyat kecil. Bukan tidak mungkin, jika dana sumbangan Koin Cinta untuk Bilqis dikelola oleh pemerintah, maka jumlah yang tersalur hanya 25% nya, karena yang 75% dipotong uang lelah buat pejabat nya hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menghitung secara kasar nominal zakat 2,5% dari penghasilan masyarakat mampu untuk disumbangkan pada rakyat miskin, sebenarnya tanpa harus mendapat subsidi APBN pun pendidikan gratis bagi rakyat miskin bisa terealisasi. Namun hingga kini tak ada satu pun yayasan atau lembaga sosial di negeri ini yang bisa dipercaya untuk mengelola dana masyarakat. Yayasan pemerintah atau pejabat pemerintah lebih berfungsi sebagai sarana mengumpulkan dana sumbangan untuk dana kampanye bukan pendidikan gratis atau kesehatan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kegiatan untuk beramal pun tidak mendapat kemudahan di negeri ini, maka people power genre sosial adalah pilihan yang tepat, karena bisa langsung mencapai tujuan tanpa harus dipotong “pajak pribadi” pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika untuk beramal aja dipersulit, bagaimana mungkin negeri ini akan mendapat “berkah”...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 9 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-7120737125918185277?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/7120737125918185277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/02/people-power-genre-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7120737125918185277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7120737125918185277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/02/people-power-genre-sosial.html' title='&quot;People Power&quot; Genre Sosial'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1593468080028762553</id><published>2010-02-07T12:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T15:00:52.878-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Sebuah Pertanyaan tentang Integritas?</title><content type='html'>"Pejabat publik harus anggun, nanti kalo nangis dibilang curhat"…&lt;br /&gt;Kalimat singkat yang dilontarkan Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan-red) saat menjawab pertanyaan Rosiana Silalahi dalam “Rossy” di Global TV Minggu 21.00 WIB cukup menggelitik. Jawaban yang cukup jujur untuk menggambarkan karakter sang narasumber yaitu lugas, sedikit jaim khas wanita dan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tersamar (atau jelas yaa?) tema yang diangkat dalam show perdana Mbak Rossy pun menarik, yaitu mempertanyakan soal integritas Sri Mulyani; sebagai seorang pejabat publik yang sedang tersangkut  tuduhan mega korupsi bailout bank Century dan seorang wanita berkeluarga yang mau tidak mau harus meyakinkan orang-orang terdekatnya bahwa dirinya tidak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam talkshow tersebut, ada sebuah kisah yang mengharukan tentang bagaimana Bu Ani bicara mengenai pilihan yang berat antara rapat dengan emiten terkait krisis ekonomi tahun 2008 versus menjenguk sang Ibu yang berada dalam kondisi kritis di rumah sakit sampai akhirnya meninggal. Krisis versus kritis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tetap manusia, seorang anak yang kehilangan ibunya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pilihan berat yang memaksa seseorang harus memilih antara integritas kepada bangsa untuk menyelesaikan krisis atau integritas seorang anak yang berkewajiban memberi support kepada sang Ibu yang kritis disaat terakhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Bu Ani memilih integritas yang pertama, membantu mengatasi krisis ekonomi bangsa demi menghindari dampak yang lebih besar, sebuah pilihan yang pada bulan-bulan berikutnya justru menyeretnya pada kasus Century Gate dan menjadikannya sebagai bulan-bulanan para demonstran dan media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= = =&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal integritas Sri Mulyani, saya yakin pasti ada yang setuju dan ada juga yang menolak. Yang pro akan mengatakan bahwa Bu Ani adalah orang yang cukup ber-integritas terlepas pada akhirnya salah satu kebijakannya yaitu bailout bank Century disinyalir merugikan negara hingga 6,7 T. Sedangkan yang kontra akan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah konstruksi berita yang sengaja menggiring pembentukan opini masyarakat untuk meyakini bahwa dalam proses bailout BC jauh dari kepentingan tertentu dari bu Menkeu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih untuk tidak pro terhadap salah satu pihak, tapi memilih untuk berpikir positif bahwa Indonesia memang sangat membutuhkan orang-orang yang punya integritas tinggi bagi bangsanya. Dalam jangka panjang, tidak ada negara bebas korupsi tanpa masyarakat yang berpegang teguh pada kejujuran dan integritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) in•teg•ri•tas adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran. Integritas juga berarti menunaikan amanah dan tanggung jawab kita hingga tuntas selesai. Dengan menunaikannya berarti kita telah bersikap jujur pada hati kita sendiri, dimana amanah yang telah kita terima kemudian kita tunaikan dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita. Keutuhan semua ini, yakni pengakuan mulut, perasaan, pikiran, dan tenaga kita, pada hakikatnya itulah yang disebut integritas. Integritas adalah komitmen, janji yang ditepati, untuk menunaikan tanggung jawab hingga selesai sampai tuntas, tidak pura-pura lupa pada tugas atau ingkar pada tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak bangsa, alm. Gus Dur adalah sosok yang memiliki integritas tinggi bagi bangsanya, beliau tidak peduli terhadap pencitraan pribadi dan memilih melakukan suatu kebijakan yang walaupun kurang populis tapi dibalik semua nya bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya Cholil Staquf (juru bicara Gus Dur saat menjadi presiden-red) dalam sebuah artikel menulis pandangannya tentang Gus Dur "Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum dianggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun aku justru melihat daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika. Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahunnya, sedangkan kita mengimpor lebih separuh jumlah itu, dari Amerika pula. Maka presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika. Venezuela mengipor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus –persen rempah-rempah kita kesana. Maka presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Gus Dur, orang yang integritas nya diakui oleh masyarakat dari bebagai golongan dan beragam agama pun harus menerima kenyataan bahwa dirinya terjungkal dari kursi kepresidenan lewat sebuah pemakzulan. Sesuatu yang kemudian disesali oleh masyarakat karena hingga akhir hayatnya tuduhan korupsi yang dulu dijadikan salah satu alasan pemakzulan, ternyata secara hukum tidak pernah terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah integritas yang mendapat pengakuan, justru setelah pemiliknya wafat...&lt;br /&gt;Dan Indonesia pun menangis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengurus PSSI adalah contoh orang yang mengaku memiliki integritas tinggi kepada dunia sepakbola Indonesia tapi tidak pernah menjalankan tugasnya dengan baik, dan setelah gagal memajukan tim nasional di berbagai even internasional,dengan menjerumuskan pada posisi juru kunci,  mereka tetap menolak untuk mundur karena alasan tingginya "kecintaan" dan  "integritas" mereka pada dunia sepakbola hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ada sekelumit kisah tentang integritas dari seorang kawan yang bekerja sebagai staf ekonomi. Kawan saya bercerita bahwa saat dirinya ikut rapat APBN 2010 bersama para menteri, hampir semua pemimpin departemen itu hanya bicara soal anggaran dan anggaran bagi departemennya. Hanya angka-angka yang diminta bukan memikirkan program yang diajukan, sehingga pada saat itu terjadi kondisi dimana dana cukup tapi tidak ada pembangunan infrastruktur. Melihat keadaan seperti itu dengan sedikit menyindir sang Menteri Keuangan berkata “Jika hanya ingin mendapat kesan bagus, bahwa dana APBN kita cukup dan anggaran keuangan departemen terpenuhi, saya sangat mudah melakukannya. Tapi apa yang masyarakat kita akan dapatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, orang yang ber- integritas memang susah dicari di negeri ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 8 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1593468080028762553?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1593468080028762553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/02/sebuah-pertanyaan-tentang-integritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1593468080028762553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1593468080028762553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/02/sebuah-pertanyaan-tentang-integritas.html' title='Sebuah Pertanyaan tentang Integritas?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1051069441808342648</id><published>2010-01-11T08:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T09:18:35.709-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Batam; Wisata Kultural, Kuliner dan Keindahan Alam</title><content type='html'>Dering alarm HP,  membangunkan tidur nyenyakku dalam balutan sleeping bag yang lumayan hangat… Yup, usai semalaman bertugas di studio hingga dini hari, pukul 5 subuh aku harus segera meluncur ke bandara dua proklamator negeri ini.. Dua jam perjalanan Jakarta – Batam tak dapat kunikmati, karena rasa kantuk lebih kuat dibanding hasrat memandangi birunya lautan dari atas awan. Tugas nan mengasyikkan menanti, membuat feature wisata di kota Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Patung Dewi Kwan Im-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung Dewi Kwan Im setinggi 22,374 meter adalah feature pertama yang rencananya harus aku garap. Berlokasi di sebuah resort indah bernama KTM di kawasan Tanjung Pinggir Sekupang Batam yang dianggap sebagai tempat pertemuan angin laut dan angin darat. Sebelumnya kawasan ini adalah wilayah yang tidak laku, karena menurut kepercayaan, titik pantai yang menjadi pertemuan dua arah angin yang berseberangan itu akan mendatangkan kebangkrutan bagi pebisnis. Dan untuk meredakan dampaknya, didirikanlah patung Dewi Kwan Im yang diharapkan dapat menetralisir pertemuan angin, sehingga bisa mendatangkan hoki bagi para pebisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hang yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan penderitaan di mana-mana. Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia bila dalam bentuk wanita karena di jaman itu wanita yang lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung Dewi Kwan Im di Batam ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia, yang mencapai 22,374 meter. Pembuatan patung dengan berat 112 ton menghabiskan waktu delapan bulan, dengan bahan terbuat dari rangka beton yang dicor. Tanda di kening Dewi Kwan Im merupakan giok hijau yang didatangkan langsung dari China. Keramik dan ukiran China mengenai Kisah Dewi Kwan Im juga didatangkan dari China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan wisata yang ”dijual” bagi para turis adalah bersembahyang di bawah patung Dewi Kwan Im bagi para pemeluknya. Para pengunjung yang sebagian besar etnis keturunan baik lokal maupun negara terdekat seperti Singapura dan Malaysia biasanya ramai berkunjung pada hari suci kalender Cina dan setiap tanggal 1 dan 15 kalender Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tY1F5rkoI/AAAAAAAAADk/JdDMK8B2nJA/s1600-h/kwan+im+1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 106px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tY1F5rkoI/AAAAAAAAADk/JdDMK8B2nJA/s320/kwan+im+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425527845238313602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah restoran apung dibibir pantai, kami; saya dan bang Aloy koresponden Batam, disuguhi secangkir teh susu yang merupakan minuman khas Melayu. Banyak varian dari minuman ini; kalau di Kuala Lumpur terkenal dengan nama teh tarik dengan rasa manis yang cukup dominan, sedangkan di Singapura perpaduan teh dan susu kurang kental, sehingga bagi lidah Jawa saya yang terbiasa dengan rasa kental manis, teh susu ala Singapura terasa kurang mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang sangat mengasyikkan adalah titik pandang kota Singapura yang serasa dekat karena hanya berjarak tempuh 40 menit dengan menggunakan kapal ferry. Sayang saat kunjungan kemarin, kabut tipis masih menyelimuti lautan, sehingga gedung-gedung yang menjulang tinggi negeri Jiran hanya tampak tersamar. Menurut salah satu karyawan resort, pemandangan akan tampak jelas tanpa kabut, pada periode waktu usai hujan reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Gonggong Ala Golden Prawn-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknyussss, kata penikmat kuliner Bondan Winarno, saat saya menikmati sajian beragam menu seafood ala Golden Prawn; Kepiting asam manis, Udang goreng tepung, Kakap steam, dan Gonggong rebus. Dan semuanya bisa disajikan dengan beragam rasa tergantung selera pemesan. Salah satu keunggulan restoran ini adalah pengunjung bisa memilih ikan laut yang akan dipesan, karena semuanya masih hidup di berbagai kolam terpisah yang cukup luas. Menurut pemilik rumah makan, untuk mendapatkan hewan laut yang berkualitas, harus ada jeda waktu berpuasa bagi binatang itu dari setelah ditangkap oleh nelayan hingga manjadi menu santapan, yaitu sekitar 3-4 hari. Puasa itu bertujuan untuk membersihkan isi perutnya dari sisa-sisa makanan laut yang tidak terkontrol, dan membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di sela-sela tubuh Dan proses tersebut dilakukan dalam kolam yang mempunyai sistem pergantian air yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu yang terakhir yaitu Gonggong adalah makanan khas Batam, yaitu hewan laut sejenis siput yang hanya bisa hidup di wilayah tertentu saja, dan beberapa pulau di kepulauan Riau adalah salah satunya; Batam, Bintan dan Karimun. Bagi yang pertama kali mencoba, pasti akan terasa geli, karena bentuknya mirip bekicot dalam bentuk yang lebih mini dan cangkangnya berwarna krem. Cara makannya pun cukup unik, karena harus menggunakan tusuk gigi untuk mencongkel daging siput yang masih tersimpan didalam cangkang. Namun, usai mencicipinya dengan mencelupkan terlebih dahulu pada sambal, dijamin anda akan ketagihan. Anda akan sangat menyesal jika berkunjung ke Batam tanpa mencicipi menu ini, karena pada wilayah lain rasa gonggong akan sangat berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tdRshScGI/AAAAAAAAAEM/3r-jj42PmoA/s1600-h/gonggong+1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 93px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tdRshScGI/AAAAAAAAAEM/3r-jj42PmoA/s320/gonggong+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425532734687834210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Jembatan Barelang-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Jembatan Ampera yang membelah sungai Musi di Palembang, atau Jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dengan pulau Madura. Batam juga memiliki penanda khas yang multifungsi yaitu Jembatan Barelang yang menghubungkan pulau Batam dengan pulau-pulau disekitarnya yaitu pulau Rembang dan pulau Galang. Jembatan yang terdiri dari enam ruas ini melewati pulau-pulau kecil sebelum terhubung dengan titik terakhir. Setiap jembatan memiliki keindahan panorama masing-masing, karena hamparan laut yang tak bertepi seolah mengurung pulau-pulau mungil itu dengan bentuk pantai atau hutan bakau yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri sepanjang ruas jembatan Barelang akan terasa romantis, jika dilakukan pada sore hari, sambil menunggu dewa matahari tenggelam pada cakrawala, dan semburat kuning memantul pada percikan air laut. Jika situasi sedang ramai, maka dikedua sisi jembatan, nampak pasangan muda mudi asyik bercanda dan sekelompok anak muda duduk brsenda gurau sambil duduk bertengger diatas motor yang terparkir atau duduk lesehan di sisi pagar jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tcNdiLGhI/AAAAAAAAAEE/omW6Cz1TqJo/s1600-h/jembatan+barelang+2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 107px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tcNdiLGhI/AAAAAAAAAEE/omW6Cz1TqJo/s320/jembatan+barelang+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425531562433911314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penikmat kuliner seperti saya, sebuah perjalanan akan terasa hambar tanpa mencicipi makanan khas. Di jembatan keempat, sekitar 100 meter dari arah jembatan disisi kanan dari arah Batam, ada sebuah restoran kecil yang cukup unik, karena memiliki produk berbahan Naga. Kalau mendengar namanya, fantasi kita akan membayangkan ular Naga pada legenda Cina yang buas dan sangar. Tapi kalau melihat warnanya yang ungu, imajinasi kita akan membayangkan rasa strawberry yang kecut manis, sedangkan kalau meminumnya maka rasa manis perpaduan semangka dan blewah akan menyesaki relung-relung lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran yang terletak dibibir jembatan ini, memiliki kebun buah Naga yang bisa langsung dikonsumsi jika sedang musim panen. Tidak hanya itu, retoran ini juga menjual bibit pohon naga yang bagi konsumennya. Bentuk pohonnya mirip kaktus, harus ditanam pada lahan kering yang bebas terkena sinar matahari, dan tanahnya tidak boleh terlalu basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, kendati tidak sedang musim panen, restoran masih memiliki stok buah buat Jus Naga sehingga saya bisa menyeruput air es yang berwarna ungu romantis ini. Tak lupa, saya merayu pelayan untuk memotong sedikit buah Naga yang tersisa agar bisa menghapus rasa penasaran saya.Dan terakhir saya membeli 3 bibit Naga, semoga aja bisa tumbuh di halaman rumah saya nan mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tY2RtrQtI/AAAAAAAAAD8/xFvy1_NZpfo/s1600-h/naga+2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tY2RtrQtI/AAAAAAAAAD8/xFvy1_NZpfo/s320/naga+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425527865589056210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 11 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1051069441808342648?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1051069441808342648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/01/batam-wisata-kultural-kuliner-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1051069441808342648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1051069441808342648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2010/01/batam-wisata-kultural-kuliner-dan.html' title='Batam; Wisata Kultural, Kuliner dan Keindahan Alam'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/S0tY1F5rkoI/AAAAAAAAADk/JdDMK8B2nJA/s72-c/kwan+im+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4109309081028283297</id><published>2009-12-28T12:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T12:06:13.598-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Mobil Baru Lagi, Nge-les Lagiii…</title><content type='html'>Pejabat negeri kita emang paling jago kalo suruh nge-les, bukan nge-les dalam arti positif mengajarkan ilmunya pada orang lain; les inggris, les sempoa atau les piano. Tapi nge-les dalam arti negative yaitu mencari jawaban-jawaban yang gak nyambung, terkesan dipaksakan, dan membodohi rakyatnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita baca respon para pejabat usai mendapat mobil dinas baru Toyota Crown Royal Saloon 3.000 cc, seharga 1,3 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensesneg Sudi Silalahi:&lt;br /&gt;"Usia pakai kendaraan selama lima tahun sudah menunjukkan ketidakefektifan lagi. Digunakan Camry, kita sering kali masuk bengkel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPR RI Marzuki Ali :&lt;br /&gt;”Rasanya masih bagus mobil Mercy saya kok”.&lt;br /&gt;"Ya mobil negara dikasih, harus pakai, ya gimana lagi. Barang sudah dibeli gimana menolak, tadinya memang tidak mau pakai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menkoperek Hatta Radjasa:&lt;br /&gt;"Mobilnya lebih kecil dari yang dulu, dalamnya kita lihat tuh lebih sempit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, tapi jangan pada ngiri yaa…&lt;br /&gt;Kita lihat bagaimana kehebatan mobil ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toyota Crown Royal Saloon ini sekelas dengan BMW Seri 5 (530), Mercedes E-Class, dan Audi A6 (dari Jerman). Di Jepang, kompetitornya adalah Honda Legend dan Nissan Fuga. Royal Crown 2009 adalah sedan mewah canggih dan terlengkap di kelasnya. Di Jepang, mobil ini ditawarkan dengan dua versi mesin, yaitu V6, 2,5 liter dan V6, 3,0 liter. Crown buat para menteri adalah versi yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara asalnya, mobil ini dilengkapi dengan sistem navigasi satelit 3D yang dikendalikan oleh G-BOOK. Fitur khas ini hanya dimiliki Crown.Dengan fitur tersebut, peredaman suspensi bekerja secara otomatis sesuai dengan kondisi permukaan jalan. Misalnya, jika ada lubang atau jalan bergelombang, maka peredam suspensi akan berubah. Begitu juga ketika membelok. Pengemudi tak perlu repot menekan tombol. Inilah kehebatan teknologi yang disebut Toyota dengan VDIM atau Vehicle Dynamics Integrated Management.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, perpindahan gigi bisa diatur sendiri. Komputer mobil akan mengaktifkan efek pengereman mesin ketika mendekati gerbang tol. Radar yang digunakannya sangat presisi dan bisa mengukur sampai ke tingkat milimeter. Konsumsi bahan bakarnya, diklaim Toyota, mencapai 11,8 km/liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, mobil ini juga dilengkapi night vision system yang mendeteksi pejalan kaki melalui kamera inframerah jarak dekat. Tambahan lain adalah intelligent parking assist system untuk membantu pengemudi agar mudah parkir dengan berbagai posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, fantastis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin jika saya atau anda ditawarin mobil sehebat ini, pasti akan lebih memilih mengumpulkan 1001 kalimat nge-les daripada menolaknya. Tak usahlah terlalu idealis dengan mendengarkan teriakan iri hati dari para rakyat kecil, yang mengatakan ini pemborosan, tidak sensitif terhadap warga miskin, bentuk kesombongan pejabat atau apapun kata cercaan iri hati lainnya. pokoknya the show must go on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya mulai sekarang cobalah setiap hari mencatat di diari atau note anda, jawaban-jawaban nge-les yang layak dan logis untuk dilontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu periode 5 atau 10 tahun berikutnya, bapak presiden yang baru akan khilaf, sehingga memilih saya atau anda menjadi menteri di kabinetnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu saya atau anda beruntung? Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 29 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SzkPnYkABEI/AAAAAAAAAC8/rKppUp_2Txg/s1600-h/crown+1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SzkPnYkABEI/AAAAAAAAAC8/rKppUp_2Txg/s320/crown+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420380795799864386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4109309081028283297?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4109309081028283297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/mobil-baru-lagi-nge-les-lagiii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4109309081028283297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4109309081028283297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/mobil-baru-lagi-nge-les-lagiii.html' title='Mobil Baru Lagi, Nge-les Lagiii…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SzkPnYkABEI/AAAAAAAAAC8/rKppUp_2Txg/s72-c/crown+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1077006860646170855</id><published>2009-12-22T05:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T05:24:47.275-08:00</updated><title type='text'>Mbak Luna dan Arogansi Profesi</title><content type='html'>Sengketa kecil antara Luna Maya (artis, pesinetron, penyanyi dan MC) dengan pekerja infotainmen memasuki babak yang penuh opini. Sebagian masyarakat yang pro infotainmen “merasa” adalah sungguh tidak tahu diri jika seorang artis yang (notebene) dibesarkan oleh industri infotainmen lewat kucuran keringat para pekerja nya, tiba2 menghujat orang yang telah mengangkat namanya, dari bukan siapa2 menjadi artis tenar termahal di negeri ini. Kendati sebenarnya “klaim” tersebut juga berjalan sepihak, karena sang artis pun merasa kesuksesannya karena telenta dan kerja keras, bukan hasil ”pemberian” dari pekerja infotainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pro mbak Luna tentunya sepakat, bahwa sebagai manusia memiliki hak individu yang namanya ”privacy” dan ini dilindungi oleh UU tertinggi manusia yaitu Hak Azasi Manusia (HAM), dimana tidak seorang pun atas nama profesi apapun berhak untuk mengganggu kenyamanan hidup orang lain. Jadi kalo seseorang merasa terganggu dengan kehadiran orang lain yang ”memaksa” dia untuk membuka kisah pribadinya, hal itu bisa masuk pada pasal pidana. Namun seringkali pekerja media membenturkan dengan (sedikit menyeleweng tafsiran) UU pers, bahwa seseorang tidak boleh menghalangi wartawan untuk mendapatkan informasi. Nah lho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi ”update status” Mbak Luna di twitter nya yang dianggap menghina dan mencemarkan nama baik para pekerja infotainmen, saya langsung bertanya-tanya, benarkah itu sebuah penghinaan? Trus kenapa seseorang harus merasa terhina padahal dalam tulisan itu tidak menyebut sebuah institusi atau pribadi seseorang. Atas dasar apa seseorang berhak merasa menjadi ”korban” pencemaran nama baik. Apakah jika saya mengatakan ”para pejabat memang koruptor dan penjahat” lalu semua orang pejabat pemerintahan dari tingkat pusat hingga kelurahan berhak melaporkan saya ke pengadilan terkait pasal pencemaran nama baik. Jika itu terjadi maka semua demonstran yang biasa kritis, bisa2 langsung masuk bui hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat cerita seorang kawan wartawan televisi yang ditugaskan mewawancarai seorang tokoh reformasi yang terkenal kritis dan tajam. Saat bertemu di kantornya, sang narasumber berkata ”kamu dari TV mana?” lalu kawan saya menunjukkan logo mic, dan spontan si narasumber berkata ”Kamu tahu gak, saya dulu sangat mengagumi berita2 di TV mu yang ikut menentukan sejarah suksesnya gerakan reformasi 1998, tapi sekarang saya muak melihat isi beritanya, seperti sampah!” Kawan saya langsung terdiam dan tersenyum kecut. Tapi dengan cool dia tetap merayu agar bisa mendapatkan wawancara si narasumber, karena merasa bahwa keberhasilannya menjalankan profesi adalah dengan sukses mendapat wawancara eksklusif kendati harus mendengar caci maki terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kawan saya tidak tersinggung atau melaporkan si narasumber ke polisi karena menyebut ”sampah” pada institusinya. Karena dia paham, bahwa kata-kata itu adalah kritikan membangun terhadap kekurangannya dalam membangun sebuah berita yang ”mencerdaskan” masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke twiter Mbak Luna, dia mengatakan ”derajat infotainmen lebih rendah dari pelacur dan pembunuh”. Secara teks dia tidak menyebut sebuah profesi tertentu, kata infotainmen sendiri bermakna program bukan profesi. Dan bisa jadi itu infotainmen di amerika atau arab saudi bukan di Indonesia, artinya banyak tafsir yang mungkin muncul dari istilah tersebut. Dari segi konteks, itu hanya luapan emosi yang mungkin terganggu akibat pemberitaan infotainmen yang merugikannya atau etika pekerja infotainmen dalam mencari berita yang sangat mengganggunya. Maknanya adalah kalo dari dua hal ini menimbulkan multitafsir, kenapa orang lain yang mungkin bukanlah orang yang dimaksud oleh Luna harus merasa tersinggung dan geer (gedhe rumangsa-red). Lebay banget sich hehehe... Btw, lebay adalah salah satu akar dari arogansi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis, lebay atau berlebihan dalam memandang diri sendiri bisa disebabkan oleh dua hal, pertama karena dia ingin dipuja dan dianggap sebagai orang yang hebat. Kedua adalah menutupi karakter pribadinya yang sebenarnya minder dan tertekan. Merasa tidak hebat tapi ingin dianggap hebat. Kalo dua hal ini berpadu dalam satu pembenaran pendapat maka jadilah sosok orang yang tidak pernah merasa bersalah dan arogan. Profesi dijadikan pembenaran untuk merugikan orang lain, demi menghindari ”tekanan” dari kantor yang seringkali bertentangan dengan hati nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebenarnya mewakili perasaan saya pribadi yang pernah menjalani profesi sebagai pekerja infotainmen dan pekerja media. Ini hanya sekedar pendapat pribadi, karena bisa jadi orang lain memiliki pengalaman yang berbeda. Saat beberapa tahun silam iseng-iseng side job sebagai kamerawan infotainmen, hal pertama yang saya rasakan adalah hasrat yang besar untuk mendapatkan gosip menarik plus rasa tidak tega untuk mencampuri atau mengetahui urusan pribadi orang lain. Dan ini membuat saya tertekan, pertama saya menyadari bahwa adalah hak si artis untuk menjaga rahasia pribadinya, tetapi berita tentang prestasi si artis bukanlah gosip yang menarik dan berating tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, secara kasat mata, penampilan materi si artis jauh lebih glamour dibanding saya dan seorang kawan yang untuk datang ke lokasi artis, hanya menggunakan motor butut. Ada rasa minder sebenarnya, tapi kita tetap harus menjaga image agar terlihat setara hehehe... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, usaha kita untuk meliput seringkali tidak diakomodir oleh perusahaan, sehingga butuh kerja keras untuk sekedar bisa datang ke TKP, sementara tuntutannya adalah berita bagus. Pun jikalau kita gagal mendapat berita panas, resiko pemecatan dari Rumah Produksi tempat kita bekerja sangat besar, karena seringkali tidak ada kontrak kerja yang sesuai UU bagi pekerja infotainmen, apalagi asuransi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tidak adanya training jurnalistik (btw, pekerja infotainmen termasuk jurnalis bukan yaa?) membuat wawasan kita tentang etika profesi dan aturan peliputan menjadi nihil. Kita seperti anak-anak yang langsung diterjunkan ke lapangan tanpa pengetahuan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, infotainmen tetaplah disebut berita gosip, yang kendati berating lebih tinggi dibanding berita politik, sosial budaya etc. Tapi tetap dianggap ”berita sampah” oleh para pengamat media, tokoh masyarakat, praktisi pendidikan. Yang dianggap hanya merusak moral masyarakat dan tidak mencerdaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjepit diantara kebanggan diri dan penilaian miring orang lain, seringkali membuat kita kehilangan akal sehat saat melakukan peliputan, dan mungkin hal ini masih berlaku hingga sekarang. Ketidaktahuan tentang etika profesi jurnalistik ditambah tuntutan rumah produksi untuk selalu mendapat gosip terpanas, membuat kita terkadang harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita. Dan inilah yang menurut saya melatarbelakangi seringnya terjadi benturan tidak etis dalam peliputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal merasa arogan berprofesi wartawan. Menurut saya ini karakter wartawan pemula yang masih eforia dengan dirinya dan tidak paham konsekuensi atas profesinya. Ada perasaan bangga yang berlebihan bahwa profesi ini adalah pilar keempat yang menentukan kesuksesan suatu bangsa. Bahwa UU pers melindungi wartawan dari tuntutan hukum dalam melaksanakan pekerjaan. Bahwa wartawan bisa menaikkan atau menjatuhkan narasumber nya. Bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan informasi dan menyebarluaskan ke masyarakat. Kebanggan-kebanggan ini kalo tidak dikontrol akan menghasilkan sosok pribadi yang kehilangan rasio, dengan memandang semua masalah dari sudut pandang diri sendiri, bukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata hal itu terbukti nyata, pelaporan oleh pekerja infotainmen terhadap mbak Luna ke polisi dengan mengadukan pasal-pasal UU ITE malah didukung oleh korps Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), padahal UU itu sedang diprotes oleh insan media karena dianggap menghalangi kebebasan pers. Entah apa motivasi pekerja infotanmen dan PWI memakai pasal karet yang jelas-jelas berpotensi memberangus profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi saya mendukung AJI yang berusaha mendamaikan ”sengketa kecil”ini dalam ranah musyawarah, antara insan pers dengan narasumbernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik kembali menjadi  pilar bangsa yang mencerdaskan masyarakat daripada tampil arogan mempertontonkan keunggulan profesinya untuk sesuatu yang ”SANGAT TIDAK PENTING” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 22 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1077006860646170855?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1077006860646170855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/mbak-luna-dan-arogansi-profesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1077006860646170855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1077006860646170855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/mbak-luna-dan-arogansi-profesi.html' title='Mbak Luna dan Arogansi Profesi'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1264227866492768837</id><published>2009-12-16T11:12:00.001-08:00</published><updated>2009-12-16T11:15:42.420-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Dan Berkarya lah, Maka Dunia Akan Memelukmu...</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;Sosok Ardiansyah menjadi titik balik bahwa Indonesia masih memiliki pahlawan-pahlawan yang mempunyai semangat besar mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Adalah seorang pegulat asal Kalimantan Timur yang baru pertama kali ikut dalam Sea Games, berangkat tanpa target apapun karena kondisi organ tubuh yang memiliki kekurangan yaitu hanya memiliki satu paru-paru. Ternyata mampu membuktikan bahwa ”semangat &amp; kerja keras” mampu mengalahkan segala hambatan fisik. Pegulat kelahiran 19 September 1983 mampu menjawab kepercayaan sang pelatih dengan meraih medali emas di gaya Greco-Roman kelas 50 kilogram pada Sea Games Laos 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begitu dinyatakan sebagai pemenang, Ardiansyah langsung jatuh tertelungkup ke matras gulat Booyong Gymnasium, Vientiane. Para pelatihnya segera berlari mendatanginya untuk memberikan pertolongan. Beberapa saat kemudian, ia pun sudah bisa duduk dan lalu berdiri. Sambil memegangi dadanya yang sakit, ia berusaha mengacungkan tinjunya sebagai selebrasi kemenangannya.” (Kompas, 16/12/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat, belajar &amp; kerja keras adalah kuncinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SykxOtLp3-I/AAAAAAAAAC0/zZmPKgxESBM/s1600-h/gulat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SykxOtLp3-I/AAAAAAAAAC0/zZmPKgxESBM/s320/gulat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415914155606138850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardiansyah mampu melupakan rasa sakit yang mungkin dialaminya saat sedang bertanding, dan melepaskannya usai menjadi juara. Kekurangan udara pernafasan yang dirasakannya diganti dengan ”oksigen semangat” yang tidak memerlukan paru-paru tambahan untuk memompa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua telinga nya yang juga mengalami gangguan pendengaran, ternyata tidak menghalangi untuk mendengarkan nasehat dan wejangan dari sang pelatih, sehingga semua pelajaran tentang teknik gulat mampu dipelajarinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kita yang punya dua telinga normal malah seringkali berlagak tuli untuk mendengarkan kebaikan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Ardiansyah didapat dari sebuah kerja keras selama bertahun-tahun, dan karya nya ditunjukkan dalam sebuah pertandingan yang mungkin hanya berjalan beberapa menit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase inilah yang tidak dimiliki atlet indonesia lain, yaitu berlatih keras untuk meraih kemenangan. Selama ini mereka hanya memiliki hasrat besar untuk mencapai kemenangan secara instan tanpa mau berusaha. Contoh terbaru adalah Tim sepakbola U-23 yang dua tahun ”bersekolah” di Uruguay dan hasilnya adalah sebagai juru kunci babak penyisihan Sea Games tanpa pernah menang sekalipun. ”Sungguh memalukan” kata bang Rhoma Irama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Ria Nurlaela Badaria, 25 tahun, adalah peraih Khatulistiwa Literacy Award 2009 untuk kategori Penulis Muda Berbakat, novel pertamanya bergenre metropop berjudul Fortunata, dianugerahi penghargaan bergengsi itu, mengungguli tujuh karya finalis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba simak bagaimana cara dia berkarya:&lt;br /&gt;Dia mulai menulis novelnya dengan tangan di kamarnya sejak 2006. Ketika tulisan tangannya sudah cukup panjang, dia pergi naik angkutan kota sejam perjalanan ke penyewaan komputer di kota Bogor untuk mengetik karyanya. "Kalau sudah di rental, bisa sampai seharian saya menulis," kata Ria.&lt;br /&gt;Pengalaman kehilangan naskah pun dialaminya. Sepuluh bab pertama Fortunata, yang tersimpan di disket, hilang karena disket terjatuh dan rusak. "Terpaksa saya mengetik ulang," kata Ria, yang kadang meminjam laptop temannya untuk menulis novel. (Koran Tempo, 6/12/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para fesbuker yang tiap hari nongkrong di depan komputer pantas iri hati, karena keterbatasan fasilitas pendukung (komputer-red) ternyata tidak menghalangi Ria Nurlela untuk tetap berkarya. Sebuah novel yang ditulis tangan, karena tidak memiliki komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Ria mungkin bisa disamakan dengan Pramoedya A. Toer atau Soekarno yang menulis buku dengan tangan dari dalam penjara pada jaman pra kemerdekaan atau awal-awal orde baru yang penuh intimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardiansyah dan Ria adalah gambaran semangat pantang menyerah yang sangat layak kita tiru. Keterbatasan fisik dan fasilitas tidak menghalangi untuk tetap berkarya. Karena hanya dengan ”karya” lah eksistensi kita sebagai manusia akan diakui oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian terhadap hasil sebuah karya adalah obyektif. Namun sebenarnya ada yang lebih penting dari karya itu sendiri, yaitu bagaimana proses sebuah karya dihasilkan. Kisah proses ini seringkali mampu menginspirasi orang lain dan menjadikannya sebuah pelajaran berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dunia pun akan selalu mengapresiasi orang yang mau berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 17 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1264227866492768837?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1264227866492768837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/dan-berkarya-lah-maka-dunia-akan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1264227866492768837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1264227866492768837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/dan-berkarya-lah-maka-dunia-akan.html' title='Dan Berkarya lah, Maka Dunia Akan Memelukmu...'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SykxOtLp3-I/AAAAAAAAAC0/zZmPKgxESBM/s72-c/gulat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-7579604182392834713</id><published>2009-12-10T02:20:00.001-08:00</published><updated>2009-12-10T02:23:54.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Untuk Anakku...</title><content type='html'>Insya allah akan kuberi nama Gibran Muhammad Difiansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gibran adalah Kahlil Gibran, sang penyair pantang menyerah&lt;br /&gt;Sang Nabi yang mencipta Sayap-sayap Patah&lt;br /&gt;Yang karyanya merangkum tiga agama langit&lt;br /&gt;Yang tutur katanya menggugah hati untuk bangkit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gibran artinya cerdas (arab-red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad adalah manusia terbaik yang dipilih Tuhan&lt;br /&gt;Rasul terakhir yang berhasil merubah dunia&lt;br /&gt;Yang memiliki kecerdasan, kepercayaan, keyakinan, dan kejujuran&lt;br /&gt;Yang baginya telah disempurnakan agamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad artinya orang yang terpuji (arab-red)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Difiansyah hanyalah sebuah nama tanpa makna&lt;br /&gt;Sekedar merefleksikan pertautan dua hati orang tuanya&lt;br /&gt;Sekedar penanda ada dua jiwa yang menyatu didalamnya&lt;br /&gt;Sekedar pengingat bahwa dia hanyalah manusia biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah titipan Tuhan&lt;br /&gt;Dia adalah anak panah yang siap dilepas untuk menembus sang waktu&lt;br /&gt;Yang kepadanya lah harapan segala kebaikan hidup&lt;br /&gt;Semoga kelak aku bisa mendidiknya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Berikanlah kepadanya kesehatan fisik dan hati&lt;br /&gt;Bukalah pintu nurani dan pikiran akan kebenaran&lt;br /&gt;Ajarkanlah dia membaca ciptaanMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah,&lt;br /&gt;Permudahkanlah kami dalam merawatnya&lt;br /&gt;Lancarkanlah rejeki kami agar bisa memberinya kehidupan terbaik&lt;br /&gt;Bimbinglah kami dalam meletakkan dasar-dasar pelajaran baginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 10 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SyDL-MT-GvI/AAAAAAAAACs/UYMdvGn-N3U/s1600-h/DSCI0636.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SyDL-MT-GvI/AAAAAAAAACs/UYMdvGn-N3U/s320/DSCI0636.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413551021416651506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-7579604182392834713?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/7579604182392834713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/untuk-anakku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7579604182392834713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7579604182392834713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/12/untuk-anakku.html' title='Untuk Anakku...'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SyDL-MT-GvI/AAAAAAAAACs/UYMdvGn-N3U/s72-c/DSCI0636.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3177725985345296490</id><published>2009-11-27T11:22:00.000-08:00</published><updated>2009-11-27T11:26:38.724-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Haruskah Kita Bersedekah Kepada “Pengemis”?</title><content type='html'>Sengaja saya menuliskan kata “pengemis” dengan penanda kutipan, karena makna pengemis yang saya maksud memang bukan pengemis yang sesungguhnya. Sebagai catatan, menurut PP NO 31 TAHUN 1980, Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Atau dalam Wikipedia disebutkan mengemis adalah hal yang dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Umumnya di kota besar sering terlihat pengemis meminta uang, makanan atau benda lainnya. Pengemis sering meminta dengan menggunakan gelas, kotak kecil, topi atau benda lainnya yang dapat dimasukan uang dan terkadang menggunakan pesan seperti, "Tolong, aku tidak punya rumah" atau "Tolonglah korban bencana alam ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengemis” dengan tanda kutip yang saya maksud adalah pengemis yang kita tidak pernah tahu status sosial mereka yang sebenarnya, apakah benar-benar orang yang membutuhkan bantuan karena tidak mampu lagi untuk mandiri, atau orang-orang yang sengaja berpenampilan lusuh dan kumal untuk mempercepat mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong2 soal “pengemis”, saya jadi ingat beberapa tahun silam, saat dalam perjalanan naik bis Sinar Jaya dari Banjarnegara ke Jakarta, berdiskusi dengan seseorang “ustadz” yang duduk di sebelah bangku saya. Secara pribadi saya tidak kenal dia, bahkan namanya pun tak sempat tanya, karena baru kenalan. Beliau cukup ramah, lumayan menguasai ilmu agama, dan mengaku sedang belajar untuk mencoba mengaplikasikan pemahaman yang dimilikinya dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan yang cukup panjang itu, saya melemparkan pertanyaan serius, “haruskah kita memberi sedekah kepada pengemis?”. Dan dengan mengutip surat Al Mauun, beliau menjelaskan bahwa kalau memang ada rejeki, adalah sangat berpahala jika kita mensedekahkan sedikit harta kita kepada orang lain. Dan kita tidak boleh berburuk sangka dengan berpikir bahwa orang yang kita beri (pengemis-red) hanyalah orang yang berbohong (dengan pakaiannya), karena itu akan mengurangi keikhlasan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaan kedua saya lontarkan, “bagaimana dengan efek negatif berupa rusaknya mental para pengemis itu?. Karena menurut saya, kalo mereka menjadi ketergantungan hidup sebagai pengemis, maka cepat atau lambat itu akan menjadi virus budaya yang merusak moral umat islam itu sendiri? Budaya pengemis adalah budaya instan, dimana seseorang bisa meraih harta, tanpa harus banyak berkeringat. Bahkan seringkali pendapatan mereka jauh lebih besar dibanding orang yang bekerja keras sebagai pedagang kaki lima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sejenak terdiam, lalu berkata “Itu adalah PR buat kita semua. Saya sendiri tidak bisa menjawab mana hal terbaik yang sebaiknya kita lakukan. Karena dalam kondisi ini, para pengemis itu seringkali sudah tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Artinya mereka mendzolimi diri mereka sendiri dengan menurunkan harga dirinya menjadi “pengemis”, padahal sebenarnya mereka mampu kalau mau berusaha. Maaf mas, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini.”&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemis dan “pengemis” adalah dua sosok yang memiliki penampilan sama; lusuh, kumal, dan dekil. Tapi mereka dibedakan oleh mental dan kejujuran. Si pengemis adalah orang yang terkadang malu untuk mengemis, tapi keadaanlah yang memaksa mereka melakukan tindakan itu. Sedangkan “pengemis” adalah orang yang bangga, tidak jujur dan suka memanfaatkan status orang lain (pengemis-red) untuk kepentingan pribadinya, yaitu mencari uang secara instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah yang sangat menarik di harian Jawa Pos yang menginvestigasi karir seorang “pengemis”, berikut cuplikan berita nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.”&lt;br /&gt;(sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&amp;nid=5373 )&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SxAngJUjcZI/AAAAAAAAACc/ObInpTDQspg/s1600/pengemis+1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SxAngJUjcZI/AAAAAAAAACc/ObInpTDQspg/s320/pengemis+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408866585683390866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita masih ingat, beberapa waktu lalu Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Perda baru yang cukup kontroversial, yaitu denda bagi masyarakat yang ketahuan memberi sedekah kepada pengemis. Denda 150 ribu hingga 300 ribu kepada pelaku sedekah, sempat berjalan cukup efektif dan mengurangi pemberian kepada para pengemis. Tapi memang banyak “perlawanan” dari berbagai LSM yang menganggap hal itu keterlaluan dan malah melanggar hak manusia untuk memberi. Bagaimana tidak, lha wong ada orang beramal kok malah dihukum, ini adalah aturan yang salah kaprah, kata para penentang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alasan Dinas Sosial memberlakukan Perda itu pun cukup masuk akal, menurut Budihardjo, Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, mengemis sudah dijadikan sebagian warga sebagai profesi, bukan lagi lantaran kemiskinan. “Membantu orang miskin merupakan kewajiban kita, tetapi bila mengemis sudah dijadikan profesi tentu tidak bisa dibiarkan”.&lt;br /&gt;(sumber: Pos Kota) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca berita pro dan kontra tentang dunia pengemis, kita menjadi semakin paham, bahwa tidak semua tindakan atau perbuatan pribadi kita menjadi urusan individu. Karena seringkali hal-hal yang sepele dan bersifat mikro, ternyata memiliki implikasi besar yang bersifat makro.&lt;br /&gt;Bersedekah adalah urusan pribadi, tetapi kalau ribuan sedekah malah menghasilkan keruwetan sosial berupa munculnya profesi pengemis, maka ini tentu tidak lagi menjadi masalah personal.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SxAn0q7F4II/AAAAAAAAACk/Japw9S-5FE4/s1600/pengemis+2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 294px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SxAn0q7F4II/AAAAAAAAACk/Japw9S-5FE4/s320/pengemis+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408866938300784770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sadar atau tidak, kita sering menghakimi bahwa seorang “pengemis” yang ada dihadapan kita hanyalah aktor yang sedang memainkan peran profesinya. Dan lantas kita ragu-ragu untuk memberinya. Ada yang kemudian tetap meyakinkan diri untuk tidak memberi, dengan membenarkan “pikiran”nya. Tapi ada juga yang akhirnya terpaksa memberi, karena merasa bersalah dan tidak tega, toh memberi “recehan” tidak akan membuat miskin hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan menjawab pertanyaan yang saya lontarkan, karena semua hal diatas bersifat pilihan, dimana masing-masing individu, dengan pengalaman dan pengetahuannya masing-masinglah yang lebih tahu, mana pilihan terbaik untuk beramal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 28 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3177725985345296490?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3177725985345296490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/haruskah-kita-bersedekah-kepada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3177725985345296490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3177725985345296490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/haruskah-kita-bersedekah-kepada.html' title='Haruskah Kita Bersedekah Kepada “Pengemis”?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SxAngJUjcZI/AAAAAAAAACc/ObInpTDQspg/s72-c/pengemis+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2219098754735341018</id><published>2009-11-26T12:18:00.001-08:00</published><updated>2009-11-26T12:18:34.746-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Setelah KAKAO, Kini SEMANGKA…</title><content type='html'>Tragis…&lt;br /&gt;Mungkin ini kata yang paling pas untuk melukiskan nasib orang miskin di negeri penuh berbagai jenis buah ini.&lt;br /&gt;Keanekaragaman hayati yang dengan mudah tumbuh di tanah nan subur, ternyata tak pernah mensejahterakan manusianya.&lt;br /&gt;Indonesia adalah salah satu penghasil jenis buah-buahan terbanyak di seluruh dunia, dari buah yang bisa langsung dimakan seperti; pisang, pepaya, durian, apel, jeruk, nanas, SEMANGKA, dll. Hingga buah yang lebih nikmat diolah dulu sebelum dimakan; alpokat, KAKAO, dst…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman saya dan teman-teman masih kecil di desa dulu, mencuri mangga atau jambu di kebun tetangga adalah kenakalan sehari-hari. Kalo ketahuan oleh pemilik yang baik hati, kita hanya dinasehati, lalu diberi buah yang kita ambil, bahkan seringkali diberi bonus untuk memetik lagi, asalkan esok hari kita tidak mencuri lagi.&lt;br /&gt;Tapi kalo ketemu juragan buah yang pelit, maka lemparan batu atau bentakan menjadi hal yang biasa, karena saya dan teman-teman pasti langsung lari terbirit-birit, kendati esok mungkin datang lagi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya ada, mudah dan murah didapat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah hampir dua dekade berlalu, ternyata banyak hal yang berubah.&lt;br /&gt;Harga buah menjadi sangat mahal.&lt;br /&gt;Saking mahalnya, hingga seorang pencuri 1 butir buah saja bisa berurusan dengan penjara.&lt;br /&gt;Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, saat mencuri buah-buahan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Purwokerto, sebuah kota kecil tempat saya bersekolah SMA dulu&lt;br /&gt;Sebuah vonis pengadilan menjatuhkan hukuman 45 hari bagi seorang nenek bernama Minah, 65 tahun, karena ketahuan mengambil 3 buah kakao, yang kata pemiliknya harganya 30 ribu tapi kata warga cuman 10 ribu.&lt;br /&gt;Nenek minah memang tidak sampai di bui, tapi sebagai seorang yang sudah tua renta seperti itu, kok kayaknya tidak adil kalo diperlakukan tanpa belas kasihan oleh orang yang mungkin seumuran dengan anak atau cucunya, walau itu atas nama hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adakah rasa belas kasihan dari Juragan buah yang kaya raya itu&lt;br /&gt;Tidak adakah ada rasa toleransi dari pak polisi yang biasanya mudah menghentikan sebuah kasus pidana, jika ada permintaan (+ uang suap) dari pelaku.&lt;br /&gt;Tidak bisakah pak jaksa mengeluarkan SKPP atau depoonering untuk kasus se”murah” itu. Atas nama rasa keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal alasan nenek Minah mencuri KAKAO pun hanya sekedar dipakai untuk bibit, agar bisa ditanam di halaman rumahnya yang sempit. Jelas-jelas bukan untuk memperkaya diri, seperti para pejabat korup di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kediri, sebuah kota tempat pabrik rokok terbesar no 2 di Indonesia bersemayam&lt;br /&gt;Basar (40 tahun) dan Kholil (51 tahun), juga diperiksa polisi dan diajukan ke meja hijau, gara-gara ketahuan mencuri 1 buah SEMANGKA.&lt;br /&gt;Kedua rakyat miskin ini lebih malang lagi, karena sempat mengalami penganiayaan oleh pemilik buah, ditodong pakai pistol dan dihajar hingga 3 gigi Khalil yang sudah tua itu tanggal.&lt;br /&gt;Bahkan keluarga pelaku, mengaku sempat diperas 1 juta rupiah sebagai uang damai, oleh seorang oknum polisi. Namun kasusnya tetap dibawa ke pengadilan.&lt;br /&gt;Nilai 1 juta adalah nilai yang berlipat-lipat dari harga sebuah SEMANGKA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pencurian memang merupakan tindak pidana, tapi jauh lebih kecil daripada tindak penganiayaan oleh juragan buah yang mereka alami. Harusnya pihak kepolisian mengusut tuntas tindak kekerasan sewenang-wenang ini, bukan malah menutup-nutupinya. Lalu, tindak pemerasan 1 juta oleh oknum polisi kepada keluarga pelaku, jauh lebih besar nilainya dari harga sebuah SEMANGKA. Maka sudah selayaknya polisi juga mengusut tuntas kebobrokan oleh oknum institusinyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya KAKAO dan SEMANGKA&lt;br /&gt;Adalah gambaran hilangnya nurani rakyat negeri ini.&lt;br /&gt;Pertanda hilangnya rasa saling berbagi sesama manusia&lt;br /&gt;Perlambang jahatnya kekuasaan aparat penegak hukum&lt;br /&gt;Bukti bahwa kita masih tega untuk menindas dan menjajah saudara sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Nenek Minah hanya mencuri 3 KAKAO&lt;br /&gt;Basar dan Khalil hanya mencuri 1 SEMANGKA&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman kecil dulu pernah mencuri jambu, mangga, nanas, durian, pepaya&lt;br /&gt;Yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang mereka curi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seandainya saya mencuri buah di era reformasi&lt;br /&gt;Mungkin sekarang saya sudah di bui…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ditulis sambil ngantuk-ngantuk hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 27 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2219098754735341018?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2219098754735341018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/setelah-kakao-kini-semangka.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2219098754735341018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2219098754735341018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/setelah-kakao-kini-semangka.html' title='Setelah KAKAO, Kini SEMANGKA…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1409015020094086419</id><published>2009-11-19T11:35:00.000-08:00</published><updated>2009-11-19T11:36:26.763-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Mental Kepiting</title><content type='html'>Manny “Pac-man” Pacquiao, peraih tujuh gelar tinju dunia di kelas yang berbeda memberi petuah yang menarik kepada para wartawan yang meliputnya, "Mari kita tanggalkan mental kepiting dalam diri kita. Saya memohon kepada Anda semua untuk menanggalkannya. Mari kita bersatu agar bisa bergembira."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pac-man menyindir dengan kata-kata itu terkait perilaku wartawan lokal Filipina yang lebih memilih membesar-besarkan gosip keretakan rumah tangganya dibanding prestasi tingkat dunia yang telah berhasil diraih. Istilah mental kepiting biasanya digunakan untuk menggambarkan kemiskinan yang meluas di Filipina. Istilah itu merujuk ke perilaku sekumpulan kepiting yang terjebak di tong. Ketika seekor kepiting coba meloloskan diri dengan memanjat dinding tong, temannya di belakang menariknya, sehingga dia terjebak lagi di dasar tong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca cuplikan berita di Warta Kota itu membuat saya teringat perilaku pejabat-pejabat kita yang juga bermental kepiting. Jika ada salah satu pejabat yang mau bertobat dari korupsi, atau berusaha keluar dari lingkaran setan yang menyengsarakan rakyat itu, maka rekan yang lain langsung mencapitnya untuk ditarik kembali masuk dalam tong sampah korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental kepiting juga berarti saling mencapit untuk menjaga harmonisasi kejahatan. Semua kepiting saling mengancam capit ke rekannya yang diprediksi akan berkhianat atau membeberkan kejahatan mereka. Pada awalnya, para kepiting saling kompak dalam menilep uang negara; kepiting A bertugas membuat UU yang bisa melegalkan korupsi, kepiting B bertugas membuat proyek dan memelintir laporan keuangan, kepiting C bertugas melindungi dari kasus hukum jika terungkap. Masing-masing kepiting akan berusaha saling menutupi karena hasil kejahatan sudah dibagi secara merata. Jenis kepiting seperti ini akan rela menyamakan persepsi dan fakta untuk bersepakat dalam kebohongan. Tapi jika ada yang berkhianat, maka capit-capit rekannya yang akan mengoyak tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, bagaimana beban moril yang dialami oleh sebagian pejabat negara yang lurus dan idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah sistem yang terlanjur korup, maka hampir pasti semua orang didalamnya pernah mendapatkan uang haram, walau mungkin oleh sebagian orang tidak pernah diniatkannya. Lalu jika ada seorang pejabat yang berhati baik menolak hasil sebuah tindak kejahatan, maka dia berdiri berhadapan dengan kepiting korup dan secara otomatis berada didalam ancaman capit mereka. Ancaman bisa berasal dari atasan yang korup, rekan staf yang korup atau bawahan yang korup. Semua kepiting korup pasti mengancam akan membeberkan kekhilafan pejabat baik menerima uang haram di masa lalu, atau mencari celah untuk menjatuhkannya. Tidak ada kepiting korup yang rela membiarkan rekannya keluar dari tong korupsi, karena khawatir akan membuka tabir kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus perseteruan KPK vs Polri juga mirip perilaku kepiting yang hobi memamerkan capit. Seorang pejabat Polri yang mengetahui dirinya sedang disidik oleh institusi lain terkait kasus suap bank Century, maka sebelum dirinya ditangkap, lebih dulu dia mencapit lawannya di institusi KPK dengan tuduhan yang tidak jelas alias rekayasa. Tidak penting apakah tuduhannya terbukti atau tidak, yang penting adalah dirinya berhasil mencapit lawan, kendati kemudian terpaksa dilepaskan karena besarnya tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi mengancam dan mengoyak tubuh lawan dengan capit ala kepiting, juga terjadi dalam kasus lain, apalagi yang melibatkan masyarakat miskin yang lemah. Dalam sebuah penggusuran lahan misalnya, pemerintah daerah menggunakan capit satpol PP sebagai strategi membumihanguskan rumah-rumah warga, padahal seringkali kasus sengketa hukumnya masih berjalan di pengadilan. Atau kasus tewasnya Subagyo, seorang sopir angkot di Depok Jawa Barat, saat penggrebekan judi oleh polisi. Tanpa alasan yang jelas capit arogan itu mengeluarkan tiga timah panas yang menembus tubuh korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebaliknya capit besi penegak hukum bisa tiba-tiba melempem, bila berhadapan dengan pengusaha kaya yang sudah menggelontorkan milyaran rupiah ke saku-saku mereka. Anggodo yang sudah jelas-jelas melanggar hukum, minimal pasal pencemaran nama baik presiden atau polri, malah tak tersentuh hukum. Capit-capit polisi dan jaksa tak mampu mencubit kulit orang yang telah memperkaya mereka. Bahkan sang pemimpin tertinggi pun terdiam, sebagian gosip mengatakan bahwa si pengusaha ini adalah donatur kampanye yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, kok malah jadi ngelantur bercerita tentang atraksi capit-capit kepiting sih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke nasehat Mr. Pacman yang telah berhasil memecahkan rekor dunia dengan meraih tujuh gelar juara tinju di kelas yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia, tak ada salahnya kita sejenak merenung, apakah kita bangsa indonesia juga termasuk orang-orang yang bermental kepiting. Karena bisa jadi kemiskinan yang saat ini dialami oleh mayoritas rakyat, juga adalah gambaran dari diri kita sendiri. Yang punya mindset bahwa “kita rela menderita asalkan ada kawan yang lebih menderita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana adalah cara atlet sepakbola bermain. Mental kepiting para pemain ini membuat mereka memilih membuat kerusuhan atau huru-hara, entah dengan mengganjal pemain lawan, menonjok wasit hingga memprovokasi penonton untuk anarkis. Jika tim nya kalah dalam pertandingan. Karena berpikir negatif, maka orientasi mereka adalah mencederai lawan, bukan membangun diri untuk meraih kemenangan dengan mencetak gol hingga detik-detik terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jadi ingat filosofi semut nich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar kecil tapi tetap kompak dan berpikir positif, sehingga seberat apapun beban yang harus dicapai, akan bisa terpenuhi, karena ada kebersamaan dalam kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 20 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1409015020094086419?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1409015020094086419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/mental-kepiting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1409015020094086419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1409015020094086419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/mental-kepiting.html' title='Mental Kepiting'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-5659853819861951863</id><published>2009-11-09T08:53:00.000-08:00</published><updated>2009-11-09T08:54:49.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Membela yang ber-ma(Salah)</title><content type='html'>Menonton hiruk pikuk informasi hari ini, ada satu berita yang menurut saya agak2 nyleneh dan lucu. Sebuah aksi demonstrasi di depan Mahkamah Konstitusi yang menuntut Mahfud MD, ketua MK mundur dari jabatannya karena dianggap mempermalukan dan mencemarkan institusi Polri dan Jaksa terkait pemutaran rekaman pembicaraan Anggodo kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, sekarang saya jadi suka me-logika-kan alasan narasumber berita yang seringkali gak nyambung dengan pemikiran saya. Pertanyaan sederhana atas berita demonstrasi diatas adalah “Kenapa pak Mahfud dituduh mempermalukan orang?”. Memangnya Pak Mahfud ngomong apa, kok dianggap mempermalukan? &lt;br /&gt;Beliau kan hanya menunjukkan sebuah fakta, kenapa orang lain jadi malu. &lt;br /&gt;Kalo tidak merasa bersalah kenapa harus malu dan merasa tercemar? &lt;br /&gt;Kalo emang ada institusi lain merasa tercemar nama baiknya, kan bisa melaporkan secara hukum. &lt;br /&gt;Trus kenapa orang-orang yang jelas-jelas bukan polisi atau jaksa yang berdemonstrasi? Wong, karyawan atau pejabat kedua institusi tersebut juga santai-santai saja kok..&lt;br /&gt;Kenapa harus demo membela orang lain yang tidak minta dibela?&lt;br /&gt;Ini kan aneh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini, oh opini…&lt;br /&gt;Sedemikian besar usaha orang untuk membentuk opini yang “berbeda” pada masyarakat.&lt;br /&gt;Ketika khalayak mayoritas secara jujur berkumpul dan menyatukan hati untuk melawan ketidakadilan dengan membentuk komunitas secara natural. Misalnya; di dunia maya ada komunitas sejuta facebooker dukung Bibit dan Chandra, atau di dunia nyata ada komunitas artis, tokoh masyarakat, pelajar yang menolak kriminalisasi KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul sekelompok minoritas orang yang “tampil beda” dan mendukung pihak lain yang bermasalah, ini tentu sangat mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, para demonstran ini biasanya tampil dengan nama organisasi baru yang tidak pernah terdengar aktifitas sebelumnya. Hadir dengan pimpinan atau juru kampanye baru yang juga tidak pernah tampak sebelumnya. Dan berorasi dengan nada keras dan profokatif tanpa ada data fakta yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang dalam berita itu, tidak ada reporter yang bertanya pada demonstran, apakah mereka sudah mendengarkan hasil rekaman tersebut. Soalnya bisa jadi mereka hanyalah orang2 suruhan yang sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan. Mereka bergerak karena uang, lalu membubarkan diri tanpa jejak. Strategi kick n run, biasanya dipakai intelejen hanya untuk mengacaukan konsentrasi musuh, guna membangun sebuah strategi pembentukan opini lain yang lebih kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur, dalam hal ini media massa tidak terlalu terpancing untuk membesar2kan beritanya. Informasi hanya disajikan secara sekilas saja, bahkan kalo perlu, gak usah ditayangkan juga tidak akan menurunkan rating kok hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah demonstrasi seperti ini efektif untuk merubah opini masyarakat? Saya pikir tidak. Tindakan seperti ini justru membuat masyarakat semakin muak dan percaya, bahwa memang telah terjadi sebuah “tindak kejahatan” terselubung. Walau, mungkin ada juga sebagian khalayak yang “goyah” keyakinannya dan membenarkan aksi ini. Tapi saya yakin jumlahnya sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seringkali saya bingung adalah kenapa ada orang2 yang mau berpanas2 ria untuk membela sesuatu yang salah yaa? Sesuatu yang mungkin para demonstran itu sendiri itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka datang dengan wajah-wajah polos dan lugu, membawa spanduk dan bergandengan tangan, tanpa pernah memikirkan bahwa langkah mereka adalah sebuah “dukungan” terhadap para koruptor. Yang selama ini telah menyengsarakan diri mereka dan rakyat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin saya yang keterlaluan.&lt;br /&gt;Karena bisa jadi kawan2 demonstran itu dapat uang yang cukup untuk makan beberapa hari ke depan. Sementara saudara2 lain yang berteriak anti korupsi, hanya berteriak-teriak meminta dukungan rakyat, tanpa pernah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada mereka hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 9 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-5659853819861951863?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/5659853819861951863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/membela-yang-ber-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/5659853819861951863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/5659853819861951863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/membela-yang-ber-masalah.html' title='Membela yang ber-ma(Salah)'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1935057357117508883</id><published>2009-11-07T06:44:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T06:46:50.995-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Negeri Para Aktor</title><content type='html'>Paul Watson, pakar konstruktivis media, mengatakan bahwa “konsep kebenaran yang dianut media bukanlah kebenaran sejati, tapi sesuatu yang oleh masyarakat dianggap sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran ditentukan oleh media massa.”&lt;br /&gt;Teori tersebut ingin menjelaskan bahwa sebuah realitas yang diberitakan oleh media massa, bukanlah realitas yang sebenarnya, tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya,  dari dalam adalah faktor psikologis wartawan; wawasan, ideologi, pengalaman, dan sebagainya. Sedangkan dari luar adalah faktor sosiologis; kondisi sosial masyarakat, aturan hukum, opini khalayak, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi saya membayangkan, sebuah realitas yang “benar dan shoheh” saja bisa diinterpretasikan secara berbeda oleh wartawan. Artinya sebuah informasi atau cerita peristiwa yang diperoleh dari seorang narasumber bisa ditampilkan secara tidak utuh dari peristiwa yang sebenarnya. Lalu bagaimana jika “realitas” itu sendiri sudah tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini yang sedang terjadi di negeri kita tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin para wartawan pasti sedang bingung untuk merangkai kisah-kisah yang muncul, menjadi sebuah jalinan cerita dalam paket berita. Bagaimana tidak? Dalam kasus perseteruan antara Cicak VS Buaya alias KPK VS Polri, ada dua keterangan yang saling bertentangan. Dan dua-duanya berani bersumpah atas nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua cerita yang saling bertentangan&lt;br /&gt;Versi 1:&lt;br /&gt;Kapolri : Ada penyerahan dana dari Anggodo lewat Ary Muladi ke pimpinan KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandra M Hamzah : Yang saya terima itu hanya uang dari Negara. Penghasilan saya dari Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit S Riyanto: Saya tidak pernah menerima uang, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari Ary Mulady atau Yulianto…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi 2:&lt;br /&gt;Kapolri : Ary Muladi enam kali dating ke KPK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ary Muladi : Saya hanya ke sana sekali dan sama sekali tidak bertemu pimpinan KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi 3:&lt;br /&gt;Kapolri : Ada bukti hubungan telepon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandra M Hamzah: Saya tidak kenal yang namanya Ary Muladi, tidak pernah bertemu dengan Ary Muladi ….., apalagi hubungan telepon, apalagi hubungan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit S Riyanto : Saya tidak pernah ketemu langsung dan tidak langsung dari mereka semua. Kenal juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Kompas, 7 November 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana akting narasumber dalam menjalankan perannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi ala Susno Duadji (Kabareskrim Polri) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Gembira dan penuh percaya diri#&lt;br /&gt;Sambil bersiul Susno berangkat menuju pertemuan dengan Tim Delapan. Setiba di Gedung Wantimpres, Ia langsung melangkah ke ruang pertemuan, tempat para anggota TPF sudah menanti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Merasa sedih dan teraniaya#&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR, ia tampil percaya diri bersama Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. Tapi saat tanya jawab berlangsung, perlahan emosinya berubah bahkan sampai menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Religius#&lt;br /&gt;Kepala Badan Reserse Kriminal yang mundur sementara Komisaris Jenderal Polisi Susno Duaji membantah menerima duit Rp 10 miliar terkait dengan kasus Bank Century. "Sebagai seorang muslim, lillahi taala, saya tak pernah mendapat Rp 10 miliar dari siapa pun terkait dengan kasus Bank Century," sumpah Susno sambil mengangkat tangan kanannya ke atas saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (5/11) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Liputan6.com, 7 November 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adegan yang kocak dan membingungkan adalah saat anggota DPR RI komisi III bertepuk tangan saat mendengarkan pemaparan Kapolri dalam rapat kerja (5/11/09), terkait isu kriminalisasi KPK. Bukannya bersikap kritis dan mencari kebenaran yang sejati, tapi malah menelan mentah-mentah informasi tersebut, seolah para anggota dewan itu mendukung polisi yang sedang bermasalah. Sungguh aneh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat berita-berita yang muncul di media, saya langsung tambah pusing. Kebenaran realitas yang harusnya didapat dari narasumber, ternyata sudah “dikonstruksi” sendiri oleh si narasumber, sebelum sampai pada wartawan. Yang artinya, kebenaran informasi dari narasumber tersebut diragukan “kredibilitas”nya. Nah, kalo narasumber nya saja sudah berbohong dan beradu akting didepan wartawan. Bagaimana bisa si wartawan menerjemahkan informasi tersebut secara benar (sesuai kenyataan-red)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, Paul Watson tidak hidup dan tinggal di Indonesia. Kalo melihat kondisi dimana “nilai kejujuran” sudah hilang dari budaya masyarakat, mungkin dia akan mencabut teori nya diatas, dan menggantinya dengan teori baru bahwa “Kebenaran (berita) bukanlah ditentukan oleh media massa, tapi oleh Tuhan. Karena hanya DIA yang tahu kebenaran ucapan sang narasumber” hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 7 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1935057357117508883?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1935057357117508883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/negeri-para-aktor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1935057357117508883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1935057357117508883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/negeri-para-aktor.html' title='Negeri Para Aktor'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-732093827314095892</id><published>2009-11-04T16:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T16:59:01.178-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>"Kebingungan" Pak Mahfud</title><content type='html'>Tadi malam ada sebuah dialog yang sangat memberikan pencerahan di program Save Our Nation Metro TV (04/11/09). Saya agak terlambat mengikutinya, karena asyik menonton dialog pada tv lain yang cenderung lebih heboh dan keras hehehe… Program dialog yang dipandu Pak Saur Hutabarat ini menghadirkan sosok yang oleh harian Kompas disebut sebagai orang yang berani melakukan sebuah tindakan bersejarah dalam penegakan hukum di Indonesia, ketua Mahkamah Konstitusi, pak Mahfud MD. Jujur, secara pribadi saya sangat mengidolakan beliau, karena diantara beragam pejabat dari berbagai institusi yang dalam beberapa hari terakhir muncul di tv, hanya beliau yang saya anggap lurus dan benar-benar punya visi bagus dalam pemberantasan korupsi. Beliau rendah hati, tidak mencari popularitas dan benar-benar berpikir untuk memberi shock therapy pada para koruptor agar bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog berlangsung datar tapi dalam dan penuh perenungan, di akhir acara ada sebuah pertanyaan penting, yang menurut saya adalah hal yang paling substansi dalam penyelesaian kasus hukum cicak vs buaya. Bagaimana pertimbangan MK dalam keputusan sela terkait judicial review terkait penonaktifan Chandra dan Bibit?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mahfud menjawab secara jelas, bahwa ada dua pertimbangan yang berbenturan, dan harus dipilih yang paling meminimalkan penyalahgunakan kekuasaan oleh penegak hukum. Pertama, adalah mengembalikan aturan hukum tentang tatacara non aktif pejabat KPK jika terjerat kasus hukum, seperti UU yang lain. Karena dianggap melanggar hak asasi pejabat KPK. Artinya pejabat KPK hanya bisa dinonaktifkan, jika sudah ada putusan hakim tertinggi. Ini membuat pejabat KPK menjadi penguasa sebuah lembaga superbodi yang independent dan memiliki wewenang penghancuran korupsi, tanpa dapat diintervensi oleh institusi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan positif nya adalah kasus yang menimpa Chandra dan Bibit, yaitu dinonaktifkan oleh presiden terkait kasus hukum yang ternyata adalah sebuah rekayasa hukum oleh jaksa dan polisi. Ini tentu sangat membahayakan eksistensi dan kewibawaan KPK, karena institusi penegak hukum lain bisa mengacak-acak, hanya melalui selembar surat sangkaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan negatifnya adalah seandainya masih dalam proses hukum pengadilan, maka seorang pejabat KPK yang korup pun masih berwenang untuk menghukum koruptor lain. Ini tentu sangat membahayakan, karena posisi keistimewaan KPK yang superbodi untuk menyidik, menuntut dan menghukum koruptor. Sangat ironi jika institusi istimewa seperti KPK diisi oleh orang-orang yang salah dan representasi dari mafia korupsi. Beliau sangat paham, bahwa penyelesaian suatu kasus hukum di Indonesia bisa sangat lama, sehingga jika pertimbangan ini yang dipilih, bukan tidak mungkin seorang pejabat KPK yang korup dan dalam proses pengadilan akan berlenggang ria hingga akhir jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mempertahankan aturan tentang non aktif pejabat KPK sama seperti yang sudah berjalan sekarang. Artinya pejabat KPK bisa non aktif, jika ada sangkaan kasus hukum pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan positif nya adalah KPK akan diisi oleh orang-orang yang bersih, karena jika ada pejabat KPK yang korup, maka cukup dengan adanya pelaporan kasus hukum kepada polisi, presiden bisa langsung mengeluarkan perpu non aktif seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan negative nya adalah intervensi dari institusi lain akan sangat membahayakan kewenangan KPK, potensi untuk kriminalisasi terhadap pejabat KPK sangat besar. KPK bisa hanya jadi macan ompong dalam penegakan hukum di Indonesia. Jika ini terjadi, maka spirit pendirian KPK yang berpengharapan besar terhadap pemberantasan korupsi akan sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Pak Mahfud pantas bingung, ibarat makan buah simalakama, kalo keputusannya pro KPK, nantinya ditakutkan pejabatnya malah jadi berani korup. Tapi kalo kontra KPK, institusi lain yang jadi tambah korup, karena tidak ada yang mengawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mahfud, saya yakin kebijakan yang akan anda pilih adalah yang terbaik untuk negeri ini. Semoga Allah memberi petunjuk yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai masyarakat awam, saya langsung berandai-andai, akan seperti apa negeri ini, jika ternyata kasus yang sedang ramai dibicarakan oleh lebih jutaan penduduk Indonesia ini, tidak lebih dari sekedar pertarungan antar mafia korupsi. Masing2 orang yang terlibat hanyalah pejabat korup yang berlindung dibalik kewenangan institusinya dan berpura-pura mencari perlindungan hukum. Semuanya tidak lebih dari orang2 yang berkepribadian ganda, di satu sisi dia menghukum orang lain demi popularitas, dan di sisi lain mencari celah untuk memperkaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya merasa bermimpi buruk, bagaimana jika realitas nya adalah ada pejabat KPK yang benar2 memeras Anggoro, sebagaimana pernyataan Anggodo di TV One, bahwa dia harus menyerahkan milyaran uang untuk menghentikan kasus yang menjerat kakaknya. Dan polisi yang mengendus kasus itu lalu berusaha mengungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika kenyataannya adalah ada pejabat tinggi polri yang benar-benar mendapat suap terkait kasus bank Century. Lalu KPK mengendus dan berusaha mengungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum lawannya mengungkap, maka mending ditangkap duluan hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika kejadian sebenarnya adalah pertarungan dua pejabat berlainan institusi yang saling menyelamatkan diri dari kasus korupsi yang dilakukannya. Dan masing-masing berusaha mencari dukungan publik untuk melepaskan diri dari jeratan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebagus apapun undang-undang yang dihasilkan oleh MK nantinya, tetap aja ada celah untuk melanggarnya. Mungkin ini hanya soal moral, bukan lagi soal aturan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, daripada pusing mikirin korupsi, mending ngrampungin skripsi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 5 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-732093827314095892?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/732093827314095892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/kebingungan-pak-mahfud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/732093827314095892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/732093827314095892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/11/kebingungan-pak-mahfud.html' title='&quot;Kebingungan&quot; Pak Mahfud'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4958574480877897709</id><published>2009-10-14T01:28:00.001-07:00</published><updated>2009-10-14T01:28:32.494-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Agama dan Keikhlasan</title><content type='html'>Agama adalah sebuah keyakinan pribadi manusia&lt;br /&gt;Sebuah pilihan jalan yang mengarahkan manusia kemana akan meniti tujuan spritualnya.&lt;br /&gt;Sesuatu yang secara materi, jika manusia tak memilih pun tidak ada dampak sosialnya&lt;br /&gt;Laa ikrohaa fiddiin, tidak ada paksaan dalam (memilih) agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama kemudian berkembang menjadi jalan hidup, aturan sosial, hukum bermasyarakat, hingga landasan sebuah Negara.&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa menghentikan perkembangan agama, karena itu adalah pilihan manusia sendiri untuk membesarkannya.&lt;br /&gt;Tuhan sebagai tujuan akhir seseorang beragama, selalu menjadi pemersatunya.&lt;br /&gt;DIA yang menjadi pencipta manusia dan alam semesta, diagungkan dalam setiap upacara ritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengagungan akan kebesaran Tuhan yang sebelumnya bersifat pribadi dari hati manusia, kemudian di”lembaga”kan.&lt;br /&gt;Lalu muncullah apa yang disebut identitas agama, yang oleh manusia diperlihatkan dengan pakaian agamis, status kependudukan, lembaga agama, partai politik berbasis agama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Identitas diri ini kemudian menjelma menjadi egoisme kelompok, golongan, komunitas, yang berhitung dalam pikiran materi.&lt;br /&gt;Kemenangan agama dihitung dari data statistik, ada penganut mayoritas dan minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mayoritas berpikir bahwa hegemoni statistiknya harus dipertahankan jumlahnya.&lt;br /&gt;Maka dia hanya mengusahakan mempertahankan jumlah komunitasnya, kalau perlu menambahnya.&lt;br /&gt;Yang minoritas berpikir untuk mengembangkan jumlahnya.&lt;br /&gt;Maka disusunlah strategi masuk ke area yang belum terjamah, demi membesarkan komunitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang gesekan sering terjadi dan berujung pada kekerasan fisik dan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan fisik terjadi dengan pemaksaan, pemukulan atau benturan kekuatan antar penganut.&lt;br /&gt;Kekerasan mental dilakukan dengan cara yang terselubung; larangan beribadah, penghilangan tempat ibadah, intimidasi sosial, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Yang kelebihan kekuatan fisik mengintimidasi yang lebih lemah.&lt;br /&gt;Dan yang kelebihan ekonomi mengintimidasi yang lebih miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua nya hanya diniatkan demi “membesarkan” lembaga agama nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah komplek perumahan, pembangunan tempat ibadah yang sudah direncanakan terpaksa ditunda karena ada penolakan dari seorang warga yang berbeda agama.&lt;br /&gt;Dia menolak karena takut anaknya kelak akan terpengaruh ajaran agama lain.&lt;br /&gt;Di sebuah kampung, beberapa warga menolak tetangga nya menggelar ibadah.&lt;br /&gt;Alasannya pun sama, dia takut lingkungannya akan terpengaruh untuk diajak masuk agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana itukah pikiran manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mayoritas takut kelak akan menjadi minoritas.&lt;br /&gt;Yang minoritas takut kelak akan menjadi lebih minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan menjadi minoritas membuat manusia lebih berpikir untuk menghambat laju perkembangan agama lain, daripada menjalankan agamanya sendiri.&lt;br /&gt;Energinya habis untuk mengutuk, mencerca, dan menghalangi orang lain berkembang.&lt;br /&gt;Bukan mengoptimalkan usahanya dalam mengembangkan diri sendiri.&lt;br /&gt;Agama kemudian menjadi kontra produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebuah wilayah yang terjadi friksi antar penganut agama, hampir dipastikan perkembangan pembangunannya menjadi tertinggal.&lt;br /&gt;Disebuah perusahaan yang muncul intimidasi antar penganut agama, hampir dipastikan peningkatan usahanya akan stagnan dan melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas di wilayah A, bisa jadi menjadi minoritas di wilayah B.&lt;br /&gt;Akhirnya kalau sentiment agama nya tinggi, maka mereka akan saling berbaku intimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum seorang kawan atheis berkata lembut, “jika agama hanya melahirkan konflik, untuk apa beragama? Bukankah manusia akan lebih ikhlas beramal, jika tidak memikirkan agama apakah yang dimiliki orang yang akan ditolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan kritis untuk direnungkan oleh sesama manusia yang masih percaya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi mengajarkan agar kita mengormati tamu, bahwa orang berbeda keyakinan yang ada disekitar kita dan tidak mengganggu (agama) kita adalah tamu. Maka lindungilah mereka seperti kita melindungi saudara-saudara seagama. Perlakukanlah mereka seperti kita memperlakukan saudara-saudara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merasa butuh beribadah, maka biarkanlah mereka beribadah, sama seperti saat kita rindu untuk berkomunikasi dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Itu adalah wujud toleransi yang paling sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah dalam kitab suci, tentang seorang pelacur yang diangkat derajatnya masuk surga, karena dia ikhlas memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Dan karena tindakannya itu, sang pelacur menghembuskan nafas terakhirnya. Demi melihat keikhlasannya maka Tuhan pun mengampuni segala dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelacur adalah gambaran manusia pendosa, yang dianggap berada diluar lingkaran lembaga agama, dia selalu dihujat dan dianggap perusak moral.&lt;br /&gt;Seteguk air adalah harta tertinggi yang dimiliki sang pelacur, karena itulah yang akan menentukan hidup matinya.&lt;br /&gt;Sedangkan anjing adalah gambaran binatang yang dianggap najis dan kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan paling tulus adalah memberi yang terbaik yang kita miliki, kepada makhluk yang kita pandang paling rendah, dan itu adalah sebuah wujud toleransi yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, jalan termudah untuk masuk surga dan damai disisiNYA adalah ikhlas.&lt;br /&gt;Ikhlas bersifat personal bukan lembaga, karena berasal dari hati bukan organisasi.&lt;br /&gt;Ikhlas adalah representasi langkah manusia, karena ia adalah niat.&lt;br /&gt;Dan penghuni surga bukanlah berdasarka data statistik pemeluk agama, tapi nilai tertinggi keikhlasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bisakah kita sesama manusia yang masih percaya Tuhan ikhlas bertoleransi hidup berdampingan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 9 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4958574480877897709?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4958574480877897709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/10/agama-dan-keikhlasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4958574480877897709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4958574480877897709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/10/agama-dan-keikhlasan.html' title='Agama dan Keikhlasan'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2007068705484122081</id><published>2009-10-14T01:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T01:15:02.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>SAMBUTAN</title><content type='html'>Treeva, bidadari kecilku protes “Pa, kenapa sih sekarang gak pernah mau menyambutku didepan pintu sepulang sekolah? Dulu pas aku masih TK, papa selalu melakukannya, tapi setelah SD kok gak pernah lagi”. Sejenak aku tertegun mendengar protesnya, sepenting itukah nilai sebuah sambutan didepan pintu. Bukankah yang terpenting adalah aku ada dan menemaninya dirumah, tanpa harus ada “upacara” kecil seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat dikemudian hari, kucoba untuk menjalankan upacara penyambutan kecil didepan pintu, memang muncul ekspresi wajah yang jauh lebih ceria, ada aura kebahagiaan, seolah dengan aku menjemputnya didepan pintu adalah wujud penghargaanku kepadanya. Padahal ada sambutan atau tidak, aku pasti akan selalu menyayanginya… (ya iyalah hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan ternyata bersifat kodrati. Bahkan semakin dewasa manusia, kebutuhan akan penghargaan semakin tinggi. Lebih variatif, unik dan terkadang irasionil. Diberbagai bidang kehidupan kita temui beragam sambutan. Di bandara, saat seorang menteri turun dari pesawat dalam rangka kunjungan ke daerah, maka kalungan bunga dan tari-tarian tradisional akan digelar, walau hanya berdurasi beberapa menit saja. Meski itu bukanlah tujuan dari kunjungan tersebut, tapi dari ekspresi wajah sang menteri tampak muncul rasa kebanggaan bahwa dia dikenal dan dihargai oleh penduduk lokal, kendati tidak dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi “merebut” hati pejabat pemerintah pusat, seringkali pegawai pemda menyambut dengan acara yang wah dan mahal, sedangkan inti acara kunjungan sendiri terkadang hanya berupa dialog pak menteri dengan petani atau nelayan, yang digelar ditengah sawah dengan cara sederhana, disertai janji memberi bantuan. Ini menjadi antiklimaks, karena terkadang “harga” sambutan lebih mahal dibanding dengan nominal yang diterima petani dan nelayan setelah “dipotong” aparat pemda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menemukan sebuah kasus sambutan yang agak unik dan terkesan dipaksakan. Beberapa tahun silam, saya ikut kunjungan presiden ke Sumatera Utara, tujuannya adalah ke Danau Toba, yang menempuh waktu beberapa jam dari kota Medan. Sambutan masyarakat sangat luar biasa, disepanjang jalan kota Medan, masyarakat berjejer dipinggir jalan untuk menyaksikan iring-iringan mobil pejabat yang “mengular” hingga sepanjang hampir 1 KM. Kalo itu masyarakat umum, saya masih percaya bahwa itu berasal dari “hasrat” masyarakat sendiri untuk melihat presidennya. Tapi jelang bergerak ke luar kota, hampir di sepanjang jalan, ratusan bahkan mungkin ribuan murid SD berjejer rapi dengan berseragam merah putih dan pramuka berbaris mengibarkan bendera plastik kecil. Dan dari pengamatan saya, sepertinya mereka sudah berdiri berjam-jam disitu dan dilakukan pada jam sekolah, yang artinya sekolah meliburkan proses belajar mengajar pada hari itu, dan menggiring murid-muridnya yang masih kecil untuk berdiri di pinggir jalan selama berjam-jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenting itukah sebuah upacara sambutan, sehingga harus mengorbankan proses belajar mengajar di sekolah. Jika para murid tidak menyambut, apakah acara kunjungan akan gagal. Saya pikir tidak ada hubungannya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain adalah sambutan terhadap anggota DPR RI periode terbaru. Demi menghargai calon wakil rakyat tersebut, pemerintah harus mengeluarkan duit rakyat sekitar 46 milyar untuk sebuah upacara pelantikan. Esensi dari upacara itu hanyalah pemberian surat keputusan tentang pengangkatan sebagai anggota DPR RI, agar mereka bisa segera bertugas. Kalo hanya serah terima surat SK, sebenarnya hal itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana tanpa menghamburkan banyak uang, wong rakyat yang diwakilinya aja masih banyak yang miskin kok. Tapi mungkin itulah watak bangsa kita yang narsis, semua hal kecil harus diselenggarakan dengan cara yang mewah dan megah, dan mengorbankan orang lain. Coba kalo biaya pelantikan ditanggung renteng oleh anggota DPR yang dilantik, saya yakin mereka akan teriak dan menuntut pelantikan yang sederhana, atau kalo perlu tidak ada pelantikan dan SK cukup dikirim via pos hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tuan rumah kita memang wajib menyambut tamu dengan layak, tapi juga harus tetap memperhitungkan kondisi ekonomi, sama seperti aparat Pemda, mennyambut pejabat yang datang berkunjung memang wajar, asalkan tidak terus menghabiskan dana APBD yang seharusnya dialokasikan ke bidang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun sebagai tamu, sangat manusiawi jika mengharap mendapat sambutan dari tuan rumah, asalkan tidak menuntut untuk disambut dengan mewah, standar-standar saja, jangan sampai si tuan rumah menggerutu dan mendoakan kita untuk tidak datang lagi karena merepotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling parah adalah tuan rumah yang berlagak jadi tamu, sehingga menuntut untuk mendapat sambutan di setiap kegiatan. Pejabat Negara sejatinya adalah tuan rumah di negeri sendiri, jadi seharusnya dia memposisikan dirinya bukan sebagai tamu. Alangkah besar uang negara yang akan dihemat, jika setiap pejabat yang berkunjung cukup disambut oleh aparat lokal dengan salaman erat dan pelukan mesra, tanpa upacara yang megah dan mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 13 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2007068705484122081?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2007068705484122081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/10/sambutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2007068705484122081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2007068705484122081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/10/sambutan.html' title='SAMBUTAN'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4438574236338780306</id><published>2009-09-27T20:15:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T20:18:26.203-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Slank: “Kalo ada yang mencuri, kita ceburin ke kali…”</title><content type='html'>Dalam sebuah dialog tentang korupsi di Liputan 6 Pagi SCTV (27/09/09), grup musik Slank yang sedang aktif dalam mempromosikan anti korupsi di Indonesia bercerita tentang bagaimana mereka berusaha menanamkan budaya anti korupsi di kalangan Slankers atau para pendukung Slank. Ada satu cerita Bimbim yang menurut saya cukup menarik, “Kalo ada anak Potlot yang berkelahi, kita pisahin. Kalo ada anak Potlot yang pake narkoba, kita anterin ke dokter supaya sembuh. Tapi kalo ada anak Potlot yang mencuri, langsung kita ceburin ramai-ramai ke kali (sungai-red) dibelakang markas, dan kita usir dia supaya tidak datang lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen mereka untuk menghapus budaya korupsi dari orang-orang terdekatnya, sangat layak kita apresiasi tentunya. Mereka sama sekali tidak menolelir terhadap aksi clepto (pencurian-red), apapun alasannya. Argumen mereka cukup bagus, dengan membuka budaya kejujuran dan keterbukaan diantara para pendukungnya. Jika ada yang tidak punya uang untuk makan, bilang saja, nanti yang lain akan berusaha membantunya, tapi jangan mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat setuju pendapat itu. Dalam sebuah tindak pencurian, ada beberapa nilai yang dilanggar. &lt;br /&gt;Pertama, nilai kejujuran, orang yang berani mencuri adalah orang yang takut meminta. Banyak alasan kenapa orang menjadi takut meminta, bisa karena faktor gengsi atau prestise yang akan turun, atau takut dianggap sebagai warga kelas dua karena merepotkan teman dsb. Kalo kita melihat realita kehidupan, maraknya aksi korupsi di berbagai lapisan masyarakat Indonesia, seringkali disebabkan oleh faktor gengsi. Orang lebih memilih tidak jujur pada lingkungannya, daripada dipandang rendah. Seorang suami lebih suka korupsi, daripada dianggap tidak mampu memenuhi standar hidup keluarganya yang tinggi. Padahal jika mau, mungkin mereka masih bisa hidup layak dan sederhana tanpa korupsi. Seorang pejabat atau tokoh masyarakat lebih memilih korupsi, daripada dianggap tidak mampu menunaikan haji berkali-kali, atau tidak mampu memberi sumbangan kepada masyarakatnya. Dengan alasan prestise, seringkali mereka harus mempertontonkan kehidupan yang lebih “wah” dibanding pendapatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nilai kemanusiaan, orang yang berani mencuri adalah orang yang tidak memikirkan kondisi sosial pemilik yang dicurinya. Seorang pencuri tidak pernah peduli, apakah si pemilik harta memang berlimpah atau kebetulan sedang memegang uang untuk keperluan lain. Bagaimana jika uang yang dicuri tersebut sangat dibutuhkan oleh pemiliknya sebagai biaya pengobatan keluarganya, bukankah dampaknya bisa sangat fatal. Demikian pula seorang koruptor, dia tidak pernah peduli peruntukkan uang yang dikorupsinya. Kasus paling “mengerikan” terhadap sisi kamanusiaan adalah korupsi terhadap dana bantuan bencana. Seorang koruptor tetap tega menyelewengkan dana bantuan tersebut, tanpa memikirkan bahwa uang itu sangat dibutuhkan oleh para korban bencana, yang sedang kesulitan menjalani hidup. Yang jelas akibat terjadinya korupsi, jutaan masyarakat miskin tidak mampu meletakkan standar hidupnya dalam posisi normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, nilai kepercayaan, mungkinkah kita bisa ikhlas berteman dan bersahabat dengan orang yang pernah mencuri uang kita, dan dimasa depan bukan tidak mungkin akan terulang lagi? Pastinya tidak ada lagi kepercayaan terhadap si pencuri, dan kita pun akan selalu merasa waswas jika berdekatan dengannya. Demikian pula seorang koruptor, kendati kamar prodeo belum mengurungnya, tapi kepercayaan masyarakat pasti langsung sirna, jika mereka tahu bahwa si pejabat, si tokoh masyarakat atau si pengusaha itu menyalahgunakan kekuasaan untuk mencuri uang mereka. Petani yang dijanjikan mendapat subsidi pupuk pasti akan marah, jika tahu bahwa penyuluh pertaniannya malah menyelewengkan dana subsidi untuk mereka. Wali murid pasti akan emosi, jika dana subsidi sekolah gratis malah diselewengkan oleh pejabat diknas dan kepala sekolahnya. Karyawan pasti akan mogok, jika tahu hak bonus mereka ditilep oleh pemilik perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Slank, dalam dialog itu Bimbim juga bercerita tentang hal kecil yang mereka coba lakukan dalam memutus mata rantai budaya korupsi, katanya “Segmen yang kami tuju dalam ikut mengkampanyekan anti korupsi adalah generasi muda yang berumur dibawah kita (rata-rata usia personil Slank-red), karena kalo sama yang lebih tua, kami takut kualat hehehe… Kami juga belajar dari pengalaman bapak-bapak kita dulu yang juga melakukannya”. Saya kurang paham maksud kalimat terakhir, tapi penafsiran saya, Bimbim ingin mengatakan bahwa orangtua mereka dulu juga melakukan korupsi kecil-kecilan, sama seperti bapak saya, mungkin juga bapak anda, karena saat itu memang budaya korupsi sedang nge-tren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, saya sangat setuju dengan Bimbim. Segmentasi pasar yang dituju sebagai sasaran kampanye anti korupsi adalah generasi muda yang biasanya masih punya idealisme. Anak-anak yang akan malu memakai mobil bapaknya, jika tahu itu didapat dari hasil korupsi. Anak-anak yang otaknya masih bersih dan masih bisa diisi dengan budaya produktif bukan konsumtif. Anak-anak yang belum terlanjur terbiasa menikmati kehidupan mewah diatas penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak muda malu memiliki bapak koruptor, dia tentu akan menjauh dari harta bapaknya. Dan bisa jadi akan lebih menyentuh nurani sang bapak, daripada nasehat orang lain atau ancaman hukuman KPK. Bimbim dan rekan-rekannya di Slank mencoba menjadi anak yang sholeh, dengan menjadi anak baik dan tidak mencuri. Bukankah tidak ada orangtua yang mengajarkan anaknya untuk mencuri, walau dia sendiri adalah seorang pencuri. Saya tidak sedang mengatakan bahwa bapak-bapak Slank adalah koruptor, saya hanya ingin memberi gambaran bahwa pada masa bapak-bapak kita dulu, budaya korupsi sangat marak dan terkesan menjadi sesuatu yang legal dan halal. Dan Slank pun merasakan hal yang sama, sehingga dia ingin merubah budaya yang terjadi pada orang tuanya, dengan budaya baru yang anti korupsi bagi generasi dibawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, langkah sederhana Slank dalam membentuk budaya anti korupsi, adalah sebuah strategi yang cerdas, kreatif dan tepat sasaran. Yang mungkin bisa kita tiru dalam menjalankan kehidupan sosial kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slank yang notabene jauh dari hingar bingar aktifitas pemberantasan korupsi aja berani “melemparkan” orang-orang terdekatnya yang terbukti mencuri ke dalam sungai. Tentunya, harapan kita kedepan, instansi resmi Negara yang masuk dalam lingkaran pemberantasan korupsi seperti KPK, Polri, Kejagung dan MA bisa “menghukum” lebih para koruptor daripada apa yang kawan-kawan Slank telah lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pendukung Slank yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah saja bisa merubah budaya mereka untuk berkomitmen tidak mencuri, maka sudah seharusnya, para pejabat, pengusaha, anggota DPR dan perangkat pemerintahan yang jauh lebih kaya dan mapan, juga ikut berkomitmen untuk tidak korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Slank…&lt;br /&gt;Terlalu manis untuk dilupakan&lt;br /&gt;Kenangan yang indah bersamamu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SsAq26k6NuI/AAAAAAAAACU/UsmCq5yxRRE/s1600-h/10125_1236840202453_1272682134_713281_3711465_n.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SsAq26k6NuI/AAAAAAAAACU/UsmCq5yxRRE/s320/10125_1236840202453_1272682134_713281_3711465_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386352277260482274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 27 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4438574236338780306?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4438574236338780306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/slank-kalo-ada-yang-mencuri-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4438574236338780306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4438574236338780306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/slank-kalo-ada-yang-mencuri-kita.html' title='Slank: “Kalo ada yang mencuri, kita ceburin ke kali…”'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SsAq26k6NuI/AAAAAAAAACU/UsmCq5yxRRE/s72-c/10125_1236840202453_1272682134_713281_3711465_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3708493949766418362</id><published>2009-09-25T10:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T10:20:14.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Jangan Pernah Ingin Memiliki Hak Orang Lain!</title><content type='html'>Masih teringat di memori otak saya yang ber IQ rendah ini, sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang kawan yang mengutip salah satu butir dalam 10 Perintah Tuhan pada nabi Musa. Kalimat itu berbunyi “Jangan pernah ingin memiliki hak orang lain!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingin aja tidak boleh, apalagi (sudah) memilikinya” urai kawanku itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, kalimat sederhana itu tersimpan dalam pikiran saya.  &lt;br /&gt;Saya mencoba menghitung berapa banyak hasrat kita untuk merampas hak orang lain demi keinginan untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak nya. Dari hal yang paling sederhana dan tak mungkin tercapai, sampai hal yang berat dan kita usahakan untuk memperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau baru sebatas “ingin”, tentu jumlahnya tak terhitung.&lt;br /&gt;Dari melihat pacar orang lain yang cantik dan aduhai, lalu membayangkan untuk memiliki kekasih itu.&lt;br /&gt;Atau menyaksikan kawan yang kaya raya, dan kita tergoda untuk mendapat sedekah harta darinya.&lt;br /&gt;Atau mendengar rekan kantor promosi jabatan, dan kita ingin menggantikannya.&lt;br /&gt;Pasti sangat, dan sangat banyak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam realitanya, perintah Tuhan itu sudah banyak dilanggar oleh kita sebagai manusia, baik secara halus maupun kasar, baik secara kasat mata maupun terselubung, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perampok “ingin” memiliki hak orang lain dan melakukan dengan cara merampas harta korban secara terang-terangan, kasar bahkan terkadang kriminal dengan melukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pejabat “ingin” memiliki hak orang lain dan melakukan dengan cara korupsi secara halus dan terselubung, tanpa diketahui oleh rakyat sebagai pemilik harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengusaha “ingin” memiliki hak orang lain dan melakukan dengan memutarbalikkan data keuangan perusahaan, sehingga bonus yang menjadi hak karyawan bisa ditilep dengan cara tersamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang seniman atau ilmuwan “ingin” memiliki hak orang lain dan melakukan dengan cara menjiplak karya seni atau hasil riset orang lain, dan diakui sebagai karya orisinilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang karyawan “ingin” memiliki hak orang lain dan melakukan dengan cara merebut jabatan rekannya, dengan cara yang licik dan penuh intrik politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat maraknya aksi “pemilikan” hak orang lain untuk diri sendiri, maka memang tak salah jika Tuhan mencantumkan larangan itu dalam 10 perintahnya di awal turunnya agama langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita coba putar bahasa secara sederhana, kata “ingin” berarti baru sebatas niat di hati, belum ada eksekusi. Jika ke“ingin”an tersebut bisa dihapuskan dari hati kita, maka bisa diartikan dimasa depan tidak akan ada “eksekusi” pemilikan hak orang lain untuk diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkinkah…&lt;br /&gt;Seorang perampok menghapus “keinginan” untuk memiliki harta korban, sehingga batal merampas.&lt;br /&gt;Seorang pejabat menghapus “keinginan” untuk memiliki harta rakyat, sehingga batal korupsi.&lt;br /&gt;Seorang pengusaha menghapus “keinginan” untuk memiliki harta karyawan, sehingga batal menilep&lt;br /&gt;Seorang seniman/ilmuwan menghapus “keinginan” untuk memiliki karya orang, sehingga batal menjiplak.&lt;br /&gt;Seorang karyawan menghapus “keinginan” untuk memiliki jabatan rekannya, sehingga batal memfitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimanakah caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 24 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3708493949766418362?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3708493949766418362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/jangan-pernah-ingin-memiliki-hak-orang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3708493949766418362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3708493949766418362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/jangan-pernah-ingin-memiliki-hak-orang.html' title='Jangan Pernah Ingin Memiliki Hak Orang Lain!'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-8139077441477441992</id><published>2009-09-25T10:18:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T10:19:28.269-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Tim Solid, kok dibilang Konflik…</title><content type='html'>Seperti cerita komik Lucky Luke, yang digambarkan bisa bergerak lebih cepat dibanding bayangannya. Itu lah hal yang menurut saya paling menarik dan berkesan tentang bagaimana sebuah isu bisa menyebar dan berkembang biak lebih cepat dibanding informasi dari narasumber resmi. Bagaimana tidak? Wong kita yang menjadi narasumber gossip aja masih berpikir, kok tiba-tiba sudah diisukan terjadi konflik dalam tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita lucu tentang pengalaman liputan arus mudik kemarin, kami ber 20 orang yang sedang asyik leyeh-leyeh menikmati hidangan buka puasa di rumah makan teh Irma, langsung terbengong-bengong saat Pak PO kami yang bijak, mengajak semua kru duduk mendekat dan melingkar guna membahas telepon dari kantor, yang isinya mempertanyakan adanya konflik di tim liputan jalur selatan. Lho kok bisa? Kami dituduh terjadi konflik internal sehingga meminta kepulangan tim dimajukan satu hari, padahal alasannya sederhana, karena lebaran pun maju satu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing kru saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kreatifitas kami mengalir lancar, dengan menggelar “show” siaran langsung yang tidak biasa. Saat kami bersemangat mengambil angle kemacetan dari sudut pandang yang unik; dari atas SNG atau atap pos polisi, maupun dari pinggir jalanan yang hanya berjarak beberapa centimeter dari bis-bis besar . Saat kami bahu-membahu mengatasi panas menyengat sambil tetap berpuasa, demi menghasilkan tayangan terbaik. Lalu ada orang nun jauh disana yang “muncul” menjadi pahlawan kesiangan dan melemparkan isu terjadi konflik, ini tentu sangat menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin flashback bercerita tentang bagaimana tim kami berjalan dengan hati tanpa ada paksaan struktural. Dari awal, Pak PO sudah menyarankan agar dalam liputan nanti kita bekerja dengan hati, tidak usah terlalu memperdulikan “tugas struktural”, artinya satu sama lain bisa berganti jabatan sesuai kebutuhan. Dan beliau pun mencontohkan dengan santun tanpa banyak bicara; walau secara struktur adalah pimpinan proyek, tapi beliau tetap mau turun kebawah, melakukan pekerjaan kasar; membantu menggulung kabel yang kotor berdebu, memasang banner dan mencari batu pengganjalnya. Padahal itu adalah tugas  seorang helper, yang notabene secara struktur memiliki jabatan terendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerendahan hati itulah yang menginspirasi kami untuk nyaman bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang sangat menyenangkan adalah toleransi beragama yang tinggi. Sebelum kami tiga kamerawan membagi tugas liputan, salah seorang kawan yang kebetulan beragama non muslim langsung menawarkan diri untuk mengambil jatah liputan siang hari, yang pastinya adalah tugas terberat, karena kami yang muslim harus mempertahankan puasa. Lalu sebagai balasan, kami membiarkannya beristirahat untuk tidak bertugas pada siaran pagi hari, karena dilakukan usai sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun saat kawan non muslim kehabisan jatah sarapan pagi, karena restoran hotel di Tasikmalaya hanya menyediakan menu untuk sahur. Kita pun beramai-ramai mengantarkan untuk mencari makanan, yang ternyata sangat susah didapat, karena restoran atau rumah makan disana sangat taat pada aturan Pemda, untuk tutup pada pagi hingga siang hari selama bulan puasa. Setelah berputar-putar keliling kota, akhirnya ketemu McDonald yang buka setengah pintu dan melarang konsumennya untuk makan didalam restoran. Wal hasil, didalam mobil kami harus ikhlas melirik Hamburger + kentang goreng + Coca Cola berkeringat dingin yang dengan lahap dikunyah oleh kawan itu nyam, nyam, nyam hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah semakin besar godaan, berarti semakin besar pula pahalanya. &lt;br /&gt;So, kami harus berterimakasih, karena godaan Coca-Cola dingin itu juga berarti menambah poin kami untuk masuk surga hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari adalah malam wisata kuliner, karena tiada waktu tanpa gaul dan nongkrong. Selama 9 hari liputan, hampir setiap malam kita menyusuri berbagai sudut daerah untuk sekedar mencicipi makanan yang tidak khas, disebut tidak khas karena menu ini hampir diseluruh pelosok Indonesia pasti ada, walau mungkin berbeda rasa. Ada STMJ di samping Unpad Jatinangor, Bandrek susu + roti bakar di Dago Bandung, lalu bubur ayam dan jagung bakar ala Tasikmalaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan “rasa” yang kami cari, tapi “kebersamaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran penting yang saya dapat dari liputan kali ini adalah sangat penting untuk berpikir secara “esensi”, bukan secara struktur, jabatan, aturan, wewenang, kekuasaan dsb yang bahkan akan bisa merusak nilai dan tujuan yang ada. Karena hal-hal diatas hanyalah buatan manusia, yang sangat mungkin salah atau disalahgunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak PO berpikir secara esensi, maka beliau ikhlas turun kebawah ikut menggulung kabel demi mengajarkan cara meletakkan dasar sistem yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan non muslim berpikir secara esensi, bahwa pekerjaan duniawi tapi kemudian melanggar aturan agama dengan batal berpuasa bukanlah tujuan kawan muslim. Maka dia rela memberi kemudahan dengan mengambil jatah tugas terberat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kru berpikir secara esensi, bahwa kebersamaan informal sangat penting untuk bisa saling memahami watak dan kepribadian yang lain, maka diadakanlah wisata kuliner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hanya berpikir secara struktur dan wewenang, &lt;br /&gt;Maka Pak PO pasti akan gengsi untuk menggulung kabel dan lebih memilih berteriak menyuruh helper.&lt;br /&gt;Maka kawan non muslim akan egois membagi tugas sama berat dengan muslim yang berpuasa.&lt;br /&gt;Maka tidak akan ada wisata kuliner sebagai sarana berbagi cerita, yang foto-fotonya langsung diupload di facebook hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, bukankah lebih enak bekerja dalam suasana riang&lt;br /&gt;Karena dalam kegembiraan itulah, sebuah kreatifitas liar biasanya spontan tercipta&lt;br /&gt;Bukankah lebih nikmat berbagi tugas dalam keikhlasan&lt;br /&gt;Karena semua rekan dianggap sederajat dan seimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berteriak mencari “kambing hitam”, jika urung mencapai keberhasilan&lt;br /&gt;Kesalahan satu orang adalah kesalahan satu tim yang lalai mengingatkan&lt;br /&gt;Tak ada yang arogan bercerita tentang kehebatan individu&lt;br /&gt;Karena masing-masing sadar untuk berbagi peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala orang lain mendesain interior artistic nan lux, guna memancing imajinasi kreatif&lt;br /&gt;Kami membangun imajinasi dari pojok tukang roti bakar pinggir jalan yang sederhana&lt;br /&gt;Tatkala orang lain memasang sofa kulit yang nyaman, guna merancang ide brilian&lt;br /&gt;Kami menemukan ide unik justru dari kepulan asap jagung bakar yang memedaskan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya ini tim konflik, solid atau hura-hura?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 22 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-8139077441477441992?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/8139077441477441992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/tim-solid-kok-dibilang-konflik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8139077441477441992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8139077441477441992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/tim-solid-kok-dibilang-konflik.html' title='Tim Solid, kok dibilang Konflik…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-7925319756347041982</id><published>2009-09-09T10:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T10:38:12.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Budaya Islam Abangan, Isu Teroris dan Kesalahpahaman Masyarakat Dalam Menilainya</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada harian Kompas (Minggu, 23/08/2009) halaman 4, ada berita tentang penghakiman masyarakat terhadap budaya islam abangan terkait maraknya isu terorisme paska ledakan bom di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : “Dihadang Warga karena Berjenggot dan Bercadar”, &lt;br /&gt;Cuplikan isi berita : &lt;br /&gt;“Sial nian nasib suami istri Daud dan Kasitri gara-gara berjenggot dan bercadar, keduanya dihadang dan diinterogasi habis-habisan oleh sejumlah warga seusai bersembahyang di Masjid Al Barokah Kampung Kedinding, Desa Kibin, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten. Bahkan, keduanya sempat dibawa ke markas polisi…..” (Kompas, Minggu, 23/08/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tersebut mewakili maraknya kasus-kasus sejenis tentang terjadinya benturan budaya antara masyarakat muslim sekuler dengan budaya islam abangan yang berciri seperti diatas. Kendati tidak secara langsung menuduh bahwa ajaran islam abangan ini sangat dekat dengan keyakinan teroris yang dianalogikan polisi sebagai teroris jaringan Noordin M Top, yang merupakan sempalan Jamaah Islamiyah garis keras, namun akibat pemberitaan media massa yang bertubi-tubi tanpa adanya berita pembanding, maka opini masyarakat pun tergiring bahwa dalam kehidupan sosialnya para buronan teroris akan berpenampilan seperti rilis pihak kepolisian. Dampaknya adalah pembentukan persepsi masyarakat terhadap ciri profil buronan teroris, sehingga ketika menemukan orang, atau sekelompok orang yang berpakaian baju koko, celana menggantung, dan berjenggot akan dicurigai sebagai teroris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah kenapa masyarakat yang sebelumnya bisa hidup berdampingan dengan budaya tersebut diatas, kemudian berubah menjadi curiga dan khawatir?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II. Landasan Teori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a). Pengertian budaya&lt;br /&gt; Budaya dalah tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang dan waktu, konsep alam semesta, obyek-obyek materi, merupakan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya sebagai alat untuk memahami perilaku manusia atau orang lain seringkali tidak dimaksimalkan manfaatnya. Mestinya perspektif yang obyektif harus digunakan untuk mengimbangi subyektifitas dalam memandang perbedaan budaya. Budaya muncul bukan karena kebetulan saja, budaya merupakan hasil proses adaptif manusia terhadap lingkungannya baik secara fisik dan biologisnya. Lalu diturunkan, diwariskan pada keturunannya terus menerrus hingga tidak disadari dari mana asal warisan kebijakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Memahami Perbedaan budaya&lt;br /&gt;Perbedaan budaya adalah perbedaan “dunia” seseorang dalam kaitannya dengan komunikasi, kita harus mampu menengok “dunia”mereka yang berbeda dengan dunia kita dan berkata dalam dunia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini penekanan keanekaragaman adalah pada suku bangsa dan kebudayaan. Keanekaragaman tersebut menimbulkan berbagai permasalahan dalam komunikasi interpersonal lintas suku bangsa, dikarenakan perbedaan persepsi dalam penerimaan pesan saat berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang multikultural seperti di Indonesia ini, perlu untuk memahami apa yang terjadi dan mengembangkan kemampuan untuk mengatasi permasalahan perbedaan budaya. Semakin kita mengenal budaya orang lain, semakin terampilah kita memperkirakan ekspektasi orang lain dan memenuhi ekspektasinya tersebut. Jika hal ini berhasil maka pencapaian tujuan dalam kehidupan akan terwujud sesuai target. Kunci pokok yang dapat mengantarkan kita ke dalam tujuan besar itu diperlukan pemahaman akan perbedaan budaya yang ada dan mendasari latar belakang perilaku seseorang dan pemahaman akan sebuah komunikasi antar budaya diantara pelaku komunikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Komunikasi antar budaya&lt;br /&gt; “Intercultural communication is the art of understanding &amp; being understood by the audience of another culture” (Sitaram, 1970), komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami &amp; dipahami oleh khalayak yang memiliki budaya yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Intercultural communication is communications which occurs under condition of culture, different – language, values, costumes &amp; habits” (Stewart, 1974), komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, dan kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Benturan budaya&lt;br /&gt;Benturan budaya terjadi karena perbedaan budaya dalam persepsi, keyakinan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e). Konstruksi sosial atas realitas oleh media massa&lt;br /&gt;Dalam buku; Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisi Wacana, Analisis Semiotik dan Analisi Framing, karangan Alex Sobur, ada beberapa definisi Konstruksi sosial atas realitas oleh media massa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Gaye Tuchman mengenai sifat dan fakta media massa, “disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). Pembuatan berita di media pada dasarnya tak lebih dari penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita.” (hal.88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Paul Watson mengenai perilaku media massa, “konsep kebenaran dianut media massa bukanlah kebenaran sejati, tapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran ditentukan oleh media massa”. (hal.87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alex Sobur; “Ada berbagai kepentingan yang bermain dalam media massa. Disamping kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, dalam diri media massa juga terselubung kepentingan yang lain; misalnya kepentingan kapitalisme pemilik modal. Kepentingan keberlangsungan (suistainabilitas) lapangan kerja bagi para karyawan dan sebagainya. Dalam kondisi dan posisi seperti ini, media massa tidak mungkin berdiri statis di tengah-tengah, dia akan bergerak dinamis diantara pusaran-pusaran kepentingan yang sedang bermain. Kenyataan inilah yang menyebabkan bias berita di media massa adalah sesuatu yang sulit dihindari.” (hal.30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III. Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kalau kita mengikuti perkembangan berita-berita di media massa Indonesia paska serangan bom di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Jakarta, 27 Juli 2009. Maka akan tampak ciri-ciri buronan teroris yang diduga kuat oleh Polri sebagai jaringan pelaku, yaitu:&lt;br /&gt;- Biasanya berpakaian; baju koko, peci putih, dan celana tinggi (menggantung).&lt;br /&gt;- Biasanya berjenggot.&lt;br /&gt;- Biasanya rajin sholat di masjid/mushola terdekat.&lt;br /&gt;- Biasanya ramah dan baik dengan tetangga, namun orangnya agak tertutup.&lt;br /&gt;- Biasanya menyimpan Al quran dan buku-buku berbahasa arab di rumahnya.&lt;br /&gt;- Biasanya memasang kaligrafi atau stiker tentang jihad di rumahnya.&lt;br /&gt;- Biasanya pendatang baru dan suka berpindah kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil tersebut adalah gambaran penampilan fisik, budaya berpakaian, dan perilaku keseharian yang biasa dijalankan oleh mayoritas islam abangan di Indonesia. Adanya persamaan profil teroris yang dirilis pihak kepolisian dengan budaya islam abangan, tentunya bisa menciptakan terjadinya perubahan persepsi masyarakat terhadap budaya tersebut. Dan hal ini bisa menyebabkan terjadinya benturan budaya antara masyarakat umum Indonesia yang didominasi oleh muslim garis tengah (sekuler) dengan masyarakat yang kuat memegang budaya islam abangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terjadinya ledakan bom di kedua hotel yang menyebabkan 56 warga meninggal dunia, nyaris tidak pernah benturan budaya diantara mereka. Semua hidup rukun berdampingan, berusaha saling memahami dan menghormati terhadap ketaatan menjalankan ajaran agama masing-masing. Semua disatukan oleh besarnya toleransi antar budaya. &lt;br /&gt;Lalu kenapa persepsi masyarakat bisa berubah sedemikian cepat? Dari yang sebelumnya saling toleransi berubah menjadi curiga dan khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat penulis, hal itu disebabkan besarnya pemberitaan media massa dalam memberitakan isu-isu teroris tersebut kepada masyarakat. Berdasarkan hasil pengamatan, usai terjadinya bom, hampir semua headline media massa terfokus pada penyelusuran jejak pelaku bom tersebut. Setiap hari  media massa merilis perkembangan kasus perburuan teroris oleh pihak kepolisian. Keterbatasan narasumber alternative yang mengerti tentang “dunia teroris” menjadikan rilis kepolisian menjadi satu-satunya kebenaran tentang buronan teroris. Dan kebenaran itu sangat dipercaya oleh masyarakat yang menjadi komunikan dari isi pesan media massa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Paul Watson mengenai perilaku media massa, “konsep kebenaran dianut media massa bukanlah kebenaran sejati, tapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran ditentukan oleh media massa”(Dalam Alex Sobur;2001).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebenaran rilis kepolisian yang ditayangkan media massa, oleh masyarakat kemudian dianggap menjadi kebenaran sejati tentang profil buronan teroris. Akibatnya masyarakat menjadi sangat percaya, bahwa dalam kehidupan sosialnya, para pelaku terror itu berbudaya (pakaian, perilaku-red) seperti itu. Dampaknya adalah masyarakat islam abangan yang memiliki ciri budaya seperti itu dicurigai oleh masyarakat lain sebagai pelaku teroris.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adanya rasa curiga, khawatir dan takut terhadap pelaku teror (yang juga digambarkan media massa, sebagai manusia yang berwatak kejam dan nekat), menjadikan masyarakat bersikap agresif dan preventif terhadap warga yang berciri sama. Akibatnya sering terjadi benturan budaya, dimana masyarakat yang curiga itu, lalu menangkap, menginterogasi dan menghakimi orang atau sekelompok orang islam abangan, yang berpakaian seperti profil teroris versi polisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal ini tentu sangat berbahaya, karena jika ada provokator yang menghembus-hembuskan isu SARA terhadap masyarakat yang sedang “galau” akibat pemberitaan media massa. Bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi konflik antar budaya atau perlakuan tindak kekerasan terhadap budaya lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Intercultural communication is communications which occurs under condition of culture, different – language, values, costumes &amp; habits” (Stewart, 1974), komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, dan kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi antar budaya yang efektif harus dijalankan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini penting untuk mencoba memahami budaya islam abangan terkait kepercayaan yang mereka yakini dalam pelaksanaan agama islam. Harus ada usaha untuk mempersamakan persepsi bahwa budaya islam abangan bukanlah budaya teroris. Dan teroris tidak ada kaitannya sama sekali dengan budaya mereka, kendati secara penampilan fisik mungkin sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah hal tersebut berkembang ke arah negatif, maka dibutuhkan dialog antar tokoh masyarakat kedua budaya tersebut (islam abangan dan muslim sekuler) untuk menyamakan persepsi tentang terorisme yang terjadi di Indonesia. Pemerintah mempunyai kewajiban memfasilitasi adanya dialog tersebut. Dengan adanya dialog yang terbuka, maka masyarakat akan semakin mengenal budaya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin erat komunikasi antar budaya terjalin, maka semakin terampilah kita memperkirakan ekspektasi orang lain dan memenuhi ekspektasinya tersebut. Jika hal ini berhasil maka pencapaian tujuan dalam kehidupan akan terwujud sesuai target. Kunci pokok yang dapat mengantarkan kita ke dalam tujuan besar itu diperlukan pemahaman akan perbedaan budaya yang ada dan mendasari latar belakang perilaku seseorang dan pemahaman akan sebuah komunikasi antar budaya diantara pelaku komunikasi tersebut. (Deddy Mulyana &amp; Jalaluddin Rakhmat;1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan komunikasi (pemahaman-red) masyarakat umum terhadap kelompok islam abangan yang berbudaya khas tersebut, akibat bombardir pemberitaan media massa tentang profil buronan teroris, sudah selayaknya disikapi dengan bijaksana. Media massa harus cooling down dalam memberikan isu teroris dengan memperhatikan dampak negatifnya bagi kerukunan masyarakat. Media massa harus bisa memilih angle berita yang jernih agar tidak memprovokasi masyarakat. Disamping itu, pemerintah dalam hal ini Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) juga harus memberikan gambaran yang utuh tentang buronan teroris, sehingga tidak dipahami masyarakat secara parsial. Pemerintah tidak boleh melakukan penghakiman dengan menebarkan rasa takut pada masyarakat terkait gerakan terorisme. Karena penanganan terorisme adalah tugas aparat hukum, jangan sampai “kegagalan” dalam menumpas terorisme, kemudian dialihkan pada penyebaran rasa takut yang mengakibatkan masyarakat tidak bisa berpikir rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang bisa memahami budaya orang lain, akan menghindarkan terjadinya konflik antar budaya. Rasa empati dan simpati yang besar, akan menggiring pada toleransi antar budaya yang kuat. Sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika, untuk menuju bangsa yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur alias gemah ripah loh jinawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku:&lt;br /&gt;Alex Sobur, Analisi Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisi Wacana, Analisi Semiotik dan Analisi Framing, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyana, Deddy &amp; Rakhmat, Jalaluddin, Komunikasi Antar Budaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diktat:&lt;br /&gt;Nani Nurani Muksin S.Sos M.Si., Diktat Komunikasi Antar Budaya, &lt;br /&gt;Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-7925319756347041982?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/7925319756347041982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/budaya-islam-abangan-isu-teroris-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7925319756347041982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7925319756347041982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/budaya-islam-abangan-isu-teroris-dan.html' title='Budaya Islam Abangan, Isu Teroris dan Kesalahpahaman Masyarakat Dalam Menilainya'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6692422678311536616</id><published>2009-09-09T10:28:00.000-07:00</published><updated>2009-09-09T10:31:38.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Yang Terpinggirkan</title><content type='html'>Tercekat&lt;br /&gt;Terikat&lt;br /&gt;Terpenjara&lt;br /&gt;Pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya air mata tercucurkan&lt;br /&gt;Saat menatap si buah hati mengelus perut yang hampa&lt;br /&gt;Hanya emosi tertahankan&lt;br /&gt;Saat menghitung butiran beras tersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kemarahan yang terucapkan&lt;br /&gt;Saat tak ada lagi kepedulian sesama&lt;br /&gt;Hanya amuk yang dapat terlampiaskan&lt;br /&gt;Saat tak ada lagi jalan meretas asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu usaha kebaikan telah dicoba&lt;br /&gt;Satpol PP menghancurkannya&lt;br /&gt;Usaha kedua dengan meminta-minta&lt;br /&gt;Perda lalu menghukumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala tangan-tangan kekuasaan mencengkram&lt;br /&gt;Lalu budaya sedekah menjadi haram&lt;br /&gt;Tatkala jari-jari kapitalis hanya memilih yang terberkah&lt;br /&gt;Lalu adat konsumsi menjadi sunah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kepada siapa akan bergantung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaadal faqru ayyakuuna kufron…&lt;br /&gt;Sesungguhnya kefakiran akan mendekatkan kepada kekafiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 9 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6692422678311536616?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6692422678311536616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/yang-terpinggirkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6692422678311536616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6692422678311536616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/yang-terpinggirkan.html' title='Yang Terpinggirkan'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2564579168199588970</id><published>2009-09-04T06:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T06:39:53.253-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Televisi: Industri Kreatif atau Toko Kelontong Kreatif?</title><content type='html'>Persaingan ketat industri televisi dalam memperebutkan kue iklan yang mengecil, tentunya akan menghasilkan inovasi-inovasi yang kreatif. Masing – masing stasiun tegerak untuk menciptakan program yang baru guna menjaring masyarakat untuk tetap setia di layar kaca miliknya. Beragam program muncul; reality show dengan beragam genre, konser musik dengan berbagai kemasan, sinetron dengan variasi tema, hingga tayangan berita eksklusif yang mirip reality show.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya demi rating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak industri kreatif televisi dalam memproduksi program-programnya secara inhouse dan massal, dipelopori oleh TransTV. Sejak berdiri beberapa tahun silam, televisi milik bos grup Para, Chairul Tanjung ini, memproduksi hampir semua programnya sendiri. Dari acara hiburan seperti extravaganza, program dokumenter Jelajah dan Wisata Kuliner, hingga infotainment pun dikelola sendiri. Strategi ini ternyata cukup efektif dalam memperkuat ekonomi perusahaan, karena biaya produksi bisa sangat efisien, apalagi jika memakai tenaga kerja muda yang rela dibayar standar. Terbukti hanya dalam waktu 3 tahun TransTV mampu bersaing masuk dalam 5 besar televisi nasional. Nasib ini berbeda dengan stasiun TV lain yang lahir hampir bersamaan yaitu TV7, Lativi, dan MetroTV. TV7 diakuisisi dan merger dengan TransTV lalu berganti nama menjadi Trans7. Lativi berganti kepemilikan dan berubah namanya menjadi TVOne. Sedangkan Metro tetap berada dalam posisi buncit dalam perolehan billing iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena naiknya TransTV dengan format program non drama yang notabene “berbeda” dengan televisi yang sudah mapan saat itu, menjadi tren tersendiri bagi pemirsa. Tren program reality show; baik program lisensi asing maupun original karya anak bangsa sangat dinikmati oleh masyarakat yang saat itu sudah jenuh dengan tayangan sinetron dari pagi sampai malam. Program extravaganza menjadi top rating hingga kemudian ditayangkan daily, usai merger Trans7 menggebrak dengan Program dialog Empat Mata yang dibawakan secara komedi oleh artis kocak Tukul Arwana. RCTI memiliki program lisensi Who Wants to be Millionare? Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata eforia tersebut tidak berlangsung lama. Masyarakat kemudian dibuat muak oleh tayangan reality show yang cenderung bertema sama, contohnya format charity reality show ada berbagai judul; Bedah Rumah di RCTI, Toloooong di SCTV, Seandainya Aku di Trans TV dll. Masyarakat dibuat berpaling setelah menumukan banyaknya kebohongan dan eksploitasi terhadap orang miskin yang menjadi tokoh dalam program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 2 tahun terakhir terjadi perubahan arah angin, masyarakat kembali menggemari program drama atau sinetron. Tema yang diangkat pun sejenis, yaitu mistis, religi dan hantu. Ketiga tema tersebut seringkali diramu dalam satu kemasan program. Kembalinya tren sinetron ini membuat stasiun televisi terpaksa mengikuti arah pasar. Rumah produksi drama yang sebelumnya sempat mati suri akibat maraknya program non drama, kembali mendapat suntikan darah segar. &lt;br /&gt;Adanya larangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang melarang sinetron mistis dan hantu, membuat stasiun televisi menggeser tema nya. Maka sinetron bertema cinta, perselingkuhan, perceraian, konflik keluarga pun kembali marak. Tiadanya alternatif program non drama yang bagus, membuat program sinetron marak hingga sekarang. Hampir semua televisi memiliki sinetron bahkan beberapa stasiun televisi mengandalkan programnya dari sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program televisi saat ini nyaris seragam. Sinetron, sinetron dan sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya bagi para pekerja kreatif televisi, karena mereka kehilangan “lapak” untuk menyalurkan kreatifitas dan karya-karyanya. Secara ekonomi, hampir 100% program sinetron yang ada adalah buah karya production house, bahkan kalo dipersempit lagi hanya sekitar 3 rumah produksi besar yang menguasai mayoritas sinetron di berbagai televisi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena dagang program ini, bukan tidak mungkin akan menghilangkan daya kreatif industri televisi. Karena stasiun televisi atas nama efisiensi akan memilih menjadi “toko kelontong” program yang ditawarkan production house. Stasiun televisi tidak harus menggaji besar para pekerja kreatif, mereka cukup membeli “barang” dari suplier yaitu rumah produksi dan menjual kembali dengan keuntungan yang cukup oleh departemen marketing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika stasiun televisi kehilangan visi misi nya dan memilih menjadi kapitalis murni yang hanya menghitung untung rugi, maka menjadi “toko kelontong” adalah pilihan yang tepat. Perusahaan cukup memiliki departemen programming, marketing, on air, dan beberapa departemen pendukung dengan karyawan yang relatif sedikit. Sedangkan departemen kreatif seperti departemen produksi dan pemberitaan, yang dulu menjadi tulang punggung program televisi, bisa jadi akan diminimalkan. Karena diluar sana akan bermunculan perusahaan “content provider” yang bisa negosiasi harga dan jual beli putus tanpa ikatan dan tuntutan hukum dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga ini hanya mimpi burukku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun! Bangun! Udah sahur nich hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 4 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2564579168199588970?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2564579168199588970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/televisi-industri-kreatif-atau-toko.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2564579168199588970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2564579168199588970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/televisi-industri-kreatif-atau-toko.html' title='Televisi: Industri Kreatif atau Toko Kelontong Kreatif?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2231981620188774669</id><published>2009-09-01T17:21:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T17:25:01.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Benarkah Nasionalisme Kita?</title><content type='html'>Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah gambaran nasionalisme kita juga seperti itu? Sebuah naluri hewani yang muncul untuk mempertahankan diri? Nasionalisme yang notabene lemah dan bermutu rendah? Sebuah kekuatan yang akan sirna, jika lawan sudah pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, jujur saja saat membaca definisi dari wikipedia itu saya ingin tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan diri sendiri yang terlalu bersemangat berteriak “ganyang Malaysia”, karena klaim tari pendet nya melalui iklan di Discovery Channel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan media massa yang setiap hari memprovokasi masyarakat untuk menyerang negara tetangga karena “tindak pencurian” nya yang sudah berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan tayangan heroik saat kapal TNI AL mengusir kapal perang Malaysia dalam kasus Ambalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus tertawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semua usaha yang kita lakukan menjadi sia-sia;&lt;br /&gt;kita teriak "ganyang malaysia", tapi disana ada 2 juta TKI yang bergantung hidup.&lt;br /&gt;Kita tuntut "pencurian budaya", tapi kita sendiri tidak melestarikannya.&lt;br /&gt;Kita jaga wilayah perbatasan, tapi penghuni pulau tersebut lebih memilih bergabung dengan negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kita disusupi pemikiran oleh para pengamat, digiring opini oleh media massa, dan dipaksa mengakui bahwa negara tetangga kita adalah jahat, maling, dan culas. Tapi kita tidak pernah bisa menghentikan besarnya animo masyarakat kelas bawah yang ingin bekerja disana menjadi TKI, kita tidak pernah bisa menghentikan hasrat konsumsi dengan berutang KPR di bank-bank milik negeri jiran itu, dan kita juga tidak pernah bisa menolak milyarder-milyarder mereka untuk menguasai saham-saham di BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu nasionalisme seperti apa yang kita miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang olahraga, Timnas sepakbola kita adalah contoh paling tepat untuk menggambarkannya; semangat para pemain untuk memenangkan Timnas PSSI dilakukan dengan cara memprotes keputusan wasit yang memberi hukuman pinalti atau bahkan menyerangnya, bukan dengan berlatih mengasah kemampuan sebaik mungkin, dan berusaha menyerang pertahanan lawan untuk memasukkan gol. Di bangku penonton, semangat nasionalisme digelorakan dengan menyerang suporter Timnas negara lain, jika kita kalah dalam pertandingan internasional. Tapi usai pertandingan, tidak satu pun pemain dan pengurus PSSI yang instropeksi diri, lalu berniat membangun Timnas sepakbola yang disegani minimal di kawasan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang budaya, semua media massa mengangkat isu “pencurian” tari pendet, terkait tayangan iklan promosi Malaysia di discovery channel, ratusan pemuda dari berbagai daerah turun ke jalan berdemonstrasi lalu puluhan penggiat seni, pengamat budaya, hingga presiden turut angkat bicara. Semuanya memamerkan nasionalismenya dengan berteriak olah kata. Namun seiring waktu berlalu, pariwisata kita tetap stagnan, pagelaran tari tradisional tetap sepi penonton, minim sekali generasi muda yang mau belajar budaya lokal, tak ada sedikit pun niat untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Seni seolah menjadi milik turis, dan bangsa asing yang mengagumi keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang politik, isu Ambalat adalah berita terhangat dan terpanas hingga sekarang. Tayangan heroik saat kapal TNI AL mengusir kapal perang Malaysia dari perairan NKRI masih sering diulang-ulang oleh televisi. Hilangnya Sipadan dan Ligitan dalam sengketa arbritasi internasional menjadi trauma tersendiri. Kita lupa bahwa kekalahan kita dalam sengketa wilayah tersebut adalah karena tiadanya perhatian terhadap pulau-pulau di perbatasan. Fakta menunjukkan bahwa Malaysia sudah membangun kawasan wisata di kedua pulau itu, dan semua penduduknya juga ber KTP negara itu. Ketika warga penghuni sudah menentukan pilihan hidupnya, hukum politik hanyalah soal garis batas, bukan bagaimana menyejahterakan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat nasionalisme orang lain ditunjukkan dengan menunjukkan hegemoninya atas negara lain, dengan penguasaan ekonomi dan militer. Para elit politik kita masih sibuk menghancurkan negara dengan korupsi; mengganjal berlakunya UU Tipikor, merusak kewenangan KPK dari berbagai sisi, hingga mencegah masuknya para idealis pemberantas korupsi kedalam sistem audit negara seperti BPK.&lt;br /&gt;Ya, nasionalisme era reformasi seolah sedang mencapai titik puncak nya; dengan mengatakan bahwa harta negara adalah harta pribadi kita juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme kita baru sebatas kata-kata, hanya sekedar wacana untuk membangun, belum sampai tahap melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita harus sejenak menoleh ke belakang, menyimak Pidato Bung Karno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi”, yang dimuat di Suluh Indonesia tahun 1928&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nasionalisme kita bukanlah nasionalisme jang timbul dari kesombongan belaka; ia adalah nasionalisme jang lebar,-ia adalah nasionalisme jang timbul dari pada pengetahuan atas susunan dunia dan riwajat; ia bukanlah jingo-nationalism atau chauvinism, dan bukanlah suatu copy atau tiruan pada nasionalisme Barat. Nasionalisme kita ialah suatu nasionalisme, jang menerima rasa hidupnja itu sebagai suatu wahju dan mendjalankan rasa hidupnja itu sebagai suatu bakti…Nasionalisme kita ialah nasionalisme ke-Timur-an, dan sekali-kali bukanlah nasionalisme ke Barat-an jang…adalah “ suatu nasionalisme jang menjerang-njerang, suatu nasionalisme jang mengedjar diri sendiri, suatu nasinalisme perdagangan jang untung atau rugi”… Nasionalisme kita adalah nasionalisme jang membuat kita menjadi perkakasnja Tuhan, Nasionalisme kita menjadi hidup dalam roch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 2 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2231981620188774669?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2231981620188774669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/benarkah-nasionalisme-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2231981620188774669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2231981620188774669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/benarkah-nasionalisme-kita.html' title='Benarkah Nasionalisme Kita?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2747049729978638346</id><published>2009-09-01T08:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T17:21:19.213-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Cerpen: Dia Tidak Salah, Kawan!</title><content type='html'>“Hamid ditangkap polisi”, ungkap Azra pelan.&lt;br /&gt;“Kapan dan kenapa?”, tanyaku sambil menatap wajahnya..&lt;br /&gt;“Kemarin malam di musholla dekat rumahnya, dia dituduh terlibat aksi pengeboman sebuah hotel beberapa bulan silam”, Azra kembali menatapku dengan mata menyala.&lt;br /&gt;“Ah, tidak mungkin. Apa yang bisa dia lakukan, hatinya yang halus dan perasa itu tidak mungkin mampu melakukannya”, protesku sambil sejenak menatap mata Azra yang menahan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali membayangkan kebersamaan kita dulu, tatkala kami bertiga masih duduk di bangku Madarasah Tsanawiyah, di sebuah pesantren kecil di kota Solo, Jawa Tengah. Ya, hampir 20 yahun berlalu, tapi kenangan itu masih tertancap kuat dalam memoriku. Kami datang dari tiga daerah yang berbeda, aku dari Pemalang, Azra dari Semarang dan Hamid asal Sragen, sebuah kabupaten kecil tak jauh dari Solo. Kami disatukan oleh kamar di asrama yang dipenuhi sekitar 17 santri dari berbagai daerah. Kami bertiga memilih tidur berjejer dengan beralaskan kasur lipat yang tipis di pojok kamar, diantara lemari-lemari yang berjajar. Di kamar seluas 6 X 4 itu lah kami saling berbagi cerita tentang keluarga masing-masing, tentang alasan memilih sekolah di pesantren dan jauh dari orang tua, tentang hukuman disiplin yang berat dan seringkali membuat kita ingin keluar dan lain-lain. Kebersamaan itulah yang menguatkan kita untuk bisa menyelesaikan pendidikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana ceritanya, dia bisa dituduh terlibat dalam aksi teror itu?” Tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Entahlah, tapi menurut cerita ayahnya, ada seorang kawan Hamid yang tertangkap polisi mengaku bahwa Hamid juga mempunyai peranan penting dalam peristiwa itu.” Kata Azra.&lt;br /&gt;“Siapa kawan Hamid itu, dan bagaimana dia bisa mengatakan bahwa Hamid terlibat dalam kasus itu, apakah polisi menemukan bukti-buktinya?” Tanyaku kembali.&lt;br /&gt;“Informasinya masih simpang siur. Kata ayah Hamid, kawannya itu juga dipaksa mengaku untuk mencari jalinan pelaku yang kata polisi memiliki ideologi yang sama dengannya. Karena terus disiksa, terpaksa dia berbohong dan menyebut nama Hamid. Karena hanya dia satu-satunya sahabat dekatnya yang memungkinkan polisi percaya bahwa mereka mempunyai hubungan dekat yang kuat dan saling melindungi.” Azra menjelaskan dengan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan akan masa lalu kembali membayang di pelupuk mata, saat hari Jumat pagi tiba, yang berarti adalah hari libur sekolah. Jumat adalah hari yang paling kita nanti-nantikan. Setelah 6 hari terkurung dalam tembok tinggi yang tidak memungkinkan kita untuk melompatinya, kita menemukan kebebasan sejenak. Berbaur dengan masyarakat, melihat-lihat suasana kota solo, atau sekedar jalan-jalan mencari buku bekas di belakang Sriwedari dengan sekali naik bus umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mempunyai ritual rutin setiap hari Jumat, usai sholat subuh di masjid, kami menyiapkan celana training, kaos oblong dan sepatu kets untuk berlari memutari bundaran Manahan yang terletak sekitar lima kilometer dari Pabelan, tempat pesantren kami berada. Lalu pulangnya kami tidak berlari di jalan raya, tapi berjalan menyusuri jalanan kampung yang masih asri, sambil menikmati indahnya perkebunan tebu yang dulu menjadi komoditas andalan para petani di sekitarnya. Terkadang kita iseng, masuk ke dalam kebun tebu sambil bermimpi suatu saat akan menjadi tuan tanah yang bisa menjadi penyuplai pabrik tebu terbesar di Karanganyar itu. Atau memetik pucuk-pucuk bunga tebu, sambil membayangkan kampung halaman yang sudah lebih dari 6 bulan kita tinggalkan. Atau kalau ada keberanian, kita meminta pada para petani agar diberikan sebatang pohon tebu, untuk digerogoti rasa manisnya. Ah, kebersamaan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana kondisi Hamid?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Kondisinya batinnya baik-baik saja, walau dia agak syok dan bingung. Tapi dia cukup kuat untuk menerima fitnah dari temannya tersebut, dan berusaha memahami alasan sahabatnya untuk turut melibatkannya dalam kasus teror yang sama sekali tidak dipahaminya. Tapi fisiknya lumayan drop, wajahnya sedikit membiru, sedangkan kakinya susah digerakan karena dibalik celana panjangnya yang menggantung tampak bekas-bekas pukulan benda tumpul melukai organ dalam tulang-tulangnya yang rapuh.” Azra kembali menahan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid dan Azra adalah dua sahabat dekat yang saling mengisi, Hamid bertubuh mungil dengan otak yang cerdas, namun sensitive dan pendiam. Sedang Azra adalah figure “preman” dalam pesantren, berkali-kali mendapat hukuman disiplin dari pengurus, dari yang dibentak-bentak senior, dihukum pukul pakai penggaris, hingga digunduli rambutnya, sebagai hukuman tertinggi untuk mempermalukan santri agar tidak mengulang kesalahan, sudah berkali-kali dijalaninya. Azra yang emosionil pada masa itu adalah pelarian dari konflik keluarga dirumahnya, yang membuatnya memilih untuk masuk pesantren daripada setiap hari harus menyaksikan “pertempuran kata” antara ibu bapaknya. Rasa kekeluargaan yang didapat di pesantren itulah yang membuat Azra merasa diterima dan berusaha melindungi ikatan kecil ini dari gangguan luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamid adalah pahlawan kecil bagi Azra. Dengan otak brilian dan kesabaran Hamid mengajar lah yang membuat Azra sukses menyelesaikan deadline “belajar ngaji” sebelum dikeluarkan oleh sekolah karena tidak bisa membaca Alquran hingga pertegahan semester pertama. Jiwa guru Hamid lah yang membuat nilai-nilai Azra lumayan bagus saat mengerjakan PR, walau hancur saat ujian akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelulusan sekolah tidak menghalangi persahabatan kami terputus begitu saja. Aku meneruskan sekolah di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, lalu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta. Hamid memilih tetap tinggal di Solo, memperdalam ilmu agama dan bekerja menjadi dosen di sebuah universitas islam swasta, sambil mendirikan pesantren kecil. Sedangkan Azra adalah salah satu mantan aktivis mahasiswa yang cukup ternama, dan kini meneruskan karirnya sebagai pengurus sebuah partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamid tidak bersalah. Dia bukan teroris!!” tegas Azra pelan.&lt;br /&gt;“Aku tahu betul karakternya, dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Jangan-jangan benar kata orang-orang ku, dia sengaja dikorbankan untuk memancingku keluar. Iya, aku ingat beberapa bulan lalu, seorang lawan politikku menekanku untuk diam, dan dia bilang akan menghancurkan diriku dan orang-orang terdekatku, jika aku tetap bicara.” Azra terdiam sejenak. “Ya pasti ini ulah si jahanam itu. Dia sengaja menyuap polisi agar menangkap Hamid dalam kasus terorisme, supaya dalam pengusutan nanti, dia bisa memaksa Hamid untuk membuat pengakuan, terkait kedekatan kita dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat hasilnya, kawan. Sekarang pesantren yang dipimpin Hamid telah bubar, orang tua murid mana yang berani memasukkan anaknya untuk dididik seorang teroris. Jangan –jangan nantinya akan dijadikan “pengantin”. Keluarganya terpaksa mengungsi, menghindari sindiran dan amarah warga, yang dulu sangat menghormatinya dan sekarang memandang dengan ketakutan. Seolah rumah-rumah mereka akan diledakkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali membayangkan sahabat mungilku itu, yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan tartil setiap ba’da magrib. Aku teringat bagaimana dia dengan sabar mengajari kami ilmu fiqh, berdiskusi tentang halal haram, sampai mendengar keluhan kami yang terlambat dapat kiriman orang tua. Sosok sahabat yang sabar dan lurus, dan kini harus menanggung beban berat yang mungkin tidak akan pernah dibayangkannya seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Tanyaku.&lt;br /&gt;“Aku sudah menyiapkan pengacara terbaik untuk membela Hamid. Dan aku juga sedang menyiapkan orang-orang terbaikku untuk melakukan “aksi” di kota lain. Sekedar menunjukkan pada polisi, bahwa Hamid bukanlah otak pelaku teror tersebut, dia hanyalah kambing hitam. Karena ada kelompok lain yang lebih professional dan menjadi pelaku sebenarnya dari teror itu.” Papar Azra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu…?” Seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, hanya dengan cara itu lah, aku bisa membebaskan Hamid dari segala tuduhan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 31 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2747049729978638346?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2747049729978638346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/cerpen-dia-tidak-salah-kawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2747049729978638346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2747049729978638346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/09/cerpen-dia-tidak-salah-kawan.html' title='Cerpen: Dia Tidak Salah, Kawan!'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3815238306673688257</id><published>2009-08-24T10:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T10:57:09.019-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Berkah Ramadhan : Segelas Teh Manis dan Nilai Keikhlasan Pak Tukang Taman</title><content type='html'>Hari ketiga bulan puasa, ada sebuah berkah ramadhan yang aku dapat, sebuah nilai tentang bagaimana seseorang berusaha menjaga tali silaturahmi nya dengan penuh keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari suatu sore, usai ngabuburit bersepeda keliling graha raya di hari kedua puasa. Di rumah sebelahku yang kebetulan belum ditempati, ada seorang tukang taman sedang menyirami rumput dan bunga-bunga yang baru ditanamnya. Keringat masih membasahi wajahnya, sementara bedug magrib udah menjelang, dan suara adzan bergema bersahut-sahutan dari masjid-masjid di sekitar komplek. Melihatnya sendirian, lalu kubawakan segelas teh manis hangat, sekedar untuk membatalkan puasanya. Aku pun memberikan tanpa tendensi apa-apa, hanya sekedar kasihan melihat dia belum selesai menyelesaikan pekerjaan, sementara buka puasa telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya, di pagi hari jelang siang, terdengar suara ketukan di pintu rumah, berdiri Pak Tukang Taman dengan membawa satu tas plastik berisi timun suri. Dan dengan sopan dia berkata “Mas, ini saya bawakan buah alakadarnya. Terima kasih, kemarin memberi saya teh manis buat buka puasa”. Sejenak saya tertegun, lalu kujawab, “waduh makasih banget pak. Tapi gak perlulah mbawain kayak gini, wong kemarin saya cuman ngasih gitu doang kok.” Lalu beliau tersenyum, dan berkata “saya ikhlas kok mas, dan saya sangat senang kemarin mendapat minum untuk berbuka puasa.” Lalu dia segera berpamitan untuk kembali bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menenteng timun suri dari Pak Tukang Taman tadi, saya langsung merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya jadi teringat salah satu ayat dalam al quran tentang janji Allah yang akan melipat gandakan pemberian (sedekah) kepada orang lain dengan nilai yang lebih. Saya tidak sedang menghitung secara materi keuntungaan yang saya dapat, bahwa saya hanya memberi segelas teh yang bernilai seribu rupiah dan diganti dengan timun suri seharga sepuluh ribu rupiah. Bukan matematika itu yang saya hitung, tapi bagaimana Allah membuktikan janjiNYA dengan contoh yang sangat sederhana dalam kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya jadi malu hati terhadap kebaikan Pak Tukang Taman, yang secara elegan datang mengetuk pintu rumah untuk membalas budi. Seseorang yang mungkin secara materi pas-pasan tapi tetap berusaha menjalin silaturahmi dengan sebuah nilai kesejajaran. Sementara saya kalau diberi kebaikan oleh orang lain, seringkali tidak punya itikad baik untuk ganti membalas budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, saya salut atas keikhlasan beliau dalam menjalin tali silaturahmi. Jujur saat memberinya minum, saya tidak pernah berniat atau bersengaja membangun tali silaturahmi dengannya. Hanya sekedar kasihan, lalu saya bawain air minum, titik. Tapi balas budi beliau, membuat saya selalu mengenang dirinya sebagai orang yang baik dan tulus. Insya allah, jika diberi kesempatan bertemu lagi, saya akan mempererat persahabatan yang ditawarkannya. (tapi, saya bahkan tidak tahu namanya…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, beliau menyadarkan saya, bahwa masih banyak orang-orang yang bekerja keras dan jujur dalam menjalani hidupnya. Dari raut wajahnya yang polos, tampak sebuah keteguhan hati dalam menjalankan profesi. Beliau rela berpanas-panasan mencangkul tanah, membersihkan rumput liar dan menggantinya dengan gajah mini yang hijau, sambil tetap berpuasa di siang hari yang panas menyengat, tanpa mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, senyumnya yang memancarkan ketulusan hati saat memberi, membuat saya malu, bahwa saya sering merasa tidak ikhlas dalam beramal. Sering menghitung-hitung untung rugi yang akan saya dapat jika memberi kepada orang lain. Dan yang paling parah, sebelum beramal saya sering berharap bahwa Allah akan membalas amal saya, dengan nilai materi lain yang berlipat. Astaghfirullah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah telah mengajarkanku tentang sebuah persahabatan dan keikhlasan dari Pak Tukang Taman. Walau saya juga tidak tahu apakah akan bisa menjalankan pelajaran itu atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah tidak bosan untuk terus memberi pelajaran tentang hidup kepadaku, Amiiin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 25 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3815238306673688257?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3815238306673688257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/berkah-ramadhan-segelas-teh-manis-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3815238306673688257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3815238306673688257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/berkah-ramadhan-segelas-teh-manis-dan.html' title='Berkah Ramadhan : Segelas Teh Manis dan Nilai Keikhlasan Pak Tukang Taman'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-7157078578502407625</id><published>2009-08-24T09:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T09:20:04.407-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>"Label Teroris" dan Hilangnya Kenyamanan Hidup</title><content type='html'>Lensa kamera televisi seolah telah menjadi hantu paling menakutkan bagi sebagian orang. Beberapa wanita bercadar tampak jengah dan berusaha menutup wajahnya yang memang sudah tertutup itu. Wanita-wanita itu yang biasanya tidak pernah (bahkan mungkin tidak mau) untuk berhadapan dengan media massa, tiba-tiba seolah dipaksa menjadi obyek gambar yang “seksi” di mata kamerawan. Sekelompok wanita yang tengah berjalan, segera mempercepat langkahnya menghindari sorot kamera yang tidak pernah meminta ijin darinya. Ekspresi warga masyarakat yang bingung, ikut menatap para wanita yang tengah memenuhi kewajiban berpakaian tertutup itu. Yang satu bingung dan ikutan curiga melihat arah lensa kamera, si obyek jengah karena merasa tanpa salah dan dipaksa menjadi artis demi insert gambar televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak “kegagalan” penangkapan Noordin M Top di Temanggung memang dahsyat. Antiklimaks perburuan gembong teroris, yang sempat “didiagnosa” media massa telah tewas dalam penggrebekkan oleh 600 aparat itu, membuat runyam kehidupan masyarakat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah untuk menutupi “kelemahannya”, pihak kepolisian kemudian “memamerkan” kemampuan intelejennya dengan mempublikasikan data-data intelejen pada media massa; setiap pergerakan, penyamaran, perekrutan teroris diungkap secara transparan di televisi. Plus rangkaian struktur organisasi, dugaan kaitan pendukungnya, calon pengantin bomber hingga istri-istri yang dinikahi sang gembong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat pun “dipaksa” harus ikut berpartisipasi dalam perburuan teroris yang sebenarnya adalah tugas aparat. Warga dituntut memasang mata terhadap setiap kedatangan orang baru, ciri-ciri khas pakaian dengan baju koko, peci putih dan celana tinggi (menggantung) harus lebih diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang “terbaru” adalah wacana bahwa ada kemungkinan para teroris itu menyamar sebagai perempuan yang bercadar muka. Yang direspon televisi dengan menayangkan grafis; foto wanita bercadar disandingkan dengan foto rekayasa teroris yang menyamar dengan cadar terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa seolah sedang berlomba menginterpretasikan wacana yang dirilis oleh pihak kepolisian, yang kemudian tanpa sadar (atau memang sengaja) telah melakukan “pelabelan” terhadap budaya-budaya tertentu. Media mempunyai peranan penting dalam mengkonstruksi kebenaran sebuah realitas yang akan dipahami masyarakat. Sudut pandang media dalam melihat suatu peristiwa menjadi gambaran "kebenaran" yang diterima audiens nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku; Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisi Wacana, Analisis Semiotik dan Analisi Framing, karangan Alex Sobur, ada beberapa definisi konstruksi media :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Gaye Tuchman mengenai sifat dan fakta media massa, “disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). Pembuatan berita di media pada dasarnya tak lebih dari penyusunan realitas-realitas hingga membentuk sebuah cerita.” (hal.88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Paul Watson mengenai perilaku media massa, “konsep kebenaran dianut media massa bukanlah kebenaran sejati, tapi sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran. Ringkasnya, kebenaran ditentukan oleh media massa”.&lt;br /&gt;(hal.87)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alex Sobur; “Ada berbagai kepentingan yang bermain dalam media massa. Disamping kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, dalam diri media massa juga terselubung kepentingan yang lain; misalnya kepentingan kapitalisme pemilik modal. Kepentingan keberlangsungan (suistainabilitas) lapangan kerja bagi para karyawan dan sebagainya. Dalam kondisi dan posisi seperti ini, media massa tidak mungkin berdiri statis di tengah-tengah, dia akan bergerak dinamis diantara pusaran-pusaran kepentingan yang sedang bermain. Kenyataan inilah yang menyebabkan bias berita di media massa adalah sesuatu yang sulit dihindari.”&lt;br /&gt;(hal.30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitaan oleh media massa terhadap suatu kasus secara terus menerus tentunya akan menggiring opini publik pada pandangan tertentu. Jika semua media massa “bersepakat” mendasarkan beritanya dari rilis pihak kepolisian, maka realitas berita itu yang akan dianggap menjadi kebenaran oleh masyarakat. Masyarakat seolah “dipaksa” untuk menerima kebenaran itu secara mutlak, karena tiadanya gambaran lain tentang sosok teroris. Keterbatasan narasumber alternative, membuat masyarakat minim sekali mendapat informasi tentang teroris dari sudut pandang yang berbeda, misalpun ada porsinya sangat sedikit. Contohnya profil teroris versi Ustadz Abu Bakar Baasyir yang disebutnya sebagai Mujahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penanganan teroris versi polisi pun sangat keras. Para teroris dianggap sebagai musuh Negara, orang yang sangat berbahaya dan nekat, sehingga harus diberlakukan dengan “keras” juga. Hal itu menurut saya, terbaca dari banyaknya polisi yang dikerahkan ke Temanggung (600 aparat-red) dan canggihnya peralatan modern yang digunakan (ada robot detector, granat dan berbagai jenis senjata api-red) dalam upaya menangkap seorang Noordin M Top yang ternyata adalah Ibrahim. Lalu penembakmatian dua teroris di Jatiasih, Bekasi yang “baru” diduga akan meledakkan rumah pak SBY di Cikeas, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama ekskusifitas berita dan rating yang intinya berujung pada komersialisasi media, seringkali tanpa sadar, para pewarta berita berubah menjadi “algojo” bagi masyarakat, mereka melupakan dampak “pelabelan” itu bagi warga yang sudah nyaman menjalankan tradisi budaya nya (agama-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah meneliti secara serius, jadi hanya berdasarkan pengamatan sekilas saja. Ada beberapa kriteria profil teroris yang diulang-ulang media massa:&lt;br /&gt;- Biasanya berpakaian; baju koko, peci putih, dan celana tinggi (menggantung).&lt;br /&gt;- Biasanya berjenggot.&lt;br /&gt;- Biasanya rajin sholat di masjid/mushola terdekat.&lt;br /&gt;- Biasanya ramah dan baik dengan tetangga, namun orangnya agak tertutup.&lt;br /&gt;- Biasanya menyimpan Al quran dan buku-buku berbahasa arab di rumahnya.&lt;br /&gt;- Biasanya memasang kaligrafi atau stiker tentang jihad di rumahnya.&lt;br /&gt;- Biasanya pendatang baru dan suka berpindah kos.&lt;br /&gt;- Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria-kriteria seperti ini sangat lazim dilakukan oleh seluruh umat muslim di Indonesia, terlalu luas untuk menggambarkan realitas sosok khas seorang teroris. Namun karena diberitakan secara terus menerus dan berulang-ulang, maka hal ini bisa menjadi sebuah “kebenaran” oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, wanita-wanita bercadar itu mungkin juga sama sekali tidak tahu tentang terorisme, apalagi mengenal Noordin M Top. Mereka hanya sekedar mengikuti ajaran rasulnya, tentang kewajiban menutup aurat bagi perempuan baligh. Tapi tiba-tiba mereka “dipaksa” menjadi point of view dari jutaan penikmat berita teroris di negeri ini. Mata-mata kamera itu seolah ingin “menelanjangi” untuk sekedar memastikan bahwa tubuh yang berada dibalik pakaian itu bukanlah Mujahidin eh teroris yang sedang buron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada harian Kompas (Minggu, 23/08/2009) halaman 4, ada berita berjudul “Dihadang Warga karena Berjenggot dan Bercadar”, isi berita; “Sial nian nasib suami istri Daud dan Kasitri gara-gara berjenggot dan bercadar, keduanya dihadang dan diinterogasi habis-habisan oleh sejumlah warga seusai bersembahyang di Masjid Al Barokah Kampung Kedinding, Desa Kibin, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, Banten. Bahkan, keduanya sempat dibawa ke markas polisi…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang agak dilematis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kata-kata yang diucapkan oleh seorang kawan dalam sebuah dialog bedah buku dengan seorang pengamat teroris beberapa hari lalu. Intinya beliau mengatakan (mohon dikoreksi kalau salah), “Bangsa ini punya sejarah yang buruk terkait pembantaian antar sesama; pada tahun 1965-1966 terjadi pembantaian warga (berlabel) PKI hingga ribuan orang, lalu pemusnahan warga (berlabel) etnis Madura di Sampit, Kalimantan, dan konflik antar agama di Maluku. Jika ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin orang-orang yang dicurigai sebagai teroris oleh masyarakat akan mendapat perlakuan yang sama (seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat mengkhawatirkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat api dalam sekam, pelabelan terhadap budaya tertentu ini, suatu saat akan membakar, jika ada provokator yang meniupkannya. Dan yang menjadi korban seringkali adalah warga sipil yang tak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semoga tidak terjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;Alex Sobur, Analisi Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisi Wacana, Analisi Semiotik dan Analisi Framing, PT. Remaja Rosdakarya, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 23 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-7157078578502407625?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/7157078578502407625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7157078578502407625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7157078578502407625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/label-teroris-dan-hilangnya-kenyamanan.html' title='&quot;Label Teroris&quot; dan Hilangnya Kenyamanan Hidup'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1054816421632008441</id><published>2009-08-20T07:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T07:57:51.563-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Hotel Rwanda; Konflik antar budaya yang dibina?</title><content type='html'>Dua hari jelang 17 agustus kemarin, untuk kedua kalinya saya menonton film Hotel Rwanda di sekolah. Sebuah film yang mengisahkan perseteruan antara dua suku di Rwanda yaitu suku Hutu dan suku Tutsi, dan berakhir dengan pembantaian masal (genosida) sekitar 800 ribu jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film karya sutradara Terry George ber-genre drama aksi (based on true story) bercerita tentang sejarah kelam Rwanda di tahun 1994 pada masa-masa berakhirnya penjajahan Belgia. Sebuah konflik budaya yang sengaja diciptakan dan dibina oleh penjajahnya, dengan memanfaatkan hubungan yang tidak harmonis antara kedua suku yang hidup berdampingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film itu tergambar jelas bagaimana suku Hutu yang melakukan pembantaian, lebih bertoleran terhadap bangsa kulit putih dibanding bangsanya sendiri yang sama-sama berkulit hitam walau berbeda etnis. Toleransi suku Hutu terjadi karena tekanan negara eropa dalam hal ini Perancis yang menjadi pemasok senjata, dan penyumbang bantuan bagi pasukan militer pemerintah Rwanda yang dipimpin presiden beretnis Hutu. Nyaris tak ada rasa nasionalisme kebangsaan akibat saling curiga yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ini adalah sebuah infiltrasi (penyusupan) budaya yang sadis. Dimana masing-masing suku diprovokasi untuk terus berprasangka buruk terhadap etnis lain. Secara cultural tergambar dalam salah satu adegan, dimana suku Hutu menuduh suku Tutsi sebagai penyihir dan penyembah ritual setan yang berbahaya. Bahkan adegan pembantaian pun digambarkan sebagai pengusir roh jahat sehingga harus dimusnahkan dari dunia. Pembunuhan dianggap sebagai pelaksaan aturan budaya sendiri. Sangat irrasional, tapi itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara politik, penjajah melakukan teknik devide et impera yaitu pada masa penjajahan pemerintah Belgia 'berpihak' pada suku minoritas Tutsi, tetapi pada saat kemerdekaan justru kekuasaan diberikan pada suku Hutu. Balas dendam politik ditambah infiltrasi + provokasi budaya yang menyesatkan ternyata menghasilkan tindakan genosida yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film itu mengingatkan saya akan film G 30/S PKI karya (Alm) Arifin C. Noor, sebuah karya yang mengedukasi masyarakat untuk membenci orang komunis , mengisahkan kekejaman PKI sebagai cara menyederhanakan pikiran kita bahwa membalas dendam (membunuh-red) PKI adalah hal yang wajar sesuai dengan perbuatan mereka. Bahwa lagu genjer-genjer merupakan lagu budaya Gerwani yang asyik dinyanyikan sambil minum-minuman keras. Atau dialog “darah itu merah, jenderal!” yang dilontarkan seorang wanita sambil menyayat kulit anggota TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejarah mencatat bahwa pembantaian orang-orang PKI sebagian justru dilakukan oleh warga sipil yang terprovokasi oleh stigma bahwa komunis adalah kafir, atheis, dan kejam sehingga darahnya halal untuk dibunuh. Sesama warga desa bisa membunuh tetangganya sendiri jika ketahuan dia pernah ikut PKI. Ini mirip stigma budaya yang dimasukkan pada suku Hutu di Rwanda, bahwa suku Tutsi adalah pemuja setan, sehingga layak dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provokasi yang menimbulkan terjadinya konflik antar budaya selalu menjadi permasalahan yang menarik untuk diobrolkan, karena dampaknya yang seringkali diluar dugaan. Saya jadi teringat saat ditugaskan meliput Ulang Tahun RMS (Republik Maluku Selatan-red) bareng reporter Iwan Setiawan pada tahun 2005. &lt;br /&gt;Memang usai pecahnya konflik besar antar agama di Ambon tahun 2009, setiap jelang tanggal 25 April, hampir semua media massa “wajib” mengirimkan kru tambahan ke sana. Tanggal 25 april adalah hari Ulang Tahun RMS, hari-hari yang rawan terjadi konflik susulan (pada 25-30 april 2004 terjadi perang jilid II-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu suasana semakin mencekam 1-2 hari jelang hari H, aparat biasanya sibuk melakukan razia keberbagai titik yang dinilai rawan. Beberapa orang yang “dicurigai” pun ditangkap. Pada malam hari nya, puluhan warga berkerumun melakukan ronda dipinggir jalan, sambil menyembunyikan “senjata” dibalik sarungnya. Dan jika tidak terjadi konflik, maka yang paling ditunggu-tuggu adalah dimana bendera RMS akan berkibar? Berapa jumlahnya? Dan bagaimana reaksi aparat yang kembali kecolongan hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang tidak memahami konflik di Maluku, menurut saya ini adalah konflik budaya yang sangat menarik. Karena ternyata tidak setiap warga masyarakat memahami akar masalah yang sebenarnya. Pada suatu malam jelang hari H, iseng2 saya ikut ngobrol dengan beberapa warga yang “ronda” dipinggir jalan. Mereka bercerita, bahwa sebelum konflik 1999 hampir setiap hari mereka yang berbeda agama itu melakukan kegiatan bersama tanpa masalah; mereka berbelanja di pasar yang sama, main gaple bareng, dan nongkrong tanpa ada rasa curiga. Sebuah toleransi yang tinggi, dan cenderung tidak memperdulikan adanya perbedaan budaya (agama-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, menurutnya; adalah hal yang membingungkan ketika mereka terpaksa harus berperang dengan saudara-saudara sendiri, tanpa tahu penyebabnya, dan tanpa alasan yang jelas untuk menyerang. Dan rasa curiga itu terus menerus “dipupuk” tanpa tahu untuk apa dan kenapa harus curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa yang memprovokasi dan meng-infiltrasi mereka? Yang membuat suku Hutu menjadi pelaku genosida, yang menjadikan masyarakat Indonesia menjadi pembantai sesamanya yang berlabel PKI, yang membina konflik di Maluku agar terus terjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas kata Bu Guru Komunikasi Antar Budaya, cara menghindari konflik antar budaya adalah dengan melakukan komunikasi yang ber-empati dan ber-simpati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? Tanya aja sendiri, wong gw juga bingung wakakakakkkkk….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 20 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1054816421632008441?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1054816421632008441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/hotel-rwanda-konflik-antar-budaya-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1054816421632008441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1054816421632008441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/hotel-rwanda-konflik-antar-budaya-yang.html' title='Hotel Rwanda; Konflik antar budaya yang dibina?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4350556402564568791</id><published>2009-08-18T21:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T21:14:13.525-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Upacara Bendera</title><content type='html'>“Pemirsa, saat ini kita bangsa Indonesia, telah berhasil membuktikan… Bahwa kita sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia, telah berhasil memecahkan rekor dunia!!!&lt;br /&gt;Pemecahan rekor menyelam dengan jumlah terbanyak, lebih dari dua ribu penyelam berpartisipasi dalam ajang ini. Esok hari, 17 agustus pukul tepat pada pukul 10 WITA diharapkan kita akan kembali memecahkan rekor dunia, dengan mengadakan upacara kenegaraan di bawah air, yang pertama kali dilakukankan di dunia…”, sambil sesekali tercekat menahan emosi bangga yang memenuhi serambi paru nya, seorang reporter televisi swasta melaporkan siaran langsung dari bawah air di perairan Malalayang, Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelembung udara dan minimnya oksigen tak menghalangi sang reporter untuk terus melaporkan peristiwa bersejarah itu. Dan saya yakin, di antero penjuru Indonesia, beragam etnis, suku dan ras masyarakat, turut menitik haru menyaksikan detik demi detik moment itu berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eforia penyambutan HUT kemerdekaan bergema di empat arah angin negeri; di puncak Mahameru yang berada pada ketinggian lebih dari enam ribu meter, bendera merah putih dikibarkan dengan penuh hikmat. Siluet sang saka tertiup angin, dengan latar matahari di atas awan, seolah menghapus segala lelah usai dua hari pendakian. Puncak tertinggi di pulau jawa ini, menjadi bukti semangat anak muda untuk terus mengumandangkan Indonesia Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditebing yang curam dan sepi, puluhan kaki tertapak kuat di dinding cadas, otot-otot tangan mengeras menggenggam erat tonjolan sedimen yang telah membatu ribuan tahun. Paku-paku ditancapkan dicelah-celah karang, sebagai pengait bendera yang berukuran hampir seperempat lapangan bola. Membentangkan kain lambang pemersatu jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung-kampung, ratusan pohon pinang ditancapkan dengan baluran minyak pelicin di sekujur tubuhnya, aneka hadiah dipajang di puncak menaranya, dengan tetap mengaitkan sebatang bambu kecil sebagai pengikat bendera merah putih.&lt;br /&gt;Di berbagai daerah, anak-anak berpakaian adat tradisional mengikuti pawai karnaval yang digelar oleh sekolahnya, sambil tak ketinggalan menggenggam erat bendera plastik mini, juga berwarna merah putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berbangga, semua bersatu, semua bahu membahu, tanpa pandang bulu, berasal dari daerah manakah kawannya, marga apakah dia, asli pribumi atau keturunan, etnis mayoritas atau minoritas dll. Semua sekat-sekat pemisah langsung runtuh, begitu mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang dan kibaran bendera yang perlahan naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada egoisme suku, individualitas golongan, atau eksklusifitas agama. Semua merasa satu; satu nusa, satu bangsa, satu negeri; Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi usai upacara kemerdekaan berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tidak mau meneruskannya…&lt;br /&gt;Biarlah kebanggaan yang tertanam di sanubari anak bangsa itu tetap terpendam dalam, bersama rasa optimisme untuk terus membangun negeri. Biarlah anak-anak bangsa yang memiliki idealisme itu terus berjuang, dengan sepenuh hati membesarkan Ibu pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau menjadi pemadam semangat membara itu, dengan mengutip; &lt;br /&gt;Pengamat hukum yang bercerita tentang korupsi diberbagai lini&lt;br /&gt;Pemerhati keamanan yang memprediksi teror susulan&lt;br /&gt;Pakar ekonomi yang meragukan keberhasilan pengentasan kemiskinan&lt;br /&gt;Ahli sosial yang menuliskan maraknya anak jalanan&lt;br /&gt;Ilmuwan pendidikan yang mempertanyakan sekolah gratis&lt;br /&gt;Politikus yang meneriakkan ancaman disintegrasi bangsa&lt;br /&gt;Dan para seniman yang meragukan “kemerdekaan” Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak mau melontarkan joke&lt;br /&gt;Tentang bagaimana puluhan pemuda adat di pulau kepala burung papua&lt;br /&gt;Mengadakan upacara di dataran bukit sebuah pinggiran hutan&lt;br /&gt;Koteka, tombak, dan busur beserta anak panahnya sebagai seragam seremoni&lt;br /&gt;Sebuah bendera terlipat siap dikibarkan&lt;br /&gt;Dan sesaat usai terbentang lebar&lt;br /&gt;Ternyata bukan merah putih yang selama ini kita kenal&lt;br /&gt;Tapi lambang bintang kejora… &lt;br /&gt;(ah, ada-ada aja kawan kita di papua itu….)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah, di hari nasional nan sakral ini…&lt;br /&gt;Kita berprasangka baik terhadap seluruh saudara-saudara kita&lt;br /&gt;Bahwa mereka tidak akan mengkhianati makna kemerdekaan yang sudah diraih&lt;br /&gt;Dan berjanji pada diri sendiri, untuk juga tidak mengkhianatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Salut buat Tim Live Sail Bunaken dan Ekspedisi Mahameru SCTV, yang telah sukses meneruskan tradisi penyambutan HUT kemerdekaan. Semoga bonus menanti anda (dan juga teman2 yang lain tentunya hehehe…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 18 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4350556402564568791?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4350556402564568791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/upacara-bendera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4350556402564568791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4350556402564568791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/upacara-bendera.html' title='Upacara Bendera'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3708009886920083387</id><published>2009-08-09T10:32:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T09:46:21.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Juara Tarik Tambang Tanpa Piala…</title><content type='html'>Betul-betul hari yang menyenangkan….&lt;br /&gt;Perayaan 17 agustus masih seminggu lagi, namun suasana riang tampak di taman komplek nan mungil ini..&lt;br /&gt;Puluhan anak-anak kecil berlari memegang sendok berisi kelereng, kemudian dilanjutkan lomba makan krupuk, sangat sangat meriah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mbak alias pembantu rumah tangga pun diberi lahan unjuk kebolehan, berkerumun di ember merah untuk berebut memegang belut dan membawanya ke ember lain yang masih kosong, tentunya dengan adegan kocak belut-belut berjatuhan karena licin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sore harinya, giliran ibu-ibu yang sebagian diwaktu kerjanya berprofesi sebagai sekretaris, manajer, karyawan dari beragam perusahaan bersaing menginjak-injak balon yang diikatkan dikaki lawan, siapa yang bisa menjaga balonnya tetap utuh, dialah pemenangnya, lalu mereka bersaing adu ketelitian memasukkan pensil ke dalam botol, seperti anak-anak kecil, lucu banget…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai penutup pesta tetaplah didominasi kaum adam yang beradu fisik, saling tarik, saling memperkuat kuda-kuda kaki di tanah, agar lawan bergeser melewati garis batas… Yap, tarik tambang adalah lomba yang paling sempurna…&lt;br /&gt;Karena memamerkan sisi macho laki-laki untuk unjuk kekuatan tanpa menyakiti lawan, dan diiringi teriakan anak istri yang menyemangati sang suami agar kuat bertahan…&lt;br /&gt;Dan blok kami menjadi juaranya!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tradisi rutin tahunan yang telah membudaya selama berpuluh-puluh tahun sejak Indonesia merdeka, saya tidak faham sejarah kapan untuk pertama kalinya perayaan HUT Kemerdekaan RI diramaikan dengan lomba-lomba antar warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi adalah bagian dari budaya hasil pikiran, cipta dan karya manusia.&lt;br /&gt;Kitalah yang merawatnya, mengajarkan ke generasi berikutnya, lalu anak cucu itulah yang kelak akan melestarikannya. Jika kita gagal mengajarkan, dan anak-anak kita tidak tergoda untuk tahu tentang nya, maka hilangnya sebuah budaya tinggal menunggu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah desa besar bernama dunia dengan beragam asimilasi budaya yang menyatu dan membentuk budaya baru yang disepakati bersama, berpotensi menghilangkan budaya awal yang pernah berjaya dimasa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaya berganti kaos, kain sarung atau jarik berganti celana.&lt;br /&gt;Blankon berganti topi, peci pun berganti tutup kepala ala Bob Marley.&lt;br /&gt;Tulisan jawa sudah tidak diajarkan di sekolah negeri.&lt;br /&gt;Bahasa daerah pun menghilang berganti hasrat belajar bahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa menyatukan dunia.&lt;br /&gt;Bahasa menyatukan budaya.&lt;br /&gt;Bahasa juga menyatukan selera, keinginan, pikiran bahkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo dulu, banyak orang merasa belum makan, kalo belum menelan nasi&lt;br /&gt;Sekarang perlahan-lahan bergeser, makan siang yang paling sesuai adalah burger&lt;br /&gt;Karena tidak terlalu berat menunya, dan gak bikin ngantuk akibat kekenyangan.&lt;br /&gt;Warung tegal pun dianggap hanya buat warga kelas buruh, kalo kelas karyawan lebih bergengsi kalo makan spaghetti ato ayam di restoran berlisensi asing.&lt;br /&gt;(padahal apa beda buruh dan karyawan, toh sama-sama kerja untuk orang hehehe…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah-sekolah berlomba-lomba mencantumkan status internasional&lt;br /&gt;Bahasa inggris menjadi bahasa kurikulum&lt;br /&gt;Guru-guru pun dipilih yang fasih cas cis cus inggris, walau terkadang melupakan kompetensinya sebagai seorang guru.&lt;br /&gt;Anak-anak pun sedari kecil dididik melatih lidahnya agar tidak medhok dan menghapus aksen daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata bijak menuliskan bahwa “martabat suatu bangsa dinilai dari budayanya”&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah budaya apa?&lt;br /&gt;Untuk membangun tembok raksasa di Cina, mengorbankan ratusan ribu jiwa untuk merealisasikan mimpi itu.&lt;br /&gt;Untuk membangun kemegahan arsitektur di amerika, ratusan warga dunia belahan lain harus rela berperang dan kelaparan, karena pejabatnya korupsi demi membiarkan perusahaan asing mengeruk sumber daya alamnya tanpa bagi hasil yang sesuai.&lt;br /&gt;Untuk membangun hegemoninya, negara-negara eropa menjajah negara-negara di benua asia dan afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa aku merasa sangat bahagia siang tadi…&lt;br /&gt;Tradisi silaturahmi dengan berbagai permainan yang sederhana, yang dulu sempat aku kritisi karena kuanggap tidak penting dan kampungan, kini berubah warnanya menjadi ceria.&lt;br /&gt;Aku tiba-tiba rindu untuk bermain “jamuran” saat bulan purnama, atau main petak umpet sambil berteriak dengan bahasa banyumasan yang ngapak.&lt;br /&gt;Aku tiba-tiba merasa berdosa karena tidak pernah sedikitpun mengajarkan bahasa daerah ke anakku, bahasa banyumas dari sang ayah, atau bahasa kromo inggil dari sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sebagai juara tarik tambang, tak ada piala yang kami dapat.&lt;br /&gt;Tapi aku memperoleh hadiah yang lebih besar dibanding nilai piala itu, bahkan sangat jauh lebih besar.&lt;br /&gt;Sebuah kesadaran bahwa ternyata masih banyak warga negeri ini yang menikmati indahnya budaya sendiri.&lt;br /&gt;Sebuah kesadaran bahwa ternyata kita memang merindukan budaya asli kita, yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan.&lt;br /&gt;Dan sebuah kesadaran bahwa bukan hal yang mustahil bahwa sebelum kita meninggal, kita tidak akan bisa menyaksikan langgengnya budaya itu, jika anak-anak kita tidak pernah diperkenalkan pada budaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di kampung atau komplek lain, akan lebih banyak budaya-budaya asli yang terlestarikan jauh dibanding apa yang kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayalah Negeri ku&lt;br /&gt;Banggalah pada budaya sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 10 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3708009886920083387?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3708009886920083387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/juara-tarik-tambang-tanpa-hadiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3708009886920083387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3708009886920083387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/juara-tarik-tambang-tanpa-hadiah.html' title='Juara Tarik Tambang Tanpa Piala…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4537030466457896552</id><published>2009-08-08T10:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T10:16:27.293-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Pom Bensin Merah Abu-abu, Hijau, Kuning, terussss…..</title><content type='html'>Bersepeda adalah sarana transportasi yang irit sekaligus menyenangkan, karena lebih santai dan rileks saat menyusuri jalanan. Yap, sepanjang jalanan dari arah Graha Raya menuju Bintaro, hal yang paling kusukai adalah menikmati warna-warni tanaman di pinggiran jalur, lalu menyaksikan gedung-gedung yang tengah berkembang, dan satu lagi, ini mungkin agak berbeda, membandingkan pom bensin-pom bensin yang terlewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih didominasi oleh pemasar nasional tentunya, tiap beberapa kilometer selalu bertengger pom bensin PERTAMINA yang megah dengan warna merah abu-abu sebagai ciri khasnya. Dengan beragam aksesorisnya, ada pom bensin + ATM, ada yang + kafe, restoran dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini diantara warna yang sudah kuhapal itu, terselip pom bensin berwarna hijau dengan logo kuning menyala bertuliskan PETRONAS, sesuatu yang beberapa tahun silam tak mungkin kita dapati di seluruh kota negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisinya bangunannya lebih mewah, bersih, dan luas, sangat nyaman untuk memuaskan pelanggan yang datang. Tapi entah kenapa, suasananya masih sangat sepi, mobil yang masuk pun hanya satu – satu. Trenyuh juga melihat puluhan karyawan yang setia berdiri menanti datangnya pelanggan, mencoba menawarkan senyuman yang sudah terlatih untuk memikat hati pemilik kendaraan, namun tak kesampaian. Terkadang mereka duduk bergerombol, sekedar membuang waktu sambil ngobrol, karena memang nyaris tak ada pelanggan yang harus dilayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau dipikir lebih mendalam, rasa syukur harus dipanjatkan, karena sepinya pom bensin milik negeri tetangga itu, juga menjadi bukti tingginya nasionalisme masyarakat untuk tetap membeli produk yang dijual oleh perusahaan nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo dipikir lagi, sebenarnya mungkin itu bukan nasionalisme, itu hanya karena kebetulan saja. Sebuah kebetulan karena harga yang dijual pertamina lebih murah dibanding harga pom bensin asing seperti Petronas atau Shell. Ya, hingga saat ini pemerintah indonesia masih memberi subsidi hingga ratusan triliun untuk bahan bakar konsumsi kendaraan pribadi. Negara masih “menyuapi” orang kaya yang bermobil, bahkan bisa jadi subsidi minyakl untuk orang kaya nilainya jauh lebih besar dibanding subsidi untuk warga kelas menengah ke bawah yang biasanya menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, sebuah media cetak terbesar memberitakan hasil wawancara dengan seorang pengamat ekonomi, yang mengatakan bahwa “mungkin sudah saatnya, masyarakat indonesia membeli BBM dengan harga dunia, sehingga subsidi untuk konsumsi yang bernilai ratusan triliun bisa dialokasikan ke bidang lain yang lebih produktif”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, pasti akan terjadi pro kontra di kalangan pengamat ekonomi. Yang pro mungkin akan bilang, bahwa pengalihan subsidi ke bidang produktif akan menggerakkan roda perekonomian yang selama ini banyak menemui hambatan, seperti infrastruktur dll. Yang kontra bisa jadi akan mengatakan, bahwa kenaikan harga BBM mengikuti harga dunia akan memberatkan masyarakat kecil, yang saat ini juga sudah susah hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi mendukung dan menentang kenaikan harga BBM sudah jamak terjadi di negeri ini bukan?? Yang pro biasanya “oknum demonstran” sedang yang kontra adalah “demonstran beneran” hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya membayangkan, perubahan apa yang akan terjadi jika pemerintah menghentikan subsidi BBM untuk jenis premium dan solar produk Pertamina. Artinya harga jual BBM yang dijual oleh pom bensin milik Pertamina akan sama tinggi dengan harga di pom bensin milik Petronas dan Shell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi kelak pom bensin asing akan lebih ramai dibanding pom bensin nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengayuh sepeda,  saya jadi berpikir, kenapa pemerintah mengeluarkan UU yang mengizinkan perusahaan asing juga menguasai penjualan BBM pada masyarakat. Dulu dengan alasan tiadanya modal dan teknologi, pemerintah menyerahkan penambangan minyak dan gas pada perusahaan asing. Jadi kedepan, penguasaan hulu dan hilir energi di negeri ini, bisa jadi akan dimiliki asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah beberapa tahun kedepan, saat bersepeda menyusuri jalanan Graha Raya – Bintaro, karyawan pom bensin warna hijau akan lebih sibuk dibanding karyawan pom bensin warna merah abu-abu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 8 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4537030466457896552?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4537030466457896552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/pom-bensin-merah-abu-abu-hijau-kuning.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4537030466457896552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4537030466457896552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/pom-bensin-merah-abu-abu-hijau-kuning.html' title='Pom Bensin Merah Abu-abu, Hijau, Kuning, terussss…..'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6889248180860598423</id><published>2009-08-06T05:43:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T05:44:02.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>I Love You Full</title><content type='html'>Tagline yang meresap di alam bawah sadar kita, tatkala mengenang Alm. Mbah Surip adalah “I Love You Full”, kalimat yang selalu diucapkannya, disetiap akhir pembicaraan, apapun tema nya. Susunan 4 kata yang setiap orang pasti tahu artinya, karena 3 kata pertama adalah sebuah ungkapan romantis antara dua insan lawan jenis tatkala memadu kasih, yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Dan jika ada yang belum pernah merasakan, pasti sudah sering mendengar kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Love You Full, jika diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia, mungkin bisa diartikan Aku Cinta Kamu (dengan se) Penuh (hati). Mari kita urai satu per satu kalimat nan penuh makna ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I adalah Aku (sebagai subyek pelaku)&lt;br /&gt;Love adalah Cinta (sebagai predikat atau pelaksanaan kegiatan)&lt;br /&gt;You adalah Kamu (sebagai obyek)&lt;br /&gt;Full adalah se-Penuh hati (sebagai keterangan yang menyangatkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kata yang paling dalam untuk dimaknai adalah Love (cinta) dan Full (sepenuh hati), karena disinilah letak totalitas manusia dalam menjalankan kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita coba ubah subyek dan obyek dengan kata lain. Sedangkan predikat dan keterangan masih tetap. Misalnya :&lt;br /&gt;Jika Aku sebagai subyek diganti Orang tua&lt;br /&gt;Kamu sebagai obyek diganti Anak&lt;br /&gt;Maka akan menjadi kalimat “Orang tua Cinta Anak dengan sepenuh hati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang tua cinta anaknya dengan sepenuh hati, maka pertanggungjawaban social dari orang tua akan dilakukan dengan benar, sehingga tidak akan ada lagi anak jalanan yang berkeliaran dipinggir jalan tanpa tahu siapa keluarganya (menurut Departemen Sosial, hingga akhir 2008 jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 109.454 anak; Kompas, 6 Agustus 2009). Tidak ada lagi anak yang kekurangan gizi karena ayahnya lebih memilih membeli rokok untuk menyenangkan hasratnya daripada membelikan susu atau makanan bergizi bagi sang buah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Aku sebagai subyek diganti Pemerintah&lt;br /&gt;Kamu sebagai obyek diganti Rakyat. &lt;br /&gt;Maka akan muncul kalimat “Pemerintah Cinta Rakyat dengan sepenuh hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah cinta rakyat, bisa jadi hanyalah sebuah slogan kosong kampanye. Tapi jika ternyata pemerintah dengan sepenuh hati mencintai rakyatnya, maka semua program pembangunannya pastilah bertujuan mensejahterakan masyarakat. Tidak akan ada pejabat yang korupsi, jika dia bekerja dengan sepenuh hatinya. Hati menjadi landasan untuk menjaga rasa cintanya, agar tetap cinta. Jika memang pemerintah mencintai warganya dengan sepenuh hati, pastinya tidak akan terjadi penelantaran TKI di kolong jembatan Jeddah, Arab Saudi hingga berbulan-bulan lamanya. Dan tidak akan ada lagi Halimah-halimah lain yang harus meninggal di negeri orang, dalam kesengsaraan tanpa pengobatan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita ubah susunan katanya dengan kata yang lain lagi. &lt;br /&gt;Subyek Aku diganti dengan kata “orang kaya”&lt;br /&gt;Obyek Kamu diganti dengan kata “orang miskin”&lt;br /&gt;Akan muncul kalimat, “orang kaya cinta orang miskin dengan sepenuh hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu terjadi, maka tidak akan ada lagi keluarga miskin yang harus menangis malu karena tidak tega melihat anaknya putus sekolah gara-gara belum bayar SPP, atau bayi-bayi minum ASI yang kekurangan gizi karena ibunya hanya makan nasi aking setiap hari, tanpa protein dan vitamin penunjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kaya yang cinta orang miskin dengan sepenuh hati, akan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya bagi orang lain. Dia rela mengorbankan sedikit kesenanganya, demi melihat kebahagiaan obyek yang dicintainya. Ratusan ribu uang untuk biaya nongkrong di kafe, atau bergoyang di diskotik selama beberapa jam bagi orang kaya, mungkin nilainya sama dengan biaya SPP anak miskin selama setahun atau sekedar beli telur berprotein bagi keluarga miskin selama berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cinta dengan sepenuh hati…&lt;br /&gt;Manusia yang cinta kepada Tuhannya dengan sepenuh hati, akan rela meluangkan waktu tidurnya untuk duduk bersimpuh memanjatkan doa dan pujian, berkomunikasi dengan sang khaliq agar tetap dibukakan pintu hidayah dalam menjalani kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teroris yang cinta pada Sang Pencipta dengan sepenuh hati, pastinya tidak akan merusak manusia lain hasil ciptaan sang Khaliq dengan cara yang kejam dan mengerikan. Dia juga tidak akan membunuh dirinya sendiri, sebelum diizinkan oleh Tuhan untuk kembali padanya dalam keadaan khusnul khotimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Israel cinta Palestina dengan sepenuh hati, pasti tidak akan ada bom fosfor yang dijatuhkan guna merenggut nyawa ribuan penduduk sipil di Gaza (mungkin gak yaa???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pelaku kriminal cinta korbannya dengan sepenuh hati, maka tidak akan pernah terjadi pembunuhan sadis dengan bumbu mutilasi.(ada gak pelaku kriminal yang cinta ama korbannya? hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cinta dengan sepenuh hati…&lt;br /&gt;Siapapun subyek dan obyeknya akan membuat manusia ikhlas dan rela berkorban.&lt;br /&gt;Kebahagiaan si subyek adalah dengan melihat obyek yang dicintainya bergembira.&lt;br /&gt;Kebahagiaan si obyek adalah dengan menunjukkan bahwa pengorbanan cinta dari subyek tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cinta dengan sepenuh hati…&lt;br /&gt;Adalah cinta yang tulus tanpa ada pengkhianatan terhadap makna cinta itu sendiri&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan I Love You Full ala Mbah Surip, dibaca oleh orang tua, pemerintah, orang kaya dan beragam subyek lainnya, sebagai I Love You Fool alias Aku Cinta Kamu, Bodoh!!!&lt;br /&gt;Sebuah cinta yang memang dimaksudkan oleh subyek hanya sekedar sebagai lip services, yang memang bertujuan untuk merendahkan, meremehkan dan menipu obyek nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Surip, I Love You Fool eh Full… Ha Ha Ha Ha Ha……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 6 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6889248180860598423?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6889248180860598423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/i-love-you-full.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6889248180860598423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6889248180860598423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/i-love-you-full.html' title='I Love You Full'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4819879135431145667</id><published>2009-08-06T05:42:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T05:43:23.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Ruang Studio</title><content type='html'>Ruang studio awalnya adalah sebuah ruangan yang besar, kosong dan sepi.&lt;br /&gt;Manusialah yang kemudian mengisinya menjadi sebuah ruang dekoratif warna-warni,&lt;br /&gt;aneka cahaya berpendar, beragam aktor menari, dan teknologi tinggi menyelimuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Art Director mencipta keindahan suasana&lt;br /&gt;Lightingman mendramatisasi dengan warna&lt;br /&gt;Audioman memukau dengan suara&lt;br /&gt;Cameraman melukis dengan cahaya&lt;br /&gt;Director mengelola semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti manusia,&lt;br /&gt;ada tangan yang mencoret kertas,&lt;br /&gt;ada telinga yang mendengar getar suara,&lt;br /&gt;ada hidung yang mencium aroma,&lt;br /&gt;ada mata yang memilah warna,&lt;br /&gt;ada mulut yang mengolah kata&lt;br /&gt;ada kaki yang menapak kehidupan&lt;br /&gt;semua diatur oleh sang sutradara yaitu otak&lt;br /&gt;dan hati sebagai asistennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah wujud eksistensi Yang Maha Kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sency, 14 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4819879135431145667?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4819879135431145667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/ruang-studio.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4819879135431145667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4819879135431145667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/ruang-studio.html' title='Ruang Studio'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2637563507871314822</id><published>2009-08-03T20:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T20:57:46.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Teman Yang Menginspirasi</title><content type='html'>Dosenku kuliah Dinamika Kelompok mengatakan “semakin banyak kelompok yang diikuti oleh individu, maka akan semakin berkembang jaringan yang dimilikinya, akan semakin banyak ide dan gagasan yang didapat, dan akan semakin mudah merealisasikan pikiran-pikiran kita menjadi sebuah karya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mencontohkan seorang desainer, yang punya kelompok sosial dengan sesama perancang, akan mudah menemukan trend fashion yang sedang booming. Lalu dengan berkelompok dengan model, akan mudah menemukan bentuk tubuh dan karakter wajah  yang sesuai memerankan rancangannya. Dengan membentuk kelompok bersama para penjahit, akan menemukan jenis kain dan aksesoris yang mudah diaplikasikan dalam karyanya. Dan dengan berkumpul bersama pelanggannya, maka akan tahu pangsa pasar yang menjanjikan bagi bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga menunjukkan publik figur yang sangat dikaguminya, BJ Habibie, sebagai orang yang pandai berinteraksi dengan orang lain dan memiliki banyak kelompok dari berbagai kelas masyarakat. Menurut beliau, Habibie memiliki sekitar 70 kelompok atau organisasi semasa akitif berkegiatan; dari kelompok studi sains sampai kelompok pemikir keagamaan. Dari kelompok tokoh masyarakat daerah sampai kelompok pejabat politikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, boleh juga penjabaran dari teori dinamika kelompok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia yang dikaruniai otak dengan IQ pas-pasan seperti aku, peranan teman memang banyak sekali dalam mempermudah hidup ini. Teman dikantor misalnya, banyak membantu menyelesaikan tugas-tugas yang ribet, mengajari teknologi broadcasting terbaru yang tak mungkin kupelajari secara otodidak, mengajak berdiskusi tentang tema sosial yang berat kupelajari, sampai mendorong agar tetap semangat dengan nongkrong minum kopi, sampai merayu atasan agar menaikkan gaji (bisa gak yaaa??? Hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus, banyak teman yang bisa diminta email contoh tugas yang udah dia kerjakan,  membuat tanda tangan absensi palsu saat malas masuk, sampai memberi contekan saat ujian. Namun banyak juga yang mengajarkan untuk tetap optimis dan jujur dalam belajar (kalo yang ini sindirannya dalam banget hehehe). Banyak romantika dalam berkelompok, namun ada satu nasehat penting dari salah satu teman kampus yang tercatat dalam otakku “belajar adalah mendewasakan cara berpikir”, entah apa maksudnya? Tapi dia sangat yakin dengan prinsip tersebut dan berusaha menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, obrolan-obrolan ringan dengan tetangga satu RT, membentuk komunitas kelompok yang kompak, dari komplain rame-rame satpam tentang keamanan komplek, protes air PAM yang kadang keruh, sampai nitip anak ke tetangga saat kita bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di facebook, ada kelompok online yang saling berbagi comment tentang status dan note yang diupload, terkadang penting isinya, terkadang lucu dan gak nyambung, namun yang terpenting adalah adanya pengakuan berupa perhatian terhadap pesan yang dikirim. Ada kepuasan hati saat membaca comment &amp; like. Berarti ada yang peduli terhadap pesan, walau tidak penting untuk tahu bagaimana dampaknya bagi komunikan. Narsis dot com hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, kelompok adalah sekumpulan individu informil yang berkomunikasi untuk mencapai tujuan yang sama, ada saling ketertarikan dan kebutuhan, tak ada pemimpin baku, dan semua kesepakatan berdasarkan peranan masing masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok tidak dibentuk berdasarkan struktur, dia terbentuk karena ada kebutuhan. Kebutuhan untuk saling berbagi informasi, sharing adu argumentasi tentang suatu tema, atau sekedar mengisi waktu luang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kelompok berasal dari sebuah pertemanan yang jujur, karena tak ada ikatan formal yang membuatnya untuk tetap bertahan. Tak ada keuntungan materi secara langsung, dan memang bukan itu tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak memiliki kelompok secara otomatis akan memperbanyak teman. Jika satu teman saja sudah banyak membantu mempermudah hidup kita, berarti banyak teman akan membuat hidup semakin-semakin mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih teman, jasamu tiada tara.&lt;br /&gt;Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa (guru kaleeee hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 4 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmanyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2637563507871314822?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2637563507871314822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/teman-yang-menginspirasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2637563507871314822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2637563507871314822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/teman-yang-menginspirasi.html' title='Teman Yang Menginspirasi'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6959836159516459190</id><published>2009-08-02T20:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-02T20:49:15.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Koordinasi Gampang Susah...</title><content type='html'>Bola itu dilemparkan dengan terarah oleh sang kiper pada swing back, yang dengan sedikit berlari segera diopernya pada rekan2nya di tengah lapangan, lalu dengan lincah beberapa pemain gelandang saling memainkan bola dari kaki ke kaki dengan umpan-umpan pendek, tak ada tarian meliuk yang menggiring bola sendirian, lalu pada moment yang tepat, sang striker menyambut bola dari pemain dibelakangnya, mengocek bola sendirian, karena merasa tak mampu keluar dari kepungan pemain bertahan lawan, segera ditendangnya bola ke arah pemain gelandang lain yang berdiri bebas didekat gawang, dan goooooolllll…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, koordinasi yang efektif dari kaki-kaki seringkali lebih produktif dibanding kumpulan bintang pada sebuah klub raksasa sepakbola. Memang tak dapat dipungkiri, bahwa kualitas individu juga sangat mempengaruhi hasil suatu output. Namun juga tak dapat diremehkan, bahwa seorang bintang sangat identik dengan egoisme pribadi, terkadang membuat dia merasa sebagai point of view dari semua mata penonton di stadion, ego itu yang membuatnya berusaha mempertontonkan kemampuan tariannya sendirian dan melupakan kerjasama tim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinasi adalah kunci dari semua pemecahan masalah, jika kita tak mampu berpikir sendirian, maka bukalah otak kita untuk menerima ide dan saran dari rekan kerja. Koordinasi adalah sesuatu yang sangat sederhana, cukup dengan meluangkan 1  menit berkirim sms, atau beberapa detik mengingatkan informasi, atau membuang sedikit pulsa dengan cara menelepon, akan menghindarkan dari sebuah kerugian yang besar. Koordinasi yang baik akan merubah modal atau SDM yang rendah nilainya, menjadi sebuah hasil produksi yang berkualitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkan anda merasa kesal karena pekerjaan tim yang harusnya bisa segera diselesaikan tiba-tiba jadi terhambat gara-gara ada satu orang yang “hilang” tanpa alasan dan saat muncul, dia hanya tersenyum kecil tanpa nada penyesalan, lalu berkata “kan minggu kemarin gw udah bilang ada acara keluarga” sambil berharap orang lain memahami urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita menemukan klien yang marah-marah karena deadline yang dijanjikan gagal terpenuhi, karena ada bagian kecil proyek yang lupa dikerjakan oleh salah satu tim kita, dan merusak kredibilitas semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau pada rolling shift kerja, ternyata pada jam pergantian waktu, si karyawan dan si pengganti justru tidak ada dikantor, karena yang satu pulang ontime dan berharap si pengganti datang ontime juga, sedangkan si pengganti yang terlambat berpikir bahwa karyawan shift awal akan menunggu dirinya sebelum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tim kerja, kehilangan 1 orang bisa jadi bukan masalah besar, asalkan diberitahukan sebelumnya, sehingga dicari orang lain yang bisa menggantikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, sebuah bagian proyek yang sederhana, bisa jadi akan mudah dirangkap tugaskan pada kawan se tim, asal diinformasikan sebelumnya, sehingga si kawan tidak terburu-buru dalam mem back up nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam pertukaran shift, 30 menit adalah bukanlah waktu yang lama untuk menunggu, asal yang datang terlambat, menelepon keterlambatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan diatas seringkali terjadi, dan penyebabnya sangat sederhana yaitu “mis-koordinasi”. Yang satu mengharap orang lain memahami dirinya, sehingga dia merasa tidak perlu meng“informasi”kan, dan yang lain berpikir, mana mungkin saya tahu tanpa diberitahu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, koordinasi adalah hal kecil yang berdampak besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap orang lain sudah paham tentang tugas nya, sehingga dirinya lalai untuk mengingatkan kembali, adalah hal yang paling sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu ada satu contoh kecil bagaimana sebuah miskoordinasi merusak kualitas produk. Di sebuah stasiun televisi, suatu tayangan program berita yang sudah berjalan bertahun-tahun tanpa masalah, tiba-tiba muncul dengan gambar presenter yang siluet, alias tanpa cahaya, lalu sang presenter pun terbata-bata membaca naskah berita seolah masih jetleg.. Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah karena ada kru baru sehingga tidak tahu job desk nya? Atau karena ada kesalahan teknis sehingga lighting terlambat menyala? Atau presenternya masih baru sehingga grogi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut, ternyata hal diatas bukanlah penyebabnya. Semua kru yang saat itu bertugas adalah profesional yang menguasai job nya dengan baik. Tak ada kerusakan teknis yang terjadi, dan tak ada human error. Penyebabnya adalah hal yang sangat-sangat sepele; produser lupa mengingatkan program director tentang program yang akan tayang, PD pun lupa mencek ulang rundown sehingga salah perintah pada kru studio, lalu presenter yang sudah standby tidak mendapat informasi jam tayang program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling berharap rekan kerjanya sudah tahu semua informasi, sehingga lupa untuk cek n ricek, dan cenderung malas bertanya, menjadikan koordinasi berantakan. Ya, kekacauan itu disebabkan masalah koordinasi yang tidak berjalan efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sang produser sebelum siaran menginformasikan dan mengingatkan kembali pada PD bahwa jadwal siaran adalah program A dan jam tayang adalah waktu B, terus  PD melanjutkan informasi tersebut ke presenter, cameraman, dan lightingman, maka kekacauan itu tidak akan pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang terjadi adalah produser lupa menginformasikan ke PD, karena mengangap PD sudah memahami rundown, yang ternyata salah dipahaminya.&lt;br /&gt;Lalu PD memperkirakan bahwa programnya adalah A dan ternyata program B, sehingga salah memberi perintah pada tim nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti permasalahan adalah “kemalasan” untuk memberi informasi secara detil dan berulang-ulang, dan “kemalasan” untuk bertanya informasi yang benar, sehingga lebih suka memperkirakan saja. Tidak ada cek n ricek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri masyarakat Indonesia yang memiliki budaya komunikasi konteks tinggi (high context culture) adalah menyepelekan cek n ricek, malas berkomunikasi yang langsung pada inti masalah (to the point), lebih suka menyindir dengan bahasa halus dari pada menegur secara langsung, dan lebih suka memperkirakan daripada bertanya karena takut dianggap bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal-hal diatas adalah alasan mengapa “koordinasi” menjadi hal yang sangat susah dilakukan oleh masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba dengarkan keluhan ini:&lt;br /&gt;“Apa susahnya sih telpon dulu??”&lt;br /&gt;“Dari tadi bilang kek, jadi gw gak salah ngerjain!!”&lt;br /&gt;“Kalau emang tidak bisa masuk bilang dong, jadi bisa dicari penggantinya, jangan diam aja lalu tiba-tiba bilang ada acara keluarga, emang acara tidak direncanakan apa??”.&lt;br /&gt;“Sorry, aku pikir kamu yang liputan di bekasi, ya udah dech, sekarang kamu bergeser dari tangerang ke tkp di bekasi” (padahal jalanan macet total).&lt;br /&gt;“Gila kali yaa, si bos udah dikasih tahu jauh-jauh hari, diam aja. Sekarang giliran waktu mepet gini, baru gw disuruh ngerjain, terpaksa gw tolak. Emang gw superman apa??”.&lt;br /&gt;“Maaf mas, acaranya kan masih minggu depan” kata resepsionis. “lho kok bisa, padahal saya diplotting korlip hari ini mbak??” kata reporter. (wakakakakkkkk…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu juga terjadi pada diri anda???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 28 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6959836159516459190?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6959836159516459190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/koordinasi-gampang-susah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6959836159516459190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6959836159516459190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/koordinasi-gampang-susah.html' title='Koordinasi Gampang Susah...'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6132170822615582156</id><published>2009-08-01T13:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T13:21:54.496-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>What Love Can Do?</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;Seorang sahabat lamaku bercerita tentang kegalauan hatinya, apakah dia harus menjadi seorang pahlawan yang rela melepas kekasih yang amat dicintainya untuk berpaling pada orang lain, atau mempertahankan cinta yang sudah dibangun sekian lama tapi harus melihat seseorang yang sangat dikasihinya tenggelam dalam kesedihan, karena tidak dapat bersatu dengan pujaan hatinya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan sangat dilematis, menyakitkan tapi memunculkan kebahagiaan tersendiri saat melihat kekasih kita dapat bersuka cita dengan cintanya yang tulus, walau bukan dengan diri kita. Tapi tidakkah boleh kita juga bersuka cita bersama cinta pilihan kita dengan menjaga keutuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu siapakah yang harus dianggap benar dalam kasus ini? Kawanku yang sebenarnya masih ingin mempertahankan cinta atau kekasihnya yang berani jujur mengatakan bahwa dirinya sudah tidak cinta lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak tahu siapa yang akan dianggap egois, kawanku yang tetap berusaha memperkuat rangkaian kisah kasih dengan seseorang yang tulus dicintainya, atau sang belahan jiwa yang berharap diberi kebebasan untuk memilih cintanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga sebuah keutuhan cinta adalah sebuah pengorbanan yang suci, dimana pengorbanan kita untuk sang kekasih adalah kebahagiaan itu sendiri. Namun bagaimana jika pengorbanan itu sendiri tidak dihargai sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah kita bisa hidup bahagia, saat melihat sebuah ketidak ikhlasan cinta yang selalu mendampingi, seumur hidup kita???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Beberapa tahun silam, sebuah kesaksian bagaimana manusia meyakinkan dirinya untuk cinta dengan segala doa dan harapan. Sebuah resepsi pernikahan sakral digelar dalam suasana biru nan indah. Sang mempelai wanita sahabatku mencoba tetap berusaha tersenyum dan menampilkan wajah ceria, saat hari yang penuh kebahagiaan itu dirinya bersanding di pelaminan suci, bukan didampingi oleh suami tercinta, tapi sang adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tayangan video digelar disampingnya, untuk menunjukkan pada para tamu undangan; kawan-kawannya, teman-teman suaminya, rekanan orang tuanya dan handai taulan. Sebuah akad nikah syahdu disebuah rumah sakit, yang menyatukan dua cinta di hadapan Tuhan, beberapa saat sebelum sang suami harus menjalani operasi kanker otak. Sebuah pertaruhan medis dimana perbedaan antara sisi manusia dan sisi Tuhan sangat tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dihadapan saudara, sahabat, dan kawan-kawan yang disayanginya, dia tampil tegar sendirian, menunjukkan bagaimana kekuatan cintanya mampu mengalahkan segala ego, dengan setulus hati dengan penuh harapan dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu kawan yang datang, menyalami dan memeluknya dengan menahan titik air menetes, suasana resepsi yang biasanya diisi dengan canda tawa dan humor mesum, berganti dengan haru biru tanpa ada yang sutradara yang men-skenario-kannya. Semua orang menjadi berpikir tentang tulusnya cinta yang dimiliki sahabatku dan bagaimana tegarnya dia, saat menghadapi beban yang berat ini, sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mereka harus memerankan pergulatan cinta, masing-masing sendirian. Sang suami mempertaruhkan jiwanya demi keutuhan cinta abadi, dengan menyerahkan dirinya pada tim medis dan keajaiban Tuhan, sang istri memerankan dirinya dalam wajah keceriaan cinta dalam sebuah resepsi, sendirian, kendati hatinya diliputi kekalutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, cinta adalah sebuah ketulusan dimana kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada pasangan kita, atau pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, cinta….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 29 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6132170822615582156?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6132170822615582156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/what-love-can-do.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6132170822615582156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6132170822615582156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/08/what-love-can-do.html' title='What Love Can Do?'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2731577262048823260</id><published>2009-07-23T09:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-23T09:40:56.331-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Horeka, Effort Telah Kembali…</title><content type='html'>Kawanku ini memang luar biasa, energinya nyaris tak ada habisnya, ide-ide nya tampak  selalu brilian, out put nya juga fantastis, padahal di perusahaan sebelumnya dia hanyalah karyawan biasa-biasa aja, tidak ada yang lebih, walau juga tak kurang. Sangat-sangat standar kalau dibanding karyawan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini dia seolah berubah jadi bintang, entah tukang sulap mana yang bisa mengubahnya menjadi sedemikian hebat. Yang dulu kalau pulang “teng go”, alias jam kerja abis langsung cabut, kini betah tinggal di kantor hingga larut malam. Yang dulu kalo suruh kerja angin-anginan dan harus diawasi, kini menjadi panutan bagi rekan setim nya. Apa yang bisa merubah attitude nya sampai 180 derajat??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia mengakui, bahwa yang bisa membuat motivasi kerjanya sangat tinggi adalah “pengakuan”. Pengakuan  dari atasan bahwa dia sebenarnya mampu dan berpotensi, yang memicu effort kerja pantang menyerah, dan membuatnya bangga untuk selalu menghasilkan karya-karya yang fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana itu kah? Hanya sebuah pengakuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, kebanggan diri muncul tatkala lingkungan sosial nya mengapresiasi dengan benar, tatkala sang atasan bisa mendukungnya saat hampir menyerah, tatkala rekan-rekannya mengisi celah kekurangannya dengan cermat, tatkala bawahan mencintainya dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat mencintai profesi, institusi, dan rekan-rekanku” katanya suatu hari. Dan itulah yang membuatku tidak pernah menghitung waktu saat bekerja, aku bangga bisa menghasilkan karya yang lebih bagus, aku bangga saat atasanku berkata “ini sangat luar biasa”, aku sangat bangga ketika kawan-kawanku bilang “idemu sungguh cemerlang” dan aku menjadi sangat bangga ketika kantor mengapresiasinya dengan bonus yang tak kuduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu per satu alasan yang membuatnya menjadi seperti sekarang, diceritakannya dengan antusias. Ada empat poin penting yaitu atasan, rekan, perusahaan, dan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, atasan, adalah orang tua, manajer, guru, motivator dan marketer bagi anak buahnya. Dia figure yang ngemong, penuh perhatian bahkan untuk hal-hal kecil, peduli, tahu kapan saat harus men-support dan kapan harus membiarkan mandiri. Dia bukan tipe yang suka mengakui ide anak buahnya, sebagai gagasannya. Seorang atasan juga selalu meng upgrade skill dan wawasannya dengan membaca buku sehingga ruang diskusi selalu diisi dengan hal-hal yang baru. Atasan yang bisa menjadi guru terbaik, akan menghasilkan murid yang loyal. Dia juga seorang motivator yang tahu kapan harus mendorong dan kapan harus menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang atasan yang baik tidak harus lebih tua, dia bisa aja berusia muda asal bijak dan berwawasan. Untuk bisa mengelola anak buah, seorang atasan harus mengasah kemampuannya agar selalu satu tingkat lebih tinggi dari bawahan. Dia harus jujur dan fair, tidak otoriter dan tidak omong doang. Atasan juga harus berani menjadi bumper bagi anak buahnya jika ada kesalahan, seorang atasan yang pengecut dan rela mengorbankan anak buahnya demi prestise diri sudah selayaknya digusur dari roda pimpinan. Seorang atasan adalah fasilitator bagi perjalanan karir anak buahnya, dia menjadi marketer promosi anak buahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tidak masuk akal jika ada atasan yang tidak tahu job desk dan tidak memahami teknis kerja bawahannya. (ada gak ya atasan kayak gini?? Hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rekan kerja, adalah tim, sahabat, lawan diskusi dan sekaligus kawan brainstorming. Dia tahu kelemahan dan kekuatan partnernya, sehingga bisa saling mengisi segala kekurangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan kerja yang kompak dan solid akan bisa menginspirasi teman yang lain untuk berusaha lebih keras dalam menghasilkan masterpiece. Ketimpangan dalam tim akan menimbulkan celah dalam karya. Dalam proses pembuatan film misalnya, seorang sutradara yang hebat tidak akan menghasilkan karya hebat jika tidak didukung kru yang hebat. Rekan kerja tidak harus menjadi teman curhat, yang terpenting adalah professional dalam kerja, dan tidak saling menjatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perusahaan, adalah rumah, tempat kursus, dan periuk nasi bagi karyawannya. Menjadi rumah diwaktu kerja dengan fasilitas yang memadai dan nyaman. Menjadi tempat kursus gratis bagi karyawannya yang ingin berkembang, dengan menyediakan trainer dan gudang ilmu yang lengkap. Menjadi periuk nasi yang mencukupi standar karyawan dalam menghidupi keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan haruslah jujur pada karyawan. Jika ada bonus, maka bagilah dengan adil dan bijaksana, jangan membuat laporan palsu dengan mempertinggi target. Tapi jika merugi, sebisa mungkin tidak dengan menunda pembayaran gaji karyawan hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, diri sendiri, adalah yang terpenting. Sebaik apapun atasan, sesolid apapun rekan kerja dan sebesar apapun gaji dari perusahaan, jika memang dasarnya mblendezzz alias pemalas, tetap aja akan tanpa hasil. Diri sendiri adalah kunci keberhasilan. Jangan pernah menggantungkan hidupmu pada orang lain. Tidak ada dalam sejarah, seorang pengemis yang sukses menjadi hartawan. Sekali bermental pengemis, maka selamanya masa depannya akan suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggan diri adalah nilai tertinggi dari harga diri. Dimana kita tidak perlu menjual diri untuk mendapat pengakuan dari orang lain. Berlian tetap akan berkilau kendati tersaput lumpur. Dan tugas kita sebagai manusia adalah mengasah berlian agar tetap bersinar dan membersihkan noda kekurangan dengan air ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri manusia ada otak yang menjadi “penerima sinyal” dari wujud alam semesta, otaklah yang merangkai susunan bintang di langit menjadi sebuah rasi sebagai penanda arah di kegelapan malam. Juga ada hati yang menjadi power bagi otak, yang mensuplai tenaga agar otak tetap bersemangat untuk terus berpikir dan berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, Rasa bangga akan menghasilkan percaya diri, yang mampu menembus segala rintangan, yang membuka tabir kesulitan dengan menemukan ide-ide yang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horeka, effort telah kembali…&lt;br /&gt;Maka datanglah karya-karya nan brilian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 22 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2731577262048823260?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2731577262048823260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/horeka-effort-telah-kembali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2731577262048823260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2731577262048823260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/horeka-effort-telah-kembali.html' title='Horeka, Effort Telah Kembali…'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1462037057081304436</id><published>2009-07-20T23:23:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T23:24:50.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Effort, dimanakah kau berada??</title><content type='html'>Seorang supervisor di sebuah perusahaan swasta mengeluhkan kinerja anak buahnya yang lebih banyak berdiam diri daripada bekerja. Para buruh datang ke kantor, absen, lalu mengerjakan tugas yang diberikan atasan secara tertulis, tanpa inisiatif, tanpa semangat, mungkin hanya 40 persen dari kemampuan sesungguhnya. Jika tidak ada tugas secara langsung, mereka memilih berdiam diri di smoking room, atau sengaja bergerombol ngrumpie, intinya menghindar dari pandangan atasan, karena takut diberi tambahan beban kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemalasan yang tadinya hanya dimiliki oleh sebagian kecil karyawan saja, ternyata bergerak menyebar sangat cepat, satu per satu karyawan terkena virus malas, sehingga hanya menyisakan segelintir orang saja yang masih bersemangat. Namun si karyawan rajin ini pun mulai ragu akan “kerajinan” nya. Disatu sisi dia sering disindir kawannya karena dianggap cari muka dan sok kecentilan, disisi lain dia juga mulai ragu terhadap atasannya dan mulai tidak yakin bahwa “rajin” nya akan diapresiasi dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si supervisor bingung menghadapi tingkah laku anak buahnya yang jumlahnya banyak dan seolah kompak dalam kemalasan, sementara si buruh juga mulai menikmati ke”santai”annya dalam bekerja karena merasa kehilangan spirit. Sang atasan ibarat ibu yang kehilangan anak-anaknya dan jadi frustasi, sedangkan sang anak buah ibarat itik yang kehilangan induknya, kehilangan arah tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah semua buruh itu malas? Kenapa menjadi malas, padahal ditahun-tahun sebelumnya mereka adalah tim yang terkenal tangguh kinerjanya, dan diakui kesolidannya oleh perusahaan lain. Apa yang merubah tim yang sangat tangguh di masa lalu, tiba-tiba berubah menjadi tim loyo dan tanpa gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat secara umum, sebuah tim kerja biasanya terbagi menjadi 3 sifat kelompok, yang prosentase nya berubah-ubah tergantung situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kelompok berdedikasi tinggi, bagi orang-orang ini pekerjaan adalah tantangan yang harus ditaklukkan, kerja menjadi hobi yang selalu menggairahkan. Terhadap kelompok ini atasan tidak perlu berbuat banyak, cukup mengapresiasi kinerja mereka dengan benar dan tidak menjadikannya sebagai politisasi kerja bagi kepentingan diri. Atasan bersikap fair, dan anak buah pun akan bersikap dua kali lebih fair. Karakter kelompok ini biasanya diisi oleh professional yang mumpuni dibidangnya, sehingga akan banyak tawaran “side job” dari perusahaan lain. Jika perusahaan tidak mampu memberi income yang sesuai, sang atasan cukup mengingatkannya agar tetap professional dalam membagi waktu kerja dan side job. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kelompok biasa-biasa aja, biasanya jumlahnya mayoritas dalam sebuah tim, yaitu jenis karyawan yang memiliki kemampuan individu yang standar, kinerjanya sangat tergantung kemampuan atasan dalam mengelolanya. Jika dikelola dengan benar, mereka akan berubah menjadi karyawan yang berdedikasi tinggi, mau belajar meng upgrade skill, tertarik untuk berkembang kearah yang lebih tinggi, dan merasa bangga jika berhasil menyelesaikan tantangan dari atasan. Namun, tipe ini bersifat sangat labil karena jumlahnya banyak, jika mereka merasa tidak dipedulikan, tidak diapresiasi, bisa berubah menjadi karyawan yang malas. Kemampuan atasan dalam berkomunikasi dan memahami karakter tiap individunya sangat penting. Terobosan atasan untuk memfasilitasi proses pengembangan kemampuan diri karyawan sangat dibutuhkan, karena tipe ini cenderung bukan orang yang mampu belajar secara otodidak. Intinya kelompok tipe ini adalah sebuah emas yang belum terasah, sehingga membutuhkan dorongan yang besar untuk menggiringnya maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kelompok pemalas, tipe ini memang sudah dari lahirnya menjadikan kerja hanya sebagai sumber penghasilan. Baginya hanya mengerjakan tugas pokok yang dibebankan, itu sudah cukup. Kelompok ini biasanya berkarakter gampang mengeluh, suka menuntut, tidak mau belajar, susah menerima masukan orang lain dan terkadang sok tahu karena merasa sudah berpengalaman. Tapi kelompok ini sebenarnya cemas dengan dirinya sendiri, terkadang dia gelisah melihat persaingan dalam kelompok dan merasa kalah. Dia juga takut akan menjadi korban jika ada perampingan karyawan perusahaan. Titik takut dan cemas inilah yang sebenarnya bisa memaksa mereka mengatasi kemalasannya. Sedikit ancaman akan bisa merubahnya menjadi karyawan yang berkinerja standar, sehingga seorang atasan harus pandai-pandai memanfaatkan celah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika kelompok pemalas ternyata menjadi mayoritas?? Dalam konteks ini perusahaan harus intropeksi diri, karena secara teori, jumlah mayoritas harusnya diisi karyawan berkinerja standar. Terjadinya pergeseran prosentase, menggambarkan ada situasi yang salah dalam kehidupan sosial kerja. Bagaimana mungkin karyawan yang tadinya berdedikasi tinggi tiba-tiba kehilangan effort kerja, padahal tipe ini biasanya sangat cerdas dalam membaca situasi. Hampir pasti ada yang salah kelola dalam manajemen, yang berakibat pada hilangnya kenyamanan kerja, runtuhnya semangat teamwork, dan rusaknya kebanggaan terhadap institusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya effort (usaha untuk mencapai hasil terbaik) kerja karyawan biasanya disebabkan oleh beberapa hal;&lt;br /&gt;1. Gaji dibawah standar, &lt;br /&gt;dibawah standar bisa diartikan bermacam-macam; memang dibawah harga pasar yang berlaku dibanding perusahaan lain, dianggap tidak sesuai dengan beban kerja yang diberikan, atau dibanding profesi lain yang sejenis terjadi perbedaan yang signifikan.&lt;br /&gt;2. Sistem karir yang tidak jelas,&lt;br /&gt;Promosi karir merupakan hal yang diidam-idamkan karyawan, tapi terkadang sebuah perusahaan merusak sistem itu dengan melakukan promosi berdasarkan kedekatan atau kelompok tanpa ada kriteria yang jelas. Seorang karyawan yang berkali-kali kehilangan masa promosi dikarenakan tiadanya kesempatan tentu akan merasa jenuh.&lt;br /&gt;3. Suasana kerja yang tidak nyaman&lt;br /&gt;Seringkali kita menemukan karyawan yang tetap loyal dan bersemangat kerja kendati tidak mendapat penghasilan yang besar, dan penyebabnya adalah mereka sangat menikmati suasana kerja yang nyaman, kekerabatan yang kuat dan tim yang saling mendukung. Ketika kenyamanan itu hilang, maka hilang pula effort kerja sehingga mereka mulai berpikir tentang kecilnya gaji dan karir yang stagnan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak gambaran bagaimana pergeseran itu terjadi, contohnya dalam sebuah perusahaan yang mapan dan berdiri cukup lama biasanya memiliki sistem yang sudah baku dan disepakati oleh karyawan. Sehingga perubahan yang terjadi hanya pada tataran konsep suatu program atau produk, tidak lagi mengatur bagaimana cara karyawan bekerja. Kenyamanan bekerja bisa langsung hilang, jika perusahaan merubah sistem lama dengan sistem baru secara mendadak tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu, dan akibatnya karyawan kehilangan orientasi kerja. Apalagi jika perubahan itu dilakukan dengan perubahan struktur organisasi, dengan diiringi pergantian jabatan yang massal. Jika hal itu dilakukan melalui penilaian yang benar dan bertahap, mengkin riak yang terjadi akan mudah diantisipasi. Namun jika terjadi politisasi di perusahaan, hampir dipastikan orang-orang yang tergusur akan kecewa dan diam-diam membuat kelompok tandingan. Ini yang sangat berbahaya, disatu sisi perusahaan masih membutuhkan kemampuan mereka dan tidak punya alasan untuk membuangnya, disisi lain para pejabat baru juga kesulitan untuk menjalin komunikasi positif dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaknyamanan kerja yang akan muncul, rasa saling curiga antar karyawan, saling lempar tanggung jawab dan saling menyalahkan. Situasi ini jika dibiarkan terus menerus akan menggerogoti semangat para karyawan yang lelah melihat pertikaian yang terjadi, sehingga mereka menjadi itik yang kehilangan induknya, tanpa perhatian, tanpa apresiasi, tanpa orientasi. Kehilangan orientasi itulah yang merusak effort kerja karyawan, mereka merasa hanya dijadikan pion bagi kesuksesan atasan sehingga memilih menjadi pemalas, toh mereka berpikir, para bos juga tidak melihatnya kok, misalpun melihat besok juga akan lupa lagi karena sibuk dengan urusannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya effort kerja akan mempengaruhi out put yang dihasilkan, kinerja yang rendah akan menghasilkan produk yang rendah pula. Produk asal jadi tanpa kualitas, tentu akan membuat konsumen berpaling menggunakan jasa perusahaan, akibatnya perusahaan tidak mendapat keuntungan dan berpotensi merugi. Jika perusahaan rugi maka akan hilang bonus, kenaikan gaji, hingga efisiensi budget dan karyawan. Efisiensi akan menambah ketidaknyamanan dalam bekerja, sehingga output pun akan semakin rendah, output yang rendah akan membuat perusahaan tambah rugi, demikian seterusnya hingga merusak sistem yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan harus dilakukan, komunikasi, koordinasi dan reorientasi visi misi menjadi hal yang urgent, guna mengembalikan effort kerja yang sempat menghilang. Komunikasi dua arah harus dibangun dalam kesetaraan, yang salah dan merusak harus rela diganti atau dirubah, yang tidak mampu harus dikembalikan sesuai bidang kemampuannya, yang potensial harus diapresiasi kembali, harus ada kesamaan persepsi dalam menentukan langkah kedepan. Jalankan sistem dengan benar sesuai job desk nya, dan pastikan hal itu berjalan sesuai aturan, hilangkan kepentingan pribadi dan pertemanan dalam penilaian kinerja. Yang gagal harus rela mundur untuk diganti dengan yang lebih berpotensi. Hapuskan dendam, pretensi politik, dan hasrat untuk saling menghancurkan. Buka kembali kran keterbukaan dan keikhlasan untuk kembali berjuang. Dan terpenting adalah memenuhi kebutuhan minimal karyawan, sehingga bisa berkonsentrasi pada perusahaan, bukan memikirkan penghasilan tambahan diluar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah itu bisa mengembalikan effort yang hilang?? Entahlah hehehe….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 20 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1462037057081304436?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1462037057081304436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/effort-dimanakah-kau-berada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1462037057081304436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1462037057081304436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/effort-dimanakah-kau-berada.html' title='Effort, dimanakah kau berada??'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6940975097000076317</id><published>2009-07-19T02:07:00.001-07:00</published><updated>2009-07-19T03:54:16.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Bom Ritz Carlton-JW Marriot Dan Pemilihan Presiden (Putaran Kedua)</title><content type='html'>Ledakan bom di dua hotel internasional bintang lima dengan tingat pengamanan terketat di Jakarta, bahkan mungkin di Indonesia, tidak hanya merenggut nyawa 9 korban dan sekitar 50 korban luka. Namun juga bisa merubah tatanan perpolitikan di Indonesia yang baru saja menyelesaikan salah satu tahap pemilihan presiden yaitu pencontrengan pada 8 juli 2009. Rekapitulasi penghitungan suara oleh KPU hampir berakhir dan titik paling menentukan dan pastinya ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia adalah pengumuman pemenang pemilu presiden pada 24-25 Juli 2009 nanti, tinggal menunggu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kandidat pasti berharap-harap cemas, pasangan JK –Wiranto hampir dipastikan kalah dan capres Jusuf Kalla pun secara implisit sudah mengakui kekalahannya dengan memberi ucapan selamat (sementara) kepada pasangan SBY-Boediono, yang berdasarkan penghitungan cepat beberapa lembaga survey memenangi pilpres tahap pertama ini dengan perolehan angka sekitar 60%. Hampir pasti sebagai juara dan runner up pada pilpres tahap satu adalah pasangan SBY-Boediono dan Mega-Prabowo. Yang paling mendebarkan adalah prosentase perolehan angkanya, apakah hasil penghitungan manual KPU nantinya pasangan SBY-Boediono mampu meraih angka diatas 50%. Jika iya, maka peta perpolitikan akan berjalan normal seperti analisis banyak pengamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seandainya informasi yang sempat dirilis media massa beberapa hari terakhir tentang adanya bocoran informasi yang diterima tim advokasi Mega-Prabowo bahwa penghentian proses tabulasi nasional oleh KPU dikarenakan perolehan pasangan SBY-Boediono hanya 47%, Mega-Prabowo 31% dan JK-Wiranto 23% itu benar, maka harus diselenggarakan putaran tahap kedua Pemilihan Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putaran kedua pilpres bisa menjadi mimpi buruk bagi tim sukses SBY-Boediono, setelah adanya bom di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot pada 17 Juli 2009 kemarin. Jika tidak ada bom, tim sukses SBY-Boediono akan mudah untuk menambah sisa 4 persen suara, karena hampir pasti suara pasangan JK-Wiranto yang terpecah, sebagian akan mendukung pasangan incumbment ini. Namun setelah peristiwa bom yang menewaskan beberapa warga asing dan melukai top eksekutif beberapa perusahaan multinasional, maka peta perpolitikan bisa berubah drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya&lt;br /&gt;1. Stabilitas keamanan Indonesia dari aksi terorisme yang selama ini dibanggakan oleh presiden SBY langsung runtuh.&lt;br /&gt;Selama ini rakyat menilai bahwa dalam pelaksanaan tugas pemerintahan, presiden SBY menangani bidang politik dan keamanan, sedangkan wapres Jusuf Kalla menangani bidang ekonomi. Isu terorisme masuk dalam bidang keamanan yang menjadi tanggung jawab presiden. Ada kemungkinan persepsi masyarakat terhadap keberhasilan pemerintahan SBY bisa berbalik arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dukungan perusahaan multinasional terhadap SBY.&lt;br /&gt;Selama ini presiden SBY dianggap terbuka bagi masuknya investasi asing dibanding wapres Jusuf Kalla yang cenderung mengutamakan pengusaha lokal. Negosiasi Blok Cepu menjadi contoh bagaimana pemerintah kalah oleh tekanan asing. Namun ledakan yang menewaskan beberapa top eksekutif perusahaan multinasional yang sedang breakfast meeting, bisa merusak kepercayaan itu.&lt;br /&gt;Beberapa WNA yang tewas adalah Timothy Mackay (presdir PT Holcim Indonesia) dan Garth McEvoy (commercial manager PT Thiess Contractors Indonesia). Juga melukai beberapa top eksekutif dari PT Freeport Indonesia, PT Castle Asia dll. Bukan rahasia umum bahwa dana kampenye terbesar para kandidat berasal dari perusahaan pendukung, bukan partai atau partisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Konferensi Pers SBY tentang bom yang menuai banyak konflik.&lt;br /&gt;Dalam suasana genting dan penuh ketidakpastian soal pelaku pengeboman dan motifnya, seharusnya presiden cukup mengecam dan mengajak rakyat bersatu dalam melawan terorisme. Namun tuduhan secara implisit bahwa ada motif politik untuk mengacaukan hasil pilpres tentunya menyudutkan kandidat lain. Dan yang paling tersentil adalah Prabowo, cawapres dari Megawati. Karena dia adalah bekas militer, yang paling mungkin dianggap menguasai strategi teror.&lt;br /&gt;Jika tim sukses Mega-Prabowo cerdas untuk menyikapi pidato presiden yang cenderung sentimentil dan paranoid itu, bukan tidak mungkin bahwa sosok Prabowo yang tegas dan keras ini malah bisa menjadi figur idola baru masyarakat untuk memberantas aksi terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya benar-benar ada putaran kedua pemilihan presiden 2009, tim sukses SBY-Boediono harus bekerja ekstra keras lagi dan merubah strategi kampanye nya. Dan tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Dan bukan tidak mungkin hasil pilpres putaran kedua akan berbeda dari putaran pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 19 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6940975097000076317?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6940975097000076317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/dampak-bom-ritz-carlton-jw-marriot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6940975097000076317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6940975097000076317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/dampak-bom-ritz-carlton-jw-marriot.html' title='Bom Ritz Carlton-JW Marriot Dan Pemilihan Presiden (Putaran Kedua)'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1108809953385668830</id><published>2009-07-15T09:57:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T09:58:00.036-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Panggilan Hati</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;Usai menempuh jalan panjang berliku menuju puncak karirnya sebagai wartawan, seorang seniorku di kantor mendadak mendalami sebuah dunia yang sangat jauh dari hingar-bingar kerja, menjadi pelukis. Sebuah bakat terpendam yang lama disimpannya, tiba-tiba bergejolak untuk disalurkan. Goresan-goresan ujung kuas diatas kanvas atau kertas seolah menjadi prosesi untuk menggapai kebahagiaannya yang selama ini terlupa. Pigura kayu yang mengikat karyanya menjadi titik puncak ritual batin, walau tanpa nilai materi yang didapat. Kekosongan karir akibat persaingan kerja di dunia kapitalis malah menjadi hikmah untuk menemukan apa yang sebenarnya dicarinya dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat orang lain menjadi gelisah, resah dan frustasi akibat kekalahan dalam persaingan jabatan yang seringkali dilakukan dengan cara kotor dan kejam. Beliau menemukan kedamaian diruang studio kecil rumahnya, disela-sela aktifitas kantor yang longgar.&lt;br /&gt;Tatkala banyak orang merasa terancam, terintimidasi, dan galau atas kehidupannya dimasa depan. Beliau justru bisa mengasah sensitifitas hati, dan pencerahan pikiran lewat imajinasinya dalam merangkai garis-garis sketsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut beliau, semuanya dilakukan karena panggilan hati. “Saat ini aku tidak merasa membutuhkan materi sebagai penghitungan nilai kebahagiaan. Secara nominal aku tidak dapat apa-apa, tapi aku sangat bahagia saat memberikan salah satu karyaku pada orang lain, dan diterima dengan penuh apresiasi dan kekaguman. Aku sangat menikmati saat-saat menyendiri meluapkan ide yang ada di otak, dan membiarkan tanganku bergerak mengikuti irama pikiran. Semua sangat ajaib dan menyenangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya menetapkan diri untuk menikah, seorang kawanku sempat menjalani keresahan dan kegalauan hati, usia pacaran yang cukup lama lebih dari lima tahun, ternyata tidak bisa membuatnya yakin untuk bersegera mengambil keputusan menempuh jalan sunah rasul tersebut. Selalu ada ganjalan hati yang tidak pernah bisa dijawabnya, mengapa dia tidak berani menikah. Padahal usia sudah cukup, segi ekonomi mapan, pengenalan terhadap sang kekasih pun sudah tak ada yang disembunyikan lagi, masing-masing saling mengenal dan menerima kondisi pasangan luar dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa tiba-tiba dia memutuskan untuk menikah, dan dalam waktu yang tidak melalui proses panjang, perhelatan sakral itu pun akhirnya terlaksana. Prosesi pun berjalan lancar, tenang dan mantap. Aura kebahagiaan sangat terpancar dari keduanya, ada kelegaan karena semua rencana berjalan tanpa hambatan, ada kepuasan karena ada akhirnya berani mengambil keputusan yang sangat penting itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan hati, kata temenku, saat kutanya apa yang melandasinya mengambil rencana itu. “Aku orang yang terbiasa menyelaraskan pikiran dengan hati, sehingga yakin atas setiap langkah dalam hidup”. Ketika logikaku berpikir iya, sedangkan hatiku risau atau berkata tidak, maka aku akan menundanya sampai keduanya mengatakan iya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Tidur diatas hamparan karpet masjid tipis, meninggalkan kenikmatan springbed empuk dan kesejukan AC kamar menjadi akitifitas malam seorang kawanku yang lain. Meninggalkan kehangatan dan keceriaan keluarga di rumah, demi menyebarkan ayat demi ayat kitab suci yang diyakini kebenarannya. Berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain, mengembara untuk membagi sedikit ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Mengajak orang lain pada kebaikan dan menyadarkan untuk menjauhi tidak munkar, mengajarkan aturan agama yang benar sesuai keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat malam, dimana orang lain asyik dugem, karaoke, hang out di café atau bercengkrama dengan anak istri nya. Kawanku ini asyik berdzikir, beriktikaf di masjid berkomunikasi dengan Tuhannya. Mengajak diskusi warga sekitar masjid tentang agama, menafsirkan ayat, berguru ilmu dengan ustadz di kelompok pengajiannya, mengasah ilmu agama dan menyebarkannya walau hanya satu ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa mas? Kok tiba-tiba berubah menjadi sangat agamis, bukankah sebelumnya lumayan agak sekuler gitu” tanyaku suatu hari kepadanya. Dan dijawab dengan sederhana, “Panggilan hati mas, tiba-tiba aku ketemu orang yang mengajarkanku untuk berbuat lebih pada masyarakat dengan cara berdakwah sedikit-dikit. Aku pengin seperti Abu Bakar (sahabat nabi, khulafaur rasyidin-red) yang ikhlas berbuat menyebarkan agama tanpa memikirkan materi. Siang hari aku bekerja untuk menghidupi keluarga, malam hari aku menambah amal untuk akhirat nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keberagamannya, dengan segala variasi tindakannya, ketiga kawanku mencoba menyatukan hati dan pikiran untuk mencari titik kebahagiaanya yang nyata. Yang tidak terkotori oleh keserakahan, tidak ternoda olah gemerlap duniawi, terbebas dari intervensi orang lain. Semua mencoba menyelaraskan setiap langkah dalam hidupnya dengan berlandasan pada keikhlasan hati tanpa paksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya lukisan akan tampak hidup dan bernyawa jika digoreskan dengan penuh rasa.&lt;br /&gt;Sebuah pernikahan insya allah akan langgeng dan abadi jika didasari oleh cinta yang tulus, seberat apapun jalan yang akan dilewatinya.&lt;br /&gt;Sebuah dakwah akan terasa ringan dan berkah, jika dijalankan dengan hati yang pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya sebuah karya lukisan akan terasa kosong dan hampa, jika digoreskan untuk tujuan komersial, seindah apapun karya itu.&lt;br /&gt;Pun sebuah pernikahan akan rawan dengan godaan dan perselingkuhan, jika hanya didasari oleh nafsu dan hasrat duniawi saja.&lt;br /&gt;Demikian pula sebuah dakwah akan menjadi berat dan tanpa hasil, jika ditujukan untuk meraih keuntungan pribadi atas nama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan bisa menilai sebuah kebahagiaan dari tolak ukur logika.&lt;br /&gt;Kita pun tidak bisa menghakimi sebuah kebahagiaan dari sudut pandang mayoritas.&lt;br /&gt;Kita juga tidak akan bisa ikut merasakan kebahagiaan orang lain, jika kita sendiri tidak berusaha memahami hatinya.&lt;br /&gt;Dan membuka hati kita sendiri untuk ikhlas menerima kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita menemukan orang yang memaksakan dirinya hanya menggunakan akal pikiran dan menghapus nilai rasa dari hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang hanya berpikir egois demi karir dan jabatan, lalu melakukannya dengan cara-cara yang menghancurkan rekan seprofesi, terkadang justru jatuh oleh sesuatu yang tidak diprediksinya, misalnya sakit atau ketahuan mark up dana kantor dll, sehingga dia harus kembali ketitik awal dimana dia tidak lagi dapat meneruskan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau koruptor yang hanya menggunakan logika cara instan mendapat kekayaan, justru terkadang gagal menikmati hasil jarahannya karena keburu ditangkap KPK, semua materi habis untuk biaya perkara, dan usai keluar penjara harus kehilangan keluarga yang meninggalkannya karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun calon legislative atau politisi yang memaksakan dirinya untuk bersaing merebut kursi wakil rakyat, hanya demi harapan untuk memperbaiki taraf hidupnya, seringkali malah kehilangan segalanya; hilang harta, hilang kepercayaan masyarakat, dan berakhir dengan rasa frustasi karena gagal mendapat jatah kursi yang diimpikannya. Banyak diantaranya yang menjadi stress, gila atau bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terjadi karena manusia menutup pintu hatinya atas kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati adalah insting yang paling sensitive.&lt;br /&gt;Seekor binatang yang tak berakal, bisa merasakan gangguan yang mungkin akan mengganggu kehidupannya, sehingga bersegera menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dengan berkah hati, juga bisa merasakan insting kebenaran, asal diasah dengan baik.&lt;br /&gt;Namun seringkali suara hatinya dikalahkan oleh logika otak, yang justru menyeret pada jurang kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakselarasan pikiran dan hati akan menimbulkan keraguan.&lt;br /&gt;Keraguan yang memuncak akan menimbulkan kegelisahan.&lt;br /&gt;Kegelisahan yang tertimbun dalam akan menimbulkan kecurigaan.&lt;br /&gt;Kecurigaan yang berlebih akan membutuhkan kambing hitam diluar diri.&lt;br /&gt;Otaklah yang mengeksekusinya dengan mencari pembenaran diri dan menyalahkan orang lain tanpa alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kemudian menjadi kehilangan instropeksi atas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang paling bahagia adalah&lt;br /&gt;Orang yang hatinya bersyukur ketika diberi nikmat, sekecil apapun itu&lt;br /&gt;Orang yang hatinya tawakkal ketika diberi cobaan, seberat apapun itu&lt;br /&gt;Dan orang yang hatinya tersenyum ketika melihat orang lain gembira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kebahagiaan ada dimana-mana&lt;br /&gt;Maka gapailah dengan sukacita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 13 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1108809953385668830?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1108809953385668830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/panggilan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1108809953385668830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1108809953385668830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/panggilan-hati.html' title='Panggilan Hati'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-8124957685595857272</id><published>2009-07-09T20:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T20:32:28.779-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Antiklimaks Hasil Debat Capres/Cawapres</title><content type='html'>Usai menyaksikan debat capres dan cawapres beberapa hari lalu sebelum pencontrengan, beberapa teman ngobrol berdiskusi baik secara langsung maupun via facebook, intinya mereka mencoba mencari gambaran dari opini orang lain terkait isi debat, kepiawaian kandidat, hingga program-program yang ditawarkan dalam debat. Sebagian bersepakat kendati debat tersebut masih jauh dari harapan, tapi cukup sebagai pembuka sebuah tradisi baru dalam berdemokrasi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagian kawan juga bersepakat bahwa ada satu sosok kandidat yang cukup kritis dan piawai dalam moment adu argumentasi lima tahunan itu. Sebagian kawan mengaku mencoba bersikap logis dan kritis usai menyaksikan debat, sehingga yang tadinya masih sebagai swing voter berubah menjadi pemilih tetap bagi kandidat yang berslogan lebih cepat lebih baik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun usai pencontrengan, ternyata hasil quick count yang muncul sangat diluar dugaan. Kandidat yang kita anggap paling piawai dalam debat ternyata mendapat hasil yang sangat kecil, jauh dibawah prediksi beberapa lembaga survey sebelumnya, dan jauh dari perkiraan jumlah dukungan partai koalisinya. Ini sangat menarik, karena ternyata debat terbuka seperti itu belum bisa merubah opini masyarakat dalam memilih kandidatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng browsing di internet, saya menemukan tulisan Henry Subiakto, berjudul Kampanye Capres dan Budaya Komunikasi, yang mengatakan bahwa kandidat yang piawai berdebat belum tentu memperoleh simpati publik. Dan ternyata prediksinya terbukti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eforia Obama yang jago pidato dan piawai dalam adu argumentasi, ternyata tidak cukup mampu menyihir masyarakat Indonesia untuk merubah budaya politiknya. Debat capres/cawapres yang cukup heboh dengan moderator yang hebat, ternyata belum bisa merubah pandangan masyarakat terhadap pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Henry Subiakto, budaya konteks tinggi (high context culture) dalam berkomunikasi masih sangat kental di masyarakat Indonesia, dalam budaya ini konteks atau budaya nonverbal diberi makna yang sangat tinggi. Masyarakat budaya ini kurang menghargai ucapan atau bahasa verbal. Komunikator lebih suka berbicara berputar atau istilah gaulnya “ngeles” dan menghindari substansi dalam menyampaikan pandangannya. Penyampai pesan akan memberikan simbol-simbol tertentu yang dianggap lebih santun dan berharap orang lain akan memahami keinginannya, tanpa harus mengucapkan inti permasalahan yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya konteks tinggi mungkin sangat dekat dengan budaya sebagian masyarakat Indonesia, dimana orang lebih menghormati dan bersimpati pada pemimpin yang halus, tidak frontal dalam menyampaikan keinginannya, dan tidak menjatuhkan lawan bicara dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa-bahasa santun seperti “kalau diberi amanat oleh rakyat” sebagai pengganti istilah “saya akan mencalonkan diri”, akan lebih diterima dihati masyarakat. Bahkan senyuman lembut saat menjawab kritikan kandidat lain akan lebih menimbulkan simpati masyarakat, dibanding jawaban yang keras dan menyerang walau sebenarnya logis dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita review jauh-jauh hari sebelumnya, banyak masyarakat yang menyayangkan ketika Sri Sultan Hamengkubuwono X secara terang-terangan mencalonkan diri menjadi calon presiden RI. Masyarakat jawa yang tadinya manut dan nurut pada rajanya, pada kondisi tertentu malah berubah kehilangan simpatinya karena menganggap Sultan sangat ambisius dalam mengejar kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekarang bandingkan dengan situasi debat Capres/Cawapres di Amerika. Hasil survey kandidat dari partai republik langsung menurun tajam, gara-gara calon wakil presiden Sarah Palin gagal menjawab materi debat dengan benar. Sebaliknya, kepiawaian Barack Obama dalam menguasai panggung dialog langsung mengerek perolehan suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi, masyarakat Amerika memiliki budaya konteks rendah (low context culture) dimana bahasa verbal amat dihargai untuk mengungkap ekspresi dan keinginan mereka. Karenanya kemampuan berorasi, pidato, berdebat dan berbicara didepan publik menjadi hal sangat penting dalam meraih dukungan masyarakat. Dalam kampanye presiden, perdebatan lewat televisi merupakan momentum yang sangat menentukan bagi keberhasilan capres/cawapres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kampanye melalui debat di televisi menjadi hal yang unik, dimana seseorang yang menguasai debat, bisa menjawab pertanyaan moderator secara logis, bahkan mampu menyerang dan mengkritisi pernyataan kandidat lain, justru kehilangan simpati masyarakat karena berkesan ingin menjatuhkan dan mempermalukan calon lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan antara budaya masyarakat yang santun dan mudah berbelas kasihan melihat orang yang terdesak atau kalah, dengan sistem kampanye melalui debat televisi yang cenderung saling menjatuhkan dan mengalahkan, mungkin akan menjadi antiklimaks. Karena yang kalah berdebat bisa jadi akan meraih dukungan besar dari masyarakat, sebaliknya si pemenang debat hanya dianggap sebagai orang yang pandai mengumbar janji saja. Kandidat boleh jadi piawai berdebat, tapi rakyat tetap punya pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah, masak sich hanya dapat suara segitu??? hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 9 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-8124957685595857272?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/8124957685595857272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/antiklimaks-hasil-debat-caprescawapres.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8124957685595857272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8124957685595857272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/antiklimaks-hasil-debat-caprescawapres.html' title='Antiklimaks Hasil Debat Capres/Cawapres'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-8706608160195670501</id><published>2009-07-07T09:12:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T09:13:51.371-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Tayangan Kekerasan di TV; Merubah “Anak Normal” Menjadi Agresif</title><content type='html'>Tren tawuran dikalangan mahasiswa dan pelajar, seringkali menjadi wabah sosial yang nyaris tidak pernah habis diberitakan di media massa. Alasan saling berbaku hantam pun terkadang sangat sederhana dan tidak masuk akal; gara-gara rebutan pacar, senggolan dijalan antar pelajar, saling ejek tanpa alasan, hingga musuh bebuyutan antar universitas, atau bahkan antar fakultas di Universitas yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dampaknya sangat luar biasa, beberapa pelajar atau mahasiswa tewas akibat terkena lemparan batu atau tikaman senjata tajam, beberapa sekolah atau kampus rusak akibat amukan massa atau bahkan ada yang terbakar akibat bom molotov. Motif kecil tapi berdampak sangat besar, tentunya merupakan wacana sosial yang harus mulai dipelajari dan dicari solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar masalah pun sangat kompleks, beragam kondisi sosial dituduh sebagai penyebabnya; ada yang menyalahkan kelompok tertentu yang dianggap sebagai provokator, ada yang menunjuk alasan kondisi keluarga pelaku yang berantakan, atau mencuplik teori bahwa kekerasan adalah hal yang wajar terjadi dalam kondisi masyarakat dengan ekonomi yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mungkinkah seorang pelajar atau mahasiswa yang notabene berasal dari keluarga harmonis, secara ekonomi mapan, bahkan secara intelektual pun sebenarnya cukup meyakinkan, bisa terlibat dalam tindakan anarkis???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar atau mahasiswa termasuk dalam kategori anak normal, dalam artian secara umum punya visi untuk berkembang dan maju, punya latar pendidikan yang cukup bagus, dan secara normative tidak mengalami gangguan sosial yang tinggi. Ada satu penelitian menarik dari Robert Liebert (1972), yang menyimpulkan bahwa tayangan kekerasan di televisi mungkin membantu menyebabkan perilaku agresif dari banyak “anak normal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah riset di Amerika, menganalis bahwa banyaknya tayangan kekerasan di televisi membuat seorang anak pada usia menjelang 12 tahun, rata-rata anak telah akan menyaksikan 101.000 episode kekerasan di televisi, termasuk 13.400 kematian (standfield, 1973). Riset seperti ini (mungkin) belum pernah dilakukan di Indonesia, tapi jika menghitung banyaknya program yang bernuansa kekerasan di TV nasional, bukan tidak mungkin bahwa angka yang cenderung sama, mungkin saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kekerasan pada remaja di Indonesia, entah itu tawuran, bullying, atau pemerasan antar teman, rawan terjadi pada tingkat pelajar SMP ke atas. Banyaknya memori kekerasan yang tersimpan di otak, membuat para remaja ini bersifat sangat permisif terhadap kekerasan yang terjadi di lingkungannya. Bahkan terkadang sangat agresif, sebagai contoh, banyak diberitakan di media massa, seorang pelajar SMP yang menusuk rekannya sendiri sampai tewas, gara2 menginginkan HP korban. Ini tentu sangat ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan Kejahatan Tanpa Hukuman&lt;br /&gt;Pernahkah anda menghitung, lebih banyak mana tayangan berita peristiwa kekerasan dibanding tayangan berita tentang hukuman yang diterima pelaku?? Pastinya tayangan berita peristiwa sebuah kekerasan jauh lebih banyak. Bagi televisi yang mengandalkan “gambar” untuk menarik pemirsanya, sebuah adegan peristiwa akan jauh menarik dibanding sidang pengadilan untuk sebuah kasus. Demikian pula jika kita menonton sebuah film atau sinetron, pernahkah melihat alur cerita tentang kehidupan antagonis di penjara sebagai balasan atas tindak kejahatannya. Tentunya sangat jarang. Sebuah kisah fiktif konflik, biasanya diakhiri dengan “ending cerita” yang singkat, tanpa pernah menggambarkan secara detil hukuman si antagonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh paling sederhana adalah kartun Tom &amp; Jerry yang penuh dengan adegan jahil dengan bumbu kekerasan tanpa rasa berdosa, dimana kedua tokoh kartun sering saling beradu strategi untuk bisa menyakiti lawannya, ternyata bisa menginspirasi anak untuk bertindak permisif terhadap kekerasan oleh dirinya. Kartun tersebut seolah mengajarkan bahwa si tokoh boleh berbuat jahat, toh lawannya akan hidup kembali dan tidak ada hukuman bagi tindak kekerasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riset terhadap tayangan kekerasan di televisi, menemukan fakta bahwa sangat sedikit tayangan kekerasan yang menunjukkan konsekuensi kekerasan jangka panjang, bahwa sebagian besar adegan kekerasan menunjukkan kekerasan itu tidak dihukum, dan bahwa sebagian interaksi kekerasan tidak menunjukkan kepedihan atau konsekuensi kekerasan negatif jangka panjang (National Television Study, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang peristiwa tawuran antara mahasiswa YAI dan UKI di Salemba, Jakarta hingga mengakibatkan kebakaran beberapa bagian kampus akibat bom molotov, membuat beberapa mahasiswa yang dianggap sebagai pelaku kejahatan ditangkap polisi, tapi pemberitaan mengenai kelanjutan hukuman bagi para pelaku, nyaris tidak terekspose lagi. Sebagian tergeser isu-isu baru yang lebih ramai, sebagian media mungkin menganggap bahwa hal itu sudah tidak menarik lagi. Akibatnya masyarakat menganggap bahwa para pelaku kekerasan ini (mungkin) tidak mendapat hukuman atas kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara mengurangi dampak tersebut, peneliti National Television Study menyarankan agar produser lebih kreatif dalam menunjukkan lebih banyak tindak kekerasan yang dihukum, lebih banyak konsekuensi negatif dari tindak kekerasan dan lebih banyak alternatif pada penggunaan kekerasan dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Hipotesis&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr menyatakan bahwa ada beberapa hipotesis sehubungan dengan kemungkinan dampak tayangan kekerasan di televisi pada perilaku manusia. &lt;br /&gt;Hipotesis katarsis, menyatakan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan di televisi menyebabkan pengurangan dorongan agresif melalui ekspresi perilaku permusuhan yang dialami orang lain.&lt;br /&gt;Hipotesis rangsangan, memprediksikan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan menyebabkan peningkatan dalam perilaku agresif yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Hipotesis menirukan atau mencontoh, menyatakan bahwa orang mempelajari perilaku agresif dari televisi dan kemudian mereproduksi perilaku itu.&lt;br /&gt;Hipotesis kehilangan kendali diri, menyatakan bahwa televisi menurunkan rasa segan orang untuk berperilaku agresif terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hipotesis diatas benar, maka tayangan kekerasan di televisi mungkin mengajarkan norma umum bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka: &lt;br /&gt;Teori Komunikasi ; Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa&lt;br /&gt;Oleh Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Terpaksa bikin tulisan, gara-gara “geram” liat Treeva tiap hari nonton kartun kesayangannya “Tom &amp; Jerry” di TV dan DVD koleksinya, tanpa bisa diganggu gugat) &lt;br /&gt;Dampak positifnya adalah jadi kreatif (njahilin orang) hehehe…&lt;br /&gt;Dampak negatifnya adalah jadi super anarkis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 7 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-8706608160195670501?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/8706608160195670501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/tayangan-kekerasan-di-tv-merubah-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8706608160195670501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8706608160195670501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/07/tayangan-kekerasan-di-tv-merubah-anak.html' title='Tayangan Kekerasan di TV; Merubah “Anak Normal” Menjadi Agresif'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1280359111930948612</id><published>2009-06-25T10:32:00.001-07:00</published><updated>2009-06-25T10:32:31.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Yang Dinilai Cuma Niatnya Kok</title><content type='html'>Hiruk pikuk debat cawapres di sebuah stasiun tv swasta masih berlangsung&lt;br /&gt;Namun kami bertiga; saya dan dua kawanku malah asyik ngobrol tentang sebuah tema yang sangat sederhana dan jauh dari hingar bingar dunia politik&lt;br /&gt;Ya, kalo diuraikan dengan kata-kata sangat singkat karena hanya terdiri dari 4 huruf&lt;br /&gt;Yaitu NIAT…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah diskusi yang awalnya ringan dan tak berbobot, lambat laun iramanya semakin berat dan berisi. Butuh kesabaran untuk berusaha memahami kata demi kata, agar tidak salah menafsirkan maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari gossip tentang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga-red) yang dialami oleh Manohara dan Cici Paramida, kita mencoba mencari akar permasalahannya yaitu menikah; Kenapa seseorang harus menikah? Apa tujuan menikah? Bagaimana sih awal mulanya kedua wanita itu menikah, kok bisa dalam waktu singkat bertengkar hebat tak terkendali? Kalo belum kenal secara mendalam kenapa harus menikah? Kalo berani menikah kenapa tidak ada kompromi dan saling egois? Dan apa sebenarnya NIAT kedua artis cantik itu beserta suaminya untuk menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beragam pertanyaan diatas, inti permasalahannya adalah niat. Karena niatlah awal mula sebuah “tindakan yang direncanakan” terjadi. Dan menurut kami, menikah masuk dalam kategori tersebut, karena tidak mungkin seseorang menikah karena tidak sengaja, atau tidak dipikirkan sebelumnya. Walau mungkin ada faktor eksternal yang dominan mempengaruhi dan memaksa seseorang untuk menikah, tapi tetaplah si penentu keputusan adalah yang menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kami betiga komposisinya; 2 menikah dan 1 belum menikah. Secara bergilir kami berbagi cerita tentang niat menikah. Kami yang sudah menikah bersepakat bahwa niat sebuah pernikahan adalah untuk menjalankan perintah agama, membangun keluarga sakinah dengan pasangan yang kita cintai dan meneruskan keturunan biologis. Sangat sederhana dan gak kreatif hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku yang belum menikah memberi pertanyaan penting; &lt;br /&gt;Kalo seseorang tidak beragama berarti bebas untuk tidak menikah dong? &lt;br /&gt;Ok, kita berdua sepakat untuk melepas pembahasan soal agama disini, karena menjadi tidak universal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kebahagiaan hanya bisa diraih dengan menikah? &lt;br /&gt;Jawabnya tentu tidak, karena banyak orang yang tidak atau belum menikah dan mereka sangat bahagia. Kebahagiaan adalah relatif, karena tergantung bagaimana seseorang itu memaknainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pentingnya anak biologis? &lt;br /&gt;Toh banyak juga orang yang tidak bisa punya anak, dan tetap mencintai anak adopsinya. Bukankah lebih baik merawat anak manusia lain yang sudah terlanjur lahir tapi ditelantarkan orang tuanya, daripada menambah jumlah penduduk bumi dengan anak kandung, sementara masih banyak anak-anak lain yang sengsara dan butuh bantuan kita.&lt;br /&gt;Anak biologis adalah ego tertinggi manusia untuk meneruskan “keakuan” dimasa depan setelah manusia meninggal. Juga sebuah wujud atas ketidakpercayaan manusia terhadap orang lain yang bukan “bagian dari dirinya” untuk merawatnya diusia tua. Ya, hampir setiap orang tua (dalam hati kecilnya) tentu berharap agar kelak anaknya akan gantian merawat dirinya jika sakit pada usia lanjut. Tapi apakah anak kandung pasti lebih tidak “durhaka” dibanding anak adopsi, jawabnya tentu tidak pasti kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, kami berdua langsung terdiam dan membenarkan pertanyaan dan argumen kawanku itu. Sekarang gantian kita yang sudah menikah melempar pertanyaan. &lt;br /&gt;Kenapa anda yang secara fisik lumayan, secara intelektual diakui, secara tingkah laku sopan dan dicintai banyak lawan jenis, memilih tidak menikah, padahal secara usia sudah sangat lebih dari cukup? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawabnya sangat sederhana “karena hatiku belum berniat untuk menikah, aku mencoba mengikuti kata hatiku dalam menjalani hidup ini”, tapi argumentasinya sangat mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat ikhlas adalah segalanya, manusia tidak akan bahagia kalo tidak ikhlas, jika kita bersedekah lalu berharap agar ada balasan, maka kita akan kecewa. Balasan itu bisa dari orang yang kita beri dengan harapan akan ganti memberi dengan kebaikan lain, atau memamerkannya seperti capres/cawapres agar diliput media. Karena jika ternyata media malah mengkritik akting tersebut, maka hanya kekecewaan yang didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran pada hati harus diutamakan, karena akan mengantarkan pada insting kebenaran. Sebagai ilustrasi, Cici Paramida dalam sebuah wawancara mengaku, bahwa sebelum menikah sempat curiga atas kejujuran calon suaminya, terkait status duda nya, tapi karena sudah terlanjur merancang resepsi, maka pernikahan tersebut tetap dilaksanakan. Disini berarti ada “faktor eksternal”yang memaksa Cici tidak mengikuti kata hatinya. &lt;br /&gt;Demikian pula Suhaebi suaminya, dengan tidak jujur pada hatinya dan berbohong tentang statusnya, maka niat sebuah pernikahan menjadi tidak baik lagi. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bahagia bisa terjadi jika dilandasi oleh kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kesenangan diri harus berdasarkan pada kesepakatan tanpa ada paksaan. &lt;br /&gt;Ini sangat susah karena tentunya dalam kehidupan sosial kita akan berbenturan dengan berbagai kepentingan orang lain. Dalam sebuah pernikahan misalnya, sang suami pasti berharap akan mendapat pelayanan terbaik dari istrinya demi memenuhi beragam hasratnya, demikian pula sang istri pasti berharap akan dikasihi untuk memenuhi berbagai keinginannya. Selalu ada kompromi didalamnya, ada take and give. Tapi mungkinkah itu terjadi? Karena pasti dalam suatu waktu ada benturan kepentingan didalamnya, ada pemaksaan untuk memperoleh kesenangan dari salah satu pasangan, yang membuat yang lain kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kawanku, kebahagiaan tertinggi adalah pada kondisi “cinta tanpa ikatan”.&lt;br /&gt;Kita merawat anak, karena kita mencintainya. Bukan karena itu anak kandung atau anak adopsi, juga bukan dengan mengharap balasan perawatan dimasa depan.&lt;br /&gt;Kita mencintai pasangan, karena kita tulus menyayanginya. Bukan dengan mengharap balasan kenikmatan darinya.&lt;br /&gt;Kita memberi dan bersedekah dengan tulus ikhlas, tanpa peduli uang itu akan dipergunakan untuk apa. Bukan dengan mengharap balasan rejeki yang lebih banyak dari dari sedekah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanku, dengan filosofi hati nya juga mengajarkanku pada pemahaman berbagai agama.&lt;br /&gt;Islam mengajarkan bahwa sebuah tindakan dinilai dari niatnya. Maka berniatlah dengan ikhlas dan setulus-tulusnya, hindari riya’ dan sombong diri.&lt;br /&gt;Budha mengajarkan dharma, bahwa rasa duka muncul karena adanya keinginan yang tak tercapai. Maka bersihkanlah hati dari keinginan-keinginan itu agar tidak mengecewakanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kendati belum mempelajarinya, saya percaya bahwa ajaran kristen, yahudi, hindu, dan beragam agama lain didunia juga mengajarkan hal yang sama. Juga manusia, baik yang sudah memastikan dirinya menjadi atheis atau masih melakukan pencarian diri untuk memeluk suatu agama, pasti merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita semua punya hati yang ingin berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 25 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1280359111930948612?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1280359111930948612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/yang-dinilai-cuma-niatnya-kok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1280359111930948612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1280359111930948612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/yang-dinilai-cuma-niatnya-kok.html' title='Yang Dinilai Cuma Niatnya Kok'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6149915451542196234</id><published>2009-06-23T19:42:00.000-07:00</published><updated>2009-06-23T19:43:11.319-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Bukan Metamorfosis</title><content type='html'>Bukan kawan,&lt;br /&gt;Aku tidak sedang berubah diri menjadi sesuatu yang baru&lt;br /&gt;Aku hanya mencoba menggores kaca dengan kata-kata&lt;br /&gt;Aku hanya berusaha mengungkap rasa lewat tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang berduka, aku akan bercerita tentang kesedihan&lt;br /&gt;Saat sedang gembira, aku akan menggambar tentang keindahan&lt;br /&gt;Saat sedang tertawa, aku akan mengarang tentang kesederhanaan&lt;br /&gt;Saat sedang bahagia, aku akan menulis tentang ketuhanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kawan,&lt;br /&gt;Aku juga tidak sedang menyamar bagai bunglon&lt;br /&gt;Yang bersembunyi dibalik untaian bunga-bunga kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kawan,&lt;br /&gt;Aku adalah temanmu&lt;br /&gt;Yang masih mengharap persahabatan tulus darimu&lt;br /&gt;Yang masih mendamba teguran dan nasehat darimu&lt;br /&gt;Yang masih mengenang segala kebaikanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kawan,&lt;br /&gt;Dekaplah erat aku dalam bayang-bayang kasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 24 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6149915451542196234?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6149915451542196234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/bukan-metamorfosis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6149915451542196234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6149915451542196234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/bukan-metamorfosis.html' title='Bukan Metamorfosis'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-8555054853273361141</id><published>2009-06-18T11:26:00.001-07:00</published><updated>2009-06-18T11:26:43.313-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Balada Rumput Yang Ingin Menjadi Pohon</title><content type='html'>Dalam teori biologi tumbuh2an, salahsatu jenis tanaman yang bisa hidup diberbagai belahan bumi adalah rumput; ada rumput jepang, rumput gajah mini, rumput golf, rumput liar, hingga rumput laut (kalo yang ini beda jenis yaa)… Manfaat rumput pun multifungsi; untuk menghias taman, melapisi lapangan bola, menghijaukan padang golf, hingga mengisi tanah kosong dengan menjadi rumput liar, pokoknya serba bisa dech.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking hebatnya rumput, sampai-sampai manusia menjadikannya menjadi sebuah filosofi hidup yaitu filosofi rumput. Pandangan ini menggambarkan tentang karakter manusia yang bisa hidup dimana saja, melakukan apa saja, diberbagai situasi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perusahaan, filosofi ini biasa dipakai manajemen untuk mencari karyawan-karyawan teladan yang loyal dan bisa menjalankan beragam peran bagi perusahaan. Sosok yang multiperan; bisa sebagai operator, teknisi, manajer yang tentunya hanya digaji dengan satu peran hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang karyawan berkarakter rumput adalah idaman atasannya; serba bisa, serba terampil, dan serba-serba lainnya. Tapi rumput tidak pernah bisa tinggi, karena tidak punya akar yang kuat. Dia sering menjadi bumper perusahaan untuk memenuhi kepentingannya, tanpa punya bargaining yang kuat, karena bersifat massal dan tidak terspesialisasi talentanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, rumput tetaplah rumput. Yang hanya dihargai per meter persegi sebagai harga jualnya. Betapapun indahnya rumput, tetap dihargai kolektif, bukan sebagai individu seperti halnya kita menghargai tanaman hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman hias adalah tanaman yang “terlihat” berkarakter. Dia dibeli karena disukai. Semakin indah penampilannya, maka akan semakin mahal harganya. Bahkan terkadang seorang pencinta tanaman akan rela membayar lebih diatas harga normal, demi memiliki tanaman hias yang diinginkannya. Tanaman hias sering ditempatkan di pot yang indah, sehingga semakin mempercantik karakter nya. Dia pun bisa dibelai-belai, dirawat dengan penuh kasih sayang dan ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman hias adalah karakter karyawan yang pandai dalam membungkus dirinya agar selalu tampak indah dimata atasan dan perusahaan. Dia pandai melobi dan bertindak manis, dengan attitude yang terkadang dibuat-buat. Dia pandai menutupi kelemahan kemampuan dengan bersikap kooperatif dan berakting lembut. Karakter ini pandai menempatkan dirinya dalam berbagai situasi, sehingga mampu memikat atasan. Dia tidak pernah menguasai sesuatu kemampuan secara mendalam, karena lebih menyukai penampilan kulit aja, yang penting cukup memenuhi kebutuhan standar perusahaan, tidak berlebih, hanya cukup saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekali lagi, tanaman hias tetaplah tanaman, yang dihargai mahal ketika disukai dan akan tergusur atau dibuang ketika si pemilik tanaman merasa bosan atau menemukan tanaman baru yang lebih indah. Dia yang dipuja-puja saat masa jaya, bisa tiba-tiba menjadi barang tak berharga, seperti cerita tentang tanaman anthurium, yang sempat dihargai puluhan juta per potnya, sekarang hanya dihargai puluhan sampai ratusan ribu, sangat tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena sifatnya yang tidak abadi, manusia tidak pernah menerapkannya sebagai sebuah filosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi tanaman lain yang berkarakter, yaitu pohon. Jenis ini akan dihargai seiring bertambahnya usia dan manfaat. Pohon yang masih bibit dihargai sangat murah, tapi kalo sudah besar akan semakin mahal. Variasinya pun beragam; ada pohon mangga yang dimanfaatkan buahnya, pohon beringin untuk keteduhan, atau pohon palem untuk keindahan. Kekuatan pohon adalah pada akarnya yang kuat dan daunnya yang rindang, pohon pun semakin lama akan semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter ini adalah tipe karyawan yang mampu menggali potensi dirinya secara mendalam sesuai spesialisasinya. Dia tidak peduli dibayar murah ketika masih baru, tapi dia mencoba terus belajar menggali potensinya dengan akarnya yang semakin lama semakin kokoh. Dengan kerja keras sang akar, maka lambat laun batang, buah dan daunnya pun semakin berkembang, tatkala sang majikan mulai menikmati manfaat pohon, maka harga nya pun akan semakin mahal. Perusahaan akan semakin sayang untuk menebang atau membuangnya. Walau terkadang, pemilik pohon pun terpaksa harus “memotong dan menyiangi” kerindangan daunnya agar tidak menutupi rumput dan tanaman hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pohon punya kelemahan yaitu butuh waktu lama untuk dinikmati. Dia tak terbiasa bermanis muka untuk menunjukkan kemampuannya didepan atasan. Dia memilih berdiam diri, sambil terus memompa kemampuan dengan memperkokoh akarnya dulu, sehingga tidak mudah goyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekokohannya yang menjulang tinggi, pohon mampu menaklukan manusia untuk menjadikannya sebagai sebuah filosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga karakter tanaman diatas selalu ada disekeliling kita, ada yang ikhlas manjadi rumput terus karena kehilangan visi dan rasa percaya diri, sehingga atasannya pun menganggapnya sebagai pekerja kolektif, yang tidak perlu dihargai berlebih karena akan membuat iri sesama rumput. Kalo ada satu rumput terlalu tinggi maka akan tampak berantakan, sehingga harus dipotong atau dicabut. Dan karena jumlahnya yang massal, maka sebuah rumput tak pernah bisa melawan sendiri. Pokoknya tidak boleh ada yang menonjol, harus sama rata dan sama rasa. Kayak faham sosialis aja yaa hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang berkarakter tanaman hias, selalu bergerak untuk mempercantik diri, baginya isi nomor dua belas, yang penting penampilan didepan bos harus meyakinkan. Karakter ini terkadang dibenci teman2nya karena agak-agak carmuk gitu hehehe… Apalagi kalo ada rumput yang bergaya tanaman hias, pasti rumput lain akan mengisolasikannya tuch hahaha… Dan karena sifatnya yang sesuai selera, maka ketika terjadi pergantian posisi bos, dia bisa terbuang jauh. Lha wong bos barunya penggemar Adenium kok, bukan penggemar Anthurium hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo karakter pohon biasanya jumlahnya tidak banyak, karena kalo udah menjadi pohon yang rindang dan kokoh, tapi masih dihargai seperti rumput, dia akan memilih hengkang dari perusahaan, dia sangat yakin pasti akan ada yang membajaknya dengan harga tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai karyawan, terkadang kita merasa gerah dan putus asa karena menganggap perusahaan hanya menganggapnya sebagai rumput terus, tanpa memberikan kesempatan untuk menjadi pohon, padahal kita sudah berusaha mengoptimalkan kinerja. Segala tuntutan perusahaan untuk menggali potensi diri dan meng upgrade skill ternyata tidak dihargai sama sekali. Kita merasa sudah serba bisa dan multitalenta, tapi ternyata itu belum cukup untuk mendapat penghargaan lebih. Bagi perusahaan, rumput tetaplah rumput yang akan mudah mencari penggantinya jika resign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi karyawan rumput, untuk membuktikan diri bahwa dia sudah berubah menjadi pohon. Pohon yang sebenar-benarnya, yang rindang dan cerdas. Kalo merasa yakin sudah menjadi pohon, maka bergegaslah mencari peluang di taman lain yang butuh manfaat pohon. Karena mungkin taman yang lama, sudah terisi penuh dengan pohon dan tanaman hias, sehingga tiada ruang lagi untuk tumbuh berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini sering terjadi dalam komunikasi sosial di perusahaan. Si karyawan merasa sudah cukup sukses menjadi rumput dan kini tergerak untuk meningkatkan statusnya menjadi pohon dengan cara meningkatkan skill. Namun ternyata perusahaan, atas nama efisiensi berpura-pura tidak melihatnya sebagai pohon yang beranjak tinggi, mereka masih berpikir bahwa si karyawan masihlah seorang rumput, sehingga tidak perlu diberi kesempatan unjuk gigi dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang terputus antara hasrat karyawan untuk merubah diri dari rumput menjadi pohon, dengan atasan yang tidak mengakomodirnya, bisa menjadi kerugian yang besar bagi keduanya. Karena akan merubah rumput yang indah dan tertata rapi itu menjadi rumput liar yang merusak dan memberontak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap arogansi perusahaan yang meremehkan karyawan bisa berakibat fatal, karena rumput-rumput yang hijau dan pohon-pohon rindang lebih memilih mencari taman lain yang lebih manusiawi. Sehingga yang tersisa tinggal rumput liar dan tanaman hias yang mulai layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mending jadi rumput yang santai, atau tanaman hias yang penuh akting, atau pohon yang idealis yaaa??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 18 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-8555054853273361141?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/8555054853273361141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/balada-rumput-yang-ingin-menjadi-pohon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8555054853273361141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8555054853273361141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/balada-rumput-yang-ingin-menjadi-pohon.html' title='Balada Rumput Yang Ingin Menjadi Pohon'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1943142933242529109</id><published>2009-06-16T04:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-16T04:24:11.001-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Terkadang Tuhan Membuka Pintu Hidayah Dengan Cara Sederhana</title><content type='html'>Seminggu terakhir ini mungkin hari yang menggelisahkan buat treeva, malaikat kecilku. Hanya gara-gara dia membaca majalah National Geographic ku yang ada foto mummy menyeramkan, dia langsung shock dan merasa ketakutan sepanjang hari, siang dan malam. Bahkan sampai badannya hangat hingga 3 hari lamanya, dan dimanapun dia berada dirumah harus ada orang didekatnya. Pokoknya harus tampak orang dimatanya. Ini sama sekali bukan kebiasaannya yang cuek dan ngeyelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam cara dicoba untuk “menghilangkan” phobia nya, dari pura-pura membuang majalah NG, melarangnya nonton sinetron horror, sampai memarahinya karena cengeng dan penakut (bapak yang galak yaa hehehe).. Tapi tetap aja susah merubahnya, dia tetap cengeng dan takut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari mamanya bercerita kalo hantu itu takut sama suara orang ngaji, tanpa diduga tiba-tiba treeva minta agar diajarin lagi belajar iqro’, sesuatu yang dalam 1 tahun terakhir malas dipelajarinya. Padahal sesuatu yang paling susah dilakukan adalah “merayunya” untuk belajar iqro’. Kalo disuruh, pasti ngeles dan mlinthir. trus kalo dimarahin, malah ngeyel dan marah. Pokoknya ribet dech hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut lumayan berkurang, walau masih tampak gelisah diwajahnya. Trus dalam obrolan ringan dikamar, treeva tetap curhat, kalau dia masih merasa takut hantu. Lalu mama nya iseng-iseng bilang, itu gara-gara treeva gak mau sholat lima waktu, padahal usianya udah lebih 6 tahun. Kan dalam agama, anak yang berumur 7 tahun udah wajib sholat. Dan entah kenapa, dalam 2 hari terakhir dia mulai ikut rajin sholat, tanpa disuruh dan tanpa dipaksa. Walau masih sebatas jadi makmum, sholatnya pun tanpa berdoa karena belum hapal dan tanpa wudhu karena malas basah...  Tapi lumayanlah, yang penting membiasakan diri dulu lah hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung berpikir, ternyata untuk membuka sebuah jalan kebaikan, Gusti Allah menunjukkannya dengan cara yang sangat sederhana dan tak teduga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung teringat, bagaimana jalannya tiba-tiba saya bisa terjerumus bekerja didunia broadcasting. Sesuatu yang sejak SMA tidak ada gambaran sama sekali tentang bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari kegagalan UMPTN setelah lulus SMA, saat itu pilihan saya adalah 1. Psikologi UNPAD 2.Psikologi UGM 3. Sosiologi UNSOED, saya emang suka ilmu-ilmu social, mengingat adanya keterbatasan otak dalam bidang eksaks. Dan tak ada satupun yang lulus hiks hiks…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu iseng2 bersama teman2 SMA kita ngluyur ke yogya, sekedar mencari informasi sekolah yang sesuai (kantong dan otak hehehe). Dan tujuan bus termudah yang dilalui di yogya dari terminal adalah kampus UGM. Karena hanya kampus itu yang kita tahu letaknya. So, berkeliling kita disana, dari boulevard, jalan ke fak. Sastra trus lanjut ke Fisipol. Di fakultas terakhir ini ada iklan pengumumam tentang pembukaan jurusan baru yaitu D3 Komunikasi; Public Relations, Broadcasting, Advertising. Yang kita sendiri gak faham mata kuliahnya akan gimana hehehe… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng berhadiah kita langsung ndaftar, jurusan pun dipilih tanpa dipikir dulu. Pokoknya setahuku, kalo PR yang kuliah kebanyakan cewek, wah bisa2 dikira bencong kalo kuliah disitu. Trus kalau ADV harus bisa nggambar, padahal saya paling anti pelajaran gambar. Dan jurusan yang menurutku paling keren adalah BC karena bisa kerja di TV sambil liat artis hehehe. So, langsung dengan pede ndaftar jurusan ini, tanpa tahu apa dan bagaimana broadcasting itu hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan pun menuntun umatnya membuka jalan karir dari sesuatu yang sangat sederhana, yaitu iseng-iseng berhadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia nyata, sering kita lihat orang-orang yang sukses dalam hidupnya, justru setelah dia “disisihkan” dari perusahaannya. Dalam keterpurukan, tiba-tiba seseorang tersadar bahwa talenta  sebenarnya adalah berwiraswasta. Ada yang sukses jadi pengusaha ayam bakar seperti Ayam Bakar Mas Mono di Tebet. Ada yang berhasil jadi pengusaha mie ayam seperti Mie Raos yang sukses membuka waralaba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada temanku, yang terpacu menjadi sukses, justru setelah dihina calon mertuanya karena hanya bekerja serabutan. “Pelecehan”ini membangkitkan kreatifitasnya membuka usaha aksesoris rumah tangga, seperti boneka unik, bantal lucu dll hingga sukses diekspor. Kini dia sukses menjadi kaya dan membuktikan bahwa penilaian mertuanya salah hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang Tuhan membuka pintu hidayah dengan cara yang lucu, tragis, gembira, bencana, tak terduga, dan sederhana, yang kita sendiri tidak pernah terpikir bahwa itulah cara Tuhan menyayangi umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat bahwa seumur hidup ini, baru sekali saya melihat ayah ibu saya menangis haru dan bahagia. Karena saya termasuk dalam kategori “anak durhaka” dan tidak pernah membuat bangga orang tua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari keberuntungan saya saat tiba2 disuruh liputan ke Arab. Sore saya masih liputan di Bogor, tiba2 ditelp suruh pulang ngurus paspor, karena tengah malam harus berangkat ke Riyadh. Semuanya serba mendadak dan tak terduga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur bisa dapat umroh gratis saat liputan KTT Liga Arab di Riyadh. Karena schedule umroh tidak ada dalam jadwal sebelumnya. Entah kenapa tiba2 pak Jusuf Kalla yang waktu itu hadir mewakili Indonesia, mengungkapkan niatnya untuk berumroh di malam hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lewat tengah malam, dengan dipandu petugas kita berumroh ramai2. Lagi-lagi keberuntungan memihakku, karena ternyata rombongan pejabat pemerintahan mendapat kesempatan thawaf sambil dikawal asykar, sehingga tanpa kesulitan bisa mencium hajar aswad sampai tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku sendiri, ini berkah sekaligus peringatan dari Tuhan agar memperbaiki ibadahku. Karena saat semua kawan-kawanku bisa mencium hajar aswad sambil berurai airmata, ternyata hatiku tak “tersentuh” oleh keagungan Ilahi. Aku hanya terdiam terpaku, tanpa bisa menangis bersyukur. Kucoba untuk memaksakan diri menangis dan gagal. Tapi aku sempat difoto saat mencium hajar aswad. Narsis memang, tapi inilah aku hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan foto itulah yang bisa membuatku merasa bahagia, karena melihat bapak ibuku menangis haru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mudik lebaran, kucetak foto dan kuberikan ke bapak ibuku buat kenang-kenangan dan gaya-gayaan hehehe. Tapi ternyata responnya tak terduga, saat kutunjukkan foto itu, bapakku yang biasanya cool dan pandai memendam perasaan, tiba-tiba matanya berkaca-kaca seperti mau menangis, dan dengan lirih beliau berkata “bapak selama ini menginginkan satu hal dalam hidup yang belum tercapai, yaitu mencium hajar aswad. Dan itu gagal dilakukannya saat berhaji.” Tapi anaknya yang selama ini “durhaka” ternyata malah bisa melakukannya. Ada nada haru, bahagia, bangga dalam nada ucapannya yang sederhana. Tapi itu cukup membuka hatiku, bahwa ternyata untuk membahagiakan orang tua bisa dilakukan secara sederhana dan tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak pernah menuntut anaknya untuk jadi kaya raya atau terkenal, beliau justru menangis bahagia saat melihat anaknya bisa “mewakilinya” mencium hajar aswad, sesuatu yang selama ini diimpikan. Semoga kelak beliau mampu mencapai harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, ternyata cara Tuhan untuk membahagiakan umatnya memang sangat sederhana dan tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 16 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1943142933242529109?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1943142933242529109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/terkadang-tuhan-membuka-pintu-hidayah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1943142933242529109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1943142933242529109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/terkadang-tuhan-membuka-pintu-hidayah.html' title='Terkadang Tuhan Membuka Pintu Hidayah Dengan Cara Sederhana'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-8251499107943593928</id><published>2009-06-14T21:31:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T21:32:41.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Hutang Kok Buat Sedekah??</title><content type='html'>Kata guru ngaji-ku, sebagai manusia yang beriman dan beragama sudah selayaknya kita berbagi dengan saudara-saudara lain yang belum diberi kenikmatan duniawi berlebih. Terlebih buat keluarga yang untuk sekedar makan tiga kali sehari aja susah, ada hak mereka atas harta kita. Dan saya pikir memang tiap agama juga mengajarkan umatnya untuk berbagi dech…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam islam, kewajiban untuk berbagi dari sebagian harta disebut zakat, yang lainnya sunah kecuali ada perjanjian. Zakat yang wajib diberikan jika harta kita sudah mencapai nisab (ketentuan minimal jumlah harta-red) disebut zakat maal atau zakat harta. Dan nilainya pun tidak besar dan tidak bikin miskin pemiliknya, hanya 2,5% dari total harta. Jadi semakin kaya seseorang maka otomatis akan semakin banyak nilai harta yang dizakatkan. Menurutku ini fair kok, kalo Gusti Allah memberi rejeki banyak, maka yang harus dibagi juga banyak dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun islam juga membatasi jumlah sedekah kepada orang lain. Dalam aturan fiqih, jumlah maksimum yang boleh diberikan kepada orang lain sebagai sedekah nilainya tidak boleh lebih dari 1/3 total harta kekayaannya, kecuali atas kesepakatan dengan ahli warisnya. Artinya si pemilik harta dilarang bersedekah seluruh harta miliknya, sehingga dirinya menjadi miskin. Karena ada hak ahli waris dan hak keluarga yang wajib dihidupi atas hartanya tersebut. Juga ada hak diri si pemilik untuk berkembang; misal untuk belajar, berwiraswasta dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya bersedekah memang wajib dan baik, tapi tidak boleh sampai menyengsarakan dirinya dan keluarganya yang wajib dihidupi. Tetap ada prioritas tanggung jawab sosial kedepan terhadap orang terdekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada aturan seperti itu, maka orang yang tidak mampu bersedekah, karena hartanya belum mencapai nisab, juga tidak dosa seandainya tidak berbagi kepada orang miskin. Malah menjadi dosa, jika gara-gara bersedekah, malah keluarganya menjadi sengsara. Apalagi kalau memaksakan diri “berhutang”, hanya sekedar untuk bersedekah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu hukumnya secara fiqih, tetapi pandangan saya pribadi, ini bisa menjadi masalah karena dengan berhutang, maka ahli waris atau keluarganya yang akan terbebani hutang tersebut. Dalam fiqih, hutang juga merupakan warisan yang harus dibayarkan oleh anggota keluarga, jika si penghutang meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya saya agak bingung dengan logika pemikiran pemerintah yang “bersedekah” dengan memberi bantuan BLT kepada fakir miskin, tapi uangnya berasal dari hutang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika saya, jika si pejabat yang memberikan BLT sudah meninggal dunia atau tidak menjabat lagi, maka hutang tersebut harus ditanggung oleh ahli warisnya yaitu rakyat Indonesia dan anak cucu nya. Karena hutang tersebut kan tidak bersifat pribadi, tapi atas nama negara. Udah gitu jumlahnya sampai trilyunan lagi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar berita bahwa bantuan BLT dari hutang LN, ditambah lagi dengan munculnya informasi bahwa pemerintah periode 2004-2009 adalah penghutang terbesar sepanjang sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya langsung ilfeel dech hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, saya membaca status FB kawanku yang menulis tentang underlying asset sukuk pemerintah. Awalnya saya bingung, maklum sebagai rakyat awam, istilah ekonomi yang njlimet kayak gitu tidak masuk dalam memory hehehe… Karena penasaran, saya nanya ke temanku lain yang kebetulan kantornya pernah jadi agency iklan sebuah perusahaan securitas yang mengedarkan SUN (Surat Utang Negara) dan sukuk pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, perbedaan gampangnya adalah kalo SUN itu cukup dengan jaminan pemerintah, tapi kalo sukuk karena berbasis hukum perbankan syariah maka harus ada jaminan barang real atau nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut berita, beberapa bulan sebelumnya pemerintah pernah berencana untuk menjaminkan Gelora Bung Karno!!! Kawasan yang juga menjadi symbol kedaulatan bangsa, selain istana negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini benar2 terlaksana, maka seandainya kedepan pemerintah Indonesia gagal membayar hutang sukuk nya, maka Gelora Bung Karno akan disita atau menjadi milik si penghutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku ini agak ngawur juga, kenapa nggak sekalian istana negara aja dijaminkan, jadi presiden berikutnya bisa memerintah dari kantor sewaan di senayan city hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 14 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuplikan Berita Terkait:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelora Bung Karno Jadi Jaminan Sukuk&lt;br /&gt;INILAH.COM, Jakarta .18/02/2009 - Pemerintah merencanakan untuk menjaminkan aset Gelora Bung Karno dalam penerbitan SBSN. Namun masih dalam pengkajian sebelum meminta persetujuan dari DPR.&lt;br /&gt;Hal tersebut disampaikan Direktur Pembiayaan Syariah, Direktorat Pengelolaan Utang&lt;br /&gt;Depkeu Dahlan Siamat usai sosialisasi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di Jakarta, Rabu (18/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah menjaminkan aset Depkeu senilai Rp 13,6 triliun, kita akan menjaminkan aset Gelola Bung Karno untuk penerbitan SBSN berikutnya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aset Gelora Bung Karno saat ini bernilai Rp 50 triliun. Pemerintah hanya menjaminkan senilai Rp 21 triliun, jadi tidak semuanya dijaminkan. Langkah ini dimungkinkan karena&lt;br /&gt;dalam UU SBSN, pemerintah diperbolehkan menjaminkan aset negara dalam penerbitan SBSN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masih menghadapi kendala karena untuk menjamin surat berharga syariah, semua aset harus dikelola secara syariah. Sebab, dalam Gelora Bung Karno terdapat aset hotel, kafe maupun klab malam yang diragukan dari sisi syariahnya.&lt;br /&gt;"Selain itu ada beberapa aset yang belum jelas dari sisi kepemilikan," tandasnya. [tra]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.inilah.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utang Masa Pemerintahan SBY-JK Terbesar&lt;br /&gt;Jumat, 12 Juni 2009 | 03:19 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil mencatat, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla memperbesar utang dalam jumlah sangat besar. Posisi utang tersebut merupakan utang terbesar sepanjang sejarah RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koalisi terdiri dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, Perkumpulan Prakarsa, Perhimpunan Pengembangan Pesantren &amp; Masyarakat (P3M), Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal, Pusat Telaah dan Informasi Regional, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil, dan Publish What You Pay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Prestasi paling menonjol dari pemerintahan SBY-JK adalah utang kita meningkat. Ini catatan tersendiri,” kata Abdul Waidl dari P3M, Kamis (11/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan koalisi, utang pemerintah sampai Januari 2009 meningkat 31 persen dalam lima tahun terakhir. Posisi utang pada Desember 2003 sebesar Rp 1.275 triliun. Adapun posisi utang Januari 2009 sebesar Rp 1.667 triliun atau naik Rp 392 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pada tahun 2004, utang per kapita Indonesia Rp 5,8 juta per kepala, pada Februari 2009 utang per kapita menjadi Rp 7,7 juta per kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, koalisi menilai rezim sekarang ini adalah rezim antisubsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dibuktikan dengan turunnya secara drastis subsidi. Pada tahun 2004 jumlah subsidi masih sebesar 6,3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sampai 2009, jumlah subsidi untuk kepentingang rakyat tinggal 0,3 persen dari PDB. (sut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://cetak.kompas.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-8251499107943593928?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/8251499107943593928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/hutang-kok-buat-sedekah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8251499107943593928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/8251499107943593928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/hutang-kok-buat-sedekah.html' title='Hutang Kok Buat Sedekah??'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4130881734818533236</id><published>2009-06-11T09:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T09:25:26.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Because In Our Mind; We Are Follower Not Leader Again.</title><content type='html'>Kemarin kawanku, seorang produser TV swasta, mengajakku melihat monitor komputernya:&lt;br /&gt;“Bro, you have to see it” katanya.&lt;br /&gt;Lalu kutatap layar yang terpampang disitu, urutan peringkat dari AC Nielsen tentang rating program televisi.&lt;br /&gt;“I don’t believe it” katanya lagi.&lt;br /&gt;Sebuah program yang bertahun-tahun kemarin selalu merajai dunianya, tiba-tiba terpuruk pada peringkat 21, jauh dibawah rival-rivalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang merintis karir dari nol di perusahaannya, kawanku tentunya sudah hapal dengan persaingan sebuah program atau produk di bisnis kapitalis seperti ini. Semuanya bergerak naik turun, kadang menjadi nomor satu lalu turun menjadi no 2, 3 dan seterusnya, lalu kembali naik. Tapi terpuruk pada level bawah klasemen sementara, ini sungguh diluar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita melihat orang yang merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang dilakukannya, tiba-tiba terperangah bahwa dirinya harus kembali bekerja keras mengumpulkan segala ide, kreatifitas, teamwork untuk perlahan-lahan merangkak naik menuju ke nomor satu lagi. Suatu jalan yang berat, karena lawan-lawan kita sudah bergerak lebih cepat dengan fasilitas pendukung, kebijakan perusahaan yang lebih terbuka dan kebebasan berkreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan posisi juara, ternyata lebih susah daripada meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan lain yang berkerja dibagian “frontline” atau pasukan garis depan, pernah curhat, bahwa dirinya merasa kecewa karena setiap idenya tidak pernah didengar atasannya. Katanya , beberapa informasi yang dia berikan, yang menurutnya bisa menjadi “headline” seringkali tidak ditanggapi positif, bahkan diabaikan begitu saja. Setelah media lain mengangkatnya sebagai headline, baru dia kebakaran jenggot disuruh mengejar narasumber tersebut. But, it’s too late. Kita hanya menjadi “follower” saja, karena esok hari informasi yang ada sudah berganti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan yang lain lagi, yang dalam level manajemen berada ditingkat tengah, juga merasa tidak bisa optimal. Karena ide-idenya mentok oleh aturan rapat pimpinan yang terkadang tidak mengakomodir konsep kreatifnya itu. Akhirnya dia hanya bersifat pasrah aja, pokoknya ikut apa kata pimpinan dech. Daripada memaksakan diri, malah dianggap melawan dan salah, mending nurut aja dech. Dan diapun telah berubah menjadi “follower”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin sang pimpinan pun, merasakan hal yang sama. Bahwa ide-ide briliannya seringkali kurang direspon manajemen, karena dinilai membutuhkan biaya besar, sedangkan pendapatannya belum tentu sebanding dengan biaya tersebut. Dia pun hanya menjadi “follower” sang big bos.&lt;br /&gt;Semua orang berpikir bahwa dirinya hanyalah follower dari sang atasan, bukan leader bagi dirinya sendiri dan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan keberanian besar dan kemampuan meghitung resiko untuk menjadi leader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah moment, beberapa teman tampak terkesima melihat tayangan program dari TV lain yang begitu menawan. Sebuah live event perhelatan besar, dengan berbagai kamera disetiap sudutnya. Dengan penampilan sang MC yang adalah presenter dari TV tersebut. Ada nada kagum menyaksikannya, ada pula nada sinis yang bersifat pribadi saat mengomentari sang MC yang berpakaian terlalu seksi. Semuanya tampak tergambar jelas disitu, sebuah rasa trenyuh dan kekecewaan yang besar. Kenapa bukan mereka yang menjadi penayang utama event tersebut, tapi malah rivalnya. Kemana saja sebelumnya, sampai-sampai tidak bisa melihat peluang yang begitu besar didepan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada komunikasi yang terputus dalam hal ini. Ada kekecewaan yang mengurung kemampuan sejati. Ada langkah yang belum seragam dalam memandang sebuah masalah. Dan yang paling parah adalah ada perubahan pemikiran, dari seorang leader menjadi follower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu manajemen disebutkan sebuah kesuksesan besar hanya bisa diraih dengan tindakan yang beresiko besar pula. Seorang penjudi kelas kakap akan lebih cepat kaya mendadak dibanding penjudi kelas teri. Walau mungkin resikonya pun bisa miskin mendadak. Diperlukan sebuah manajemen resiko yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara personal, banyak contoh orang yang tidak berkembang pada sebuah perusahaan, tiba-tiba kemudian menjadi “orang” yang paling dibutuhkan oleh perusahaan lain. Artinya ada kemampuan tersembunyi yang tiba-tiba “meledak” justru ketika dia diberi kebebasan berkreasi. Jadi persoalannya bukanlah pada sumber daya manusia nya, tapi bagaimana meng optimalkan SDM itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana mengembalikan kepercayaan diri lagi, bahwa kita bisa kembali menjadi leader bukan hanya seorang follower. Training motivasi pernah diberikan pada beberapa teman, tapi kayaknya kurang berhasil “mengerek” semangat itu. Tetap muncul rasa takut bahwa kalau si karyawan bergerak terlalu bebas, akan ada sanksi besar terhadapnya. Ada rasa was-was bahwa kalau melawan, jabatannya akan digantikan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut adalah musuh terbesar untuk menjadi seorang leader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbelenggunya sebuah kreatifitas dalam zona takut adalah kerugian yang sangat besar. Menjadi takut adalah hal yang wajar. Tapi kalo sudah berubah menjadi phobia, maka banyak akal sehat yang terlupakan. Karena akan menjadi gagap dan tidak siap diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan sebuah “kata sepakat” bahwa kesalahan adalah milik bersama, bukan personal si pembuat kesalahan. Bahwa ide kreatif, informasi yang tak biasa, dan kebebasan berekspresi akan diakomodir dengan pertanggungjawaban yang sesuai, bukan penghakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kebebasan dari rasa takut sudah ada, tatkala kenyamanan berkreasi diberikan, tatkala semua informasi, ide, gagasan diakomodir seperti yang seharusnya. Maka jalan menuju tangga juara tinggal selangkah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 11 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4130881734818533236?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4130881734818533236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/because-in-our-mind-we-are-follower-not.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4130881734818533236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4130881734818533236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/because-in-our-mind-we-are-follower-not.html' title='Because In Our Mind; We Are Follower Not Leader Again.'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3761325085075477333</id><published>2009-06-10T08:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T08:09:44.522-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Takut: Nyata Atau Fantasi</title><content type='html'>1&lt;br /&gt;Semua manusia pasti punya rasa takut terhadap sesuatu. Entah itu yang bersifat nyata atau kebendaan maupun yang bersifat fantasi. Beragam ketakutan menghinggapi alam pikiran kita, ada yang hanya sementara namun ada pula yang menjadi phobia. Ada yang takut pada makhluk hidup lain karena kebuasannya seperti ular, singa, tentara, polisi, diktator, satpol PP dll. Ada juga karena faktor jijik atau geli seperti kecoa, lalat, tikus dll. &lt;br /&gt;Sebagian yang lain takut pada makhluk “dunia lain” seperti hantu, pocong dll. Lalu ada juga yang takut pada tempat tertentu seperti tempat gelap, ketinggian, keramaian dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa sebenarnya takut itu sendiri? Bagaimana ia tiba-tiba datang dan menyergap pikiran kita? Benarkah benar-benar nyata? Atau hanya fantasi otak kita saja? Trus bagaimana menghapuskan takut itu? Beragam pertanyaan datang bertubi-tubi untuk membahas “rasa” yang dimiliki setiap manusia ini. Dan beragam dampak juga akan muncul terkait keberadaan rasa takut itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Alm) Cak Munir pernah mengatakan (atau mencuplik) bahwa sesungguhnya rasa takut terbesar manusia adalah pada ketakutan untuk melawan rasa takut itu sendiri. Mungkin maksudnya adalah bahwa ketakutan adalah ciptaan atau fantasi manusia itu sendiri, dia datang dari dalam diri bukan luar tubuh kita. Dia bukan diciptakan oleh satpol PP yang bertindak ganas, atau tentara yang menculik atau polisi yang gegabah, bukan pula oleh diktator yang menyengsarakan rakyatnya. Namun “takut” datang karena kita menciptakannya, kita takut untuk melawan penderitaan karena khawatir akan datang penderitaan yang lebih besar. Tanpa keberanian melawan “takut”, maka dia akan selalu bersemayam dalam pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori psikologi, Rasa takut merupakan reaksi manusiawi yang secara biologis merupakan mekanisme perlindungan bagi seseorang pada saat menghadapi bahaya. Ketakutan adalah emosi yang muncul pada saat orang menghadapi suatu ancaman yang membahayakan hidup atau salah satu bidang kehidupan tertentu. Ketakutan biasa disebut dengan tanda peringatan terhadap hidup, peringatan agar berhenti, melihat atau mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari pelan-pelan kita telusuri satu persatu rasa takut itu. Saya paling takut pada ular berbisa, kenapa saya takut? Karena saya berpikir bahwa “jika” saya tiba-tiba digigit ular itu, saya tidak akan bisa menghindar dan dalam hitungan menit saya bisa tewas tanpa perlawanan. Saya tidak takut pada singa atau tentara, alasan saya sederhana yaitu saya masih bisa melawan untuk sekedar mempertahankan hidup. Padahal seandainya terjadi,  saya bisa lari jika bertemu ular atau mengikat area gigitan untuk sementara waktu sampai datang pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam psikologi, takut juga bisa berasal dari trauma masa lalu yang masih tersimpan dalam memori otak, sehingga secara tak sadar akan muncul pada situasi tertentu. Bila seseorang diliputi rasa takut, kebahagiaan maupun sukses kita terancam, orang itu sering mengalami rasa nyeri pada perut, telapak tangan berkeringat, jantung berdenyut kencang, malas bergerak, gagap bicara dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melawan rasa takut, manusia melakukan berbagai macam cara, ada yang melawan ketakutan justru dengan cara melakukan hal yang paling ditakutinya. Yang takut ketinggian, mencoba terbang naik paralayang. Yang takut hantu, mecoba mendatangi kuburan. Yang takut jatuh, mencoba berkegiatan rock climbing. Maka muncullah ide kreatif program TV seperti Dunia Lain, Ekspedisi Alam Gaib, No fear dll. Intinya adalah menantang ketakutan yang selama ini meresap di pikiran banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata perlawanan manusia terhadap ketakutan itu sering menjadi kalap dan tidak terkontrol. Ketakutan terbesar manusia adalah pada kematian. Dan gilanya, banyak orang yang mencoba melawan ketakutan ini dengan cara bunuh diri. Di internet banyak bermunculan komunitas bunuh diri, yang menyajikan cara-cara kematian diri, dari yang sangat sederhana sampai paling menyakitkan. Ternyata “rasa takut” yang terkadang tidak logis ini malah dilawan dengan tindakan yang lebih tidak logis lagi, yaitu berani bunuh diri tanpa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Ada sebuah riset yang menarik, bahwa saat ini sebagian besar ketakutan manusia bukan berasal dari hal-hal yang bersifat imajinatif seperti hantu atau phobia pada benda tertentu. Namun justru terkait dengan masa depannya sendiri. Dalam riset tersebut urutannya adalah takut kena PHK, takut tidak punya uang, takut tidak bisa melindungi anak, takut kekerasan yang terjadi dimana-mana, takut terkena penyakit akibat gaya hidup kurang sehat, takut berpisah dari pasangan (sumber: simple plan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo disimpulkan, semua takut itu bermuara pada takut sengsara dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak takut pun beragam. Yang paling menyebalkan adalah ada orang yang takut hidupnya “sengsara” sehingga melakukan “korupsi”. Guna menghindari kesengsaraan dikemudian hari, orang beramai-ramai menipu negara, menumpuk harta haram di rekening pribadinya. Kenapa orang-orang ini tidak takut masuk penjara yaa, padahal kalau tertangkap dan hidup dibui, dijamin “lebih sengsara” dibanding hidup biasa di alam kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa takut terlahir dari ilusi tentang penderitaan dan kemalangan yang akan kita hadapi. Dalam sebuah pesta mungkin kita makan sekenyang-kenyangnya, karena dibayangi oleh ilusi kelaparan esok hari atau kehilangan makanan yang nikmat itu. Demikian juga ketika banyak orang korupsi dan bernafsu untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, itu pun karena dibayangi ilusi akan penderitaan di dunia. Sehingga membuat kita menjadi kalap dan kehilangan batas-batas kewajaran. Rasa takut membuat ilusi menjadi kenyataan dan kenyatan menjadi ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kini para koruptor yang “terbui” menyesal bahwa ketakutannya dimasa lalu tentang penderitaan, berubah menjadi kenyataan, bahwa kehidupan penjara memang sengsara dan menakutkan hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh positif bagaimana orang besar mampu melawan ketakutannya tampak pada tokoh pahlawan kita. Kalo dulu Bung Karno dan Bung Hatta takut sengsara, pasti mereka akan memilih hidup nikmat di negeri Belanda, bukan memerdekakan bangsa dengan resiko hidup sengsara atau tewas dalam perjuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo dulu Cak Munir takut sama tentara, pasti dia akan memilih hidup menjadi rakyat biasa daripada mendirikan Kontras untuk membela hak-hak korban penculikan dan berakhir dengan kematiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus kalo dipikir-pikir, sebenarnya kehidupan kita saat ini jauh dari ketakutan dibanding zaman penjajahan dulu. Jadi buat apa takut?? Atau jangan2 kita perlu hidup “menderita” dulu agar bisa merasakan bahwa hidup menderita ternyata tidak terlalu menakutkan hehehe… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar kata para ustadz, berpuasalah!! Karena berpuasa akan menjauhkan diri dari ketakutan akan kelaparan dan penderitaan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 10 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3761325085075477333?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3761325085075477333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/takut-nyata-atau-fantasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3761325085075477333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3761325085075477333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/takut-nyata-atau-fantasi.html' title='Takut: Nyata Atau Fantasi'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-3350404929140646077</id><published>2009-06-09T10:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T10:55:15.698-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Reputasi Salah Tempat</title><content type='html'>Cuplikan Berita: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA -- Jaksa dan pegawai di lingkungan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang, Banten, mendapatkan pelayanan gratis kesehatan dari Rumah Sakit (RS) Omni Internasional yang dituangkan melalui selembaran pengumuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengumuman medical check up dari RS Omni Internasional itu, sempat dipasang di lingkungan kejari namun tidak lama kemudian dicabut kembali," kata kuasa hukum Prita Mulyasari, Slamet Yuwono, di Jakarta, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slamet menambahkan pengumuman pelayanan gratis dari RS Omni International itu sempat terlihat pada saat penangkapan terhadap Prita Mulyasari pada 13 Mei 2009 oleh pihak kejaksaan. "Di dalam pengumuman itu tertera cap dan pejabat di lingkungan kejari," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengumuman itu saja ditujukan kepada pegawai dan jaksanya, bagaimana dengan pimpinannya," katanya. Dikatakannya, pihaknya sudah memiliki bukti kuat adanya praktik penyuapan dalam perkara tersebut antara pihak kejaksaan dengan RS Omni International.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.republika.co.id&lt;br /&gt;Senin, 08 Juni 2009 pukul 15:32:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, membaca cuplikan berita ini kita pastinya akan tersenyum. Bagaimana tidak, sebuah suap terselubung terpasang dengan resmi dipapan pengumuman Kejaksaan Negeri Banten, dan pengumuman yang sangat menyenangkan bagi pegawainya ternyata menjadi blunder bagi para jaksa. Karena menjadi bukti hukum dalam kasus dugaan suap oleh RS Omni Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara internal organisasi, pegawai dan para jaksa pasti akan gembira membaca pengumuman yang menyenangkan ini dan mungkin akan menambah semangat kerja. Tapi bagi masyarakat luar (eksternal) akan timbul pertanyaan kritis, kan sebuah institusi negara tidak boleh bekerjasama dengan swasta, karena semua asuransi sudah ditanggung pemerintah melalui asuransi kesehatan (askes).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman yang bagus itu ternyata berdampak ganda, para pegawainya akan memberi pandangan positif terhadap reputasi institusi/perusahaan. Namun bagi publik, reputasi institusi ini akan rusak, karena dianggap menyelewengkan wewenang. Apalagi dalam hal ini pemberi sumbangan adalah perusahaan yang sedang terlibat kasus hukum dengan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini membuktikan bahwa peranan PR sangat penting dalam menjaga citra dan reputasi perusahaan. Menjadi PR ternyata tidak gampang, karena hal-hal sepele seperti “pengumuman” itu ternyata bisa disalahtafsirkan dan dipahami berbeda oleh publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut International Public Relations Association (IPRA), yang merupakan wadah PR Internasional, menyatakan bahwa PR merupakan fungsi manajemen yang direncanakan&lt;br /&gt;dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi, lembaga umum maupun pribadi untuk memperoleh dan membina saling pengertian, simpati dan dukungan publik dengan cara menilai opini publik, yang bertujuan untuk menghubungkan kebijaksanaan dan prosedur, guna mencapai kerja sama yang lebih produktif dan untuk memenuhi kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan kegiatan komunikasi yang terencana dan tersebar luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpikiran salah dalam memahami PR, ada yang memandang PR hanya sebagai tukang kliping surat kabar, tukang dokumentasi acara pimpinan, atau bahkan hanya sekedar sebagai penerima tamu. Sehingga kualifikasinya pun jauh dari standarisasi PR profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prida A.A.A,S.Sos.,M.Si. membuat tulisan menarik dengan membuat rumusan fungsi dan peran PR;&lt;br /&gt;1. PR bekerja dengan realitas (fakta), dan bukan fiksi.&lt;br /&gt;2. PR bekerja dengan publik (khalayak aktif) dan tidak didasarkan pada hubungan secara pribadi. Seorang praktisi PR memang harus pandai membangun personal relations&lt;br /&gt;te tapi orientasi layanan yang dibe rikan didasarkan pada kepentingan publik dan bukan perseorangan.&lt;br /&gt;3. Kepentingan publik harus menjadi acuan utama penyelenggaraan sebuah program atau kebijakan, oleh karena itu seorang PR harus bisa mengatakan ”tidak” pada program dan kebijakan yang hanya menguntungkan orangorang tertentu saja.&lt;br /&gt;4. Karena PR berkewajiban untuk dapat mencapai beragam publik maka digunakan media massa, oleh sebab itu integritas media massa te rsebut harus dapat dipertanggung&lt;br /&gt;jawabkan.&lt;br /&gt;5. Karena PR menjembatani hubungan antara organisasi dengan publiknya, maka praktisi PR harusnya seorang komunikator yang handal hingga pengertian antara organisasi dan publiknya dapat tercapai.&lt;br /&gt;6. PR harus bisa menggunakan riset opini publik yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, dalam upaya mencapai komunikasi dua arah dan menjalankan tanggung&lt;br /&gt;jawabnya sebagai seorang komunikator.&lt;br /&gt;7. Seorang PR juga harus mampu menggunakan pendekatan keilmuan te rutama ilmu sosial seperti psikologi, sosiologi, psikologi sosial, opini publik, komunikasi, dan semantik, untuk dapat memahami publik organisasi.&lt;br /&gt;8. Bidang kerja PR membutuhkan aplikasi multidisiplin ilmu, oleh karena itu praktisi PR wajib menguasai beragam disiplin ilmu.&lt;br /&gt;9. Seorang praktisi PR juga harus waspada te rhadap masalah yang te rjadi sehingga masalah te rsebut tidak akan berubah menjadi krisis.&lt;br /&gt;10. Praktisi PR harus bisa dinilai berdasarkan ethical performancenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menjadi seorang PR tidak gampang yaa?? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari berbagai sumber di internet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 10 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-3350404929140646077?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/3350404929140646077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/reputasi-salah-tempat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3350404929140646077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/3350404929140646077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/reputasi-salah-tempat.html' title='Reputasi Salah Tempat'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1456797523687295891</id><published>2009-06-08T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:19:24.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Tentang (susahnya) Menjadi Ikhlas</title><content type='html'>Kawan,&lt;br /&gt;Seringkah kita merasa berhasrat untuk bersedekah tapi kemudian batal memberikan&lt;br /&gt;Karena pikiran kita berburuk sangka kepadanya&lt;br /&gt;Tak jarang recehan yang sudah tergenggam dan hanya selangkah meletakkan ditangannya&lt;br /&gt;Tiba-tiba masih saja tergenggam, saat tangan meminta itu beredar didepan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Aku hanya ingin bercerita tentang susahnya menjadi ikhlas&lt;br /&gt;Kemarin ada seorang pria berpeci yang membagikan kertas, berisi tulisan memohon bantuan modal untuk berdagang peci&lt;br /&gt;Hatiku tersentuh dan mengagumi semangatnya untuk berwirausaha&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa tanganku berat sekali menarik lembaran kertas dari dompet&lt;br /&gt;Hanya karena otakku berpikir bahwa tak mungkin orang muda yang sederhana itu kekurangan harta untuk usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan usai si pemuda meninggalkanku tanpa sedekahku, aku menjadi gelisah&lt;br /&gt;Karena tak jauh dari tempatku duduk, seorang mahasiswi berjilbab dengan ikhlas merogoh kantong celananya dan memberikannya dengan senyum keharuan&lt;br /&gt;Dia memberi tanpa berpikir buruk terhadap si pemuda&lt;br /&gt;Tanpa peduli apakah si peminta berbohong atau jujur&lt;br /&gt;Karena yang bisa menilai kebenarannya hanyalah Yang Maha Tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Dilain hari aku juga melakukan hal yang sama&lt;br /&gt;Diperempatan lampu merah jalanan yang macet dan penuh asap knalpot&lt;br /&gt;Ada seorang ibu berpakaian kumal menggendong anaknya yang masih balita&lt;br /&gt;Dari pakaiannya hampir pasti profesinya adalah pengemis&lt;br /&gt;Melihat tatap mata sang anak yang menghiba&lt;br /&gt;Hatiku menjadi tersentuh karenanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lagi-lagi tanganku enggan bergerak menarik lembaran rupiah dari dompet&lt;br /&gt;Bahkan membuka kaca pun tidak&lt;br /&gt;Hanya karena otakku menghitung&lt;br /&gt;Jika semua pengemis harus diberi sedekah, berapa banyak uang yang harus kuberikan&lt;br /&gt;Karena disekelilingnya puluhan pengemis juga berkeliling mengetuk kaca kendaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan usai lampu merah berganti hijau&lt;br /&gt;Kembali aku menyesal&lt;br /&gt;Kenapa aku tidak pernah bisa ikhlas memberi&lt;br /&gt;Dan hanya berpikir menuruti logika pikiran yang penuh prasangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Kini aku mengharap hidayahMU, karena aku merasa resah&lt;br /&gt;Ternyata segala retorikaku tentang berbagi&lt;br /&gt;Hanyalah sebatas ucapan tanpa perbuatan&lt;br /&gt;Kenapa aku harus egois berhitung untuk masa depanku&lt;br /&gt;Sedangkan rejekiMU tiada terhitung nilainya&lt;br /&gt;Kenapa logika akalku selalu menghalangi sentuhan hati&lt;br /&gt;Padahal Engkau ciptakan akal untuk berpikir tentang kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kikirku telah menutupi kebenaran hati&lt;br /&gt;Sedangkan otak dangkalku malah melakukan pembenaran terhadapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan,&lt;br /&gt;Ajarkanlah aku untuk menjadi ikhlas&lt;br /&gt;Minimal sekedar bisa memisahkan mana kebenaran tentang orang yang benar-benar berusaha&lt;br /&gt;Dan mana kebenaran palsu dibalik kumalnya baju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ajarkan aku cara menjadi ikhlas&lt;br /&gt;Minimal sekedar menghapus prasangka buruk terhadap orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Aku juga butuh nasehatmu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 8 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1456797523687295891?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1456797523687295891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/tentang-susahnya-menjadi-ikhlas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1456797523687295891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1456797523687295891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/tentang-susahnya-menjadi-ikhlas.html' title='Tentang (susahnya) Menjadi Ikhlas'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6598719623088793687</id><published>2009-06-04T12:50:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:19:44.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Ilmu'/><title type='text'>Prita Vs RS Omni; Salah Langkah Strategi Public Relations</title><content type='html'>Niat Prita Mulyasari untuk curhat pada teman-temannya tentang pelayanan RS Omni Internasional berbuntut pada gugatan hukum yaitu pencemaran nama baik. Kasus hukum yang menurut saya sangat “sederhana” itu kemudian menjadi ranah publik, saat terjadi pemaksaan aturan hukum berupa penahanan Prita Mulyasari. Hampir semua media massa mengangkat berita ini sebagai headline, ditambah kasus ini kemudian bergeser ke ranah politik dengan kedatangan para capres yang berempati pada nyonya Prita. Eforia masyarakat mengutuk terjadinya “penyimpangan” hukum semakin menguat, terkait kontroversi pemberlakuan Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Berbagai isu pun ikut berkembang misalnya dugaan suap RS Omni kepada Jaksa, hingga neoliberalisme perseteruan Perusahaan Besar VS Rakyat Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin pihak RS Omni Internasional sebagai pihak penggugat pasti tidak menyangka, bahwa kasus ini akan menjadi berita nasional yang kemudian berbalik memojokkannya. Menurut saya ini adalah kegagalan dari public relations RS Omni Internasional dalam mengatur strateginya. Rencana gugatan untuk membuktikan bahwa pihak rumah sakit tidak bersalah, malah berbalik hilangnya empati masyarakat hingga tuntutan penutupan rumah sakit. Sebagai sebuah strategi PR, ini adalah sebuah langkah yang salah dalam mengelola manajemen krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teori, krisis seringkali merupakan titik balik dalam kehidupan suatu perusahaan/organisasi yang dapat memberikan kesempatan untuk menetapkan reputasi bagi kompetensinya, untuk membentuk perusahaan/organisasi tersebut, membentuknya serta menghadapi issue-issue penting. Namun bertindak pada saat krisis memiliki resiko yang tinggi. Sebuah strategi dibutuhkan untuk memutuskan kapan menentukan suatu situasi sebagai sebuah krisis, kapan harus mengambil tindakan dan bekerja dengan pihak-pihak lain dalam menyelesaikan krisis tersebut. Namun ketika ketegangan meninggi, menetapkan suatu strategi menjadi tidak mudah. Karena itulah perencanaan di awal akan memungkinkan untuk berkonsentrasi pada masalah aktual ketika ia memuncak serta memberikan kerangka kerja bagi tindakan yang diperlukan (Regester &amp; Larkin, 2003:170).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita telusuri satu per satu kronologis kejadian dan strategi PR yang dilakukan;&lt;br /&gt;1. Email dari Prita Mulyasari di milis tentang buruknya pelayanan di RS Omni.&lt;br /&gt;Ada dua pilihan dalam menyelesaikan krisis ini, yaitu menyelesaikannya secara kekeluargaan atau menempuh jalur hukum. Dan manajemen Omni memilih jalur hukum. Keuntungan jalur ini adalah ada pembuktian pengadilan pada masyarakat bahwa rumah sakit tidak bersalah dan menjadi shock therapy bagi pasien lain agar tidak menggugat pelayanan RS jika tidak ada bukti. Namun kelemahannya adalah si pasien dalam hal ini nyonya Prita akan trauma dan tidak akan mau berobat di RS Omni lagi. Artinya RS Omni akan kehilangan satu pelanggan ditambah beberapa teman-teman nya, karena efek jera itu. Pasien pasti akan berpikir “ngapain saya bayar, kalau kemudian merasa tidak nyaman dan diancam masuk penjara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya sejak awal, strategi PR dalam penyelesaian krisis ini secara kekeluargaan, mungkin pihak RS Omni malah bisa menarik simpati pasien dan juga rekan-rekannya. Dan masalah pun bisa terselesaikan dalam lingkup yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkembangan kasus hukum yang diluar dugaan.&lt;br /&gt;Dalam berbagai kasus hukum yang melibatkan pelanggan dan perusahaan, biasanya pihak perusahaan cukup mendapat “pemulihan nama baik” dari hasil keputusan pengadilan Artinya perusahaan tidak perlu menuntut agar pelanggan membayar ganti rugi yang besar dan menyengsarakan tergugat. Ada win win solution disini, ada efek jera bagi tergugat namun pelanggan pun tidak akan ketakutan untuk kembali menggunakan jasa perusahaan. Faktanya nilai gugatan perdata yang diajukan RS Omni sangat besar yang tidak mungkin mampu dibayar tergugat. Dalam hal ini PR tidak mampu mengontrol nilai tuntutan yang masuk akal karena tidak mempertimbangkan dampak negatif dari gugatan itu. Nilai gugatan yang besar menunjukkan “keserakahan” perusahaan dalam menguras harta pelanggan, implikasinya adalah pasien atau pelanggan lain akan kehilangan kepercayaan pada nilai jual produk jasa perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kasus pencemaran nama baik adalah delik aduan. Artinya ini bukan kasus kriminal murni dimana tergugat bisa dipenjarakan jika gugatan dicabut. Saya tidak tahu apakah penahanan Prita Mulyasari oleh pihak kejaksaan adalah murni kebijakan jaksa, atau ada permintaan dari pihak RS Omni untuk menahannya. Karena alasannya pun sangat lemah, yaitu menghindari penghilangan barang bukti dan tergugat melarikan diri. Barang bukti apa yang dibuang, sedangkan bukti email sudah beredar di milis. Lalu melihat kondisi sosial tergugat, kecil kemungkinan bisa melarikan diri sampai jaksa tidak mempu menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya isu suap adalah sebuah krisis susulan bagi perusahaan, masyarakat indonesia yang sudah muak dengan berbagai kejahatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan semakin kehilangan empatinya, jika ternyata dugaan ini terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur lain yang dilupakan oleh PR adalah penentuan juru bicara perusahaan, yang dalam berbagai konferensi pers diwakili oleh kuasa hukum. Ada beberapa kutipan wawancara kuasa hukum yang menunjukkan arogansi perusahaan untuk tidak menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dan cenderung hiperbola dalam menyalahkan tergugat. Bahasa hukum yang terkadang kaku dan keras, selayaknya tidak dipakai. Karena kalau menilik awal mula perseteruan, sebenarnya pihak RS Omni tidak perlu terlalu keras terhadap pasiennya, karena “hidup” sebuah perusahaan sebenarnya berasal dari uang si pelanggan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tugas PR pun semakin berat, ketika para netter menggalang aksi solidaritas pada nyonya Prita Mulyasari dan menggugat penyimpangan kasus hukum ini. Ditambah lagi banyaknya para politisi Capres dan tim sukses yang turun untuk sekedar berempati, dan semuanya terekam dalam headline media massa berskala nasional. Artinya bukan lagi puluhan atau ratusan orang yang tahu kasus “buruknya pelayanan RS Omni Internasional” tapi ratusan ribu bahkan jutaan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya langkah PR paling tepat untuk menyelesaikan krisis perusahaan ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah strategi rendah diri perusahaan dengan cara merangkul si pasien tergugat yaitu nyonya Prita Mulyasari, mencabut gugatan hukum dan mengkondisikan agar akhir dari perseteruan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan damai. Karena sikap rendah diri akan menghasilkan empati yang besar dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua adalah perbaikan layanan dan promosi bahwa layanan rumah sakit sudah semakin profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ketiga adalah menciptakan image sebagai rumah sakit terbuka bagi masyarakat, untuk menghapus kesan arogan yang selama ini muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya dengan strategi penanganan manajemen krisis yang tepatlah, maka nama baik dan kelangsungan hidup perusahaan akan tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 5 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6598719623088793687?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6598719623088793687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/prita-vs-rs-omni-salah-langkah-strategi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6598719623088793687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6598719623088793687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/prita-vs-rs-omni-salah-langkah-strategi.html' title='Prita Vs RS Omni; Salah Langkah Strategi Public Relations'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-7821810512357147149</id><published>2009-06-03T00:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:20:12.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>V.O.N.I.S</title><content type='html'>Jika kita mendengar kata vonis, maka pikiran kita akan bergerak menyusuri sebuah terowongan imajinasi yang menakutkan. Sebuah kata yang bisa berarti adalah akhir dari segalanya, akhir dari sebuah perjuangan, akhir dari sebuah kesenangan, dan mungkin akhir dari hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya vonis hanyalah pendapat manusia tentang suatu hal berkaitan dengan profesi dan keilmuan yang dimilikinya. Seorang hakim bisa memberi vonis mati berdasarkan ilmu hukum yang dipelajarinya. Seorang dokter bisa memberi vonis akhir kehidupan pasien, juga karena ilmu kedokteran yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang karena tanggung jawab profesinya kemudian punya hak dan kewajiban untuk memberikan vonis bagi manusia lain. Walaupun mungkin itu bertentangan dengan hatinya. Saya percaya tidak ada dokter yang tega memberikan sebuah vonis sisa umur pada pasien kankernya, tanpa melihat realitas kasus pasien-pasien sebelumnya. Pun seorang hakim dalam memvonis orang lain, tentunya berdasarkan undang-undang atau aturan yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo ada orang yang membuat vonis karena alasan lain, sehingga membuat sebuah vonis menjadi lebih ringan atau lebih berat dari seharusnya, maka hukum Tuhan lah yang kemudian berlaku terhadapnya. Misalkan hakim yang memperberat atau memperingan vonis karena disuap, atau dokter yang membuat vonis penyakit tampak lebih kronis agar pasien takut dan rela mengeluarkan uang banyak, maka itu adalah penyimpangan terhadap makna vonis itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan orang yang “divonis”? apakah itu berarti akhir dari perjalanannya. Sikap apakah yang akan diambil, jika sebuah “vonis” telah dijatuhkan. Marah dan memprotes vonis itu, lalu memberontak dan melawan dengan segenap kekuatan diri, atau menerima dengan pasrah vonis tersebut dan membiarkan kematian mendatanginya, atau tabah, tawakkal dan tetap "mempertanyakan" isi vonis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam sikap orang dalam menyikapi sebuah vonis; di televisi, seorang wanita bandar narkoba kelas kakap menangis dan pingsan saat mendengar hakim memvonis mati untuk kejahatannya. Tapi Amrozy cs malah bersyukur karena menurut mereka hal itu mempercepat “pertemuan” dengan surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebuah rumah sakit, seorang penderita kanker langsung syok dan semakin memburuk kondisi fisiknya setelah sang dokter memvonis bahwa umurnya tinggal menghitung hari, kematiannya malah lebih cepat dari vonis dokter karena tekanan mental. Namun ditempat lain, seorang pasien malah memutuskan keluar dari rumah sakit untuk mencari pengobatan alternatif lain yang bisa lebih memberinya sebuah harapan, dan berakhir dengan kesembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya vonis hanyalah keputusan manusia biasa, yang bisa jadi salah atau kurang tepat. Vonis bisa jadi lebih ringan atau bahkan lebih berat dari yang seharusnya. Seorang hakim bisa saja salah menafsirkan sebuah kasus, sehingga salah menghukum orang. Pun juga seorang dokter mungkin saja salah diagnosa, sehingga memberi vonis yang berlebihan dari seharusnya. Karena hakim dan dokter adalah manusia biasa, yang tak lepas dari kesalahan dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil vonis juga bukanlah sebuah kemutlakan, segalanya bisa berubah sesuai putaran roda dunia. Hukuman bagi seseorang bisa saja dibatalkan atau dirubah, karena ditemukan bukti-bukti baru dalam kasus hukumnya atau perubahan sistem perundang-undangan di negara tersebut. Contohnya adalah keajaiban bagi tersangka “salah tangkap” dalam pembunuhan Asrori di Jawa Timur, tiga tersangka yang sudah divonis, akhirnya dibebaskan setelah ada pengakuan dari Ryan “sang penjagal”. Kekuatan harapan dan doa adalah kunci keajaiban itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebuah penyakit, bisa saja menjadi sembuh karena pengobatan yang dijalaninya plus mental optimis dari si pasien.Seorang pengidap kanker stadium 3, yang sudah divonis dokter tinggal menghitung hari, Drs.Patoppoi Pasau, malah sukses menemukan sistem pengobatan kanker alternatif “keladi tikus”, beliau menjadi orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Berkat perjuangannya, kini para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman dengan nama latin Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena vonis adalah pendapat manusia, maka sebuah vonis juga bisa dirubah. Lance Armstrong, sprinter sepeda asal amerika berhasil membuktikannya. Lance divonis menderita kanker testis. Dan, parahnya, penyakit itu didiagnosis sudah menjalar hingga ke paru-paru dan otaknya. Harapan memperoleh kesembuhan menurut dokternya sangat tipis. Tapi, sebagai seorang pria bermental juara, Lance tak menyerah. Ia tak patah semangat dan segera menjalani berbagai operasi dan kemoterapi untuk menyelamatkan hidup dan kariernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya untuk sembuh sangat besar. Lance bertekad ingin menjadi juara sejati, dalam dunia balap sepeda dan untuk mengatasi penyakitnya. Tentu, keinginan tersebut sempat diragukan banyak orang. Sebab, untuk menjadi juara, seorang atlet butuh stamina prima, sedangkan Lance justru sedang dalam kondisi kritis. Namun, ia tidak peduli apa penilaian orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti kerja kerasnya berbuah manis. Setelah perjuangannya melawan kanker berhasil diatasinya-hanya berselang 18 minggu kemudian-Lance berhasil menjuarai Tour de France untuk kali pertama, yakni pada tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lance, penyakit kanker tersebut telah banyak memberikan pelajaran berharga bagi hidupnya. Dukungan dari keluarga, teman, dan orang-orang disekitarnya menjadikan dirinya tegar untuk melawan penyakit, sekaligus untuk meraih impiannya menjadi juara Tour de France. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada harapan dan keajaiban bagi orang yang mempercayainya. Keyakinan akan sebuah kebenaran dan campur tangan sang pencipta adalah cara untuk merubah vonis manusia. Seberat apapun vonis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan memberi nasehat yang baik, “jadikanlah vonis itu menjadi titik balik sebuah kesuksesan dimasa depan, jangan jadikan vonis sebagai hambatan meraih harapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vonis menjadi sebuah kemutlakan, jika itu berasal dari sang pencipta manusia.&lt;br /&gt;Namun manusia tidak akan pernah tahu isi vonis tersebut, karenanya harapan dan perjuangan adalah sebuah keharusan untuk merubah isi  V.O.N.I.S itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S.E.N.C.Y, 3 juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-7821810512357147149?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/7821810512357147149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/vonis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7821810512357147149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/7821810512357147149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/06/vonis.html' title='V.O.N.I.S'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2182502494425607020</id><published>2009-05-28T15:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:20:35.190-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Rakyat dan Negara Pengemis</title><content type='html'>Seperti biasa, shift kerja malam membuatku serasa jadi bapak rumah tangga di siang hari.&lt;br /&gt;Siang bolong yang panas, memaksaku menjadi super ojek yang baik, dengan mengantar malaikat kecilku membeli kado untuk piknik sekolah esok hari. &lt;br /&gt;Sebuah tradisi bagus, menjelang wisuda TK, tiap murid wajib membawa kado tanpa nama, untuk saling ditukarkan dengan teman-teman yang lain. Sekedar untuk mengingatkan mereka agar saling berbagi dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih-pilih kado, dapat sudah, namun seperti biasa treeva selalu minta bonus mainan untuk dia. Ups, ini yang paling menyebalkan, harga mainan yang diminta selalu lebih mahal dari kado yang wajib dia bawa ke sekolah. Tarik ulur beberapa saat, akhirnya treeva mengalah membeli mainan murah, setelah ku bilang papa lagi gak bawa duit hehehe… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berbelanja, kita pulang melewati jalanan yang luar biasa panas hari ini. Ditengah jalan, ada dua pengemis, Ibu dan anak yang berumur sekitar 5 tahunan juga berjalan menyusuri trotoar nan terik. Sejenak terpikir untuk menguji treeva, sejauh mana kepeduliannya kepada sesama. Perlahan ku hentikan roda dua ku, kuambil selembar uang kertas dari dompet, lalu kuminta treeva turun untuk memberikan pada pengemis itu. Aku tak mendengar dialog antar mereka, hanya kulihat ekspresi terima kasih dari sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dirumah treeva langsung bertanya, “papa, anak kecil yang tadi mengemis bareng ibu nya emang rumahnya dimana? Kok gak bobo siang sih? Trus kalo seharian di jalan, berarti gak sekolah dong?”. Satu persatu pertanyaan kujawab secara agak ngawur. Pertama karena aku juga gak tahu dimana rumah para pengemis. &lt;br /&gt;Kedua, aku gak tahu kenapa orangtua pengemis itu tega mengajak anak-anaknya yang masih kecil untuk hidup dijalanan disiang hari. &lt;br /&gt;Ketiga, aku juga gak tahu cara berpikir pengemis terhadap pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuanku, pengemis itu terbagi menjadi beberapa kategori. &lt;br /&gt;Yang pertama, pengemis yang benar-benar tidak tahu lagi cara mencari nafkah untuk membiayai hidupnya, sehingga “terpaksa” mengemis. Tipe ini biasanya karena gagalnya sistem pendidikan pada masyarakat sehingga menghasilkan manusia-manusia yang tidak punya kemampuan sama sekali. Tidak ada kepedulian negara untuk mengelola rakyatnya sehingga mereka kehilangan “pandangan” tentang cara mencari nafkah. Mereka sudah berusaha mencari nafkah secara halal, namun gagal mencukupi standar minimum hidup. Mengemis kemudian menjadi sebuah solusi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, pengemis yang pemalas dan berpikir bahwa penghasilan menjadi pengemis ternyata lebih besar daripada menjadi buruh atau pedagang kakilima. Tipe ini menunjukkan lemahnya mental manusia, sehingga selalu berpikir instan dan menghalalkan segala cara untuk mendapat uang. Tipe manusia seperti ini hidupnya sangat tergantung dari kebaikan orang lain, kemudian cenderung pemarah dan kriminal jika orang lain tidak memberinya sesuatu. Ketika seseorang sudah berpikir bahwa meminta itu halal, maka kesengsaraan absolut dihari tua, tinggal menunggunya.&lt;br /&gt;Saya jadi teringat cerita kawan yang pernah meliput ke wilayah konflik di timur tengah, kendati negara mereka hancur akibat peperangan dan penjajahan, namun tak ada satupun dari mereka yang mau menjadi pengemis. Tidak ada pengemis berkeliaran di pinggir jalan seperti di Indonesia. Bagi mereka “harga diri” diatas segalanya, meminta-minta di pinggir jalan berarti hancurnya harga diri tersebut. Mereka lebih memilih mengais-ngais makanan diantara reruntuhan bangunan, atau bekerja apa saja untuk dapat makan hari ini. Lebih baik mati kelaparan daripada menjadi pengemis. Sebuah sikap mandiri yang sangat kuat dan layak dihormati. Keyakinan yang besar akan adanya Tuhan dan hari keabadian lah yang menguatkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, adalah pengemis terorganisir. Ini semacam mafia jalanan yang mendapatkan uang dengan cara mengemis, dan sebagaian ternyata direkrut secara professional kriminal, terkadang dengan cara melakukan penculikan dan penjualan manusia. Kalo kita mendengar ada mafia narkoba, atau mafia prostitusi, saya masih tergambar bagaimana bentuk organisasinya seperti di film The Godfather. Namun mafia pengemis, saya baru mendapatkan cerita nyata di Jakarta dan sebagian dari film Slumdog Millionare yang bersetting di Mumbay, India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah nyata di Jakarta, saya alami sekitar 3 tahun lalu, saat harus membuat liputan semi investigasi BUSER kasus penculikan anak berumur 7 tahun yang dijadikan pengemis. Sang anak sempat hilang selama 3 bulan, dan ditemukan orang tuanya sedang mengemis di halte bendungan hilir, jakarta. Sang ayah yang hampir putus asa mencari keberadaan anaknya, secara tidak sengaja melihat pengemis cilik mirip anaknya nongkrong di halte itu, setelah didekati ternyata sang anak sama sekali tidak kenal dengan sosok sang ayah. Insting orang tua dan keyakinan yang kuat bahwa itu adalah anak kandungnya, membuat sang ayah nekat memaksa pengemis cilik tadi masuk taksi dan dibawa pulang kerumah. Setelah beberapa hari dibawa ke “orang pintar” dan ke dokter, akhirnya sang anak mulai mengenal keluarganya, walaupun masih sering histeris dan berontak ingin kembali ke jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya bingung adalah cara “cuci otak” organisasi itu terhadap sang anak, sehingga bisa melupakan keluarga dan masa lalunya, terkesan lebih menikmati kehidupan jalanan dibanding keluarga. Ada semacam trauma psikologis yang sangat berat disertai perubahan perilaku yang drastis, dalam 3 bulan “hilang” ternyata si anak menjadi perokok berat dan ketergantungan “lem”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan anak-anak yang menjadi pengemis di perempatan jalan, saya sendiri sering bingung mendapati realitas seperti ini, mereka bahkan kalo dilihat wajah dan postur tubuh banyak yang berusia dibawah lima tahun, berlari bergerombol ditengah jalan, meliuk-liuk diantara mobil dan motor mengetuk kaca sopir dan menengadahkan tangan tanpa rasa takut. Terkadang mereka berlari naik bis, lalu kembali meloncat turun dengan gesit dan tanpa rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya sering bandingkan dengan treeva, diusia yang sama, treeva masih memiliki rasa takut untuk pergi sendiri, masih sering nangis kalo lama nggak liat orang tuanya. Namun, anak-anak itu tampil berani dan ceria di jalan tanpa mengenal rasa takut, seolah pengendara motor, sopir, penumpang bus adalah sumber kehidupan mereka, orang tua mereka yang layak untuk dimintai uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya sering merasa takut dan cemas, apakah anak-anak pengemis itu adalah diri mereka sendiri, yang karena himpitan ekonomi menjadi lebih cepat dewasa dan ikut mencari nafkah. Atau jangan-jangan otak mereka telah “dicuci” dengan cara-cara tertentu, sehingga mereka sama sekali tidak mengenal diri sendiri. Mereka menjadi semacam robot yang di”remote” untuk mematuhi perintah sang majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara lah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap mereka. Pengemis kategori pertama bisa diselesaikan dengan membuka lapangan kerja padat karya, mempermudah sistem pendidikan gratis secara merata, atau memberi modal berwiraswasta dengan bungan rendah dan tidak mengikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemerintah juga harus disadarkan, bahwa selama ini negara kita juga merupakan “pengemis” hibah dan pengutang tanpa kontrol. Yang kemudian menjadi ironi, ternyata hasil mengemis dan hutang tersebut, dikorupsi dan ditukar dengan asset-aset sumber daya alam. Akibatnya negara kita secara ekonomi dijajah oleh negara donatur. Negara pengemis dan penghutang terbukti melahirkan rakyat pengemis dan penghutang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengemis kategori kedua dan ketiga, yaitu pengemis pemalas dan kriminal terorganisir, beragam cara sudah dilakukan dari menangkap koordinator pengemis dan menjebloskannya ke penjara, hingga bolak-balik merazia gelandang dan pengemis, tapi hasilnya tetap nihil. Para pengemis yang sebagian besar adalah orang yang sama, tetap kembali beroperasi ditempat yang sama dan dengan cara yang sama pula. Nyaris tidak ada efek jera yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada satu contoh penyelesaian yang “sangat melanggar HAM” dilakukan di Cina, yaitu dengan cara membersihkan pengemis-pengemis dewasa lalu memaksa mereka bekerja di perusahaan tambang yang terisolir, hingga“mengeksekusi mati” mereka yang memberontak menjalankan sistem ini, lalu merawat anak-anak pengemis dan mendidiknya agar menjadi manusia mandiri dibawah kendali negara. Sangat sadis memang, tapi kota Shanghai yang 10 tahun lalu terkenal sebagai kota kumuh dan kriminal, sekarang sukses menjadi kota bisnis yang aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah prinsip yang sangat “mengerikan” pernah diberlakukan di Cina: “ lebih baik kami (pemerintah) menembak mati 1 juta orang pembangkang dan membuat 1 milyar lainnya hidup senang, daripada membiarkan 1 juta orang mengacau dan membuat 1 milyar rakyat lainnya menderita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekali lagi, solusi ini tidak “direkomendasikan” di Indonesia, masih banyak cara-cara lain agar para pengemis dapat terangkat kualitas hidupnya. Yang paling sederhana adalah “bersedekah” dan “tidak korupsi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 28 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2182502494425607020?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2182502494425607020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/rakyat-dan-negara-pengemis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2182502494425607020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2182502494425607020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/rakyat-dan-negara-pengemis.html' title='Rakyat dan Negara Pengemis'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2705813266963573010</id><published>2009-05-26T06:44:00.001-07:00</published><updated>2009-06-09T09:07:44.551-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>"Kebringasan" Dalam Balutan Seragam</title><content type='html'>Kalau mendengar kata beringas, otak kita akan membayangkan seekor singa yang sedang mengejar dan memangsa korban atau lawannya secara tidak terkontrol, kejam dan tega meluluhlantakan. Pokoknya beringas adalah titik tertinggi kepuasan emosi sang raja hutan untuk mengoyak mangsa yang diincarnya, tanpa belas kasihan atau getaran nurani sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi singa itu kan binatang, wajar dong tidak punya hati atau pikiran. Bagaimana kalau watak beringas itu dimiliki oleh manusia? Dan ternyata tidak kalah buas dibanding singa, akibatnya pun tak kalah mengerikan dibanding kondisi mangsa si raja hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu terjadi pada 2 mangsa yang menjadi korban keganasan Satpol PP, mangsa pertama adalah Siti Horiyah seorang bayi kecil berumur 4 tahun yang meninggal akibat terbakar dalam razia Satpol PP Surabaya, saat penggusuran pedagang kakilima di kawasan Jl. Pemuda Surabaya. Berawal dari tindakan seorang anggota Satpol PP yang menarik rambut Sumariyah, ibu kandung bayi Horiah,yang saat kejadian sedang berjualan pentol. Akibat tindakan itu, pegangan Sumariyah terhadap gerobaknya lepas, sehingga gerobak berisi pentol dan kuah itu terguling dan terbakar karena minyak kompor di dalam gerobak tumpah. Siti Horiyah yang duduk di atas gerobak disambar api dan tersiram kuah panas yang merendam pentol. Luka bakar 67% pada tubuh sang bayi, mengantarkannya menghadap sang Ilahi pada usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangsa kedua adalah Fifih Aryani, seorang PSK yang tewas tenggelam di sungai Cisadane tangerang, ketika dikejar2 dalam razia satpol PP. Menurut beberapa saksi, saat Fifih jatuh tenggelam, tak ada satupun anggota satpol PP yang saat itu berada dipinggir sungai, tergerak untuk turun menolong. Dan jasad Fifih pun ditemukan 1 KM dari tempat kejadian. Tentunya dengan tubuh penuh luka terkoyak batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sang singa pun mengaum tanpa merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari sejenak saya dan anda anggota satpol PP, duduk merenung, sekedar menyegarkan ingatan akan apa yang anda alami. Saya yakin, anda hanyalah manusia biasa seperti yang lain. Mungkin anda dirumah adalah seorang bapak yang baik, seorang suami penyayang istri, atau seorang anak yang berbakti pada ayah bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang karena kondisi ekonomi sedang lesu, akhirnya terjebak dalam profesi menjadi pamong praja. Mungkin juga status anda hanyalah karyawan kontrak bukan PNS. Anda hanya kebetulan diberi seragam berlogo “Satuan Polisi Pamong Praja” di pundak kiri. Sebuah seragam tanpa makna, karena belum tentu dengan seragam itu anda bisa menghidupi keluarga secara layak dan berlebih. Saya yakin, penghasilan anda mungkin tidak jauh berbeda dengan orang yang anda gusur, artinya secara kelas sosial sebenarnya anda dan korban anda berada dalam kasta yang sama. Sama-sama miskin dan kempang-kempis dalam mengatur uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pertanyaan saya adalah kenapa saat memakai “seragam” itu, anda berubah dari sosok manusia yang melindungi keluarga, menjadi seekor singa pemangsa yang kejam tanpa belas kasihan. Anda bisa memangsa teman sekasta anda, dengan begitu brutal dan beringas. Ada apa dengan anda? Apakah karena faktor “seragam” yang membuat anda gede rasa dan lupa diri? Sehingga anda sesaat merasa sebagai manusia terhebat di negeri ini. Ada apa dengan seragam anda? Kok bisa merubah karakter seseorang dalam sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah gara-gara atasan yang memaksa anda memakai seragam itu, menjanjikan anda hadiah yang sangat besar sehingga cukup menghidupi anak cucu sampai tujuh keturunan.&lt;br /&gt;Kalau iya, mungkin itu menjadi alasan yang logis bagi seseorang untuk mengkhianati nuraninya. Maksudnya, anda berbuat jahat sekali, setelah itu hidup mapan bersama keluarga dengan bonus hadiah yang besar.&lt;br /&gt;Tapi jika ternyata atasan anda pun tidak mampu memberi hadiah besar, untuk apa anda mengkhianati jati diri. Menjual sifat kemanusiaan dan menggantinya dengan watak singa yang egois. Apa sebenarnya yang anda cari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan anda takut terhadap atasan, takut dianggap pengecut jika tidak bisa mengoyak para pedagang kakilima, takut dianggap pecundang jika gagal merazia PSK. Tidak sadarkah anda, bahwa mungkin atasan anda pun jauh lebih penakut dan pecundang dibanding anda, terutama saat dia harus bertanggung jawab atas kasus penghilangan nyawa manusia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, anda pasti tidak tinggal dikawasan elit Pondok Indah, atau Menteng atau Pantai Indah Kapuk, yang tiap rumahnya berpagar tinggi, sehingga tidak bersosialisasi dengan tetangga. Anda mungkin tinggal di gang sempit, atau area kampung dengan kondisi masyarakat kelas menengah kebawah. Dan tentunya anda juga setiap hari melihat realitas sosial bagaimana rakyat kecil bertahan hidup; bekerja keras untuk sekedar makan tiga kali sehari, menyekolahkan anak2nya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anda pulang ke rumah dan melepas seragam itu, anda akan kembali menjadi warga masyarakat biasa. Apa kata tetangga anda, saat mereka tahu bahwa anda telah memangsa teman sendiri sesama kasta. Akankah mereka akan tergerak untuk membantu, jika keluarga anda terbelit kesusahan. Lalu apa kata anak istri anda, saat mereka tahu bahwa orang yang selama ini mereka hormati, mereka sayangi karena menjadi pelindung hidup, ternyata hanyalah “Seekor Singa Beringas Berseragam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 26 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2705813266963573010?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2705813266963573010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/kebringasan-dalam-balutan-seragam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2705813266963573010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2705813266963573010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/kebringasan-dalam-balutan-seragam.html' title='&quot;Kebringasan&quot; Dalam Balutan Seragam'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-1833974940940902674</id><published>2009-05-24T20:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:09:29.309-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Resensi: Lukisan Kaligrafi</title><content type='html'>Resensi Buku&lt;br /&gt;Judul     : Lukisan Kaligrafi&lt;br /&gt;Pengarang : A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;Penerbit  : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Halaman   : 134 + IX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampeyan menggunakan ilmu apa, sehingga lukisan sampeyan ketika difoto tidak jadi dan tampak hanya kanvas kosong yang diberi pigura?”. (hal 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cuplikan dalam cerpen berjudul Lukisan Kaligrafi ini seolah menggambarkan rasa penasaran manusia pada sisi mistis spriritual. Manusia modern yang sering disibukkan oleh pola pikir serba wah dan konspiratif, tergoda untuk menyelami kesederhanaan Ilahi dari sisi yang rumit. Padahal pemahaman spiritual Tuhan sangatlah sederhana, seperti yang digambarkan pada sosok ustadz Bachri yang mencoba melukis Ayat-ayat suci sesuai aturan kaligrafi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke “ngawuran” manusia memahami agama digambarkan dengan analogi seniman yang melukis kaligrafi tanpa mengenal aturan-aturan penulisan khat Arab. Tidak tahu bedanya Naskh dan Tsuluts, Diewany dan Faarisy, atau Riq’ah dan Kufi. Apalagi falsafahnya. (hal 63). Sehingga menghasilkan lukisan kaligrafi yang dangkal dan asal tampak indah, tanpa ada kedalaman hati didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan julukan Gus Mus, mengumpulkan cerpen-cerpennya yang sangat sederhana dengan tema-tema sosial agama dengan setting pesantren dan kehidupan masyarakat abangan. Beragam cerita yang ditulis dengan gaya humoris tapi penuh renungan yang dalam ini, seakan menyindir kita untuk kembali pada hakikat sebagai makhluk. Makhluk yang diciptakan untuk menyembah sang khaliq, makhlik sosial yang semakin lupa pada hakikat “sosial”nya, makhluk yang tanpa sadar menganggap dirinya “lebih tinggi” dari manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen favorit saya dalam buku ini adalah “Gus Jakfar”, yang menjadi pembuka dalam koleksi di buku ini. Ketidaksadaran manusia akan kesombongan dirinya digambarkan dengan cukup apik dan sederhana. Cerpen ini berkisah tentang pencarian hakikat ma’rifat oleh Gus Jakfar, seorang anak kyai besar yang memiliki kemampuan khusus untuk menerawang masa depan. Ada salah satu dialog yang menurut saya memiliki makna yang sangat dalam tentang bagaimana manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog antara Kyai Tawakkal dan Gus Jakfar : &lt;br /&gt;“Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda “Ahli Neraka” di kening saya. Kau pun tidak pelu bersusah payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan surga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendakNya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke surga atau neraka. Untuk memasukkan hambaNya ke surga atau neraka, sebenarnya Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai Kyai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke surga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang diwarung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karna kita ingin dipandang baik olehNya, kita ingin berdekat-dekat denganNya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dariNya. Bukankah begitu? (hal 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Mustofa Bisri, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. menempuh pendidikan di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo, Kediri; Pesantren Krapyak, Yogyakarta; Pesantren Taman Pelajar, Rembang. Dan terakhir beliau belajar di  Al-Qism al’Aalie lid Dirraasaati al-Islamiyah wal Arabiyah, Al-Azhar University, Cairo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena munculnya komersialisasi dakwah, disindir melalui refleksi diri seorang ustadz yang rutin memberi pengajian di berbagai daerah dalam cerpen berjudul “Amplop-Amplop Abu-abu”. Ada enam amplop dengan nominal cukup besar yang diterima sang ustadz di setiap pengajian dari seseorang misterius yang rutin mengikuti pengajiannya, namun tiap amplop berisi pesan untuk sang ustadz; &lt;br /&gt;Amplo pertama: Ajaklah orang ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik.&lt;br /&gt;Amplop kedua: Sebelum anda menasehati orang banyak, sudahkah anda menasehati diri Anda Sendiri?&lt;br /&gt;Amplop ketiga: Amar makruf dan nahi munkar seharusnya disampaikan dengan cara yang makruf juga.&lt;br /&gt;Amplop keempat: Berikan yang mudah-mudah dan jangan mempersulit.&lt;br /&gt;Amplop kelima: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya? Besar sekali kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya!.&lt;br /&gt;Amplop keenam: Kehidupan duniawi itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memberdayakan!.   (hal 26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatu hal yang menurut saya agak sedikit mengganjal adalah cover belakang buku yang mencuplik refleksi sang ustadz dalam Amplop-amplop Abu-abu tentang kegetiran hatinya melihat fenomena maraknya pengajian tapi tidak diikuti perubahan perilaku peserta pengajian, cover ini seolah mewakili gambaran pesimis dari sang penulis dalam memandang realita social, padahal menurut saya, Gus Mus adalah seorang kyai yang sangat optimis dan penuh pengharapan dalam memandang realitas masyarakat, contohnya dalam cerpen Gus Jakfar yang memandang bahwa seorang “pelacur” yang diistilahkan sebagai “orang-orang yang ada diwarung” pun bisa berubah menjadi baik (diistilahkan tidak pasti masuk neraka) jika Allah memang menghendakinya. (hal 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berisi 17 kumpulan cerpen yang sebagian sudah pernah dimuat diberbagai media massa, seperti Gus Jakfar (Kompas), Kang Amin (Jawa Pos), Ngelmu Sigar Raga (Media Indonesia) dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebelumnya Gus Mus lebih dikenal sebagai penulis buku-buku renungan seperti Mencari Bening Mata Air (Kompas, Jakarta); Canda Nabi &amp; Tawa Sufi (Hikmah, Jakarta); Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-esai Moral (Mizan, Bandung) dll. &lt;br /&gt;Gus Mus juga telah menghasilkan 8 buku kumpulan puisi-puisi seperti Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta); Tadarus (Prima Pustaka, Yogyakarta); Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta); Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Al-Ibriz, Rembang) dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 24 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-1833974940940902674?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/1833974940940902674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/resensi-lukisan-kaligrafi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1833974940940902674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/1833974940940902674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/resensi-lukisan-kaligrafi.html' title='Resensi: Lukisan Kaligrafi'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2086789594287237856</id><published>2009-05-19T19:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:10:08.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Superdad Yang Minus Talenta</title><content type='html'>Treeva, si malaikat kecilku kembali berulah, kali ini hobinya mengidolakan orang2 yang hebat..&lt;br /&gt;Suatu malam, sepulang papanya pulang kantor, dia langsung nanya. &lt;br /&gt;Treeva : Papa bisa main sulap gak?&lt;br /&gt;Papa : Nggak&lt;br /&gt;Treeva : kok nggak sich, om joni aja jago main sulap.&lt;br /&gt;   Trus, papa bisa main game balapan sampai menang gak?&lt;br /&gt;Papa : Nggak, papa gak jago main game, lebih sering kalah lawan komputer daripada menang hehehe…&lt;br /&gt;Treeva : (dengan muka kecewa) yaaa, papa kok gak jago apa2 sich. Kalo gitu aku mau jadi anaknya om joni aja dech.&lt;br /&gt;*(om joni adalah rekan kantor dan tetangga rumah yang baik, sehingga treeva sering main kerumahnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, Aku selalu pengin tertawa ingat dialog itu. &lt;br /&gt;Treeva selalu berharap papanya bisa sehebat orang lain atau tokoh super seperti di televisi. Ya gak mungkin lahhhh hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal setiap orang kan berbeda talenta-nya, ada yang memang dikaruniai super talenta di suatu bidang, misal hebat bermusik sehingga bisa menghasilkan album yang bagus secara otodidak. Atau otak super seperti Albert Einstein, Leonardo Da Vinci dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang multi talenta, yaitu hebat diberbagai bidang secara merata, banyak orang yang hebat diberagam bidang, udah jago desain, jago IT, jago fotografi, jago musik dan jago2 lainnya dalam satu otak. Contoh kongkret adalah Tompi, seorang dokter bedah yang sukses juga sebagai penyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang standar talenta, kalo yang ini talentanya tidak terlalu menonjol dan untuk bisa menghasilkan karya hebat, harus belajar dan bekerja keras terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling repot adalah minus talenta seperti aku, main musik gak bisa, melukis jelek hasilnya, hobi badminton kalah terus, sampai bingung sebenarnya talenta apa yang aku miliki dan bisa dibangun sebagai sebuah karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo diibaratkan sebuah negara, talenta adalah sumber daya alam yang dimilikinya. Indonesia adalah contoh sebuah negara yang multi talenta dengan melimpah ruah beragam sumber daya alam, ada migas di berbagai propinsi, ada panorama indah di berbagai pulau, tanah yang subur, keanekaragaman budaya tradisional, namun tidak mampu dikelola dengan baik, sehingga tidak bisa memberi manfaat bagi rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain gimana manusia sering gagal mengelola talenta, terjadi pada kawanku zaman kuliah dulu. Ceritanya lucu, kawanku ini orangnya sangat cerdas, mudah menghapal n memahami teori. Ibarat kalo aku dan teman2 yang lain harus belajar ekstra keras minimal seminggu sebelum ujian, kawanku ini cukap semalaman baca buku dan hasilnya sering lebih baik dari kita. Suatu hari pas hari H ujian, seperti biasa aku datang lebih pagi, sekedar mencari tempat duduk yang strategis buat mencontek, lalu mengerjakan soal hingga berkeringat dan tidak peduli kanan kiri, pokoknya fokus mikir dan mengeluarkan segala daya majinasi untuk mengerjakan soal. Usai ujian, aku dan teman2ku tidak melihat sosok kawan jeniusku itu. Mungkin dia selesai duluan dan langsung pulang kali yaa.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bergerak kita ramai2 ke kamar kosnya, sampai disana kawan jeniusku sedang santai menghirup secangkir kopi, menghisap rokok sambil memetik gitar. Spontan aku bertanya: “gimana ujiannya?. Dan dijawabnya dengan santai pula : “Aku bangun kesiangan bro, ya udah tak lanjutin tidur aja, wong udah telat.” &lt;br /&gt;Hah, bener2 dech ini anak, kalo dia telat bangun tapi tetap ke kampus dan melobi dosen untuk ujian susulan atau sekedar minta bonus waktu, mungkin akan dikabulkan kok. &lt;br /&gt;Kalo gini, terpaksa dech, semester depan dia harus ngulang kuliah lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zona nyaman yang dirasakan seseorang, terkadang membuat dia malas sekedar untuk melakukan sesuatu yang baru, karena merasa cukup dengan apa yang dimilikinya saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat sebuah pengakuan sangat bagus dari Andy F Noya, pembawa acara kick andy, saat dia memilih mundur dari jabatanya yang superduper nyaman sebagai seorang direktur perusahaan televisi berita nasional. Alasannya sangat sederhana, yaitu usai membaca sebuah buku “who move my cheese”, dia merenung dan tergoda untuk membangun sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih besar sesuai talentanya, tanpa harus dibatasi oleh sebuah dinding bernama institusi. Sebuah obsesi yang berani, dan mungkin berat untuk dijalani, karena meninggalkan sebuah kusi yang sudah teroganisir dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah talenta, jika diaktualisasikan lewat hobi dan profesi yang sesuai akan menghasilkan karya yang dahsyat, karena dilakukan dengan sepenuh hati.&lt;br /&gt;Namun seringkali dalam realita hidup, sebuah profesi berbeda jauh dengan talenta yang dimiliki. Banyak contoh, orang yang jago musik tapi kerjanya sebagai administrasi, atau orang yang hobi dan berbakat masak, tapi bekerja sebagai guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan talenta dibutuhkan sebuah inovasi yang berani dan kerja keras.&lt;br /&gt;Talenta adalah sebuah karunia, yang tidak dapat ditolak keberadaannya dan harus disyukuri sebagai nilai lebih.&lt;br /&gt;Talenta yang hanya tersimpan untuk diri sendiri adalah sebuah kemubaziran, karena tidak dioptimalkan kemanfaatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang motivator mengatakan; cobalah kenali bakatmu, gali potensi dirimu, optimalkan talentamu dan juallah secara professional, maka hasilnya akan lebih dari bayanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oprah Winfrey, seorang pembawa acara terkenal lewat program Oprah Winfrey Show telah sukses menjual talenta Charice Pempengco, seorang gadis kecil asal filipina bersuara emas, setelah menemukannya disitus youtube. Kini penyanyi kecil itu telah sukses konser satu panggung dengan penyanyi2 kelas dunia seperti Celine Dion, Andre Bocelli lewat tangan dingin produser David Foster.&lt;br /&gt;Arsene Wenger, pelatih tim sepakbola Arsenal adalah pencari bakat yang sukses setelah menemukan striker handal Theo Walcott pada usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, televisi2 sibuk menayangkan program2 pencarian bakat yang dikemas dalam beragam reality show, dibidang musik ada Indonesian idol, festival rock dll. &lt;br /&gt;Lalu dibidang yang lebih umum ada program Pemilihan Putri Indonesia, Dai Cilik, The Gong Show, The Master dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini diberbagai universitas ternama muncul banyak sekali sponsor beasiswa bagi mahasiswa brilian dengan berbagai kualifikasi. Perusahaan2 besar juga berbagi donasi memburu pelajar2 ber IQ tinggi agar kelak tertarik masuk dalam jajaran manajemennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum pendidikan nasional kita yang kini dianggap kadaluarsa karena menyamakan talenta semua orang sama, sehingga mata pelajarannya bersifat lebih umum, kini mulai ditinggalkan dengan munculnya sekolah2 favorit yang secara khusus mengajarkan sesuai talenta siswa, yang hobi menari akan diperdalam bakatnya dengan tari balet, tari tradisional dll. Yang hobi lukis akan didatangkan pengajar les privat dari pelukis2 ternama. Yang hobi fisika disibukkan dengan praktek2 laboratorium dengan guru selevel dosen. Berbagai kurikulum luar negeri pun dipakai misal sekolah montesorry yang mengadopsi kurikulum di filipina, atau beragam sekolah standar internasional yang mengadopsi kurikulum di singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua individu, sekolah, perusahaan kini bergerak mencoba mengenal dan mengasah talenta diri dan manusia sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Treeva, beberapa minggu terakhir ini ada sebuah produk sabun keluarga, yang mengiklankan peranan superdad di televisi. Wah, tugasku sebagai superdad yang minus talenta bakal semakin berat nich. &lt;br /&gt;Treeva pun kembali bertanya, “Papa bisa seperti superdad di TV gak, yang bisa ngambil bola dikandang gajah, menang melawan pesumo dan berani menantang singa”. &lt;br /&gt;Yang lagi2 kujawab: “gak mungkin sayaaaang, papa bukan manusia super, ntar kalo papa kalah dan dimakan singa gimana?? hehehe…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur kali ini dia udah lebih dewasa, jadi langsung berkomentar: “kalo papa gak bisa jadi superdad seperti di TV, papa jadi superdad dirumah aja dech. Tugasnya gampang kok, kalo mama ke kantor, papa yang nganterin. Trus kalo aku pengin beli majalah bobo atau pengin renang, papa juga yang nganterin. Gampang kan??”&lt;br /&gt;Yang spontan saja kujawab : “ Kalo itu sih keciiiil, dijamin bisa dech.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(btw, aku ini superdad atau tukang ojek yaaa???) hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 19 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2086789594287237856?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2086789594287237856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/superdad-yang-minus-talenta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2086789594287237856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2086789594287237856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/superdad-yang-minus-talenta.html' title='Superdad Yang Minus Talenta'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6324315863207876541</id><published>2009-05-16T19:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:10:39.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Bola-bola Hiperbola</title><content type='html'>Saat ikut demo di depan gedung BI Surabaya beberapa hari lalu,, dalam rangka solidaritas untuk rekan wartawan sctv yang “tertanduk” satpam BI, ada beberapa hal yang menurut saya ngawur plus hiperbola.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawur yang pertama adalah jumlah polisi yang berjaga2 ternyata hampir dua kali lipat jumlah wartawan yang berdemo. Berawal dari informasi yang memang ngawur dan guyon, saat koordinator wartawan ditelpon oleh pihak kepolisian, tentang jumlah wartawan yang akan berdemo, lalu dijawab secara bombastis dan sok serius sekitar 100 orang lebih. So, untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, maka 2 peleton pasukan pun diturunkan. Padahal wartawan yang berdemo hanya sekitar 50 orang, akibatnya adalah susah membedakan mana demonstran dan mana polisi. Ditambah kedua kubu yang berhadapan sudah saling kenal dan biasa nongkrong bareng. Demonstrasi pun menjadi arena guyonan yang dipenuhi acting hiperbola hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawur kedua adalah pada isi dari isyu yang sempat tergiring, yaitu wacana untuk menuntut agar Gubernur BI Boediono harus bertanggung jawab dan memberikan keterangan pers terkait kejadian tersebut. Lho, opo gak berlebihan iki? &lt;br /&gt;Seandainya Pak Boediono harus turun ke polres dan jadi saksi untuk mempertanggungjawabkan hal2 sepele kayak gini, mungkin nilai tukar rupiah akan langsung turun drastis. Karena figure seorang gubernur BI adalah sangat sentral dan independen, serta tidak boleh terkait perkara kriminal. Kredibilitasnya sangat berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan kepercayaan dunia internasional.&lt;br /&gt;Akibatnya, negara bisa rugi milyaran rupiah kalo tuntutan wartawan itu dituruti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan2 besok ada wartawan kesenggol sapu office boy istana RI 1 dan terluka, lalu presidennya suruh bertanggungjawab. Wah, bisa bubaran negeri ini hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita lucu dari cak rahmat, koresponden sctv Surabaya yang menggambarkan pandangan masyarakat terhadap hiperbola wartawan. &lt;br /&gt;Saat berdemo, seorang polisi yang berjaga sempat ber-celetuk ala suroboyoan: “ yok opo wartawan iki, giliran ono sithok sing kesampluk, sak Indonesia raya krungu kabeh. Tapi giliran polisi pitu kesadhuk, tonggone barang gak ngerti.” Terjemahan bebasnya mungkin begini: “wartawan ini lho, giliran ada satu (wartawan) terluka (secara tidak sengaja), seluruh rakyat indonesia tahu. Tapi giliran ada 7 polisi terluka, tetangganya (polisi) pun nggak dengar beritanya.” hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar kok sebagai wartawan punya solidaritas yang tinggi terhadap corps dan profesinya. Asalkan kemudian tidak terdorong untuk melakukan tindakan yang emosional dan irrasional. Karena sesuai teori peluru dalam komunikasi massa, informasi yang beredar akan diterima oleh otak komunikan, (terkadang) tanpa bisa disaring kebenarannya terlebih dulu. Keseimbangan informasi dan tidak berat sebelah harus menjadi catatan penting dalam penulisan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan menuliskan comment yang sangat bagus pada note saya “arogansi yang menghancurkan diri” terdahulu, intinya dalam kasus “tandukan satpam BI” kesalahan tidak 100% berasal dari arogansi satpam BI, tapi juga arogansi wartawan yang tidak mau menyerahkan KTP sebagai identitas yang disyaratkan oleh aturan pengamanan BI. Artinya ada “Etika yang terlanggar” dalam kasus ini. Etika berkomunikasi dengan tuan rumah, etika menjadi tamu yang baik dan etika bersopan santun terhadap manusia lain, apapun profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita bersikap hiperketus terhadap orang yang kita anggap punya profesi lebih rendah dibanding kita seperti office boy, pembantu rumah tangga, satpam, tukang gado2 dll. Tapi disisi lain kita bersikap hipercarmuk (cari muka-red), hipersantun, hiperbasa-basi dihadapan orang yang berprofesi lebih tinggi dari kita, seperti pejabat, pengusaha, artis terkenal dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo berkomunikasi didepan direktur, kita bisa hiperlembut, tapi kenapa kalo berbicara dengan anak buahnya level terbawah, kita jadi hiperketus yaa?&lt;br /&gt;Padahal dimata Tuhan semuanya sama kok, yang beda cuman Taqwa nya aja…&lt;br /&gt;(hehehe, gw udah kayak hiper ustadz belum yaa?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, biarkan bola-bola menggelinding seperti apa adanya, jangan biarkan menjadi hiperbola (lho, gak nyambung yaaa hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 16 mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6324315863207876541?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6324315863207876541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/bola-bola-hiperbola.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6324315863207876541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6324315863207876541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/bola-bola-hiperbola.html' title='Bola-bola Hiperbola'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6334028562544173371</id><published>2009-05-13T04:52:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:11:06.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Arogansi yang menghancurkan diri</title><content type='html'>Hari ini hamper semua status facebook kawan2ku diisi dengan ungkapan rasa prihatin disertai kutukan dan makian terhadap tragedy “tandukan” satpam Bank Indonesia terhadap reporter Liputan 6 SCTV, Carlos Pardede.  Semua status FB hampir seragam, malah ada yang sama persis satu sama lain (mungkin copy paste kali yaa), ada juga berkreasi sendiri, tapi intinya sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah, karena ini merupakan bentuk perlawanan terhadap sebuah kekerasan, apapun bentuk dan alasannya. Semua orang dari berbagai kalangan, entah wartawan atau non wartawan, boleh marah, memaki, atau teriak2 di fesbuk, asalkan tidak memukul. Karena kalo sampe terjadi pemukulan, resikonya berat, monitor atau keyboard computer anda bisa pecah hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi dan arogansi adalah dua hal yang saling mendukung, orang yang cepat emosi biasanya arogan, dan orang yang arogan biasanya cepat emosi.&lt;br /&gt;Saya tidak mau terjebak dalam sebuah teori konspirasi, bahwa kejadian di gedung Bank Indonesia adalah sebuah konspirasi untuk menjegal Pak Boediono menjadi Cawapres pak SBY. Minimal menjadi sebuah kampanye hitam, agar terkesan karyawan Bank Indonesia arogan2 misalnya. Wong, satpam yang notabene adalah karyawan dengan level terendah aja udah sombong, gimana direkturnya? Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, adegan “tandukan” yang mirip Zinedine Zidane di piala dunia dulu, hanyalah sebuah bentuk emosi yang tak terkendali akibat arogansi diri yang sudah terlanjur tertanam di hati para satpam itu. Sebuah kekhilafan hati yang bisa berakibat hancurnya masa depan diri si pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arogan atau sombong, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh kebanggaan terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya, sehingga meremehkan segala sesuatu, entah itu masalah yang dihadapi atau orang disekitarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap arogan bukanlah pelanggaran hukum, bukan pelanggaran hak azasi manusia, dan bukan perbuatan criminal. Sah2 saja kok orang merasa dirinya hebat, atau pamer kekuatan didepan umum, asalkan tidak melakukan tindak kekerasan. Tapi kalo udah sampai criminal, itu jelas melanggar hak asasi, jadi layak dimusnahkan dari bumi pertiwi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, satpam BI yang sampai bertindak keterlaluan “menanduk” kawan saya carlos, pasti tidak berpikir bahwa akibat tindakan spontanitasnya itu, masa depannya menjadi suram. Resiko dipenjara dalam kasus penganiayaan, trus pemecatan sebagai karyawan bias jadi tak bias dihindari. Apalagi isyu ini melibatkan media massa yang secara kompak mengutuknya. So, hampir pasti pak kapolres, pak jaksa dan pak hakim tidak berani main2. Ditambah lagi, BI sedang menciptakan image yang baik bagi pak Boediono, sudah sewajarnya mereka akan meng “ikhlas” kan karyawannya yang salah untuk dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arogansi memang memancing emosi, dan menutup hati nurani. Kalo satpam tidak arogan, pasti akan bertanya baik2, trus menceritakan prosedur BI untuk wawancara dan sebagainya. Wong, hampir setiap hari wartawan pasti berkeliaran di gedung BI kok, kenapa harus pakai emosi. Biasa aja lagi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini pelajaran terbaik baik semua orang, bahwa arogansi yang memancing emosi ternyata bisa merusak diri sendiri. Bang Carlos mungkin lukanya bisa sembuh dalam beberapa hari kedepan, tapi luka si satpam yang arogan tadi bisa berbulan2 bahkan bertahun tahun baru sembuh. &lt;br /&gt;Luka pertama adalah ancaman bui, &lt;br /&gt;luka kedua adalah pemecatan BI, &lt;br /&gt;luka ketiga adalah hilangnya nama baik dan susah mencari kerja lagi, &lt;br /&gt;luka berikutnya adalah luka anak istri, yang tak dapat dihidupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kalo emang tidak hebat, kenapa harus arogan?? Biasa aja kaliii…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo Permai, 13 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6334028562544173371?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6334028562544173371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/arogansi-yang-menghancurkan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6334028562544173371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6334028562544173371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/arogansi-yang-menghancurkan-diri.html' title='Arogansi yang menghancurkan diri'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2411334939559208256</id><published>2009-05-09T22:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:12:33.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Ada Waktu Ritual dan Ada Waktu Nakal</title><content type='html'>Kalo inget masa2 indah jaman kuliah di yogya dulu, gw sering tersenyum sendiri, moment yang selalu teringat adalah gimana kita satu gang BC 13 (Broadcasting UGM 94-red), ngakalin hati dan logika agar bisa selalu berjalan beriringan, menyelaraskan kenakalan dengan ritual, sehingga bisa bandel tanpa terlalu merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatu rutinitas tiap malam minggu adalah kongkow2 para jomblo sambil dikit2 “penerbangan”, yang menarik adalah waktu “take off” harus diatas jam 7 malam, atau setelah sholat isya. Sang pilot memutuskan jam tersebut demi menghormati anggotanya yang rajin beribadah, karena ada larangan agama untuk sholat dalam kondisi “terbang”. Yap, dan aturan tersebut disepakati dan ditaati oleh seluruh anggota gang.&lt;br /&gt;So, konsep STMJ (sholat terus maksiat jalan) bisa lancar berjalan hehehe…&lt;br /&gt;Abis beribadah terus nakal dan abis nakal sholat lagi hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan jadwal antara kemaksiatan dan ritual ternyata juga terjadi di kawasan Dolly. Pemerintah Kota Surabaya menetapkan larangan pembukaan prostitusi Dolly selama bulan ramadhan, jadi dalam 1 tahun, ada masa jeda waktu 1 bulan kemaksiatan. Ada waktu untuk insyaf dan bertobat. Demikian pula, kegiatan malam dalam keseharian di kawasan itu, biasanya dimulai usai berakhirnya ritual agama di masjid At taubah, yang terletak tepat di jantung kawasan ramai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari2 biasa masjid At Taubah lebih banyak dipergunakan untuk sholat berjamaah saja, dan sedikit sekali untuk kegiatan pengajian, taddarusan dll. Sedangkan pada bulan ramadhan, baru kegiatan keagamaan seperti sholat tarawih, tilawatil quran, TPA marak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik sejarahnya, Masjid At-Taubah ini dibangun pada 1989 di atas tanah wakaf seorang muncikari yang insaf. Surip, muncikari itu, terpaksa memberikan tanahnya karena anaknya sakit. Ia telah membawa si anak berobat ke mana-mana dengan hasil nol besar. Perubahan baru terjadi setelah seorang kiai menasihatinya agar membangun masjid atau musala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini masjid megah itu masih tegak berdiri, menjadi oase bagi manusia yang penuh maksiat agar teringat Tuhannya. Laksana nyala lilin di tengah kegelapan hutan yang pekat, walau hanya secercah namun bisa menjadi pengingat bahwa Tuhan masih ada dan akan selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, masjid At Taubah juga menjadi sarana belajar bagi anak2 mucikari dan PSK agar tetap mengenal Tuhan dan agama. Setiap orang pasti berharap agar anak2nya kelak menjadi yang terbaik, tidak seperti mereka. Karenanya harapan akan terputusnya kemaksiatan sebuah generasi pasti ada. Selalu ada asa berakhirnya periode kemaksiatan dalam keluarga, dan digantikan periode keemasan pada anak2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini, gema adzan yang berkumandang, akan bergantian dengan hingar bingar musik disko yang memekakkan telinga. Agama dan prostitusi memang selalu hidup berdampingan, bahkan menurut sejarah, prostitusi hadir lebih dulu dibanding agama. yap, karena agama datang untuk mengurangi prostitusi. Dan selama itu ada, kehidupan manusia akan tetap berjalan beriringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tempat peribadatan seperti masjid, pasti punya aura magis tersendiri bagi pemeluknya. Karena disitulah, segala kelemahan jiwa terasa, dan semua kebesaran Tuhan memancar dalam doa.&lt;br /&gt;Masjid Istiqlal, Sunda Kelapa, Cut Mutia, dan beragam masjid agung di berbagai kota pernah ku coba, dan semuanya punya aura khas masing2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi penasaran juga nich, seperti apa aura khas masjid At Taubah hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo Permai, 9 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2411334939559208256?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2411334939559208256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/adawaktu-ritual-dan-ada-waktu-nakal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2411334939559208256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2411334939559208256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/adawaktu-ritual-dan-ada-waktu-nakal.html' title='Ada Waktu Ritual dan Ada Waktu Nakal'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2511011996846454619</id><published>2009-05-08T21:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:13:05.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>(Ternyata) Ada Lagu Qasidah Di Dolly...</title><content type='html'>Beberapa hari lalu, seperi biasa abis sholat maghrib gw pulang dari biro surabaya menuju hotel santika&lt;br /&gt;kali ini gw pulang bareng mas yuda, salah satu karyawan kantor yang baik hati jadi volunteer nunjukin jalan alternatif, dari jalan girilaya yang memanjang di kawasan dolly, kita berbelok masuk ke gang banyu urip yang merupakan salah satu gang yang berisi rumah2 intim (walau bukan gang utama kata temanku)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya sepanjang girilaya, keramaian musik2 house, disko regge dan disko dangdut terasa memekakkan telinga dalam kemacetan jalanan, pertanda dimulainya kehidupan malam dikawasan itu. Namun saat memasuki gang banyu urip yang relatif sepi, dan lebih banyak berisi perumahan warga, terdengar alusan musik yang mendayu-dayu dan terasa berbeda. musik khas timur tengah terdengar menggema, suara rebana yang menjadi instrumen resmi lagu qosidah mengalun dalam ritme cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di teras rumah warga terlihat puluhan laki2 berpeci dan berbaju koko tampak asyik bercengkerama usai mengaji, juga beberapa wanita dalam bingkaian baju muslim yang rapat. Tak lama kemudian mereka berjalan keluar rumah dan menyusuri jalan banyu urip, yang dibeberapa titik tampak wanita berdandan seksi, dengan rok mini dan tank top sedang menunggu pelanggannya. Sebuah pemandangan yang kontras, antar dua kelompok itu tidak ada yang saling menyapa, mungkin juga karena tidak saling kenal. Namun juga tidak ada yang saling berbisik, mengggosip atau menghina. Semua berjalan seperti biasa dan tidak saling terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah toleransi yang sangat tinggi, dimana masing2 manusia saling menyadari kelemahan dirinya dan tidak saling menyerang. Yang agamis mungkin berpikir mereka lemah dihadapan Tuhan karena tidak mampu mengangkat harkat dan martabat saudari2nya sehingga tidak terjerumus dalam nista. Yang seksi juga berpikir bahwa mereka tak dapat mengikuti ritual agamanya sendiri, seperti sang agamis, (mungkin) karena faktor ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleransi secara etimologis berasal dari kata tolerare yang berarti 'menanggung' atau 'membiarkan'. Toleransi dapat mempunyai warna etis-sosial, religius, politis dan yuridis serta filosofis maupun teologis. Secara kasar toleransi menunjuk pada sikap membiarkan perbedaan pendapat dan perbedaan melaksanakan pendapat untuk beberapa lapisan hidup dalam satu komunitas. Pada umumnya arah pemahaman toleransi mencakup pendirian mengenai membiarkan berlakunya keyakinan atau norma atau nilai sampai ke sistem nilai pada level religius, sosial, etika politis, filosofis maupun tindakan-tindakan yang selaras dengan keyakinan tersebut di tengah mayoritas yang memiliki keyakinan lain dalam suatu masyarakat atau komunita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Oxford menegaskan bahwa toleransi adalah kemampuan untuk menenggang rasa atas keyakinan dan tindakan orang lain dan membiarkan mereka melakukannya. Kamus tersebut juga menggambarkan toleransi sebagai "kemampuan untuk menanggung penderitaan atau rasa sakit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, Kalo mengikuti kamus oxford, toleransi juga berarti kepeduliaan. &lt;br /&gt;Toleransi terendah adalah membiarkan dengan tidak menggangu, tapi juga tidak peduli.&lt;br /&gt;Toleransi tertinggi adalah kepedulian itu sendiri..&lt;br /&gt;Seandainya ada tetangga yang sakit, kita membezuk dan membantu&lt;br /&gt;Jika ada warga yang miskin, kita bersedekah&lt;br /&gt;Dan seterusnya, dari hal2 terkecil yang kita mampu dan ikhlas&lt;br /&gt;Jika orang lain menderita, kita ikut merasakan penderitaannya&lt;br /&gt;Jika orang lain sakit, kita ikut berempati terhadap sakitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, begitu indahnya toleransi. &lt;br /&gt;Namun di area lain, toleransi ala dolly, sering tidak terjadi. &lt;br /&gt;Sering satu kubu (mengaku agamis)  menghakimi kelompok yang lain yang dianggap sebagai perusak moral, lalu malah tambah merusak dengan cara menyerang bangunan fisik milik orang itu ( aneh kan, wong yang rusak moralnya kok, yang dirusak gedungnya atau fisik orang, harusnya kan dengan memperbaiki moralnya).&lt;br /&gt;Terus kubu yang diserang akan balas menyatakan bahwa kubu penyerang munafik, karena anggota2nya juga banyak yang "dilayani" hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi idolaku, Muhammad SAW dalam sebuah hadits menyatakan iman itu fluktuatif, bisa naik turun dan bahkan sirna. Artinya orang beriman bisa saja berubah menjadi kafir. Sebaliknya orang kafir suatu saat bisa kembali beriman bila Tuhan memberinya hidayat. Karenanya realitas yang ‘kafir’ di luar sana adalah misteri. Demikian halnya maksiat tidak selamanya permanen. Selalu saja ada ruang pertobatan. &lt;br /&gt;Menyikapinya  secara  a-priori adalah kurang bijak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan lah yang Maha Tahu dan kuasa membuat seseorang beriman atau bertobat.&lt;br /&gt;Tuhan yang membiarkan seseorang menjadi kafir atau membuatnya menjadi beriman.&lt;br /&gt;Adalah di luar kuasa manusia membuat seorang hamba beriman,  apalagi dengan paksaan atau kekerasan. &lt;br /&gt;Ini adalah sikap keimanan yang tidak toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang tadinya beriman, bisa jadi tergoda untuk menjadi kafir duniawi&lt;br /&gt;Juga seseorang yang kafir, juga ada harapan untuk menjadi beriman surgawi&lt;br /&gt;So, yang merasa beriman dan (terkadang) merasa kafir, bertoleransilah&lt;br /&gt;Karena kita bisa menjadi kedua2nya hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sebagian sumber data dari dunia maya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo Permai, 9 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2511011996846454619?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2511011996846454619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/ternyata-ada-lagu-qasidah-di-dolly.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2511011996846454619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2511011996846454619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/ternyata-ada-lagu-qasidah-di-dolly.html' title='(Ternyata) Ada Lagu Qasidah Di Dolly...'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-2073912007258762205</id><published>2009-05-06T17:28:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:13:33.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Hedonisme (terkadang) membawa bencana...</title><content type='html'>studio lagi, studio lagi hehehe...&lt;br /&gt;sambil "nyetir bajaj" siaran studio pagi hari ini, kulirik layar monitor sambil nonton berita yang tayang, seperti biasa kasus antasari masih menjadi lead nya, disusul flu babi dan seterusnya... sedangkan segmen lokal jawa timur masih mengangkat penggusuran stren kali jagir, kisruh bank centuri, namun ada berita kriminal kecil yang cukup menarik perhatianku.. berita dari jombang ini berisi kasus pembunuhan seorang PSK oleh pelanggannya, disebuah kamar prostitusi usai mereka saling melakukan transaksi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lho kok bisa yaa, bukankah mereka habis bersenang-senang, kok bisa langsung ada adegan pembunuhan, menurut keterangan polisi yang langsung bisa meringkus tersangka di TKP usai diserahkan warga, motifnya amat sangat sederhana, yaitu gara2 si PSK meminta uang lebih, maka pelanggan marah dan langsung menusuknya dikamar tersebut pake pisau dapur. sesederhana itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo kejadian tersebut melibatkan orang besar seperti pejabat negara, pengusaha dsb, mungkin kita akan berpikir ada sebuah konspirasi. namun karena melibatkan rakyat jelata, yang menurut pandangan saya saat melihat visual tersangka, biasa saja dan bukan orang kaya, maka hampir pasti ini kasus kriminal biasa. yak, karena tersangka langsung ditangkap warga sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kok bisa yaa, orang yang tidak kaya, usia juga udah tua (dari visual wajah tersangka), tetap nekat memakai jasa PSK, sementara mungkin uangnya pas-pasan. bukankah kalo tidak punya harta, sebaiknya menahan diri untuk tidak "bertransaksi". jika dia tidak datang, mungkin akhir kejadiannya tidak akan seperti itu. pun kita berandai-andai, kenapa juga si korban meminta uang lebih seusai bertransaksi, keinginan yang mungkin tidak bisa dikabulkan oleh tersangka, sehingga berakibat hilangnya nyawa. seandainya korban tidak meminta uang lebih, mungkin juga tersangka tidak akan marah dan menghabisinya. uang adalah sebuah bentuk kesenangan yang lain, disamping seks dan berbagai kesenangan dunia yang lain. mungkin asal muasal atas tindak pidana itu hanya satu, yaitu hedonisme, atau pandangan bahwa kesenangan adalah sebuah tujuan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menurut wikipedia, Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya 1x, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham ini lah muncul nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang yang berpikir hedonis cenderung egois untuk dirinya sendiri, dialah yang utama, sehingga melupakan tanggungjawabnya.. banyak kasus lain, yang lebih sederhana tentang perilaku hedonis yang berakhir pembunuhan secara tidak langsung terhadap keluarganya, contoh yang paling sederhana adalah merokok oleh orang miskin, betul, merokok adalah hak asasi, karena saya dulu adalah perokok, tapi orang miskin yang memaksakan sebagian hartanya untuk kenikmatan gumpalan asap adalah hal berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh kasus adalah kematian balita akibat gizi buruk, karena kemiskinan. usut punya usut sebenarnya kemiskinan itu bukanlah kemiskinan absolut, dalam artian benar2 ortu tidak punya penghasilan cukup, tapi ini kemiskinan hedonis, karena sang ayah lebih memilih menghabiskan uangnya untuk membeli rokok untuk kesenangannya daripada membelikan susu dan makanan bayi untuk anaknya. dengan perhitungan harga 1 bungkus rokok adalah 10 rb dan 1 hari 1 bungkus, maka selama 30 hari uang rokok adalah 300 rb, cukup untuk membeli susu murah di puskesmas mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf, saya menulis ini bukan untuk menghakimi orang miskin, tapi menghakimi orang yang terkadang tidak sadar bahwa kesenangannya ternyata membawa konsekuensi tersendiri, yang bisa jadi akibatnya tidak pernah dia prediksi. menjadi pembunuh bagi orang lain dan keluarganya sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo mau hedonis, sesuaikanlah dengan kemampuan diri hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, jika ternyata dalam kasus pembunuhan Nasrudin yang menghebohkan itu, benar2 terbukti bahwa pak antasari membunuh karena motif asmara, atau sebaliknya ada fakta bahwa nasrudin mempergunakan rani untuk memeras pak antasari, itu juga sebuah contoh hedonisme berlebihan yang berakibat bencana, bagi korban dan tersangkanya, yang terjadi pada orang kaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi hedonis emang enak dan tidak mengenal kasta hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo permai, 7 mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-2073912007258762205?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/2073912007258762205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/hedonisme-terkadang-membawa-bencana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2073912007258762205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/2073912007258762205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/hedonisme-terkadang-membawa-bencana.html' title='Hedonisme (terkadang) membawa bencana...'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6820152460367392710</id><published>2009-05-05T03:51:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:14:29.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>"Aku gentle kan, makanya berani datang..."</title><content type='html'>"Saya gentle kan, makanya berani datang..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;arrrhhhhggg, bener2 gak tau diri dech ini orang...&lt;br /&gt;gak biasanya aku langsung emosi liat omongan orang lain, yang gak kukenal, gak pernah liat sebelumnya, bahkan baru tadi ketemu... mungkin gara2 terbawa suasana juga kalee yaa, atau mungkin gara2 disebelahku wanita hamil, jadi aku bertoleransi untuk gantian mual hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya siang tadi, selasa 5 mei 2009, aku dan mbak Dian Ardianti, reporter biro surabaya yang lagi hamil besar, dapat ploting liputan ke DPRD II surabaya, terkait kasus penggusuran di stren Kali Jagir, Wonokromo, Surabaya. Dengar pendapat antara anggota komisi C, pemkot surabaya dan warga korban gusuran, yang harusnya berlangsung panas dan penuh solusi, ternyata sangat mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iyaa, gimana gak mubazir? untuk kasus sebesar itu, yang mengorbankan ratusan rakyat kecil, ternyata hanya dihadiri oleh 3 anggota DPRD II yang pintar berorasi, 4 pemkot surabaya yang tidak punya kompetensi dan wewenang, dan puluhan warga yang histeris..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang diawali orasi anggota DPRD II, yang seperti biasanya, hebat dalam mengumbar kata2, sok kritis mengurai pertanyaan, pandai menarik simpati dan sok berani menunjuk pimpinan eksekutif dianggap bersalah tp  tidak datang (kalo pak walikota hadir, dia masih berani teriak2 kayak gitu gak yaaa? hehehe).. Namun hasilnya nol besar, hanya pengulangan orasi hari2 sebelumnya, tetap tanpa hasil)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan "kritis" anggota dewan yang terhormat, sekali lagi untuk kasus penggusuran sebesar itu, ternyata hanya dijawab oleh PNS pemkot yang datang mewakili pejabat pemerintahan, dengan nada datar, sok tidak memahami kasus yang terjadi, lempar tanggung jawab bahwa bukan wewenang mereka untuk menjawab, dan lagak yang sok berempati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah, terus kalo mereka hanya "pion" yang mewakili pemerintah dan tidak punya wewenang, kenapa harus datang. tidakkah mereka berpikir bahwa rakyat butuh keputusan yang tepat dan cepat untuk segera menyelesaikan kasus ini, minimal sebelum bego-bego yang kini berada di stren Kali Jagir,  meluluh-lantakkan rumah2 warga tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, tidakkah mereka berpikir, bahwa penggusuran tersebut masih bermasalah, karena warga tidak diberi kesempatan melawan secara hukum negara, dan tidak ada sosialisasi sebelumnya, sehingga warga tidak tahu lagi kemana harus pindah. Serta anak2 sekolah yang harus rela terbengong2 menyaksikan sekolah dan rumah mereka dihancurkan untuk sesuatu yang tidak mereka pahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, tidakkah mereka punya nurani, sekedar untuk berempati mempercepat penyelesaian solusi, bukan hanya datang untuk merusak sebuah "sidang" yang diharapkan menemukan titik-temu oleh rakyat kecil.&lt;br /&gt;Tidakkah kebodohan mereka (entah pura2 bodoh, atau bodoh beneran saat menjawab pertanyaan) justru merusak asa dan harapan warga yang menggantungkan masa depannya pada kebijakan pemerintah daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan emosiku mencapai titik puncaknya, saat usai rapat yang tanpa hasil dan mubazir ini..&lt;br /&gt;seorang PNS pemkot yang datang mewakili atasannya itu, berceletuk sambil bergurau kepada warga, "saya gentle kan, makanya berani datang ke sidang ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;arrrrrrgggghhhhh, dasar tak tahu diri..&lt;br /&gt;Tidakkah dia sadar diri, bahwa dia tuch bukan datang karena gentle dan berani, dia tuch datang karena "takut" atasan akan memecatnya jika tidak datang mewakilinya..&lt;br /&gt;Tidakkah dia tahu diri, bahwa dia tuch hanya "pion" yang tunduk diketek bos, pion yang tanpa ide dan hanya berani ngomong "baik pak! saya akan datang" asalkan jabatannya aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda lihat foto ini (sumber :www.detikfoto.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SgPNGAjK4sI/AAAAAAAAABc/JemsA6ebL3I/s1600-h/bentrook2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SgPNGAjK4sI/AAAAAAAAABc/JemsA6ebL3I/s320/bentrook2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333331886847222466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut anda, layak kah, saya dan mungkin juga anda untuk marah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo Permai, 5 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6820152460367392710?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6820152460367392710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/aku-gentle-kan-makanya-berani-datang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6820152460367392710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6820152460367392710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/aku-gentle-kan-makanya-berani-datang.html' title='&quot;Aku gentle kan, makanya berani datang...&quot;'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BXtCeSLU-I4/SgPNGAjK4sI/AAAAAAAAABc/JemsA6ebL3I/s72-c/bentrook2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6977521166427791580</id><published>2009-05-03T06:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T11:32:36.556-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Dolly dan Keceriaan Peradaban Manusia</title><content type='html'>Setiap hari, selama BKO di biro Surabaya, jalurku ke kantor selalu melewati rute yang sama, Hotel Santika – Dolly – Darmo. Yang pertama dan terakhir tidak usah dibahas, karena pasti tidak akan menarik bukan? Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan rute tengah, adalah jalur yang penuh keceriaan. Disebut ceria, karena berisi manusia-manusia yang sedang berusaha membahagiakan dirinya sendiri, dengan wajah yang ceria asli dan ceria palsu. Para lelaki yang baru datang pastinya hadir dengan wajah yang ceria asli dan berseri2, karena sedang membayangkan sebuah keindahan yang akan dinikmatinya. Sedangkan para wanita yang menunggu, berusaha menampilkan acting wajah yang sok ceria dan menggoda (walau mungkin hati cemberut hehehe), karena lelaki ceria akan memilih wanita ceria, untuk menambah keceriaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kondisi mungkin akan sedikit berubah, saat para lelaki beranjak meninggalkan lokasi, keceriaan wajahnya sedikit berkurang seiring menipisnya harta kekayaan dan kembali memikirkan bagaimana harus menghidupi keluarganya. Sedangkan para wanita akan sedikit bertambah senyum ceria, karena terlepas dari siksaan dan dapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mungkin juga keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dolly adalah nama seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina, Dolly Khavit, yang pada tahun 1967, mendirikan rumah bordil di Jalan Kupang Timur I. Lantaran dianggap sebagai perintis, Dolly kemudian diabadikan sebagai nama daerah itu. Dari hanya beberapa wisma, Dolly lantas berkembang menjadi kawasan pelacuran yang ramai tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Dolly hanyalah salahsatu sejarah tentang perkembangan prostitusi di dunia, sejarah yang hadir sejak munculnya awal peradaban manusia. Dolly adalah pelarian, pencarian dan penghidupan bagi manusia itu sendiri. Dia ada karena dibutuhkan dan dia dibutuhkan maka dia ada. Dolly adalah wujud toleransi sifat manusia yang paling tinggi, dia hadir diantara kepungan masjid, dimana ritual keagamaan hadir bersamaan dengan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah prostitusi hadir karena dunia dikendalikan laki-laki, berbagai sejarah mencatat bahwa awal mula prostitusi adalah perbudakan dan praktek pergundikan. Praktek pengambilan gundik ini kemudian menjadi cikal bakal perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kerajaan jawa misalnya perempuan pada zaman dulu acapkali dijadikan upeti kepada para bangsawan, baik sebagai upeti kalah perang atau agar memperoleh jabatan tertentu di istana. Tidak heran jika raja memiliki ratusan gundik.&lt;br /&gt;Di Bali Raja berhak menikmati layanan seks dari janda yang berkasta rendah. Bila raja tak ingin memasukkan janda tersebut dalam rumah tangganya, ia mungkin akan dikirim untuk bekerja sebagi pekerja seks yang gajinya sebagian dikirimkan kepada raja. (Sulistyaningsih:2002-3; Hull 1999) Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak ubahnya seperti barang yang bisa dipertukarkan atau dihadiahkan dan tidak memiliki kebebasan atas dirinya. Akibatnya, perempuan telah mengalami sejarah panjang diskriminasi dan kekerasan, karena dia adalah perempuan.” (sumber:internet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti prostitusi wanita akan selalu ada dimana laki-laki masih berjaya sebagai pemimpin dunia. Tapi menurut hitungan matematis sebenarnya keberadaan prostitusi tidak logis. Berdasarkan prosentase jumlah penduduk didunia, jumlah wanita adalah 3 kali lipat jumlah pria, menurut hitungan saya, logikanya 1 pria bisa melayani 3 wanita, tapi kok terbalik yaa, ini 1 wanita malah bisa melayani lebih dari 10 pria, trus kalo para wanita kemaruk gini, temen2nya gak kebagian dong hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada agama menghalalkan praktek poligami, yang berarti seorang laki-laki boleh menikah dengan lebih dari 1 wanita, namun harus ada unsur keadilan didalamnya, syarat inilah yang sering dikesampingkan oleh para pria egois, sehingga hanya setuju menjalankan fiqh nya, tapi tidak mau mengerjakan esensi dari aturan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, aturan agama sering disalahgunakan untuk menghalalkan praktek prostitusi, yaitu via kawin kontrak, ada penghulu sebagai hakim, ada saksi-saksi, bahkan sering yang menjadi saksi pengantin wanita adalah orangtuanya sendiri. Trend jual beli anak secara "halal" kalee yeee hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trend seperti ini ternyata muncul dalam beragam versi diberbagai daerah, di beberapa desa dikawasan Indramayu misalnya, sebuah praktek prostitusi bisa dilakukan dirumah sendiri, dikamar yang berdampingan dengan sang ortu, dan tukang ojek sebagai marketingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dewasa ini banyak alasan seseorang terjun ke dunia prostitusi yang agak mengada-ada, tp ini guyonan aja yaa, saya gak percaya kalo penyebab utama banyaknya prostitusi adalah kemiskinan, kok bisa? kalo emang kemiskinan yang menjadi penyebabnya, seharusnya banyak juga muncul lokasi "prostituso" alias prostitusi cowok, kan yang miskin bukan hanya perempuan, laki2 juga banyak yang kere kok, buktinya banyak cowok2 patah hati gara2 wanita idolanya gak mau kawin ama pria yang belum mapan hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus saya juga gak percaya, kalau kebodohan juga menjadi faktor penyebab..buktinya kan sekarang sekolah gratis, dan di indonesia hak perempuan untuk berpendidikan sejajar dengan laki-laki. Lagian prostitusi termahal saat ini malah didominasi kalangan mahasiswi dan pelajar SMP/SMA yang cerdas-cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalo yang ini alasannya terlalu dibuat2, ada wanita yang terjun ke prostitusi gara2 dendam sama laki2 yang merenggut kegadisannya, lho kok enak? Kegadisan wanita terenggut hanya satu kali, yaitu saat pertama kali, lho kok malah balas dendamnya berkali-kali dengan banyak pria lagi. apakah dengan membalas dendam, kegadisannya akan kembali? gak mungkin kalee hehehe... bukannya mending dia balas dendam dengan cara ngakalin calon suaminya, pura2 karena jatuh dari sepeda kek atau jujur sambil agak2 akting menghiba2 bahwa saat itu dia khilaf, kalo emang cinta pasti akan nerima kok, asal kebelakang hari tetap setia... (ngajarin yang gak bener yaa hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa dong penyebabnya? kayaknya sich complicated; karena ada unsur kesenangan duniawi, kemudahan mencari uang, kepuasan membalas dendam, atau alasan yang agak heroik, kebahagian bisa membantu keluarga, kelancaran membayar SPP kuliah, biaya pengobatan anak atau ortu dan beragam faktor yang bersifat pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo melihat fenomena yang udah semakin ceria dan semarak gini, adalah sikap yang naif dan 'absurd' untuk menghapuskan prostitusi, biarlah dia berjalan sesuai kodratnya, toh tiap manusia punya pilihan yang terbaik untuk hidupnya sendiri. Agama hanya membuat aturan moral, dan UU hanya membuat aturan hukum, tapi manusia lah yang akan menjalaninya, karena kebahagiaanya hanya dirinya yang berhak menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampir gak yaaaa?&lt;br /&gt;Astaghfirullah, Ya Allah, kuatkan hatiku agar tidak tergoda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmo Permai, 3 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6977521166427791580?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6977521166427791580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/dolly-dan-keceriaan-peradaban-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6977521166427791580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6977521166427791580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/dolly-dan-keceriaan-peradaban-manusia.html' title='Dolly dan Keceriaan Peradaban Manusia'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6821651712679707597</id><published>2009-05-02T02:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:15:19.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Jangan Ada Sinis Diantara Kita</title><content type='html'>Jumat pagi, 1 mei 2009, bertepatan hari buruh sedunia dan hari pertama berlaku efektif kabinet baru di Liputan 6. Ruang studio kami kehadiran narasumber dialog yaitu juru bicara kepresidenan untuk urusan luar negeri, Dino Patti Jalal, dengan tema dialog Penghargaan Majalah Time kepada presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di atas bumi ini. Sesuai dengan nomor keramatnya, kali ini SBY pun dapat peringkat ke 9, untuk kategori “Pemimpin dan Tokoh Revolusioner”, Time memilih 20 orang tokoh. Selain SBY, tokoh lain yang masuk kategori ini antara lain Edward Kennedy, Gordon Brown, Christine Lagarde, Thomas Dart, Avigdor Lieberman, Joaquin Guzman, Nouri al-Maliki, dan Hillary Clinton. Tentunya ini kabar ini juga menggembirakan bagi rakyat Indonesia, karena kualitas dan kapasitas presidennya ternyata diakui juga oleh negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCTV mengangkat tema ini, tentunya terkait sempat munculnya rumor bahwa nama SBY sempat menghilang dari daftar 100 tokoh berpengaruh versi Time, padahal sebelumnya sudah diumumkan dalam sebuah konferensi pers. Bahkan Dino Patti Jalal pun sempat mengatakan, jika informasi yang dia dapat salah, maka akan mengundurkan diri.&lt;br /&gt;Wuih, sikap yang sangat gentle menurut saya. Karena jarang ada pejabat di Indonesia yang berani bersikap seperti itu jika salah ucap. Biasanya mereka akan bilang “saya tidak pernah mengatakan seperti itu kok, wartawan aja yang salah menafsirkannya”, padahal jelas2 wartawan punya rekaman suaranya hehehe…&lt;br /&gt;Ada, tiada dan kembali ada, syukurlah akhirnya Time jadi memasukkan SBY pada 100 tokoh paling berpengaruh, sehingga mas Dino pun batal mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog antara presenter David Silahoij dengan Dino Patti Jalal berlangsung datar saja, karena memang suasana yang terbangun pun santai dan gembira. Maklum masih dalam eforia kemenangan hehehe… Dalam diskusi itu ada satu pernyataan Mas Dino yang menurut saya agak menarik untuk dijadikan bahan renungan,” bahwa masyarakat kita cenderung sinis terhadap kesuksesan yang didapat oleh bangsanya sendiri, sehingga terkesan mengabaikan keberhasilan itu sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah karakter kita, termasuk saya tentunya, seperti itu? Ketika bangsa lain memberi penghargaan, rakyat sendiri malah cenderung cuek dan meremehkan. Atau jangan2 kita termasuk karakter minder, sehingga lebih menghargai Obama yang berada nun jauh disana, daripada kesuksesan salahsatu warga negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti sinis lebih berarah negative (ketidak sukaan seseorang akan sesuatu) dan biasanya seperti rasa sentimen,dan mengandung subjektifitas yang tinggi. Sinis juga berarti: bersifat mengejek atau memandang rendah; tidak melihat suatu kebaikan apa pun dan meragukan sifat baik yg ada pada sesuatu. Sinis adalah karakter yang iri, sehingga lebih bahagia jika melihat teman gagal daripada sukses, kebanggaan diri yang terlalu berlebihan, narsis, berpikir meremehkan orang lain dan menganggap rendah prestasi yang didapat teman lain, padahal belum tentu mampu melakukannya. Karakter seperti ini biasanya NATO alias No Action Talk Only.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinis ada disekitar kita. Di kantor, kita sering sinis pada atasan sampai owner, kita sering berpikir bahwa pekerjaan bos enak banget yaa, cuman duduk2 doang dapat gaji gede, padahal kita tidak melihat bagaimana perjuangan atasan kita untuk meraih posisinya tersebut. Atau sinis liat teman2 progsus SIGI yang tiap minggu dapat SPJ, tapi giliran kita disuruh investigasi kasus pembalakan hutan, kaki udah gemeter ketakutan hehehe… Atau sinis sama owner gara2 bonus gak keluar, tapi giliran kita dipersilahkan keluar dari perusahaan, kita langsung tertunduk diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disekolah, kita liat rasa sinis dimulai dari usia muda, saat ada teman yang dapat nilai bagus, kita bilang dia nyontek, padahal kita sendiri yang udah nyontek dan dapat nilai jelek. Atau teman yang terpilih jadi ketua OSIS, trus dituduh gara2 sering carmuk ama guru. Atau ada teman2 yang sukses manggung teater, kita anggap orang yang aneh, sok seniman dan kurang kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ucapan / tindakan bernada sinis, yang bertujuan untuk mendiskreditkan prestasi orang lain, dengan tujuan agar kita dianggap hebat, padahal belum melakukan apa-apa. Sikap sinis kerapkali merusak suasana baik yang sudah terbangun, misalnya dalam diskusi yang hangat kita akan tergoda mencari kesalahan2 lawan debat yang bersifat pribadi daripada mengapresiasi pemikirannya. Atau dalam ruang demokrasi, parpol cenderung menyerang kehidupan tokoh dari pada program-program partainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinis bersifat lebih destruktif ketimbang konstruktif. Sinis akan menghasilkan manusia yang rela bertempur dan terluka, tanpa tahu tujuan pertempuran itu sendiri dan tanpa ada manfaat yang didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus gimana cara menghilangkan sinis? Gampang kok, kuncinya cuman satu yaitu ikhlas.&lt;br /&gt;Kalo dikantor, bekerjalah dengan ikhlas, jangan mengeluh.&lt;br /&gt;Kalo disekolah, belajarlah dengan ikhlas, jangan menyontek.&lt;br /&gt;Kalo diruang diskusi, berdebatlah dengan ikhlas, apresiasi pemikiran lawan.&lt;br /&gt;Kalo dipolitik, bersainglah dengan ikhlas, adu program terbaik, kalah menang biasa.&lt;br /&gt;Kalo dikehidupan dunia, jalanilah hidup dengan ikhlas, siapa tahu masuk surga hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya Indonesia, jika masyarakatnya bersikap anti sinis&lt;br /&gt;Dikantor, kita mengagumi kinerja rekan seprofesi, sehingga terpacu memberi hasil lebih&lt;br /&gt;Disekolah, kita terpesona melihat nilai ranking 1, sehingga terpola belajar lebih keras&lt;br /&gt;Diruang diskusi, kita mengapresiasi pemikiran lawan, sehingga muncul ide yang brilian&lt;br /&gt;Dipolitik, oposisi mempelajari program pemerintah, sehingga terpikir program efektif&lt;br /&gt;Dikehidupan dunia, kita saling menyayangi, sehingga bisa saling berkolaborasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ada sinis diantara kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celesta, 1 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6821651712679707597?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6821651712679707597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/jangan-ada-sinis-diantara-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6821651712679707597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6821651712679707597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/05/jangan-ada-sinis-diantara-kita.html' title='Jangan Ada Sinis Diantara Kita'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-6074616313796612492</id><published>2009-04-29T19:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:15:42.478-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Pertanyaan Tentang Kompetensi Profesi</title><content type='html'>Beberapa hari lalu, dalam perjalanan pulang dari bandung usai melayat sahabat kami yang meninggal karena kanker. saya dan beberapa teman semobil berdiskusi ringan tentang profesi, intinya kami pengin mencari gambaran yang lebih terbuka tentang penilaian perusahaan terhadap profesi kami dan apa yang harus kami lakukan agar profesi tersebut bisa lebih dihargai perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi sepanjang jalan berlangsung hangat dan menarik, karena sebagai karyawan level bawah tentu saya ingin agar perusahaan menghargai setinggi2nya profesi tersebut yang diaktualisasikan dengan peningkatan sallary, tapi salah satu kawan yang kebetulan adalah atasan saya dengan bijak dan cukup cerdas mengatakan bahwa perusahaan pun punya penilaian tersendiri terhadap sebuah profesi, terkait dengan kontribusinya bagi perusahaan. Artinya sehebat apapun kemampuan seorang karyawan didalam profesinya, tetap tidak mungkin punya sallary lebih tinggi dibanding "profesi lain" yang dianggap lebih kompeten dan berkontribusi bagi perusahaan. Salahsatu cara agar karyawan tersebut bisa dihargai lebih adalah dengan cara mutasi ke "profesi lain" yang dianggap lebih kompeten itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran membuat saya menyapa google untuk mencari tahu makna kompetensi, ada sebuah artikel menarik yang saya dapat:&lt;br /&gt; "Secara general, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam sejumlah literatur, kompetensi sering dibedakan menjadi dua tipe, yakni soft competency atau jenis kompetensi yang berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengelola proses pekerjaan, hubungan antar manusia serta membangun interaksi dengan orang lain. Contoh soft competency adalah: leadership, communication, interpersonal relation, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe kompetensi yang kedua sering disebut hard competency atau jenis kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan. Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency adalah : electrical engineering, marketing research, financial analysis, manpower planning, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap yang paling kritikal, yakni tahap asesmen kompetensi untuk setiap individu karyawan dalam perusahaan itu. Tahap ini wajib dilakukan sebab setelah kita memiliki direktori kompetensi beserta dengan kebutuhan kompetensi per posisi, maka kita perlu mengetahui dimana level kompetensi para karyawan kita – dan dari sini juga kita bisa memahami gap antara level kompetensi yang dipersyaratkan dengan level yang dimiliki oleh karyawan saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sumber: http://strategimanajemen.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel yang cukup menjelaskan arti "kompetensi", namun saya masih bingung alasan bagaimana gap kompetensi antar departemen terjadi. Trus apa pembatasan konseptor dibanding teknisi/operator. Lalu apakah karyawan yang oleh perusahaan dianggap operator, tp punya kemampuan konseptor tidak bisa berkembang. Lalu apakah seorang operator yang multiskill, menguasai teknologi dan artistik, akan selalu dianggap lebih rendah dibanding konseptor. Kalau di luar negeri sebuah profesi dapat dihargai tinggi, kenapa di negeri kita kok nggak yaa... Dan banyak lagi pertanyaan yang berharap dapat dijelaskan hehehe... (btw, ada yang bisa menjelaskan???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pintu tol pondok gede, diskusi kami mencapai deadlock. semua kembali pada titik nadir, dimana kepasrahan dan rasa bersyukur adalah cara terbaik untuk berbahagia dan menikmati kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terima kasih kawan2 atas diskusinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 30 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-6074616313796612492?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/6074616313796612492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/pertanyaan-tentang-kompetensi-profesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6074616313796612492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/6074616313796612492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/pertanyaan-tentang-kompetensi-profesi.html' title='Pertanyaan Tentang Kompetensi Profesi'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-4516246197745930930</id><published>2009-04-27T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T09:16:01.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Kartini Internasional</title><content type='html'>Hari kartini telah seminggu berlalu&lt;br /&gt;Namun ingatanku masih saja tertawa, saat harus mengantar treeva berpartisipasi di fashion show yang diselenggarakan sekolahnya bekerjasama dengan sebuah pusat belanja.&lt;br /&gt;Wuih, kehebohan dimulai sejak jam 6 pagi, karena harus mengantarnya berdandan dan berpakaian kebaya ala kartini dari Sulawesi Selatan. Kenapa adat sulsel warna kuning, ini tidak ada hubungannya dengan promosi wapres yang sedang bingung mencari cara jadi capres. Sungguh, tidak ada sedikitpun dana yang masuk ke kantongku hehehe. Semua hanya karena saat itu stok penyewaan baju yang tersisa hanya itu, laris juga nich hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 jam ber make up ria, jadilah krucil kesayanganku kartini harapan bangsa ceileee…&lt;br /&gt;Tapi dasar anak2, baru sampai rumah langsung ngambek, semua pernik2 yang dipakainya harus dilepas, ada kalung, anting, gelang etnis. Tampang2nya bakal berantakan semua nih, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 8.30, kami bertiga, papa, mama n treeva berangkat ke sebuah mall di kawasan tangerang, tempat acara diadakan. Hah, ternyata ratusan orang sudah berjubel di foodcourt tersebut, kalo jumlah peserta 100 orang, berarti total yang hadir lebih dari 200 orang, crowded banget….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pun dimulai, satu per satu peserta harus berlenggak-lenggok diatas panggung memamerkan kebolehannya, ada yang malu2 sehingga harus diantar bu guru, ada yang sok pede dan professional, tapi kalo treeva tampil dengan ciri khasnya, selalu cengengesan dimanapun berada, jadilah kontes cengar-cengir bagi dirinya. Ampuuun dech, udah capek2 dandan, kalah lagi hihihi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang unik dari kontes itu adalah jenis pakaian yang dilombakan ada yang “tidak biasa”.&lt;br /&gt;Hari kartini biasanya dijadikan sarana pengenalan budaya nusantara, sehingga anak2 akan mengenal keragaman etnis daerah dipelosok nusantara. Tapi diajang ini ada kartini internasional, peserta kontes ini memakai baju ala putri kerajaan shanghai, ada cowok berdandan ala koboi meksiko, ada yang berdandan jas formil ala bangsawan prancis, bahkan pemenangnya bergaya ala Antonio banderas di film desperado hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori piala untuk kelas internasional ini yang menurut saya agak menggelikan, seolah2 anak TK yang masih lugu ini diajarkan untuk berkiblat pada budaya western, mereka diajak agar lebih mengenal budaya luar negeri dibanding budaya sendiri. Atau jangan-jangan ini salah satu cara untuk memikat orang tua agar kelak menyekolahkan anaknya di SD berstandar internasional, kebetulan dikawasan ini memang banyak sekolah seperti itu, ada SD Global Jaya, Montesorry, Candle Tree, atau SD islam terpadu (standar internasional) seperti Auliya, Annisa, Amelia yang uang pangkalnya minimal 2 digit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kayaknya emang orangtua muda jaman sekarang English minded, pokoknya sebuah sekolah dianggap bagus kalo dibrosur dan balihonya ada tulisan “sistem pengajaran bilingual”, tanpa kita tahu bagaimana kualitas para gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga aja tidak ada konspirasi didalamnya (kayak politik aja) hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sency, 27 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dwi Firmansyah&lt;br /&gt;http://ruangstudio.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4433528686656964509-4516246197745930930?l=ruangstudio.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ruangstudio.blogspot.com/feeds/4516246197745930930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/kartini-internasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4516246197745930930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4433528686656964509/posts/default/4516246197745930930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ruangstudio.blogspot.com/2009/04/kartini-internasional.html' title='Kartini Internasional'/><author><name>Phyrman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05915995775082017456</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4433528686656964509.post-9087269156222244810</id><published>2009-04-27T06:55:00.001-07:00</published><updated>2009-06-09T09:16:59.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruang Hikmah'/><title type='text'>Sepenggal Lagu Tentang Sahabat</title><content type='html'>*…&lt;br /&gt;rintik hujan menetes ke bumi, menyinari senja ini&lt;br /&gt;nur ilahi sadarkan sombongku, yang tlah lama hinggap dijiwaku&lt;br /&gt;lelah kuberdiri, sejenak kutertegun&lt;br /&gt;kusebut namaMU, yang sering terlupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untaian kata syahdu milik grup rock era 90 an, power metal&lt;br /&gt;kurasa cocok untuk melukiskan cerita tentang sahabatku&lt;br /&gt;rekan seprofesi, teman diskusi, partner mengkritisi sang Ilahi&lt;br /&gt;yang harus memenuhi undanganNYA mendokumentasikan surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur harus kuakui, dia adalah kamerawan yang berdedikasi&lt;br /&gt;Gambarnya kuat dan mampu bercerita tanpa narasi&lt;br /&gt;Semangatnya tinggi dan lebih mementingkan profesi dibanding famili&lt;br /&gt;Telaten dan berani mengambil resiko demi sebuah komposisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya cerdas dan cenderung keras kepala&lt;br /&gt;Logika adalah satu-satunya cara menaklukan dia&lt;br /&gt;Saking cintanya pada logika&lt;br /&gt;Sampai-sampai Tuhan pun dia urai dengan logika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan debat terkadang menganggapnya berlebihan&lt;br /&gt;Karena sudut filsafat dipakainya memandang Arrahman&lt;br /&gt;Katanya, bukankah otak manusia diciptakan untuk menganalogikan Tuhan&lt;br /&gt;Itu hanyalah cara mengenalNYA, walau akibatnya ritual terlupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode kejayaan selalu menemui titik puncak&lt;br /&gt;Namun sejarah tak akan pernah melupakan&lt;br /&gt;Beragam karya menjadi bukti kehebatan&lt;br /&gt;Dari potret yang melegenda sampai B file yang menantang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit adalah titik balik manusia dibukakan kebenaran sejati&lt;br /&gt;Selalu ada hikmah menuju kesempurnaan diri&lt;br /&gt;Kecerdasan manusia ternyata tidak mampu mengobati&lt;br /&gt;Sakit kemu
